Hana menutup pintu rumahnya tepat pukul 09.00 malam.
Kenangan itu muncul, kenangan saat dia menunggu suaminya pulang dari kota, yang bekerja sebagai supir pribadi seorang pegawai kementerian.
Menunggu cukup lama, tapi suaminya tak kunjung datang.
Sebuah pesan muncul, katanya...
"Maaf, aku antar teman ke rumahnya dulu, jadi aku terlambat. Mungkin subuh nanti baru aku datang"
Hana tersenyum, dia membalas....
"Ya, ngga apa-apa, yang penting ada kabar"
Hana masuk ke kamar, melihat kedua putrinya sudah lelap tertidur.
Hana pun ikut tidur.
Dibangunkan alarm ponselnya, Hana terbangun dan menatap ke arah jam dinding, sudah pukul 3 pagi, tapi suaminya belum juga pulang.
Kota itu tak jauh, hanya 2 jam perjalanan dari tempat suaminya katakan tadi.
Hana cemas, dia mengirimkan pesan pada suaminya.
"Ini sudah jam 3 pagi, dah sampai mana?"
Tak ada jawaban.
Hana ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.
Seperti biasa, beberapa bulan ini dia sering bangun malam. Dan entah mengapa, dia selalu ingin mengamalkan dzikir ayat ke 6 dan ke 7 surat Al Fatihah. Merasa ada yang tak beres dengan pernikahan jarak jauh ini.
Hana kembali tidur setelah dia merasakan ngantuk lagi.
Sampai di waktu subuh tiba, Hana terbangun lagi dan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Dia masih cemas karena suaminya belum juga datang.
Saat dia tengah memasak, tiba-tiba sang suami menelpon, memintanya menjemput dengan sepeda motor di dekat jalan raya, maklum, rumah orang tua Hana berada di gang sempit, cukup jauh dari jalan raya.
Hana bergegas, kedua putrinya ikut, seperti biasa.
Sang suami melambaikan tangannya dari kejauhan, Hana salim, mencium punggung tangan suaminya.
Kedua putrinya dicium suaminya. Mereka pun berganti posisi, suaminya yang membawa motor. Hana sendiri membawa tas ransel suami.
Malam tiba, sang suami sejak datang tidur, tapi saat malam malah main ponsel.
Hana melirik ke arah anak-anaknya juga asik main ponsel.
"Sudah malam, ayo tidur" ajak Hana.
Dia juga ingin menghabiskan waktu bersama suaminya.
Anak-anak sudah tidur, sang suami yang di tengah rumah, masih saja main ponsel, sesekali terdengar tawanya yang asik berbicara dengan teman dan kerabat.
Hana berdiri di dekatnya.
"Yok tidur! " ajaknya.
Sang suami menatap biasa saja, padahal Hana sudah memakai pakaian tipis yang biasa orang sebut "pakaian dinas malam".
Hana cukup merasa tersinggung, dia bahkan terlihat tak tertarik lagi. Dia merasa, tubuhnya yang gemuk mulai membuat suaminya kurang tertarik lagi padanya.
Tapi, sang suami berdiri dan ikut dengannya.
Foreplay beberapa menit, Hana sudah kepanasan, jelas sebulan ditinggalkan, siapa yang bisa tahan.
Hana minta untuk cepat melakukannya. Tapi, milik sang suami tak kunjung tegak.
Suami memaksakan diri, memasukkan meski tak begitu berdiri.
Malam itu jadi malam yang paling canggung yang pernah terjadi selama 7 tahun pernikahan mereka.
Siangnya, Hana tertegun. Teringat candaan mereka saat tahun pertama pernikahan.
"Aku berdoa, kalau sedikit saja kau menyimpan rasa pada wanita lain, semoga Allah tunjukkan dengan cara, punya mu tidak berdiri lagi untuk ku"
Sumpah serapah macam apa itu?
Kenapa aku memikirkannya.
Hati Hana berkecamuk, berpikir apa mungkin sumpah itu dicatat malaikat?
Hingga 3 hari suaminya di rumah, seperti itulah hubungan mereka. Tapi Hana tak banyak bertanya, seperti biasa, dia hanya bicara dengan dirinya dalam hati.
Suaminya kembali ke kota, Hana melambaikan tangannya mengantarkan kepergian pria yang dia nikahi dalam pernikahan sederhana itu.
Sebulan kemudian, sang suami menelpon setelah mengirimkan uang padanya.
"Carikan aku kemeja dengan garis hitam di kerah dan tempat kancingnya"
Hana dengan semangat mencari di internet, tapi tak dapat. Dia juga takkan bisa membelinya karena suami akan pulang dalam 2 hari.
Hana bergegas ke pasar yang cukup jauh dari rumahnya itu. Mencari-cari kesana kemari, dia hanya mendapatkan kemeja putih dengan garis merah, bukan, hitam.
Lelah mencari, Hana beli saja kemeja itu.
Tapi, setelah sampai di rumah, suami menelpon dan mengatakan bahwa dirinya tak bisa diandalkan.
Hana sedih, tapi ya sudah. Sudah dia beli, mau dipakai syukur tak juga tak apa.
Suami kembali dari kota lagi, hal sama terjadi. Bukannya malu dengan keadaannya yang tak bisa memuaskan istri, suami malah berlalu bergitu saja menghubungi kerabat dan temannya.
"Oh ya, besok aku ke kampungku, ada reuni"
Mendadak, reuni?
Oh, ini dia alasannya.
Hana mulai kesal, dia lelah menahan amarahnya yang dia pendam selama ini.
Tapi Hana membiarkan suaminya pergi, dengan aduan pada Tuhannya.
"Ya Allah yang Maha pemilik, aku milik mu, suami ku milik mu, kuserahkan suami ku padamu, jika seorang wanita adalah alasan dari dia begitu ingin hadir di reuni ini, tunjukkanlah padaku Ya Allah, aku ikhlas dengan apa yang akan kau lakukan padanya"
Sang suami pergi, Hana tersenyum mengantar kepergiannya.
Dua hari setelahnya, suami yang seharusnya pulang sore hari, tak kunjung pulang. Hana terdiam menatap ponselnya.
Kemudian pesan dari suaminya muncul.
"Aku terlambat, mungkin malam atau subuh"
Hana jawab...
"Ya, hati-hati"
Hingga besoknya, suami baru pulang pukul 04.00 subuh. Hana membuka rollingdoor, ruang kosong bekas warung yang dipakai untuk menyimpan motor.
Hana sebenarnya sudah merasa sangat sakit hati, karena seringnya suami terlambat pulang. Dia mulai enggan menatap wajah sang suami, tak ingin menangis karena kesal.
Tapi kemudian sang suami berkata...
"Aku kecelakaan... "
Tunjuk suami ke arah lehernya.
Darah yang sudah mengering terlihat di kemeja sialan itu, merobek kerah yang kaku.
Jaketnya pun sobek, perban yang berdarah melingkar di leher suami.
Hana tertegun, ingat dengan pembicaraannya dengan Allah.
Dia hanya menelan ludah, meski sesak di dadanya mulai merasa hingga tenggorokan.
"Oh, ya, masuklah! "
Jawaban Hana membuat suami terheran. Dingin dan hampa, terlihat tak ada kesedihan.
Suami menceritakan, lehernya terjerat benang layangan di jalan liukan yang tertutup bukit. Dia sendiri heran, mengapa ada benang layangan di daerah itu.
Mengendarai motor keluar dari daerah bukit, barulah suami sadar ada darah mengalir di tubuhnya.
Hana hanya mendengarkan, pikirannya terus berkecamuk.
Hana membantu suami mengganti perban, kini tangisnya mulai keluar, sang suami menatapnya kemudian mencumbunya.
"Kau masih terluka, jangan lakukan! "
Hana menolak.
"Yang luka kan leher, bukan itu"
Hana memejamkan mata mendengar manisnya dia berbicara.
Hati Hana sudah hancur, sesak di dadanya bukan karena Allah memberikan musibah kecelakaan pada suami, tapi tentang pembicaraannya dengan Allah.
Malam tiba, Hana melihat wajah sang suami, setelah salam diakhir shalatnya.
Hana menangis lagi
"Ya Allah, keyakinan macam apa ini? Jawaban mu kah atau hanya kebetulan? Ini menyakitkan Ya Allah"
Hana menangis tanpa suara.
Sebulan lebih, sang suami tak bekerja, meski bosnya terus menelpon, memintanya kembali bekerja.
Hana diam saja, menyerahkan semuanya pada suami, apa dia akan kembali bekerja atau tidak. Toh, Hana sudah bisa mencari uang sendiri dengan berjualan peyek.
Dia juga sudah tak peduli suami hendak melakukan apa. Hana sudah tak percaya lagi pada apapun selain shalatnya.
Rumah kaca ku retak Ya Allah, bagaimana aku bisa memperbaikinya.
Ga jelas banget ya!
🤣🤣🤣