Seseorang membantu ku bangun, ada orang lainnya yang datang membantu. Mereka memakai pakaian yang sama seperti seragam.
Aku lemas, dinginnya cuaca membuat kaki ku semakin kaku. Mungkin ada luka juga di perut ku. Terasa sangat perih.
Suara sirine yang biasa dipakai ambulans terdengar.
Syukurlah, aku diselamatkan oleh petugas. Aku lega, nafasku melemah, rasanya lemas sekali. Ngantuk dan tak bisa mengangkat tangan ku.
***
"Asistennya, dia asistennya"
Suara Mark.
Aku dengar suara Mark bicara dalam bahasa Slav.
Mata ku terbuka semua secara spontan.
Aku mencari arah suara itu.
Dia ada di sana, di sisi kiri ku, agak jauh dan terlihat kacau.
Seorang suster menyadari aku telah bangun.
"Dia sudah bangun Dok! " serunya.
Dokter datang bersama Mark.
Selang oksigen masih menempel di mulutku. Aku hanya bisa menatap Mark yang pakaiannya berantakan. Bercak darah juga ada di lengan bagian kanannya.
"Mana.... Tuan..... A.... "
"Jangan buat dia banyak berpikir, biarkan dia istirahat. Dia kehilangan banyak darah, untung cuacanya dingin, jadi menghambat pendarahan, berhari-hari dia terkapar di bukit.
Hah, berhari-hari!
Lalu bagaimana dengan Tuan Ali dan Hans.
Mark mengikuti dokter dan terus bicara dengannya.
Aku tak bisa bangun, terasa masih lemas dan sulit membuka lagi mataku. Kemudian, aku.....
***
Tuan Ali berdiri di dekat jendela kamarnya, berbalik dan tersenyum padaku.
"Kau sudah bangun? " tanyanya.
Aku langsung memeluknya.
Aku tidak peduli dengan gengsi ku lagi. Saat ini aku hanya ingin memeluknya.
"Kau menangis? " bisiknya.
"Jangan menangis, kau harus kuat. Aku akan selalu bersama mu" bisiknya lagi.
Kemudian Tuan Ali hendak membelai rambutku. Tapi, tangannya mulai menjauh, tubuhnya pun ikut menjauh.
Aku hanya bisa melihat kedua tanganku yang kehilangan dirinya.
Tuan Ali menghilang.
Aku menangis.
****
"Tidak! "
Aku terbangun, terengah dan menatap ke segala arah.
Tak ada siapapun di kamar itu.
Kemudian Mark datang membuka pintu. Dia kembali pergi dan berteriak.
"DOKTER! Melati sudah sadar! "
Serunya memakai bahasa Indonesia.
Apa?
Aku sudah kembali?
Dokter datang dengan suster, tentu saja dengan Mark juga.
Mark memegangi tangan ku, terlihat sangat cemas tapi seolah lega aku sudah bangun.
Selesai dengan pemeriksaan, Mark dan aku ditinggalkan sendiri.
Teringat dengan ucapan terakhir Tuan Ali. Dia berjanji akan mengembalikan aku ke rumah dengan salah satu dari Mark atau Hans.
Aku menatap Mark, dia tersenyum dan mendekat.
"Kau mau minum? " tanya Mark sembari menuangkan air ke gelas.
"Apa yang terjadi pada kalian? " tanya ku.
Mark terdiam, seolah merasa tak ingin menjawab pertanyaan ku, dia tak langsung menatap ku.
"Seseorang datang saat kalian pergi, aku menembak kakinya, juga beberapa penjaga yang mengejar ku, aku.... "
"Kami perang senjata dengan mereka, tapi mereka berhasil menangkap kami, aku, Hans dan Tuan Ali, kami di bawa ke sebuah gudang dan di sekap. Tuan Adrik mati ditempat. Tuan Ali di siksa sedemikian rupa hingga dia lemas, aku juga tidak tahan dengan siksaan mereka. Hans.... dia bahkan tidak diberi jeda untuk menghela. Saat mereka lengah, kami kabur, tapi Tuan Ali tak bisa bertahan, dia tergeletak di bukit dekat villa Tuan Adrik. Kemudian Hans menungguinya, aku pergi lebih dulu untuk mencari bantuan, tapi suara tembakan yang bertubi-tubi membuat ku terduduk lemas. Saat kembali, hanya ada ceceran darah di sana, berjenjak seolah diseret menuju jurang ke arah aliran sungai. Mereka...... "
"Mereka tidak mati Mark. Mereka masih hidup" ucap ku.
Aku bangun perlahan.
"Kau jangan bangun dulu" ucap Mark cemas.
"Kita harus kembali, aku akan mencari mereka" ucap ku.
"Ini sudah sebulan Mel, kami sudah berusaha" ucap Mark.
Aku terduduk lemas.
"Kau koma, aku bahkan mengira kau sudah.... "
Aku menangis tanpa suara.
Wajah Tuan Ali begitu jelas di mata ku. Tersenyum dan berdiri di dekat jendela.
"Tidak, tidak mungkin! " ucap ku.
"Maaf Mel, tapi itulah kenyataannya" ucap Mark.
***
Semingu berlalu, aku keluar dari rumah sakit setelah benar-benar dinyatakan baik.
Orang pertama yang kutemui adalah ibu.
Mark mengizinkanku kembali ke rumah ku untuk sementara.
Aku berdiri diambang lorong menuju rumahku. Dani melihat ku, dia berlari.
"Mel, lu dah pulang? " tanya Dani.
"Kau tahu ibu ku dimana? " tanya ku.
"Di rumah pak Gunawan" jawabnya.
Dani tak menyusul, dia diam, sepertinya hanya menatap kepergian ku.
Aku berjalan ke rumah pak Gunawan yang cukup dekat dari rusun.
Ku lihat dari jauh, ibu sedang menyiram tanaman di pekarangan rumah Pak Gunawan.
Ibuku melihat ku, dia melepaskan selang di tangannya kemudian menggosokkan tangannya ke baju.
Dia menghampiri, kemudian memelukku.
"Syukurlah" bisiknya.
"Syukurlah" bisiknya lagi.
"Bu! " aku memanggilnya.
"Hmmm? " ibu melepas pelukannya kemudian menatap ku.
"Aku lapar" ucap ku.
Ibu tersenyum, di menarik tangan ku untuk masuk ke dalam.
"Masuklah, Pak Gunawan sedang pergi dengan anak-anaknya, liburan. Ibu disuruh jaga rumah selama liburan" ucapnya.
Aku mengikutinya seperti anak kecil yang kelaparan.
"Kau mau makan apa? Hmm? " ibu menarik kursi untukku.
"Nasi goreng telur ceplok" jawab ku.
"Ok, tunggu ya! " dia langsung menyiapkannya.
***
Aku berdiri di dekat kolam renang di rumah Tuan Ali.
Teringat saat pertama kali kami bertemu. Tak sadar, aku tersenyum. Aku melihat Tuan Ali keluar dari air dengan tersenyum.
Kemudian, aku melihat diri ku sendiri datang membawakannya handuk.
"Sudah selesai berenangnya, aku mau pergi jalan-jalan dengan mu" aku merengek padanya.
"Iya... iya nyonya Hayyan, aku selesai. Ayo kita pergi! " Tuan Ali memeluk ku kemudian menciun bibir ku di sana.
Tak terasa air mataku mengalir, aku memejamkan mata sebentar lalu kembali membukanya.
Semuanya hilang, Tuan Ali dan diriku yang dipeluknya menghilang.
Aku terduduk, memeluk kedua lutut ku. Aku menangis lagi.
Astaga, kenapa sangat sesak dada ini, serasa sulit sekali bernafas jika aku ingat Tuan Ali. Membayangkan kemungkinan bagaimana kami bersama jika dia ada di sini.
***
Pengacara keluarga Hayyan berdiri di depan semua orang.
Aku, berdiri bersama bu Sumi dan pengawal lainnya, Mark lebih sering berdiri di belakang ku sekarang.
Dia hendak membacakan surat wasiat dari Tuan Ali.
Saudara jauhnya, mendengarkan lewat video call grup. Adik laki-laki nya datang bersama istri dan anaknya.
Pengacara memberitahu, semua orang mendapatkan bagian yang layak mereka dapatkan. Semua orang puas, mereka tersenyum.
Tapi, Akbar Ahmad Hayyan, adiknya, bertanya perihal rumah yang sedang menjadi tempat pertemuan mereka ini.
"Rumah ini, diserahkan kepada istri Tuan Ali Ahmad Hayyan" ucap pengacara Lucas.
Akbar terkejut.
"Kakak ku tak punya istri, dia melajang seumur hidupnya" ucap Akbar.
"Tidak Tuan Akbar, beliau menikahi seorang gadis pilihannya, saya menjadi saksi pernikahannya" jawab Lucas.
Hmm, Lucas diminta datang hari itu, dia malah menatapku sinis karena tak percaya aku jadi pilihan Tuan Ali.
Tunggu!
Kenapa aku yang mendapatkan rumah ini?
Tidak, itu tidak mungkin.
"Siapa dia? " tanya Akbar.
"Melati Melviana! Gadis yang menjadi asisten Tuan Ali, yang sebelumnya sudah pernah menyelamatkan dia dari musuh" ucap Lucas.
Semua mata tertuju padaku. Kecuali Tuan Akbar, yang tak tahu siapa aku.
Tidak, tidak mungkin aku.
"Minta dia berdiri di hadapan ku" ucap Tuan Akbar.
Bu Sumi tersenyum dan mengantarku.
Aku takut sekali, sangat takut.
Tuan Akbar menatap ku, cukup lama, sampai membuat ku merasa kalau dia akan menyatakan perang padaku.
"Kau yang koma selama hampir sebulan itu? " tanyanya.
Aku terkejut, ku kira dia tak tahu.
"Terimakasih sudah bersamanya, meski sebentar, aku sudah tahu bagaimana kau menjaganya. Teruskan Lucas, aku setuju dengan semua wasiat Ali" Tuan Akbar kembali duduk.
Tidak, tidak mungkin.
Aku kembali berdiri di dekat Bi Sumi, dia memegangi ku, sepertinya aku akan jatuh pingsan.
****
Beberapa bulan setelah aku menjadi nyonya rumah Hayyan. Beberapa orang datang untuk menanyakan bisnis yang selama ini Tuan Ali kerjakan.
Jelas, aku meminta saran dan nasihat dari Mark. Karena hanya tinggal dia yang tahu semuanya.
Bisnis kembali normal, meski aku masih tertatih mengerjakannya.
Aku cukup tenang karena Markus menjadi asisten ku sekarang.
Malam itu, aku terbangun karena memimpikan Tuan Ali memeluk ku di ranjang.
Ya, mimpi tentang dirinya semakin jelas. Aku merasa bahwa dia benar-benar selalu ada di sini bersama ku.
Aku bangun dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum ku yang telah habis.
Aku berjalan perlahan, karena jika Bi Sumi tahu aku bangun, dia juga akan bangun.
Ku lihat pintu balkon terbuka, mungkin bi Sumi lupa, maklum dia banyak kerja. Aku mendekat hendak menutupnya, namun ku dengar Mark sedang bicara dengan seseorang di sana.
"Seharusnya kau tidak ke sini" ucap Mark.
"Aku merindukannya" ucap seseorang.
Aku merasa pernah mendengar suara itu.
"Jika dia tahu kau yang menemaninya selama koma, dia tidak akan percaya lagi pada ku" ucap Mark.
Siapa? Siapa dia yang menunggu ku selama koma?
Aku maju satu langkah untuk melihat. Tapi tetap saja tak terlihat.
"Lagipula, dia akan mengetahui semua tindakan kita, jika dia bertemu dengan mu sekarang" ucap Mark.
Aku bukan penyabar, aku membuka satu daun pintu lainnya dan memergoki mereka.
"Leo! " aku terpaku.
Leo dan Mark menatap ku.
Apa ini?
Mark dan Leo saling mengenal?
Apa yang sudah mereka lakukan pada tuan Ali?
Aku bergegas masuk ke kamar ku untuk mengambil pistol ku.
Mark mengejar, dia ikut masuk dan menutup pintu.
"Dengar..... " Mark menatap ku yang siap dengan pistol ku.
"Apa yang harus aku dengar, sudah aku dengar" ucap Ku benar-benar siap melepaskan tembakan.
"Tidak Mel dengar dulu! " Mark mencoba mendekat.
"Jadi begini maksud dari jangan percaya siapapun jika berbisnis di dunia seperti ini? " aku maju selangkah.
Leo membuka pintu dan menutupnya lagi.
"Dia gangster Mel, kenapa kau bisa jatuh cinta padanya? " ucap Leo.
Aku menatap mereka bergantian. Aku terjebak dalam satu ruangan bersama mereka.
"Dia suami ku, jelas aku harus mencintainya" ucap ku sambil terus bergerak menuju dekat jendela.
Jendela terbuka?
Siapa yang membukanya?
Tak peduli siapa, aku langsung melompat keluar jendela. Leo dan Mark terkejut, mereka berpikir aku terluka parah.
Ini hanya lantai dua, aku siap dengan lompatan ku. Tapi senjata ku terlepas, aku tidak bisa menemukannya.
Aku lihat Mark sudah menuruni tangga.
Aku berlari keluar menuju pagar, tapi seseorang menarik ku ke arah belakang rumah yang penuh dengan pohon dan semak.
Dia menutup mulutku, aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi, aku bisa mencium wanginya. Aku tahu siapa dia.
Dia mendekatkan wajahnya, aku langsung memeluk nya.
"Tuan Ali! " bisik ku.
"Hmmm, aku datang. Kau tidak usah khawatir. Aku datang untuk mu" bisiknya.
Ya, aku tidak perlu khawatir lagi.
Ada Tuan Ali, dia akan membuat Mark dan Leo membayar semuanya. Aku tidak perlu lari tanpa alas kaki lagi.
Aku tidak perlu menembak lagi. Aku tidak memerlukan pistol ku lagi.
Ada Tuan Ali.
Tuan ku
Suami ku.
TAMAT
ambigu
tapi saya selalu senang dengan akhir seperti ini
😁😁
Terimakasih sudah membaca
Semoga sehat selalu
Saranghaeyo!