Tuan Ali sedang bicara dengan Hans dan Mark.
Mark menatap dengan sinis, sudah tidak aneh, tapi kenapa aku merasa kalau dia terlihat sangat membenciku.
Aku hidangkan kopi milik Tuan Ali di meja. Dia mendengar ku meletakkan cangkir, langsung berbalik dan menyuruh mereka pergi.
Aku langsung merasa ada yang dia sembunyikan dari ku. Tapi aku juga sedang menyembunyikan niat ku untuk. mencari tahu sendiri tentang Leo.
"Terimakasih" ucap Tuan Ali kemudian duduk dan mengambil cangkirnya.
"Maaf karena semalam merepotkan anda" ucap ku.
Tuan Ali menaruh cangkirnya.
"Kau ini bicara apa?" tanya Tuan Ali.
"Semalam saya tidak sadar kalau saya demam, mungkin saya mengigau dan bicara asal. Saya minta maaf Tuan! " ucap ku.
"Asal? " Tuan Ali mendongak menatap ku.
"Hehe, kan kalau orang mengigau itu tidak sadar dengan apa yang dia katakan, Tuan! " ucap ku dengan senyum, merasa sangat bodoh.
"Tapi, aku suka. Kau mengatakan kalau kau suka aku dekat dengan mu. Namun, jika itu asal.... "
"Apa? Aku bicara apa? " aku terkejut dengan ucapannya.
Tuan Ali terkejut karena nada bicara ku tinggi dan seperti biasa, bukan formal.
"Maaf maksud ku.... "
Tuan Ali berdiri, dia mengusap rambut ku.
"Bicara seperti itu saja, jangan teralu formal, khususnya saat kita hanya berdua" ucapnya.
Mataku membulat merasa sikapnya sangat manis.
"Tidak masalah dengan semalam. Hari ini aku harus keluar, kau di rumah saja. Karena kau sedang demam. Banyak penjaga, tapi kau harus tetap waspada. Pistol mu sudah kembali ke dalam tas mu. Sudah ku isi penuh juga. Hati-hati! "
Aku terpaku, Tuan Ali mencubit lembut pipi ku saat dia mengatakan hati-hati. Wajahku terasa panas, apa aku sudah gila?
Mana mungkin aku suka pada pria yang seperti itu?
Tapi raut wajahnya terus terbayang meski dia sudah pergi.
Cukup Mel, fokus mencari tahu tentang Leo. Kau harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mengapa dia tahu semuanya, mengapa Leo di sini dan mengapa semua ini bisa terjadu padaku?
Aku mulai mencari, Tuan Adrik pun pergi kan. Tapi ku lihat para penjaga itu sangat ketat penjagaannya.
Aku kembali ke kamar, berpikir bagaimana caranya membuat mereka pergi dan menjaga di luar saja.
Ah, aku punya ide.
Setelah dua jam di kamar, aku keluar kamar, turun perlahan dengan sesekali menggaruk kepalaku.
Penjaga menatapku, mereka memalingkan wajahnya, karena aku memakai pakaian tidur.
Hehe...
Aku berjalan ke dapur dan membawa secangkir kopi panas kemudian duduk di sofa.
Aku menatap ke arah mereka yang masih saja diam berdiri seperti Royal Guards yang ada di Inggris.
"Maaf, bisakah kalian pergi berjaga di luar saja. Aku.... "
Aku menunjuk ke arah kopi ku.
Mereka kaku sekali, hanya mengangguk dan kemudian pergi.
Hah, ternyata mudah.
Aku langsung melihat ke jendela, melihat mereka yang kembali berdiri di luar.
Aku berjalan mengelilingi rumah itu, teringat ada sebuah pintu di dapur, aku ke sana dan memeriksa.
Ku tatap pintu itu. Ini bukan pintu keluar, seperti ada ruang khusus, tapi ku perhatikan dari sisi rumah, hanya ada sedikit ruang.
Mungkin gudang, tapi kenapa aku sangat penasaran. Ku coba membukanya.
Di kunci.
Aku melihat lagi ke arah luar. Waspada, takut penjaga itu tiba-tiba datang.
Tidak, mereka semua komplit berada di luar, berjaga.
Kemudian perhatian ku teralihkan, seorang penjaga datang dari arah bukit. Kemudian bicara dengan penjaga lain.
"Darimana dia?" gumam ku.
Penjaga itu hendak masuk, aku buru-buru duduk dan meminum setengah kopi ku. Sedikit tersedak, tapi ku coba untuk terlihat santai.
Mereka kembali, kemudian berdiri di hadapan ku.
"Maaf nyonya Hayyan, apa anda bisa kembali ke kamar anda? " tanyanya dengan bahasa Inggris.
"Kenapa? Aku.... "
"Untuk keselamatan anda nyonya, maaf membuat tidak nyaman" dia memotong ucapan ku.
Aku kesal, tapi aku menurut. Ku bawa cangkir kopi ku ke kamar. Mereka mengikuti ku hingga aku masuk ke dalam.
"Sampai segitunya, mengantarkan aku sampai ke dalam! " gumam ku tak percaya dengan sikap patuh mereka.
Aku langsung mencoba mengintip dari jendela kamar, tapi tak terlihat apapun. Genting bawah terlalu besar dan menutupi gerak-gerik mereka. Aku hanya bisa melihat pepohonan saja.
Hufftt...
Ceklek... cekleekk...
Aku menoleh.
Pintu ku di kunci dari luar!
Aku berlari menempelkan telinga ku.
"Hei... kenapa di kunci! " seru ku.
Tapi suara langkah kaki seseorang terdengar mantap dan kuat mendekat.
"Buka saja, aku ingin dia tahu siapa aku" ucapnya memakai bahasa Slav.
Siapa itu?
Kenapa ada orang lain di sini?
Ceklek... ceklek..
Aku mundur, ku siapkan pistol yang ku ambil dari tas ku.
Pintu terbuka, seorang pria paruh baya berbadan besar berisi menatap ku.
"Siapa kau? " tanya ku mundur perlahan.
"Hai Nyonya Hayyan, senang bertemu dengan mu" ucapnya dengan mata meraba ke tubuh ku.
Sial, aku memakai pakaian tidur. Aku jadi menyesal.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk. HEI KALIAN, MENGAPA MEMBIARKAN DIA MASUK KE KAMARKU! KALIAN MAU AKU ADUKAN PADA TUAN ADRIK! "
Tak ada yang masuk dan merespon ucapan ku.
Pria itu tertawa.
"Mereka sudah menjadi pengikut ku selama puluhan tahun. Kau tidak akan bisa mengatur mereka, Adrik juga" ucapnya.
Beberapa pria penjaga datang tapi bukan hendak meminta pria itu pergi, mereka hendak menangkap ku.
Aku bergerak cepat mendekat ke pria paruh baya itu, ku todongkan pistol ke kepalanya. Dia terkejut karena pistol sudah ada di hadapannya.
"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan" ucap ku dalam bahasa Slav.
"Waah, ternyata nyonya Hayyan begitu pintar dan pandai menggunakan senjata" ucap pria itu.
"Diam, aku bukan penyabar" ucap ku.
Dia menggerakkan tangannya agar mereka keluar. Mereka keluar, sangat mwnuruti perintah pria ini.
"Aku sudah melakukan yang seharusnya. Sebaiknya kau turunkan senjata itu. Seram tau! " dia bersikap santai.
Aku mengambil jaket kulit milik tuan Ali yang menggantung dekat pintu. Pria paruh baya itu hendak meraih tanganku, tapi aku mengelak. Ku lepaskan satu tembakan mengenai kakinya.
Cepat-cepat ku pakai jaket dan menodongkan pistol ke arah para penjaga yang hendak masuk.
"Minggir! " ucap ku beri kode juga dengan menggerakkan pistol ku.
Mereka semua minggir kemudin masuk menyelamatkan tuan mereka.
Aku turun, beberapa penjaga lagu datang dari arah depan, tapi aku pergi ke dapur. Aku keluar dari pintu dapur, seorang penjaga menghadang dan ku tembak kakinya.
"DIA LARI KE ARAH BUKIT! " seru penjaga yang terluka itu.
Sial, kenapa tak ku tembak mulutnya saja.
Aku berlari tanpa alas kaki secepat mungkin, entah kemana, tapi ini jelas ke arah bukit.
Jauh, semakin jauh, tanah semakin menanjak. Aku mulai kelelahan hampir kehabisan tenaga.
Tak ku dengar teriakan mereka yang mencari ku. Tapi aku harus tetap berlari. Aku harus bisa menyelamatkan diriku.
Brakkk!
Aku terjatuh terperosok, terguling-guling ke bawah. Entah seberapa dalam, sebuah pohon kering yang tak sengaja ku raih ranting nya rapuh dan jatuh menimpa ku.
Ku rasa kaki ku terkilir, ada rasa perih di sisi perut ku juga.
Kepala ku sakit, tapi aku masih bisa sadar. Sedikit demi sedikit semuanya menjadi buram.
***
Kaki ku dingin.
Leo hendak meraihnya untuk menggosoknya.
"Tidak usah, ini membuat canggung" ucap ku menolak.
"Tidak apa-apa, lihat yang lainnya juga sama, petugas membantu peserta untuk mengurangi rasa dingin" ucap Leo.
Ya, hanya sebagai petugas pada peserta tes saja.
Aku melihat ke arah teman-teman yang juga sedang diberi pertolongan. Pemandangan itu berubah seketika menjadi seram. Mereka semua tergeletak bersimbah darah karena tembakan.
Leo menarik tangan ku.
"Sadarlah! Kita harus lari secepatnya! " ucapnya.
Mata terbuka sepenuhnya, aku mengambil nafas dalam.
Aku mengintip ke celah-celah ranting yang masih menutup wajah ku.
Sunyi.
Tak ada siapapun yang mencari ku, bahkan para penjaga itu.
========>>