Hahhh... Hahah... Hahahhh
Begitulah suara nafas dari seorang pemuda, yang tampak sedang berlari untuk menyelamatkan hidupnya. Nafasnya memburu dan wajahnya memucat akbiat kelelahan berlari, hingga ia akhirnya terpojok di sebuah gang buntu.
Dasar bodoh kau Noah!!!!
Hahahaha sekarang kemana kau akan lari hah? (Ucap seorang pria dari ujung gang tersebut suaranya terdengar keras dan mengancam).
Pemuda yang tersudut bernama Noah itu, tampak menatap tajam kepada seorang pria diujung lorong, yang wajahnya tampak samar-samar.
Alexander, dasar kau binatang, aku mempercayai mu selama ini, kupikir kita adalah rekan yang hebat.
Dorr!!!....
Rekan, aku tak pernah mempunyai rekan, apalagi rekan sepertimu!!! (Seru Alexander seraya menembakkan pistol ke kaki kiri Noah).
Nghhhh, kau, dasar tidak tau diri. Aku memperlakukanmu layaknya adik kandung ku sendiri,kita bahkan membuat tim duo yang hebat "The Duo Black Dragon" (Ucap Noah sambil menahan sakit akbiat peluru yang mengenai kaki kirinya).
Noah, apa kau tau alasan aku ingin melenyapkan nyawamu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kebencian ku padamu. (Alexander menatap Noah dengan penuh amarah).
Itu karena, aku selalu iri padamu..... KENAPAA, KENAPAAAA???? kenapa hanya kau yang selalu diperhatikan oleh guru. Kau selalu mendapatkan semua sanjungan, semua pujian, serta semua kepercayaan orang organisasi, yang selama ini bahkan aku impikan. (Alexander berteriak).
Mereka tak pernah memperhatikanku, aku bahkan seperti seonggok sampah. Aku hanya hidup dibawah kuasa mu, Orang-orang organisasi selalu merendahkan dan membandingkanku denganmu. Mereka bilang aku pecundang yang hanya bernaung dibawah jubahmu itu!!!! Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk menjadi pemimpin kelompok.
Tetapi...... Kenapa bukan aku? (Ucap Alexander yang pipinya mulai berair air mata).
Alexander... Maafkan aku, tetapi kau juga tau kita memiliki reputasi yang hebat dari julukan kita "The Duo Black Dragon" Kau harusnya bangga karena kita adalah Duo terbaik di organisasi.
Noah, aku tau semua itu. Jujur itu juga memberikan ku sedikit kesenangan terlepas dari hinaan dan segalanya yang kau rampas dariku, tapi, apakah itu cukup?
Mungkin kau tidak tau hal ini tapi.... Saat kau melakukan solo mission dan pergi seorang diri, aku yang tetap tinggal di markas organisasi diperlukan layaknya seekor burung dalam sangkar. Aku selalu terkurung seharian dalam markas, tidak dapat berinteraksi dengan dunia luar, dan yang lebih parahnya adalah.... Para senior memperlakukan ku seperti mainan.
Aku selalu direndahkan, di pukuli, bahkan jatah makananku pun dirampas dan tidak diberikan. Aku pernah mencoba melawan namun.... Perbedaan kekuatan antara kami sangatlah jauh, dan jika aku kalah mereka akan tambah menjatuhkanku dan menghinaku, bahwa aku adalah seorang bayi yang hanya bisa merengek padamu.
Kenapa kau tidak melaporkan nya kepada guru, atau mengapa kau tidak menceritakan nya padaku Alexander?? (Seru Noah kebingungan sekaligus terharu mendengar cerita Alexander).
Alex menurunkan pistolnya..
Kakak... Aku tak ingin selamanya hidup dalam keputusasaan, aku tak ingin terus hidup hanya dengan kau lindungi. Aku ingin kuat dengan caraku sendiri. Aku... Iri padamu yang memiliki itu semua. (Ucap Alexander yang tak kuasa lagi membendung air matanya).
Alexander maafkan aku... (melihat sosok yang telah Noah anggap sebagai adiknya sendiri itu menagis, noah tak kuasa menahan dirinya, dan bergegas memeluk Alexander).
Alex maafkan aku, aku memang kakak bodoh yang bahkan tidak mengerti bagaimana perasaanmu, aku... Adalah kakak yang tidak berguna, maafkan aku..... (Ucap Noah masih memeluk Alexander dengan erat).
Kakak.... (Alexander merasa penuh penyesalan dan kini balik memeluk Noah).
Aku tau pada akhirnya aku tak akan pernah bisa melakukan pembunuhan ini, aku tau betul.... Karena walau bagaimanapun kaulah orang yang satu-satunya peduli terdapku di organisasi. (Ucap Alexander terisak).
Kakak... Bagimana kalau kit-
Jleb!!!
(Mata Noah terbelalak melihat Alex tertusuk pisau yang tepat mengenai perutnya).
Alexxxx!!!!!!! (Noah berteriak kaget sembari melihat sekeliling mencari pelaku dari apa yang barusan terjadi).
Keluar kau, hadapi aku! Siapapun kau... Aku, pasti akan mengakhiri nyawamu. (Gertak Noah dengan tatapan dinginya).
Wah-wahh apa-apaan dengan tatapan matamu itu Noah? (Seru seorang yang suaranya sangat dikenali oleh Noah).
Maya.. Dasar j*la*g kenapa kau melakukan ini? (Teriak Noah dengan amarah).
Ohh, Kenapa katamu? Aku hanya membantu mengurangi sampah organisasi, apakah aku salah humm?? (Ucap maya tersenyum sinis seraya menunjukan dirinya).
Maya..... Kau pasti salah satu orang yang disebut Alex. Ku tanya padamu apa saja yang pernah kau lakukan padanya? (Ucap Noah dingin seraya membaringkan tubuh Alexander).
Ah apa saja ya? Mulai dari menghajarnya dan membuatnya selalu dihukum oleh guru.. Humm sebentar yang paling aku sukai sih, saat..... Aku merampas nyawanya didepanmu sekarang Hahaaha
(Ucap Maya tertawa merasa tak bersalah).
Noah yang tak kuasa menahan amarahnya langsung lari menerjang dengan hawa membunuh yang pekat.
Hihi~ kau pikir untuk menghadapimu aku hanya pergi sendirian Noah? (Ucap maya percaya diri).
Noah yang tadinya ingin langsung mengakhiri nyawa wanita itu, terhenti karena merasa ada lilitan tali yang kuat di kakinya.
Dia melihat ke belakang dan terkejut sudah ada para anggota organisasi yang mengepungnya.
Hahaha begini saja Noah, bagaimana kalau kau serahkan saja adik sampahmu itu pada kami? Mungkin kami bisa pertimbangkan agar kau hidup berberapa hari lagi. (Kata maya dengan seringai bersamaan para anggota organisasi).
Noah hanya membalas senyuman wanita itu dan berkata...
Langkahi dulu mayatku (kata Noah tanpa keraguan matanya menusuk kearah maya).
Baiklah sepertinya kau ingin mati dengan cepat ya? Anak-anak ayo bunuh dia (seru maya memerintahkan anggota lain untuk menyerang bersamaan).
Noah melihat pola serangan mereka kemudian melompat kebelakang seraya memutuskan pisau yang menjerat kakinya.
Clangg ctangg!!
Suara dentuman benda tajam bergema memenuhi gang itu, dan Noah tampak sedikit kesulitan melawan jumlah mereka, yang banyak, apalagi ditambah kaki kirinya yang terluka.
Noah melakukan tendangan berputar
menggunakan kaki kananya mengenai wajah salah satu anak buah Maya dengan keras dan membuatnya tersungkur tak sadarkan diri.
Plok plok plok..... (Maya memberikan tepuk tangan).
Ternyata memang benar kau adalah sang pendekar nomor satu di organisasi yah? Ah, merepotkan sekali pada akhirnya akulah yang harus turun tangan (Ucap Maya).
Maya melesat melemparkan pisau kearah Noah tapi pisau itu hanya mengenai angin kosong.
Noah yang sadar jika pisau itu meleset langsung lari untuk menjatuhkan Maya.
Maya tersenyum karena ternyata pisau yang tadi dilemparnya dapat membalik menyerang Noah dari belakang dan membuat pipinya tergores. Benda itu bahkan nyaris mengenai pembuluh darahnya.
Noah menyeka pipinya dengan telapak tangan terlihat darah segar mengalir di pipinya.
Aku tak bisa melawannya dengan kondisi ku sekarang terlebih (Noah menengok ke kanan kiri).
Jumlah mereka begitu banyak, dan mereka orang dengan pelatihan. Aku harus mundur dan membawa Alexander pergi dahulu. (Gumam Noah).
Jadi bagaimana sekarang Noah? Kau sudah tersudut, tidak ada lagi jalan keluar bagimu dari sini, sayang sekali kau tidak mengambil keputusan dengan benar diawal tadi. Yah bagaimanapun kau akan tetap mati sih... (Ucap Maya santai).
Kau berpikir sudah menang hah maya? Kau melupakan satu hal bahwa kau hanyalah An**ng organisasi. (Noah tersenyum).
BREN**K BUNUH DIAAA!!!! (Maya marah besar dan menyerang kedepan berasama anak buahnya).
Tepat pada momen itu Noah menarik pin sebuah flasbank dan melemparkanya kedepan.
Ahh mataku... Rnghh cepat cari orang itu jangan sampai dia kabur (ucap maya memerintahkan).
Noah yang melihat kesempatan itu tak berpikir lama dan langsung lari sambil menggendong Alexander di punggungnya.
Noah berlari dengan susah payah karena kaki kirinya yang tadi tertembak. Namun tentu pengalaman selama dia di organisasi membuatnya menjadi sekuat ini. Sehingga semua itu ia hiraukan demi menyelamatkan nyawa Alexander
Hujan turun mengguyur dan Noah berusaha mencari tempat berteduh sampai ia menemukan sebuah rumah gubug tua.
Tak pikir panjang ia lalu bergegas mendekat dan merebahkan tubuh Alex di teras gubug tersebut.
Tok tok tok
Permisi.... Apa ada orang? Kami memerlukan sedikit bantuan (ucap Noah dengan suara bergetar kedinginan akibat guyuran hujan).
Sepertinya tempat ini tidak ada orang yah? Ahhhhgg sial, baiklah, bukan itu yang terpenting sekarang. (Kata Noah yang perlahan mendekat ke Alexander untuk memeriksa detak jantungnya).
Degg degg degg (detak jantung masih ada walau terdengar lemah).
Hal itu membuat Noah sedikit lega dan segera memeriksa dan mengobati luka bekas tusukan di perut Akexander. Ia menjahit luka tersebut dengan kain bajunya, lalu menempatkan berberapa daun herbal yang dia temukan di sekitar gubug guna cepat menutup luka tersebut.
Rasa lelah akibat berlari dan bertarung membuat Noah jatuh tertidur disamping Alexander
Menit berlalu cepat, tiba-tiba terdengar suara erangan yang membangunkan Noah
Kakak dimana kita? (Ucap Alexander dengan lemah).
Syukurlah kau sudah sadar, kita sedang berada di sebuah gubug tua entah milik siapa gubug ini. (Ucap Noah).
Bagiamana kondisimu?
Kak.. Sepertinya aku tidak akan bertahan lebih lama lagi.. (Ucap Alexander masih dengan suara lemah).
Kau!! Jangan katakan itu aku sudah mengobatimu kau akan baik-baik saja. (Ucap Noah pasti).
Tapi kak perutku terasa panas sekali rasanya (Ucap Alexander).
Panas? (Noah dengan panik melihat luka yang tadi dia jahit dan alangkah terkejutnya ia luka itu malah bertambah parah).
APAA??? KENAPA INI BISA TERJADI?? (ucap Noah panik mencoba mengigat kejadian yang dialaminya ia yakin tidak salah saat menjahit lukanya).
Tunggu sebentar.... Pisau tadi... (Noah mengigat pisau yang tadi digunakan untuk menusuk Alexander). Pisau itu.... Mengandung Asam... Berbeda dengan pisau yang tadi mengenai pipi ku. (Wajah Noah memucat dan panik).
TIDAKKK BAGIMANA INI TUNGGU SEBENTAR AKU AKAN CARI CARA LAIN UNTUK MENGO- (Ucapan Noah dipotong oleh Alexander).
Kakak sudah cukup, aku.. Sudah tidak sanggup.. (Sorot mata Alexander mulai redup).
TIDAKK DASAR BODOH KAU AKAN SELAMAT KITA AKAN MEMBALAS DENDAM BERSAMA-SAMA. (Ucap Noah tak kuasa menahan air mata).
Kak maafkan aku tapi kurasa hal itu mustahil aku... Akan pergi lebih awal
Maafkan aku atas perbuatanku, dan maafkanlah segala hal yang sudah kulakukan padamu,maafkan juga aku yang selalu menjadi beban dalam hidupmu...
Selamat jalan.... Kakak.... (Ucap Alexander yang kini sudah sepenuhnya menutup mata begitupun jantungnya yang berhenti berdetak).
Argghhhhh (Noah memukul pintu kayu gubug tua itu hingga hancur tak berbentuk lagi).
Diliputi rasa putus asa perlahan ia menyeka air mata dari kelopak matanya, dan berjalan menatap jalanan yang masih diguyur hujan seraya berkata.
Aku akan menghancurkan semua orang yang pernah mengganggumu, akan aku hancurkan juga organisasi bodoh itu, aku... Akan membalaskan dendamuu.
Alexander....
Ctarrr (petir menggelegar seolah memberi tanda dan restu bagi pembalasan dendam Alexander).
Tidak butuh waktu lama, hujan sedikit mereda, Noah mengumpulkan ranting dan batu serta membuat lubang untuk makam Rekan terbaik yang sudah seperti saudaranya itu.
Aku akan pastikan dendamu terbalaskan. (Ucap Noah memandang batu nisan dari makam Alexander).
Dan seperti itulah petualangan pembalasan dendam akan dimulai... Nantikan kelanjutan kisahnya ya.. Bye..
Maaf kalau jelek ini cerpen pertamaku, tapi kalau kalian suka silahkan tinggalkan like nya ya? Makasih semuaaa