KETAMPANAN YANG TAK TERTANDINGI
(by "Aryadi Putra" )
Dikisahkan, Aryadi adalah seorang pemuda berparas tampan.Suatu ketika ada sekelompok perempuan genit, kita sebut saja para "tante" yang sedang mengiris buah apel merah yg baru saja dipetik dari pohon nya, sampai tak sadar, jari tangan mereka teriris, tatkala Aryadi melintas di hadapan mereka, saking terpukau nya mata mereka oleh ketampanan Aryadi. Ketampanan Aryadi konon dalam sebuah legenda disebut "Ketampanan Yang Tak Tertandingi".Dengan cepat cerita ketampanan dari Aryadi telah tersebar kesemua pelosok tempat itu. Baik orang tua dan kaula muda membicarakannya. Dan seolah-olah pembicaraan mereka tak ada bosannya.
Dan karena itu, tatkala 15 tahun lalu ketika masih muda, Aryadi di "deklarasikan" oleh penduduk setempat sebagai inkarnasi ketampanan Nabi Yusuf, sontak semua pria yg iri langsung mengajukan penolakan. Tak satupun para pria yg iri ditempat itu yang bersedia mengakui.
Deklarasi “sepihak” itu justru menjadi bahan ledekan dan ejekan oleh para pria-pria yg sangat iri, baik pria lajang maupun pria yg sudah beristri, mereka khawatir para wanita "kepincut" ketampanan dari Aryadi, terlebih lagi wanita yg sudah bersuami.
Pangkal masalah yang sebenarnya adalah ketika definisi ketampanan telah dimonopoli oleh para “pencipta dan perusak citra”. Melalui konstruksi sosial yang kemudian direproduksi oleh media, mereka menkosepsikan ketampanan sebagai sosok pria berbadan tegap proporsional, berkulit putih bersih, berhidung mancung, dan berpakain rapi. Lalu untuk merepresentasikan ketampanan itu, dicarilah pria-pria dengan kriteria tersebut, dan disematkanlah gelar tampan kepadanya, seperti halnya Aryadi.
Lantas bagaimana, jika tidak sesuai dengan konseps ketampanan seperti kriteria itu?...Tapi apakah karena diri ku, tidak termasuk dalam kriteria tersebut, lalu aku lantas dikatakan jelek?...Bagiku, akulah pemilik sah atas tubuhku. Aku tak sudi dikatakan jelek karena aku tak serupa dengan kriteria ketampanan ala pakem itu. Tak sudi!.. batin ku terus berteriak dan ingin sekali aku ludahi mereka. Dengan seenak nya mereka menghina dan mencaci, seolah telah hilang urat saraf rasa malu mereka.
Dan inilah, kriteria Aryadi 15 tahun lalu; tubuh tinggi ceking dengan proporsi tubuh lebih mirip tiang bendera (tinggi 180 meter & berat 51 kg), wajah tirus, rambut kucel, kulit kusam dan pakaian 3 pasang yang lebih sering kering di badan. Nah, itulah visualisasi yang kira-kira cocok untuk menggambarkan seperti apa rupa "Aryadi" kala itu.Semua itu masa lalu dan sudah berlalu, Aryadi lambat laun mulai ingin melupakannya walau terkadang sulit.
Bahwa hakekatnya, Tuhan menciptakan manusia dengan ragam rupa, bagiku itu adalah kodrat. Tuhan juga telah menyatakan bahwa "sesungguhnya manusia dicipta dengan wujud yang terbaik".Lantas, apa hak para “pencipta dan perusak citra” itu merekonstruksi dan menyematkan ketampanan hanya pada sosok yang pria berbadan tegap, atau menkonsepsikan kecantikan wanita dengan berbadan ramping tidak gemuk, berkulit putih dan berambut lurus ?..
Menurutku, ketampanan dan kecantikan yang saat ini terkonsepsikan adalah ketampanan dan kecantikan yang bermotif terlalu komersial. Coba tengok, bagaimana pencitraan atas makna tampan dan cantik yang ditampilkan di media dan TV?.....Nyaris tak ada bagian tubuh kita yang tidak dikomersialkan bukan?...Wajah kita dikomersialkan dalam produk aneka sabun, bedak dan gincu. Rambut kita diperebutkan oleh produk shampo dan minyak rambut, bahkan (maaf) payudara pun menjadi ajang jualan yang bernilai milyaran dolar.
Atas alasan ketampanan dan kecantikan, kita telah digiring untuk “dirudapaksa” mengkonsumsi aneka produk itu, demi menyerupakan wajah dan tubuh kita dengan ikon model ketampanan dan kecantikan yang ditampilan media dan TV, atau sekedar untuk tidak mau dikatakan "jelek".
Dan lihat lah pula bagaimana ketampanan dan kecantikan itu telah memicu banyak orang untuk rela membedah tubuh mereka di meja operasi, demi hidung yang lebih mancung, bibir yang lebih sensual, atau bokong yang makin bahenol. Ujung dan pangkalnya adalah keinginan memiliki uang banyak tanpa memperhatikan norma-norma kehidupan.
Jika demikian, lantas bagaimana dengan (maaf) saudara kita yang berkulit hitam, berambut keriting, berhidung pesek?.....Apakah karena mereka berbeda, layak dikatakan jelek?....Apakah ini bukan diskriminatif? Sangat diskriminatif! ....Maka penggunaan makna kecantikan dan ketampanan seperti itu adalah bentuk diskriminasi atas keragaman wajah dan rupa manusia.
Lalu apa benar, hakekat ketampanan dan kecantikan semata-mata soal bentuk tubuh semata saja?...Bagiku, terlalu dangkal jika hanya menakar ketampanan dan kecantikan dengan ukuran tubuh saja. Sebab, ketampanan dan kecantikan bermakna serupa dengan keindahan. Keindahan bersifat universal, karenanya setiap individu dapat memaknai dan menikmati keindahan.
Keindahan sesuatu yang tak terbatasi oleh sekat-sekat budaya, kasta ataupun kuasa. Keindahan dapat ditemukan di rumah kumuh, orang miskin, hartawan, gedung mewah, bahkan di kuburan sekalipun. Semestinya, ketampanan dan kecantikan pun hendaknya dimaknai seperti itu.
Karena itu, pengakuan "deklarasi" sepihak oleh masyarakat terhadap diriku sebagai inkarnasi ketampanan Nabi Yusuf, sebenarnya wujud ketidaksetujuanku atas penggunaan makna ketampanan. Tapi pada akhirnya, aku pun insaf.Setelah aku mengucapkan ijab qabul pernikahan, aku berhenti mengakui sebagai inkarnasi ketampanan Nabi Yusuf. Segera aku panjatkan doa, semoga kelak aku diberikan anak keturunan yang serupa fisik denganku, "Ketampanan Yang Tak Tertandingi"