Di sore hari sepulang sekolah, kedua teman ini berjanjian untuk mampir sebentar di sebuah toko buku karena ada satu buku yang diminta gurunya agar para murid mempunyainya.
"Ah semoga harganya nggak mahal ya, gue cuman dikasih uang seratus ribu" ucap Inara sembari berjalan bersebelahan dengan Akara.
"Katanya semacam buku kitab gitu, gue juga nggak yakin kalau harganya under seratus ribu" sahut Akara.
Kini langkah mereka terhenti di hadapan sebuah toko buku yang besar, terletak di pinggir kota namun sudah sangat terkenal.
Ketika mereka memasuki bangunan yang terdapat banyak sekali buku-buku terpajang di rak buku hampir menutupi setiap tembok.
"Kita cari aja sendiri, keburu gelap nanti dimarahin bunda" kata Inara langsung berjalan dengan cepat masuk ke sebuah lorong rak buku, meninggalkan Akara yang msih berdiri di depan kasir.
"Aduh, dimana sih letaknya. Cepet ketemu please..." gumamnya sembari mengecek per rak buku dan melihat nama yang ada si setiap raknya.
Sampailah ia berdiri di hadapan sebuah rak buku yang sesuai dengan buku yang ia cari-cari selama ini.
Rak buku yang terletak di pojok dinding, sebelum akhirnya ia menggeledah, Inara menghembuskan napas lelahnya. Ia pulang sekolah jam 4 dan masih harus mencari buku yang besok sudah harus dibawa.
"Oh astaga, ini Akara dimana ya? Jangan-jangan gue ditinggal nih" gumam Inara sembari berjalan keluar dari rak buku, menoleh ke arah kanan namun ia tidak menemukan apapun, sang kasir juga entah berada di mana.
"Sepi banget deh.." kemudian Inara langsung mengambil buku yang ia cari tadi, sembari memilih, matanya tertuju kepada seseorang yang hanya terlihat rambutnya saja.
Saat Inara mengambil buku itu pun, ia langsung bisa melihat seorang gadis yang tingginya berkisar 152cm, rambutnya di kuncir dua sangat menggemaskan.
Sebelum Inara sempat melontarkan pertanyaan, Akara tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
"Inara! Lo ngapain disana?!" Teriaknya dari belakang, mampu membuat Inara terlonjak kaget.
"A-ada apa? Gue udah nemu bukunya" sahut Inara yang entah kenapa tatapan matanya sangat kosong, membuat Akara mengerutkan alisnya.
"Kalau udah ketemu ayo pulang, jangan berlama-lama disini" lanjut Akara kemudian menggandeng pergelangan tangan sahabatnya untuk berjalan menuju meja kasir.
Keduanya pun langsung berjalan pulang dan meninggalkan tempat itu, "Inara, sadar Inara.."
Namun Inara masih terdiam membeku, matanya terus menatap kosong kearah depan.
ଘ( ິ•ᆺ• )ິଓ
Apakah ada yang aneh?
Rak buku yang Inara temukan letaknya ada di pojok dinding, mustahil ada manusia yang ada si sana. Yang Inara lihat bukanlah manusia.
Dan Akara sudah menyadari keanehannya, Akara melihat juga sosok yang ada disana, namun berbeda jauh dari wujud yang diperlihatkan ke Inara. Wujudnya bukan gadis kecil, melainkan wanita tinggi besar dengan kuku tajam, dan mata yang merah.