Album tanpamu
Author: Raatara
Kamis 10 july 2014
Sudah dua bulan sejak aku naik kelas saat ini, sekarang aku resmi menduduki bangku kelas 8 smp, aku hanya murid biasa di sekolah ku sekarang, benar-benar murid biasa tanpa arti untuk merendah atau apapun.
Karena nilaiku sendiri tak terlalu tinggi ataupun rendah, tentu saja aku sudah berusaha untuk mendapat hasil yang maksimal tapi memang hanya begitulah kemampuanku, biasa.
Aku juga tak terlalu memiliki banyak teman atau bahkan populer di sekolahku sendiri, rasanya itu benar-benar tidak mungkin untukku, karena teman yang sedikit itulah aku tak terlalu banyak akrab dengan teman kelasku sekarang.
Disekolahku sekarang setiap naik kelas maka akan diacak lagi teman kelasnya, hal seperti itu jujur saja mempunyai nilai plus dan minus untuk siswa sepertiku ini, aku harus berkenalan dengan orang baru dikelasku lagi dan harus berpisah dengan teman yang sudah kukenal dikelas sebelumnya meski itu tak terlalu banyak.
Ya untungnya mungkin namaku masih diingat oleh teman sekelasku saat ini, semua orang sudah saling mengenal nama dan mulai mencari grubnya sendiri sendiri terutama anak perempuan, tapi sejak awal masuk kelas ini perhatianku sudah tertuju pada satu siswi yang tak melakukan semua hal tadi.
Keina fujihara, ia adalah siswi yang selalu menyendiri di dalam kelas, aku tak pernah melihatnya mencoba berbaur dengan orang lain di kelas ini sekalipun bahkan ia jarang sekali mengeluarkan suara atau berbicara dikelas lebih anehnya lagi guru yang mengajar tak pernah memintanya untuk menjawab atau membaca soal.
Aku tak pernah mendengar rumor ia dibenci oleh murid lain atau rumor aneh lain tentangnya hanya saja ia memang terlihat memisahkan diri dari orang lain disekitarnya.
“baiklah waktu istirahat kalian sudah habis kembalilah ketempat duduk kalian”
“baik, huft”
Tak sedikit murid kehilangan semangat mereka ketika melihat guru yang akan mengajar setelah jeda istirahat sudah datang, jujur saja jam pelajaran seperti saat ini ialah paling memuakkan kupikir.
Jam pelajaran tetap berlangsung seperti biasa tak ada yang berbeda, tugas terakhir yang guru berikan ialah menyalin semua materi yang ia beri hari ini dan harus dikumpulkan hari ini juga sebelum pulang.
Setelah mengerjakan dan menyalin semuanya aku beranjak dari kursiku untuk mengumpulkan bukunya di meja guru, setelahnya aku pergi meninggalkan kelas untuk kembali pulang, murid yang tersisa saat aku selesai mengerjakan tak begitu banyak, kurasa dalam hal begini pun aku masih murid biasa.
Ini adalah hari kamis yang cerah untuk menyambut hari Jumat esok yang akan datang sebelum akhir pekan yang banyak dinantikan setiap orang.
Aku pergi keluar gerbang sekolah dan menunggu bis yang akan mengantarku kembali ke rumah sebelum akhirnya aku menyadari bahwa sesuatu yang sangat penting tak bisa kurasakan dalam saku celanaku.
Benar saja handphoneku tertinggal dikelas, syukurlah aku menyadarinya sebelum naik ke dalam bis, tanpa berpikir panjang aku memutar kembali arahku menuju sekolah yang sebenarnya jaraknya tak jauh dari halte bis saat ini, tapi jujur saja itu banyak memakan waktu dan melelahkan untukku.
Tak banyak siswa yang tersisa saat aku sampai kembali di dalam sekolah, mungkin hanya menyisakan murid yang mengikuti ekstrakurikuler disana.
Bahkan lorong kelasku pun sudah sangat sepi tak terasa kehadiran orang pun disana, membuatku sedikit ketakutan tapi hal itu langsung hilang saat aku melihat pintu kelasku yang masih terbuka lebar dan terlihat satu siswi yang masih berada didalamnya, Keina Fujihara.
Ia tak terlihat masih menyalin materi guru hari ini, bahkan kupikir ia sudah menyelesaikannya dilihat dari mejanya yang sudah bersih sekarang, ia hanya berdiri mematung menghadap keluar jendela tak bergerak sedikitpun, dia bukan hantu kan? Pikirku.
Aku segera menghilangkan pikiranku yang tak jelas dan lanjut berjalan ke mejaku untuk mengambil hp yang tertinggal di dalam laci.
‘syukurlah ada’
Batinku yang bahagia melihat hpku benar ada disana, saat aku ingin kembali berjalan pulang aku melihat tumpukan buku diatas meja guru dan sekali lagi aku melihat fujihara yang masih mematung diam berdiri di samping mejanya.
“baiklah sebelum pulang catat dan kerjakan materi hari ini, jika sudah selesai perwakilan anak tolong kumpulkan di meja bu guru diruang guru ya”
“kalau begitu yang selesai paling akhir yang akan melakukannya”
“hei bukankah itu tak adil”
“iya benar bukankah ada ketua kelas di kelas ini kan”
“sudahlah tenang kalian semua, ibu rasa hal itu cukup bagus agar kalian semakin semangat menyalinya, jadi ibu tunggu orang terakhir yang akan mengumpulkan bukunya hari ini selamat tinggal”
Kira-kira begitulah rekaman peristiwa yang dapat kuingat saat guru memberi kami tugas hari ini.
“ah, dia tak bisa membawa buku itu sekaligus ya” kupikir karena buku itu memang terlihat sangat banyak untuk diangkat siswi SMP sendirian.
Aku langsung mengambil sebagian buku dimeja guru dan menaruhnya dimeja fujihara tepat didepan dirinya yang masih berdiri di sana.
“aku akan membantumu kau bawakan ini saja”
Ia tak menjawab perkataanku dan masih berdiri diam menatap keluar jendela seperti awal aku melihatnya.
“kau butuh bantuan untuk membawa ini kan fujihara?”
Masih tak terdengar suaranya membalas perkataanku barusan hanya saja kali ini aku sadar bahwa ia menolehkan pandanganya kepadaku sekarang.
“siapa?”
Itu adalah suara yang kudengar pertama kali darinya hari ini saat berbicara denganya, tidak...ini adalah kata suaranya yang pertama kali kudengar seumur hidupku mengenalnya.
Eh tapi bukankah itu sedikit jahat bahwa kau tak tau nama teman sekelasmu yang sudah sekelas selama 2 bulan saat ini? Ya aku memakluminya karena ia memang tak pernah berbicara denganku.
“haruka satomi, teman sekelasmu lho”
Lagi-lagi tak ada balasan untuk perkataanku, dan kali ini ia menolehkan pandangannya kepada buku yang ada diatas meja tepat di depannya.
“kau harus membawanya ke ruang guru kan? Akan kubantu jadi bawalah itu aku akan membawa sisanya”
Aku kembali berjalan kemeja guru dan mengambil sisa buku yang ada disana, itu jelas lebih banyak dari buku yang kuberikan pada fujihara, karena aku ini lelaki tentu saja, setelah kumengambilnya dan memutar kembali badanku aku sedikit terkejut menyadari fujihara telah berada tepat didepanku sekarang
Aku diam mati langka karena kaget dan kembali memerhatikan tubuhnya yang tepat berdiri didepanku, tubuh yang mungil dan pendek dibandingkan denganku, rambut pendek sebahu yang terurai dan berterbangan terkena angin dari luar jendela dan kepalanya yang terlihat bergerak dimiringkan mungkin karena ia melihatku diam kebingungan didepannya akhirnya membuatku sadar akan lamunan sesaat karenanya.
“berikan hawa kehadiran dong lain kali”
Tak ada balasan lagi dan lagi kali ini, kami berdua berjalan keluar kelas membawa buku dikedua tangan kita menuju ke ruang guru untuk menyelesaikan tugas terakhirnya hari ini sebagai murid terakhir yang menyalin tugas.
Saat tiba didepan ruang guru terdengar masih ramai suara orang berbicara didalamnya tak butuh waktu lama aku langsung membuka pintu dan mempersilahkan fujihara untuk masuk dulu, tentu saja bukan? Ini kan urusan dia.
Tapi reaksi yang kudapat adalah dia tak bergerak sedikit pun dan kami berdua saling diam berdiri didepan pintu ruang guru hingga akhirnya salah satu guru memanggil kami.
“hei kalian berdua, ada urusan apa? Kenapa diam doang disana masuk saja”
Fujihara masih diam tak bersuara hingga akhirnya aku yang menjawab pertanyaan guru tersebut.
“maaf mengganggu kami sedang mencari bu ria apa beliau ada?”
“ahh dia sedang ada urusan sebentar”
“kalau begitu dimana meja beliau?”
“disana tepat dimana ada boneka diatasnya”
Tangan guru tadi mengarah kemeja dibelakang yang terdapat boneka beruang diatasnya, kurasa ini tak cocok dengan karakter bu ria deh, sekilas aku membayangkan sosok guruku yang galak dan tegas sedang memeluk boneka beruang besar tersebut untungnya aku segera menyingkirkan bayangan aneh itu.
Setelah mengucapkan terimakasih kami berdua langsung menuju kearah meja bu inazuka untuk menaruh buku yang sedari tadi kami berdua bawa, ngomong-ngomong boneka itu terlihat semakin besar jika dilihat dari dekat, itu terlihat sangat nyaman untuk dipeluk.
“kenapa kau melamun begitu, taruh bukunya” keina terlihat melamun dengan tangan yang masih membawa buku disana
“ah iya maaf”
Dia menyukainya ya, boneka beruang itu, ekspresi wajahnya saat memandanginya tadi sangat berbeda dengan apa yang kulihat saat awal kita berbicara.
Setelah selesai mengumpulkan buku kami berdua keluar dari ruang guru, tentu saja masih aku yang mengucapkan salam terima kasih dan menutup pintu ruang gurunya.
“lain kali jawab pertanyaan orang dengan benar dong fujihara”
Tak sempat kusadari fujihara sudah berjalan lebih dulu meninggalkanku, kebisaannya yang sedikit jelek mungkin ini alasan ia selalu sendiri.
Langit sudah terlihat mulai gelap, kulihat layar hp waktu sudah menunjukkan pukul 16:56, gawat aku hampir ketinggalan bus terakhir yang akan bisa membawaku pulang dengan cepat. Aku akhirnya berlarian untuk sampai di halte dekat sekolah, ini hari yang melelahkan kupikir dan aku berharap bahwa hari esok akan lebih mudah daripada hari ini, meskipun jujur saja aku tak pernah membencinya.
Jum’at 11 july 2014
Ini pagi hari yang cerah, tak ada sedikit pun awan mendung hitam terlihat di langit, mentari dapat memancarkan sinar sempurnanya untuk menerangi bumi, dan juga diriku yang berada ditengah kelas sedang memperhatikan pelajaran yang teramat membosankan yaitu kimia, ah aku benar-benar membencinya terlebih lagi pelajarannya berada di hari Jumat, hari sebelum akhir pekan yang kunantikan.
Reaksi senyawa? Perhitungan atom? memang apa gunanya itu untukku sekarang? Aku melihat sekeliling kelas banyak murid yang kurasa sama halnya sepertiku yang tak bisa menikmati pelajaran ini, terkecuali satu orang, mataku berhenti mengamati sekeliling saat melihatnya, dia terlihat begitu konsentrasi pada apa yang dijelaskan guru didepan, matanya tak terlihat bosan ataupun mengantuk disana, keina fujihara.
Seingatku dia memang cukup pandai dalam hal akademis bahkan kudengar dia masuk 30 besar satu angkatan saat ini, itu sudah sangat bagus bagiku mengingat peringkatku hanya didalam 100 besar saat ini.
Kringgggg
Bel istirahat berbunyi membuyarkan lamunanku dan juga rasa bosan murid dikelas, suara gaduh mulai sedikit terdengar dan juga menghentikan guru yang sedang memberi materi didepan.
“baiklah karena waktunya habis bu guru akhiri sampai disini, jangan lupa pelajari materi dan soalnya, jika bisa hari selasa depan kita akan mengadakan quiz”
“kok udah quiz bu”
“mau langsung ujian aja?”
“nggak bu, quiz aja 3 kali pertemuan juga gapapa”
“baguslah”
Itulah perbincangan terakhir antara bu riha dengan teman kelasku sebelum beliau meninggalkan ruang kelas.
Itu benar kimia ada 2 pertemuan dalam seminggu dan itu adalah di hari Selasa dan juga Jumat, benar-benar buruk menurutku meskipun dihari Selasa jam pelajaran kimia tak selama saat hari Jumat.
Jam istirahat sudah berlangsung sejak tadi tapi banyak murid belum keluar dari ruang kelas sekarang karena dari yang kudengar banyak kios dikantin tutup untuk hari ini jadi banyak yang membawa bekal dari rumah, benar benar merepotkan keadaan kelas jadi tak setenang biasanya saat aku makan bekal disana.
Akhirnya karena terlalu ramai aku memutuskan keluar kelas untuk memakan bekal ditempat lain, meskipun begitu aku kebingungan saat sudah keluar kelas.
Toilet? Itu aneh bukan, kantin? Tidak meskipun banyak kios tutup tapi tetap saja disana selalu ramai, perpustakaan? Konyol sekali, taman? Ah itu penuh saat Aku berjalan untuk melihatnya tak ada bangku kosong yang tersisa.
Karena itulah disini aku sekarang, atap sekolah. Aku tau kunci disini rusak meskipun berita yang tersebar sebaliknya yaitu pintu keatap sekolah selalu terkunci untuk keamanan siswa.
Kondisinya memang sedikit kotor dan panas tapi disini selalu sepi, tempat yang cocok untuk orang sepertiku kurasa, aku langsung meneduh dibalik bangunan yang bisa menutupi ku dari sinar mentari dan memakan bekal buatan ibuku yang paling kunantikan.
Tahu, nasi putih, ayam goreng dan juga sayur wortel dan kacang panjang, bukankah itu terlihat enak?
Krieeek
Suara pintu terbuka,aku langsung membatalkan suapan pertamaku, jika aku ketahuan datang kesini maka akan ada masalah karena ini memang tempat terlarang sesuai peraturan sekolah.
Aku mengintip dari balik tembok untuk melihat siapa yang datang, suara langkah kakinya terdengar semakin jelas dan dibalik pintu terlihat sosok siswi yang akhir-akhir ini semakin jelas dimataku, keina fujihara.
“owalah cuman dia ternyata” batinku
Aku memutuskan untuk tetap diam tak banyak membuat suara agar dia tak tau kehadiranku disini, bukankah jika dia datang kesini maka dia juga sama sepertiku yang sedang mencari ketenangan?
Aku melanjutkan suapan pertamaku yang sempat tertunda karena kedatangannya tadi, suapan demi suapan sudah kuhabiskan dengan sembari mengamatinya dan mendengarnya dari balik tembok, aku tau ini tak sopan maafkan aku fujihara, tapi ia tak banyak bersuara bahkan hampir tak ada kecuali suara tarikan nafas panjang. Tentu saja aku melanjutkan makan siangku yang sangat kunikmati ini hingga akhirnya...
“apakah aku masih bisa mengingat rasa sakitnya jika aku jatuh dari atas sini?”
Kalimat yang keluar dari mulutnya membuatku tersedak dan akhirnya batuk yang tentu saja menimbulkan suara gaduh disana, aku segera mengambil air minumku dan melihat kembali ke arah fujihara yang sekarang sedang melihatku kembali.
“ah, maaf”
Akhirnya kami berdua duduk berdampingan di balik tembok bangunan tempatku makan siang, tentu saja aku masih melanjutkan makan siangku yang belum selesai.
Dia hanya duduk disampingku diam tak berkata apapun saat aku makan disampingnya, dia tak terlihat membawa makanan apapun bersamanya bukankah kios di kantin masih ada yang buka? Apa dia tak membeli sesuatu?
“kau sudah makan istirahat hari ini?”
“belum”
“kau tak bawa bekal?”
“nggak”
“kamu gapunya uang untuk beli jajan?”
“punya kok”
“kalau gitu beli dong”
Tak ada tanggapan darinya, akhirnya aku memutuskan untuk memberi roti dari bekal yang kubawa.
“nih maaf yang tersisa cuman roti ini”
Dia menerima rotiku dengan kedua tanganya, jujur saja kupikir ia tak akan bergerak seperti biasa saat aku melakukannya.
“terima kasih”
“bukan apa apa itu hanya roti”
“tidak, untuk yang kemarin juga”
“kemarin?” aku baru mengingat kita sedikit terkena masalah kemarin, “ah iya sama-sama”
Hening kembali terjadi, tapi saat ini fujihara tak hanya diam disampingku, i memakan roti yang kuberi dengan santai dan anehnya senyum sedikit terangkat dari wajahku, mungkin aku tak pernah menyadarinya saat itu.
“bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
“tentu”
“apa yang kau pikirkan kemarin saat melihat keluar jendela hingga terlihat melamun sebelum aku menegurmu”
Tentu saja aku sedikit penasaran apa yang sedang dipikirkannya,meskipun itu mungkin sedikit tak sopan karena menanyakan hal seperti itu.
“tak masalah jika kau tak ingin memberi-”
“aku tak memikirkan apapun, aku hanya melihat bulan”
“bulan?”
“iya”
Ia menunjuk ke atas langit tepat kearah bulan yang saat ini berada disana,
“aku hanya bertanya tanya kenapa bulan menampakkan dirinya disiang hari padahal sinarnya hanya bisa terlihat saat malam ketika mentari telah pergi”
“hmm? Bukankah itu karena siklus orbitnya sendiri?”
Tak ada tanggapan dari perkataanku yang sok tau tadi,hingga akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan satu hal lagi.
“apa aku boleh bertanya lagi?”
“tentu”
“kenapa kau tak dekat dengan murid lain? Maksudku mungkin aku memang penyendiri tapi sepertinya tak separah dirimu, ah maaf aku benar ga bermaksud menghinamu atau semacamnya ta-”
Krrriiinggg
Aku menghentikan pertanyaanku dan menoleh ke arah bel sekolah yang kembali berbunyi menandakan jam istirahat sudah habis dan para murid harus kembali kedalam kelas.
“jadi fuji-”
Ah dia sudah pergi saat aku menolehkan kembali padanganku kearahnya ia sudah pergi meninggalkanku sendirian di atap tanpa suara sedikitpun, benar benar kebiasaan yang jelek.
Tak banyak yang terjadi saat aku kembali ke kelas dan sampai waktu pulang sekolah datang, aku kembali ke rumah tanpa berbicara dengan fujihara setelah apa yang terjadi di atap sekolah tadi, hari berjalan seperti biasanya menuju akhir pekan yang banyak dinantikan hingga akhirnya aku mengingat quiz kimia yang akan diadakan dihari selasa. Membuat akhir pekanku sedikit tak bisa dinikmati sekarang ini.
Sabtu 12 july 2014
Aku mencoba menikmati akhir pekanku seperti biasa dan berusaha melupakan quiz di hari selasa.
Minggu 13 july 2014
Akhirnya aku berusaha belajar dengan membuka buku pelajaran kimia, meskipun tak lama kemudian buku itu digantikan dengan buku komik dan novel.
•
•
Senin 14 july 2014
Akhir pekan telah usai kini aku duduk di kursi mendengar guru bahasa inggrisku sedang memberi materi didepan kelas, ini tidak buruk jujur saja aku menyukai ini jika dibandingkan dengan kimia, ah tentu saja aku tak bisa lupa dengan quiz yang akan diadakan besok tepat di hari Selasa, aku tak pernah menginginkan ini sebelumnya tapi kali ini aku benar-benar berharap bisa sakit besok agar punya alasan untuk absen sekolah.
Meski lebih baik lagi jika aku tetap sehat dan pelajaran kimia ditunda karena alasan lain, tapi bukankah itu terdengar sangat mustahil? Walaupun aku juga mengharapkannya tentu saja.
Tidak, mari hilangkan kemungkinan yang kecil itu, lebih baik aku mencari cara agar bisa mempelajarinya dengan baik, baiklah aku membuat beberapa pilihan bagaimana caranya, pertama aku bisa bertanya kepada gurunya apa yang akan menjadi soal ujian besok tapi itu sangat mustahil tentu saja, kedua aku hanya perlu mencari seseorang yang bisa mengajariku lebih baik dari diriku sendiri.
Ada 2 orang yang memungkinkan di kelas ini pertama adalah murid teladan sekaligus andalan kelas saika hanase, tapi dilihat dari situasiku aku tak mungkin bisa bertanya kepadanya karena kami bahkan hampir tak pernah berkomunikasi dan kurasa itu akan sedikit aneh bukan jika orang asing tiba-tiba meminta bantuan darimu?
Kedua adalah teman sebelah kursiku renkazuki aida, meski ia tak terlalu pintar seperti hanase setidaknya aku tau rankingnya lebih tinggi dariku dan dia lebih kukenali daripada hanase, baiklah aku akan bertanya padanya setelah istirahat makan siang nanti.
“kau ngelantur ya? Nilai kimiaku kan paling rendah daripada nilai yang lain”
“lho kukira kau cukup mahir disana”
“bahkan tahun kemarin aku mengikuti remedi nya saat kita kelas 1, oh iya kita belum saling kenal saat itu”
“ah jadi kita sama saja ternyata”
“begitulah, tak banyak yang bisa kuajari jadi sebaiknya kau mencari orang lain”
Seperti itulah jawaban dan dialog yang kudapat saat bertanya padanya, bahkan orang pintar juga punya mata pelajaran yang tidak dikuasai ya, sekarang aku harus mencari orang lain yang bisa mengajariku dengan baik.
Mataku bergerak mencari seseorang yang bisa membantu, pikiranku juga terus mencari siapa orangnya, dan tiba-tiba mataku berhenti bergerak saat melihatnya.
Pikiranku kembali mengingat beberapa hari sebelumnya, dia yang terlihat sangat konsentrasi pada saat guru kimia kami memberi materi di depan dan dia juga yang kutau memiliki nilai akademis yang bagus, keina fujihara.
Benar, bukankah kemarin kami lebih sering berkomunikasi daripada sebelumnya? Dan menurutku dia akan bisa membantu dengan baik setidaknya.
Oleh karena itu aku langsung berjalan menuju mejanya, ah ia selalu terlihat seperti itu kurasa, tatapan kosong keluar jendela dan rambutnya yang beterbangan tertiup angin, itu memang dia.
“fujihara, bisakah aku meminta bantuan padamu?”
Kepalanya menoleh kepadaku kali ini, aku kira dia akan diam saja seperti biasanya, mungkin aku terlalu banyak menilai seseorang.
“siapa?”
Dia bertanya kembali dengan memiringkan kepalanya seperti benar-benar tidak pernah tau diriku, bukankah itu sedikit kejam? Dia sudah bertanya siapa diriku ini dua kali lho.
Aku bisa memaklumi yang pertama karena kita belum pernah komunikasi saat itu, tapi kali ini kan kita berdua baru saja sering bersama beberapa hari yang lalu, setidaknya begitu menurutku.
“kau benar-benar kejam ya, haruka satomi teman kelasmu”
“maaf, apa kau punya perlu denganku?”
“iya, apa kau bisa membantuku dalam materi kimia, kau tau kan besok akan ada quiz”
“kenapa kau memilihku?”
“baiklah kembalilah ketempat duduk masing-masing waktu istirahat sudah habis”
Belum sempat aku mendengar dan menjawab pertanyaannya dengan baik, guru yang akan memberikan pelajaran selanjutnya sudah hadir, kurasa pendengaranku sedikit buruk karena tak mendengar bel masuk yang berbunyi.
“aku akan menunggumu di perpustakaan saat pulang sekolah jika kau mau membantu”
Aku mengatakannya dengan menempelkan kedua telapak tanganku seperti memohon padanya agar mau membantuku, dia tak menjawab apapun dan aku tak sempat melihat bagaimana reaksinya karena aku harus segera kembali ketempat duduk sebelum ditegur oleh guru.
Kali ini pelajaran matematika, setidaknya lagi-lagi aku lebih menyukai ini daripada kimia.
Krriingg
Bel pulang sekolah berbunyi, akhirnya aku bisa kembali pulang dan menikmati kebahagiaanku dengan tenang untuk hari ini, setidaknya begitulah yang biasa terjadi tapi tidak untuk kali ini.
Aku harus belajar tambahan untuk quiz kimia esok hari bersama fujihara di perpustakaan sekarang, itu jika dia memang mau membantuku karena sosoknya sekarang tak terlihat lagi di dalam kelas, aku benar-benar berharap ia mau membantu dan sedang menunggu di perpustakaan sekarang.
Karena waktu yang kupunya tak terlalu banyak aku segera bergegas melangkahkan kaki menuju perpustakaan sekolah, jujur saja ini mungkin pertama kalinya aku akan masuk ke dalamnya.
Aku sudah sampai didepan pintu perpustakaan, tanganku masih enggan untuk membukanya, apa dia sudah menungguku didalam? Aku tak akan menyalahkannya jika dia tak mau membantu karena memang ini sedikit merepotkan kupikir.
Saat tanganku selesai membuka pintu perpustakaan kedua bola mataku langsung mencari sosoknya, berharap segera menemukannya entah dimanapun dia duduk disana tapi sayangnya kedua mataku tak menangkap sosoknya, aku sudah memastikannya dengan beberapa kali mencarinya lagi tapi tetap saja tidak ada hasil yang berubah, ia tak disana, kurasa aku akan menghadapi quiz besok sendirian.
“satomi?”
Panggilan namaku terdengar bersamaan sentuhan tangan yang menyentuh pundakku, aku mengenali suara ini membuatku langsung menolehkan pandangan kearahnya.
“fujihara? Kau disini?”
“kau menyuruhku datang kan?”
“kupikir kau tidak mau, tidak... terima kasih sudah datang”
“kenapa kau berdiri diam saja? Ayo masuk”
“ah benar”
Kami berdua akhirnya masuk kedalam perpustakaan, memilih tempat ternyaman untuk belajar disana dan duduk saling berhadapan.
Aku membuka buku materi dan catatan kimiaku yang sengaja kubawa memang untuk kupelajari meskipun tidak ada waktu pelajaranya hari ini.
Berbeda denganku tentu saja fujihara tak membawa buku tentang kimia satupun oleh karena itu aku menunjukkan catatanku kepadanya.
“kau menyalin cukup bagus, kau cukup menghafalnya saja”
“kupikir tidak akan ada waktu untuk melakukannya” Benar benar merepotkannya diriku ini.
Akhirnya fujihara memberi tau bagaimana cara dan bagian penting yang ia rasa lebih dahulu dipelajari, setelah itu dia memberi beberapa soal untukku meskipun kurasa aku masih belum benar-benar memahami materinya tapi kata fujihara akan lebih mudah memahami saat mengerjakannya sekaligus.
Setidaknya aku masih bisa mengerjakannya meski hasilnya belum tentu benar, begitulah menurutku nyatanya aku kebingungan pada satu soal saat ini.
“bertanyalah padaku jika ada yang tidak kamu mengerti tapi setidaknya coba kerjakan dulu”
Begitukah kata fujihara sebelum aku mengerjakan soal-soal yang ia berikan ini, jadi tidak apa-apa jika aku bertanya sekarang kan?
“fujihara aku tak mengerti bagian soai ini”
Ia menghentikan membaca bukunya dan kembali menoleh kepadaku sekarang.
“yang mana?”
“iniloh nomor 7”
“kau dapat menjawabnya dengan baik ya”
Begitulah katanya saat melihat lembar jawabanku, setidaknya aku cukup memahaminya kan?
“ah soal ini ya, tunggu akan lebih mudah jika aku menjelaskan lebih dekat denganmu”
Karena itulah dia beranjak dari tempat duduknya dan duduk tepat disampingku sekarang ini, entah kenapa suhu udaranya menjadi sedikit panas, apa AC disini mulai rusak?
Aromanya yang harum masuk dihidungku, tak terlalu wangi hingga akan menimbulkan rasa mual tapi itu sangat pas setidaknya untuk indra penciumanku.
Kulit wajahnya terlihat sangat halus dan rapuh, bibirnya yang mungil terlihat bergerak saat menjelaskan soal yang tak kumengerti, bodohnya aku malah tak bisa konsentrasi pada apa yang ia bicarakan sekarang.
Bulu matanya terlihat lentik panjang disana saat ia berkali kali mengedipkan kedua matanya, rambutnya yang turun menutupi matanya kembali ditata dibelakang telinganya dengan jari jemarinya yang ramping, perasaan apa ini? Demam musim panas?
“oi satomi, satomi, haruka satomi apa kau paham?”
Panggilan namaku darinya membuat lamunanku berakhir, aku tak tau bagaimana raut wajahku sekarang tapi aku harap itu tak aneh dimatanya.
“aku paham kurasa, terimakasih fujihara”
“kalau begitu lanjut kerjakan saja”
Tentu saja aku tak paham, bagaimana aku bisa paham jika apa yang dibicarakannya tadi saja tak dapat kudengar karena perhatianku tertuju pada hal lain pada dirinya.
Akhirnya aku melanjutkan menjawab semua soal yang ia berikan dan menyerahkan kembali lembar jawaban padanya,
“ini buruk”
“kenapa?”
“kau bisa menjawab dengan baik soal satu sampai lima tapi setelahnya jawabanmu menjadi tak karuan, apa kau kesusahan pada materi soal disana?”
“begitulah karena itu aku meminta bantuanmu kan hehe”
Itu benar kok jujur, aku memang tak menguasai materinya tapi mungkin alasan besarnya bukan karena hal itu.
“kita tak punya cukup waktu sampai besok ini sudah hampir malam sekolah akan segera ditutup”
“kau benar, terimakasih fujihara telah membantuku “
“maaf karena gabisa bantu banyak mungkin aku memang gak cocok disini”
“nggak kok, justru aku kebantu banget karenamu, karena aku sendiri gamungkin tau mana bagian penting yang harus ku kuasai jika bukan karenamu”
“itu bukan hal yang besar”
“ya kurasa aku hanya bisa berharap pelajaran kimia besok ditunda”
“kau ga akan bisa lari dari kimia dan quiznya hanya karena itu kau tau”
“itu benar sih, tapi setidaknya jika besok tidak ada quiz maka kau bisa membantuku lagi kan sampai quiznya beneran diadakan”
Entah kenapa tapi kurasa saat itu aku tersenyum saat mengatakan hal itu kepadanya
“permisi maaf sebelumnya, tapi perpustakaan akan ditutup dan sekolah juga akan tutup hari ini, sebaiknya kalian berdua segera pulang”
Perkataan guru petugas perpustakaan membuat perbincangan kami berdua berakhir saat itu, jam di layar hp ku sudah menunjukkan pukul 16:42 sekarang, kenapa waktu begitu cepat sekarang? Bisakah itu terjadi lagi besok hari?
Kami berdua pergi keluar dari perpustakaan dan seperti halnya hari-hari kemarin aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada fujihara lagi hari ini ia sudah tak terlihat dari pandangan kedua mataku, benar-benar kebiasaan yang buruk.
Selasa 15 July 2014
Baiklah ini saatnya hari yang sudah kutunggu tunggu, bukan berarti aku menunggunya karena menyukainya tapi aku menunggunya karena ingin cepat berakhir, aku sudah duduk di kursi tempat dudukku sekarang karena bel masuk sudah berbunyi lama, hari ini kimia adalah jam pelajaran pertama.
Aku bahkan berangkat lebih pagi hari ini hanya untuk kembali belajar, dan sekarang membuatku semakin tegang menantinya, cukup lama sudah kami semua menunggu bu riha guru kimia kami muncul di pintu kelas kami tapi tak ada tanda-tanda ia terlihat sampai sekarang, bahkan keadaan kelas mulai menjadi sedikit gaduh saat ini.
“apa gurunya gamasuk ya?”
“kuharap begitu haha”
“iya aku bahkan belum belajar untuk quiz juga”
“lagian kimia juga membosankan banget kan?”
Mungkin baru kali ini kita semua sekelas hampir menyetujui sstu hal, masih belum ada tanda-tanda gurunya masuk ini sudah sekitar 20 menit sejak bel masuk sekolah berbunyi dan waktu kimia di hari selasa tak banyak, jujur saja aku semakin berharap tak ada pelajaran kimia untuk hari ini.
Sayangnya harapanku sirna saat bu riha sudah terlihat masuk lewat pintu kelas sekarang, banyak ekspresi kecewa terlihat dari semua orang di kelas tak terkecuali diriku tentu saja, kurasa ini sudah saatnya.
“maaf ibu terlambat”
“iya bu”
“ibu akan pergi sebentar lagi karena harus menyelesaikan urusan tadi jadi maaf ibu ga bisa mengajar, jadi ibu beri soal saja ya dan kalian hafalin lagi materi materinya untuk quiz minggu depan”
Apa ini sudah termasuk keajaiban? Suasana kelas langsung berubah karenanya, raut wajah suram kembali menjadi semangat dan gelak tawa bahagia sedikit terdengar dari kami semua, ini memang keajaiban, Bu riha membagikan lembar soal sebelum ia meninggalkan kelas, ini seperti PR sebenarnya yang akan dikumpulkan hari jumat bersamaan dengan quiz, syukurlah aku masih punya sedikit waktu lagi untuk belajar kimia, bersama dengan fujihara.
Tunggu apa dia mau mengajariku lagi? Bukankah kemarin aku meminta bantuannya hanya untuk hari itu? Kurasa aku harus memintanya lagi, karena itulah aku didepan mejanya sekarang seperti kemarin melihat tatapannya yang kosong keluar jendela, tapi hari ini ia langsung menolehkan pandangannya padaku tanpa harus kupanggil namanya mungkinkah dia sudah merasakan hawa kehadiranku disana?
“satomi?”
“aku ingin meminta bantuan seperti kemarin lagi untuk hari ini sampai waktunya quiz fujihara, apa kau keberatan?”
“tidak, aku bisa”
“kalau begitu aku akan menunggumu di perpustakaan seperti kemarin ya”
“iya”
Ah untunglah dia mau membantuku lagi, aku membalikkan badanku dan berjalan kembali ke kursi tempat dudukku hingga akhirnya aku mendengar dia memanggil namaku kembali.
“satomi”
Aku menolehkan kepalaku padanya tanpa memutar kembali badanku, saat itu ia terlihat sedikit tersenyum diwajahnya, senyum yang tak pernah kulihat dari siapapun selama ini,
“syukurlah doa kita kemarin terwujud ya”
Ia memejamkan matanya dan sedikit memiringkan kepalanya dengan tersenyum saat mengatakan itu, mulutku tak dapat mengeluarkan kata apapun padahal kupikir aku harus mengatakan sesuatu sekarang, akhirnya aku hanya mengalihkan pandanganku darinya dan berjalan kembali ke kursiku, demam musim panas ini sangat merepotkan.
Aku kembali mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh bu riha ditempat dudukku sekarang tanpa bisa mengalihkan pikiranku dari hal yang baru saja terjadi, hingga akhirnya perhatianku terfokuskan pada soal yang materinya terlihat hampir sama seperti yang diajarkan fujihara kemarin,
Waktu berjalan normal seperti biasa hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung menuju ke perpustakaan setelah merapikan meja dan alat tulisku, tentu saja aku dan fujihara tak berangkat bersamaan dari kelas, tanganku tak enggan kembali membuka pintu perpustakaan dan saat kubuka fujihara sudah terlihat duduk disalah satu kursi disana.
Kami berdua kembali melakukan aktivitas belajar mengajar untuk membantuku, tak banyak hal istimewa karena aku tak boleh melamun pada hal lain seperti kemarin hari ini, hingga akhirnya kami berdua harus ditegur agar segera pulang seperti kemarin dan hari berakhir dengan normal, hanya saja aku berhasil mengucapkan selamat tinggal pada fujihara hari ini karena aku melakukannya saat sebelum kita berpisah diluar perpustakaan.
Rabu 16 july 2014
Hari berlangsung seperti kemarin tak ada yang berbeda, aku dan fujihara kembali belajar bersama di perpustakaan, hari ini aku berhasil menjawab setidaknya delapan dari sepuluh soal yang ia berikan
Kamis 17 july 2014
Seperti halnya kemarin kami berdua masih melakukanya, hari ini fujihara bilang akan memberiku permen jika bisa menjawab semua soalnya dengan benar, itu hanya sebuah permen tapi entah kenapa aku sangat ingin mendapatkanya, tapi sayangnya satu soal tak dapat kujawab dengan benar, fujihara tetap memberiku permennya sebagai hadiah karena semakin berkembang, apa mungkin raut wajahku terlihat sangat kecewa dimatanya saat itu? Semoga tidak, pada saat itu aku tak pernah menyadari atau berpikir bahwa ini hari terakhir kami berdua belajar bersama di perpustakaan.
Jumat 18 july 2014
Ini hari quiz akan diadakan, tak seperti pada hari Selasa kemarin kali ini aku sangat percaya pada diriku sendiri mengingat semua materi yang telah kupelajari sendiri maupun bersama dengan fujihara, aku berharap bu riha segera datang dan langsung memanggil namaku untuk quiz pada urutan pertama, tidak ada salahnya percaya diri kan?
Aku melihat fujihara yang duduk tegak dikursinya sedang membaca buku dikedua tanganya, dia terlihat sedikit berbeda hari ini, biasanya saat mataku melihatnya ia selalu terlihat melamun ke luar jendela, ini tak terlalu buruk aku semakin jelas melihat raut mukanya saat ini.
Dia orang yang baik jika menurutku karena ia bahkan mau membantuku untuk belajar bersama mengingat kita berdua bahkan tidak terlalu dekat bukan? Oleh karena itu aku semakin tidak mengerti kenapa ia selalu terlihat sendirian, meskipun aku tak mendengar ia dibenci siapapun di kelas ini.
Tak lama kemudian bu riha masuk ke dalam kelas membuyarkan lamunan sesaatku dan kembali fokus pada quiz yang akan datang, tak sesuai yang kuharapkan namaku tak dipanggil di urutan awal sekarang, ya sebenernya tak ada masalah juga asalkan aku bisa mengerjakannya dengan baik bukan?
“haruka satomi giliranmu”
“baik”
Akhirnya namaku disebut, seingatku mungkin aku diurutan kedua belas saat namaku dipanggil, beliau menanyakan dan memberi beberapa soal untukku, entah kenapa 5 menit sekarang terasa seperti 5 menit waktu penentuan hidupku yang akan berjalan mulai dari sekarang, tapi itu semua dapat kuatasi dengan baik karena aku yakin dan percaya diri bisa menjawab pertanyaannya dengan baik tadi, setidaknya begitulah menurutku saat ini setelah kembali duduk di kursiku setelah menjawab quiznya.
Setelah semua quiz yang diberikan waktu berjalan dengan normal tapi berjalan cepat menurutku mungkin itu karena tak ada beban dalam pikiranku lagi saat ini, aku harus berterima kasih dengan benar pada fujihara mengingat ia sudah mengorbankan banyak waktunya untukku sebelumnya tapi aku tak pernah membalas apapun.
Itulah kenapa aku memberinya secarik kertas yang bertulis “bisakah kita bertemu di perpustakaan lagi terakhir kali sepulang sekolah nanti? Ada hal yang harus kukatakan”
Apa itu terlihat aneh? Kuharap tidak, aku tak pernah menulis surat untuk seseorang sebelumnya jadi maaf saja fujihara jika itu terlihat aneh,
Ia terlihat membaca secarik kertas yang kuberi dan menolehkan pandangannya padaku, itu terjadi lagi,tubuh yang tak bisa digerakkan bahkan mataku sulit untuk berkedip, seperti terpana saat melihat sesuatu padahal itu hannyalah sedikit senyum yang terukir diwajahnya, itu berarti dia mau kan?
•
Disinilah aku sekarang sedang duduk di salah satu kursi didalam perpustakaan menunggu fujihara datang dengan menikmati udara dingin disana, kurasa AC disini bekerja dengan sangat baik, tak lama kemudian dia datang dengan nafas yang sedikit terengah engah, apa dia berlari kesini?
“maaf aku membuatmu menunggu satomi”
“menunggu disini tak terlalu buruk kok”
“jadi ada apa? Kau masih mau melanjutkan kegiatan belajarnya”
Ia mengangkat angkat alis matanya seperti menggodaku saat ini, kimia sialan.
“tentu saja tidak aku sudah tidak tahan”
“hmm begitu ya”
“aku ingin berterima kasih dengan benar padamu karena telah membantuku selama ini, terimakasih fujihara”
“itu bukan apa-apa kau tak perlu sampai segitunya kau tau”
“aku bukan tipe orang yang mau berhutang budi, apa tidak ada hal yang kau inginkan sebagai rasa terima kasih ku?”
“entahlah aku tak terlalu memikirkan hal seperti itu, bagiku kebersamaan kita kemarin sudah cukup sebagai timbal balik darimu”
Apa AC disini rusak lagi? Wajahku terasa sedikit panas saat ini entah kenapa
Aku kembali mencerna perkataan fujihara, aku kembali mengingat lagi bahwa fujihara tak terlalu dekat dengan seseorang sampai sekarang, ia selalu terlihat sendirian melihat semuanya menjalani hidup dengan orang lain, karena hal itu aku mencoba berpikir apa hal yang bisa kulakukan untuknya agar kami masih bisa menikmati kebersamaan kami berdua selama ini lagi, dan akhirnya kepala kosongku mendapat suatu hal.
“kalau begitu maukah kau makan siang bersamaku minggu depan? Kau tak pernah membawa bekal makan siang kan? Kita bisa makan bekalku bersama nanti”
“itu tak terlalu buruk, tapi apa itu ga mengganggu porsi makanmu? Remaja harus makan yang teratur loh”
“jangan khawatir ibuku sangat suka memasak aku hanya perlu bilang untuk masak sedikit lebih banyak”
“haha enaknya, kalau begitu dimana kita akan bertemu minggu depan? Kau tau kita tak bisa makan disini kan?”
“tentu saja, coba kupikir”
Ingatanku kembali mengingat kejadian minggu lalu dimana kios di kantin banyak yang tutup dan akhirnya keadaan kelas menjadi ramai membuatku harus mencari tempat sepi untuk menikmati bekal dan berakhir diatap sekolah bersama fujihara.
“bagaimana kalau diatap sekolah?”
“atap sekolah? Bukankah itu dikunci?”
“apa yang kau katakan, minggu kemarin kita baru saja kesana kan?”
“minggu kemarin?”
“baiklah akan kutunggu disana mulai senin depan kita akan makan siang bersama setidaknya selama satu minggu penuh untuk menebus rasa terima kasih ku, selamat tinggal fujihara”
“ah iya selamat tinggal”
Aku terburu buru beranjak dari kursi dan meninggalkan perpustakaan karena tak tahan dengan hawa panas disana, siapapun tolong perbaiki AC disana, entah kenapa saat sebelum aku pergi raut wajah fujihara terlihat kebingungan akan sesuatu.
Minggu 20 July 2014
“nafsu makanmu naik? Ya tidak masalah sih selama masakan ibu terasa enak bagimu, ibu akan membuatnya”
•
•
Senin 21 July 2014
Tas sekolahku terasa sedikit berat dari biasanya sekarang, tentu saja karena pelajaran di hari senin lebih banyak dari hari yang lain, aku berangkat cukup pagi hari ini saat aku tiba keadaan sekolah masih sangat sepi, jadi ini rasanya menjadi murid teladan nan rajin? Tidak buruk.
Sesampainya dikelas murid yang telah datang hanya berjumlah empat orang termasuk diriku dan fujihara yang sudah duduk dikursinya dengan tatapan kosong keluar jendela, entah kenapa dia terlihat kembali seperti dulu saat ini, apa dia tak menyadari kedatanganku? Menurutku tak ada salahnya saling menyapa mengingat kita banyak bersama akhir-akhir ini, ya itu bukan hal yang besar untuk dipertanyakan tapi mungkin itu alasanku dan dia tak bisa seperti murid lain pada umumnya.
Pelajaran berlangsung seperti biasanya tak ada hal yang istimewa, bahasa inggris dilanjut dengan biologi sebelum akhirnya bel istirahat berbunyi menandakan hal yang sudah kutunggu hari ini akan datang, aku memeriksa kotak bekal ku di laci meja sebelum akan membawanya pergi, itu terlihat cukup besar jujur saja.
Tak butuh waktu lama aku membawa kotak bekal ekstraku dikedua tanganku untuk menuju ke atap sekolah, saat aku hendak beranjak pergi fujihara masih belum berdiri dari tempat duduknya dan kembali menatap kosong keluar jendela,dia tidak lupa kan? Ah tentu tidak dia hanya tak ingin berangkat ke atap sekolah dari kelas bersamaan denganku, setidaknya begitulah pikirku hingga akhirnya aku menuju ke atap sekolah sendirian.
Pintunya masih tetap tak terkunci dan disana masih sepi seperti biasanya meski sedikit kotor tentunya tapi ini lebih baik daripada harus makan ditengah keramaian, mataku langsung mencari tempat yang cocok untuk dijadikan dudukan nanti dan aku berakhir ditempat yang sama persis seperti dulu kami berdua istirahat bersama disini.
Dia tak kunjung datang aku sudah cukup lama menunggunya mungkin sekitar 25 menit kurasa dan tak ada tanda tanda pintu terbuka atau suara langkah kaki seperti dulu kami pertama bertemu disini, dia tak lupa kan?
Waktu istirahat hampir habis dan aku melihat kotak bekal ku yang masih utuh, aku harus memakannya meskipun fujihara tak datang kesini, itu tak baik bukan? Menyia nyiakan makanan apalagi ini masakan ibuku, untungnya aku remaja yang haus akan masa pertumbuhan.
Karena itulah diriku sekarang kekenyangan saat memasuki jam pelajaran kembali, ini sangat tak nyaman aku bahkan merasa sedikit mau muntah, aku melihat fujihara yang duduk dikursinya menatap kearah papan tulis didepan, tatapan apa itu? Dia terlihat rapuh dan kosong seperti halnya saat aku pertama kali menegurnya dulu, apa dia ada masalah saat ini? Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk menyalahkan fujihara karena tak datang makan siang bersama diatap sekolah sesuai janji yang kita buat minggu lalu, semua orang punya masalah tentu saja.
Bel pulang sekolah berbunyi membuat semua murid beranjak dari kursinya meninggalkan ruang kelas, tapi diriku masih diam mematung memandangi fujihara yang melihat keluar jendela dengan tatapan kosongnya lagi, kelas mulai semakin sepi dan akhirnya hanya tersisa kami berdua disana saat aku semakin lama melihatnya aku semakin berpikir dia pasti punya masalah saat ini, ingin sekali saat itu aku menegurnya untuk menyapa atau jika mau sebagai orang yang bisa dijadikan tempat bercerita tapi entah kenapa diriku tak bisa melakukannya, aku merasa kita berdua sangat jauh saat ini padahal kita pernah dekat bersama minggu lalu, akhirnya aku mengurungkan niatku dan beranjak meninggalkan kelas tanpa menyapa atau menegurnya sekalipun, mataku berhasil melihat raut wajahnya sebelum diriku benar benar keluar dari pintu kelas, tak ada sedikit pun senyum yang biasa ia buat disana.
Selasa 22 July 2014
Sama halnya seperti kemarin aku membawa bekal ekstra lagi hari ini aku harap fujihara telah selesai dengan masalahnya dan kami bisa makan bersama di atap sekolah sesuai janji yang kita buat,aku kembali sendirian dan raut wajah fujihara masih terlihat sama seperti kemarin.
Rabu 23 July 2014
Tak ada yang berbeda aku masih sendirian memakan bekal ekstraku.
Kamis 24 July 2014
Aku mulai berpikir untuk berhenti membawa bekal ekstra hari ini, karena aku sudah cukup lelah memakan makanan sebanyak itu sendirian tapi aku kembali mengurungkannya saat mengingat kebersamaanku dan fujihara di perpustakaan minggu lalu.
Jumat 25 July 2014
Pagi ini aku kembali berangkat lebih awal kesekolah, ini adalah waktu terpagiku selama ini berangkat ke sekolah sepertinya, tak ada murid yang terlihat di sepanjang jalan disekitar sekolah, lorong-lorong kelas sangat sepi bahkan mungkin suara nafas dan detak jantungku terdengar saat ini, sesampainya dikelas tentu saja hanya ada aku sendirian, aku tak punya alasan khusus untuk berangkat sepagi ini hanya saja aku tak terlalu nyaman berada di rumah saat ini.
Entah kenapa pikiranku akhir-akhir ini selalu memikirkan fujihara, sebenarnya apa yang terjadi kepadanya hingga tak bisa makan bersama selama ini? Diriku yang kebingungan selalu memikirkan cara untuk berbicara kepadanya tapi seperti hari-hari kemarin aku merasa kami berdua saling berjalan menjauh sekarang.
Karena aku tak bisa berbicara langsung kepadanya akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat disecarik kertas seperti dulu, kali ini aku akan berusaha untuk menulis dengan benar.
Setelah kata demi kata ku tulis disecarik kertas yang kugenggam saat ini ku menaruhnya di dalam laci meja fujihara,ku berharap dia melihatnya, aku benar-benar berharap, yang kutulis hanya bertanya apa dia ada masalah karena tak bisa makan bersama selama ini dan juga jika masalahnya sudah selesai aku memintanya untuk datang ke atap sekolah saat istirahat nanti.
Tak lama kemudian satu persatu murid berdatangan, tak terasa aku sudah menghabiskan banyak waktu disekolah pagi ini, sekarang adalah hari Jumat dan tentu saja ada pelajaran kimia disanat tapi aku lebih menantikan dan gugup pada jam istirahat hari ini.
Bel istirahat telah berbunyi aku segera mengambil kotak bekalku yang tentu saja masih porsi ekstra untuk rencana makan bersama dengan fujihara, langkah kakiku langsung menuju keatap sekolah tanpa memedulikan hal lain bahkan kurasa sesekali aku menabrak murid saat berjalan, fujihara sudah tak terlihat dikelas saat aku keluar itulah kenapa aku terburu buru saat ini. Aku harap dia telah menungguku di atap sekolah sekarang.
Saat pintunya kubuka hal yang pertama kulihat adalah cahaya matahari yang masuk memenuhi ruangan dan diikuti dengan sosok perempuan yang perlahan terlihat jelas bersamaan dengan langkah kakiku yang melangkah kearahnya, ah syukurlah dia datang kali ini aku benar-benar lega sekarang.
“fujihara?”
Tanyaku yang masih tak percaya dan sangat lega karena dia ada disini sekarang.
“anu, maaf?”
“apa masalahmu benar-benar sudah selesai saat ini?”
“masalah? Tidak tunggu, apa kau ada hal yang ingin disampaikan padaku?”
“ugh kau sampai melupakan janji kita minggu kemarin ya, kau memang sedikit jahat”
“janji?”
“jangan keterlaluan begitu, sebagai rasa terima kasihku karena kau telah membantuku pada materi kimia, kita berdua berjanji untuk makan bekalku bersama kan?”
“eh benarkah itu?”
“itu benar, untungnya aku masih membawanya untuk kita berdua sekarang hehehe”
Akhirnya kami berdua memakan bekal esktra porsiku bersama sama kali ini, untungnya dia bisa datang kali ini membuatku tak perlu berhutang budi lagi padanya karena telah membantuku, tapi bukankah janji kita dulu adalah makan bersama selama seminggu penuh disekolah dan sekarang hanya berjalan selama satu hari? Ah sial ini membuatku merasa berhutang budi lagi sekarang.
Dia terlihat menikmati makanan buatan ibuku, kali ini aku dengan mudah menghabiskan bekal ini terimakasih fujihara, jujur saja mungkin yang dia makan lebih banyak dariku tapi aku juga tidak yakin akan hal itu,
“apa kau menikmatinya?”
“ah tentu saja, aku sangat berterima kasih”
“tidak ini adalah balas budiku kau tak perlu berterima kasih”
Keheningan kembali tercipta saat ini aku harus mencari topik pembicaraan kan? Ah aku ingat aku punya rasa penasaran selama ini kepadanya, kurasa aku bisa bertanya hal itu meski tak masalah jika ia tak memberi jawaban.
“fujihara apa aku bisa bertanya padamu?”
“tentu”
“apa kau ga sarapan hari ini?”
“ugh, aku terlihat begitu rakus ya?”
“nggak kok”
“aku memang ga sarapan hari ini”
“biasanya kau sarapan?”
“terkadang”
“terkadang?”
“iya jika ada masakan yang disiapkan untukku maka aku akan sarapan, jika tidak maka aku akan langsung pergi sekolah”
“ah begitu ya”
Jadi dia pasti gak pernah membawa bekal kan? Ah andai saja aku bisa membalas terima kasih ku dengan makan bersama selama seminggu penuh, aku tak akan merasa kurang kurasa saat ini, baiklah aku sekarang mulai mencari cara untuk berterima kasih dengan benar padanya lagi, tapi hari ini hari jumat dan minggu kali ini sudah hampir berakhir kita gakan bisa bertemu lagi besok, tapi itu hanya disekolah kan? Kita masih bisa bertemu diluar sekolah, aku kembali mengingat poster yang kulihat dijalan pagi tadi saat berangkat sekolah, carnafal akan diadakan di kota ini nanti malam, bukankah itu cara yang bagus untuk berterima kasih padanya? Mengajaknya pergi bersama dan aku yang akan membayarnya.
Apa itu terlalu aneh? Apa fujihara akan menerimanya? Sial diriku semakin takut untuk bertanya padanya, tapi ini demi prinsip hutang budiku juga, aku akan bertanya.
“fujihara?”
“ah iya?”
“kurasa aku belum berterima kasih dengan benar jadi-”
“hmm?”
Ia memiringkan kepalanya seolah menunggu kalimat-kalimat ku yang terpotong karena rasa gugupku sendiri, ah sial ini bahkan lebih parah daripada rasa gugup saat quiz kimia.
“jadi-.. jadi”
“jadi?”
“apa kau mau pergi bersamaku ke karnaval kota malam nanti? Aku akan menraktir apapun yang kau mau disana nanti”
Akhirnya tersampaikan, meskipun mungkin terdengar sangat bodoh,dan aku tak berani menatap wajahnya sekarang, ah bodohnya diriku ini.
“maksudku janji kita berdua dulu adalah makan bersama seminggu penuh tapi sekarang hanya terjadi sekali jadi aku mau membalasnya dengan hal lain”
“Karnaval? Tentu...tentu saja”
“eh kau mau?”
Dadaku terasa ringan sekarang syukurlah
“tentu aku menantikannya”
“apa orang tuamu ga masalah?”
“kurasa ga masalah tenang aja, kamu sendiri udah dapat izin dari orang tuamu?”
“belum sih tapi itu urusan mudah”
“wah kalau begitu aku menantikannya”
Syukurlah dia mengiyakan ajakan ku, ahh aku sangat senang saat ini baru kali ini aku merasakan rasa senang seperti ini, apa ini? Mabuk? Dadaku terasa cepat menggebu, aku tak sabar menanti datangnya malam nanti dengan bersamaan diriku gugup saat ini.
“ugh anu maaf”
Fujihara menepuk pundakku, apa dia memanggilku? Kalau kuingat dia belum memanggil namaku dengan benar hari ini, dia lebih sering memanggilku dengan kata ganti seperti anu, kamu atau bahkan menepuk bagian tubuhku seperti tadi
“kenapa? Panggil nama aja seperti biasa, haruka satomi”
“eh maaf satomi tapi kita akan janji bertemu dimana nanti malam? Aku tak punya smartphone jadi mungkin agak susah jika kita tak mendiskusikannya sekarang”
“ah kalau begitu kita bertemu di depan stasiun saja jam tujuh malam, aku akan menunggumu di dekat gerbang loketnya”
“baiklah terima kasih”
Kami berbicara cukup lama saat ini tentang apa yang akan kita lakukan nanti di karnaval ataupun tentang hal lain yang tak begitu penting sebenarnya untuk dibahas tapi jujur saja aku sangat menyukai waktu berjalan seperti ini.
Bel masuk telah berbunyi dan kami berdua kembali kedalam kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa, hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi kami berdua tak melakukan komunikasi lagi, tapi sebelum meninggalkan kelas dan berpisah disekolah hari ini aku melihatnya tersenyum, meski tak mengarah padaku, tapi senyum itu yang mataku cari selama seminggu ini, syukurlah aku melihatnya lagi sebelum ini berakhir.
Sepulang dari sekolah aku langsung meminta izin dari ibuku untuk pergi keluar malam ini, tentu saja ibuku langsung menyetujuinya karena memang aku jarang bermain keluar rumah jadi ibuku sangat mendukung jika aku melakukanya seperti hari ini. Tentu saja aku tak memberi tau kalau akan bermain dengan seorang perempuan kali ini, aku tak ingin menjadi bahan pembicaraan itu memuakkan bagiku.
Waktu masih menunjukkan pukul 18:00 dan aku sudah pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke stasiun tempatku dan fujihara akan bertemu malam ini, aku tau ini masih terlalu awal tapi sebaiknya kita tak membuat orang menunggu kan?jarak rumahku dengan stasiun tak terlalu sebenarnya jadi aku masih ada waktu menunggu nanti disana.
Disinilah aku sekarang berdiri menunggu fujihara didekat pintu masuk stasiun, jam di layar hpku masih menunjukkan pukul 18:35 kurasa aku harus menunggunya sedikit lama, aku tak mempermasalahkan hal ini entah kenapa aku sangat menantikan hari ini.
Seingatku aku sampai disini pukul 18:27 dan sekarang sudah menunjukkan pukul 18:42, agh aku semakin tak sabar menanti jam bergerak dan berhenti tepat pukul 7 malam ini, tapi disisi lain diriku juga merasa sangat gugup hari ini, ah aku tak berpenampilan aneh kan? Aku cuman memakai jeans biru gelap dan kaos yang kubaluti kemeja, aku benar-benar tak mengerti soal hal ini jadi maaf saja jika ini terlihat aneh diriku nanti.
“satomi”
Agh panggilan suara ini, aku mengenal dengan baik, suara yang lembut ini sangat nyaman terdengar ditelingaku membuatku langsung menolehkan pandangan kearahnya.
Sial kuharap aku tak bertingkah bodoh saat ini,aku melihatnya berlari menuju kearahku, perempuan yang tak terlalu tinggi memakai celana pendek berwarna abu abu dan juga kaos berwarna putih yang terlihat menyatu dengan kulit cerahnya dimasukkan kedalam celana pendeknya, rambut pendeknya yang sedikit bergelombang di ujungnya bergerak meliak-liuk saat ia berlarian, dia terlihat bersinar dibawah sinar rembulan malam ini mengalahkan ribuan lampu yang ia lewati.
“maaf telah membuatmu menunggu”
“tidak, ini bahkan belum waktunya kan?”
“tapi kau datang lebih awal jadi kau sudah menungguku”
“kalau begitu itu salahku berarti yang datang terlalu awal”
“kalimat itu terdengar memang seperti dirimu banget”
Kami berdua tertawa disana membuatku merasa tak ada makhluk hidup lain disekitarku saat ini, ini gawat aku bisa mati karenanya,
“ayo pergi?”
“iya”
Aku berjalan lebih dulu diikuti dirinya yang berjalan beriringan disampingku, aku harus menyesuaikan langkah kakiku agar bisa bersama seperti ini, ini tidak buruk.
“kau dapat izin dari orang tuamu?”
“tentu saja, buktinya aku disini kan? Bahkan ayahku yang mengantar tadi”
“tau begitu aku ingin menyapanya”
“lain kali akan kukenalkan kamu padanya”
“aku menunggunya”
Sekali lagi aku berharap wajahku tak terlihat aneh saat ini, jarak tempat karnaval dari stasiun kota tak terlalu jauh, kami bisa menempuhnya lebih cepat jika menggunakan angkutan seperti taksi atau semacamnya, tapi aku ingin menikmati momen seperti ini lebih lama.
Dia terlihat bahagia sekarang, sangat berbeda seperti 180° saat dirinya terlihat bersedih pada hari-hari kemarin, senyumnya terukir di wajahnya sesekali aku melihatnya diam-diam tanpa ia ketahui, wangi harumnya dapat membuat semua aroma polusi di sekitarku pergi dari indra penciumanku saat ini, jika saja aku berani menggenggam tanganya mungkin aku akan menjadi lelaki paling bahagia malam ini, tidak...apa yang kupikirkan kami berdua masih terlalu kecil. Tanpa sadar kami berdua telah sampai didepan pintu masuk karnaval, apa waktu tak bisa berjalan lebih lambat lagi malam ini?
Tak perlu waktu lama kami berdua memasuki karnavalnya, begitu banyak kios dan wahana disana, tentu saja pengunjungnya bahkan lebih ramai dari dugaanku, sial kurasa aku tak cocok dengan tempat seperti ini, kuatkan dirimu wahai diriku sendiri.
Perasaan aneh ditengah keramaian itu hilang saat pergelangan tanganku terasa ada yang menariknya.
“satomi kau berjanji akan mentraktirku malam ini kan?”
Fujihara menarik lenganku dengan tersenyum lembut diwajahnya, tanganya menunjuk ke salah satu kios makanan disana, kurasa inilah saatnya janji yang kubuat harus kutepati.
“asalkan tak membuat dompetku kosong, aku masih bisa membelikan apapun”
“hehe benar ya, aku ingin permen kapas disana”
Benar-benar seperti anak kecil, ia menarik lenganku seperti memaksaku agar cepat mengikutinya, aku tak membenci hal ini malahan aku menikmati setiap detik moment ini.
“tolong satu permen kapasnya paman”
“siap neng”
“apa satomi juga mau?”
“tidak perlu kau saja”
Begitulah sekarang kami berdua kembali berjalan dengan tangannya yang memegang permen kapas disana, sementara aku membawakan tas kecil yang tadi ia bawa.
“enak?”
“iya ini sangat manis”
“syukurlah”
Aku tersenyum melihat tingkahnya, hati kecilku terasa senang melihat itu, dan tiba-tiba sebuah permen kapas berada tepat didepan wajahku, tentu itu permen kapas yang fujihara bawa.
“kau mau mencobanya?”
“boleh?”
“tentu saja ini kan uangmu”
“baiklah tuan putri terima kasih”
Mulutku menggigit permen kapasnya, ah ini benar-benar manis dan langsung meleleh dimulutku, tak buruk.
“manis bukan?”
“iya tak kalah dari suatu hal”
“suatu apa?”
“rahasia dong”
“dih”
Ia menyikut pergelangan lenganku dan terlihat sedikit kesal diwajahnya, tapi tak berselang lama ia kembali tersenyum dan tertawa, kami kembali mengunjungi kios yang ingin ia beli seperti permen apel dan pisang coklat, minuman teh ringan untuk menghilangkan rasa haus kita, namun kami tak pernah membeli dua untuk diri kami masing-masing, kami hanya membeli satu dan fujihara akan memberikan sisanya padaku, benar-benwr seperti anak kecil jika sudah bosan ia tak akan memakannya lagi,
Tak hanya kios makanan kami pergi ke tempat kios permainan dibuka, banyak sekali permainan disini dan kurasa dulu aku pernah memainkan semua yang ada disini seperti menangkap ikan dengan kertas, memasukkan bola, melempar gelang, menembak kaleng.
Fujihara telah banyak mencobanya dan tak ada hal bagus yang didapatkan, ia terlihat kecewa saat baru saja gagal melakukannya tapi langsung ingin mampir ke kios lain saat mengetahui hal menarik baginya, begitulah kami berdua saat ini ia menentukan kemana kami harus pergi dan aku akan mengikuti langkahnya kemana ia akan pergi, memang beginilah seharusnya karena ini adalah ucapan terima kasih ku untuknya kan?
Akhirnya mataku menangkap sesuatu yang membuatku tertarik disana, aku langsung menarik lengan fujihara untuk mengikutiku kali ini, sekali saja aku ingin melakukannya.
“satomi?”
“aku ingin mendapatkannya”
“mendapat apa?”
Kami berhenti didepan kios menembak kaleng yang tadi fujihara lewati karena ia rasa tak cocok untuknya.
“ah kau ingin menang disini?”
“iya tunggu saja”
Aku membeli beberapa kesempatan menembak saat ini, kuharap ini cukup.
“tiket pemandian air panas, liburan gratis keluar kota, wah hadiah utama yang menarik, kau pandai memilihnya satomi”
Begitulah tapi bukan hadiah utama seperti itu yang kuinginkan, aku tak perlu mengincar hadiah utama yang sulit kudapat aku hanya perlu mengincar sesuatu yang kubutuhkan saat ini,
Klangg
Kena, itu benar-benar kena, setelah beberapa kali meleset jauh bahkan peluruku hampir habis hanya untuk hadiah yang sebenarnya mudah didapat dari yang lain aku akhirnya mengenainya,
“kau cukup payah satomi tembakanmu hampir semuanya meleset jauh loh”
“maafkan saja aku ini bukan berdarah pemburu”
“ada-ada saja dirimu”
“silahkan hadiahnya mas”
“terima kasih”
Inilah hadiah yang kuincar sejak awal mengalahkan hadiah utama seperti liburan gratis tadi, sebuah boneka beruang yang terlihat sebesar kepala anak-anak kurasa ini cukup nyaman.
“nih terimalah”
“kau memberikannya padaku?”
“iya, Hadian ini ga cocok untuk anak laki-laki kan dan juga aku tak punya adik dirumah jadi kuberikan padamu saja”
Maafkan kebohongan hambamu ini tuan tapi aku terlalu malu untuk berkata ingin memberikannya boneka ini kepadanya sejak awal, saat pertama kali melihat boneka ini pikiranku kembali mengingat kejadian saat awal kami berdua bertemu dan pergi keruang guru di sekolah, disana matanya terlihat menyukai boneka milik bu ria, jadi oleh karna itu aku ingin memberikannya ini.
“kalau gamau kau bisa memberikannya pada orang lain kok”
Tiba-tiba ia langsung mengambil boneka yang tadi kugenggam dengan cepat, dia memeluknya dengan erat dan menempelkan wajahnya disana membiarkannya tenggelam ditubuh bonekanya
“nggak... aku akan menerimanya, aku akan menjaganya dengan baik, terima kasih”
Sial aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas sekarang karena tertutup oleh boneka, aku sangat ingin melihatnya aghh.
Tak banyak wahana bermain yang bisa kita mainkan disini, apa karnaval memang lebih fokus ke kios makanan dan permainan kecil ya? Maksudku tidak mungkin ada roller coster atau semacam labirin kaca disini kan? Meskipun disini tetap saja ada wahana seperti biang lala dan rumah hantu, jujur aku merasa lega tak ada wahana ekstrim disini.
“apa kau mau masuk rumah hantu fujihara?”
“tidak kumohon tidak”
“ahh kau takut ya”
“tidak tentu saja, remaja smp udah gatakut sama begituan kan”
“terus kenapa gamau?”
“lihat itu”
Jari fujihara menunjuk ke depan rumah hantu tepat dibarisan para orang yang mengantri.
“itu terlalu ramai”
“benarkah?”
“iya akan memakan banyak waktu hanya untuk itu, waktu kita tak banyak malam ini jadi aku ingin kita berdua menikmatinya sebaik mungkin”
Aku tak bisa membalas jawaban fujihara, mulutku diam saat mendengar jawaban yang keluar darinya, dia sangat menikmatinya kan? Kebersamaan kita ini?
“kenapa kau diam saja katakan sesuatu dong”
“aku harus berkata apa”
“apapun agar aku tak malu mendengar ucapanku sendiri”
“hmm, mumpung disini bukankah kita harus mencoba naik satu wahana setidaknya?”
“itu benar, kemudi putar?”
“tidak aku terlalu malu”
“biang lala?”
“ah anting yang berputar itu ya”
“apa maksudmu itu, kau tidak akan terlihat oleh orang lain saat menaikinya kan? Dan kurasa antreannya juga tak sebanyak wahana yang lain”
“kurasa itu menjadi ide yang bagus”
“kalau begitu kita pergi sebelum waktu pulang tiba”
Dia menarik lengan tanganku lagi, membuatku mengikutinya dari belakang saat ini, tangan lembutnya itu benar-benar berbeda dengan telapak tanganku sendiri apa perempuan memang selalu seperti ini?
Itu benar seperti yang dikatakan fujihara, antrean biang lala tak seramai rumah hantu yang kita lihat tadi,apa wahana ini tak populer? Tidak mungkin itu karena waktu memainkannya yang singkat tak seperti rumah hantu jadi antreannya tak menumpuk terlalu lama, benar pasti karena itu kan?
Kami berdua semakin didepan antrean, hanya tersisa beberapa pasangan orang lagi didepan kami dan kami bisa menaiki wahana ini, tunggu pasangan? Aku baru menyadarinya tapi kenapa antreannya didominasi oleh sepasang lelaki dan perempuan? Apa mereka semua memiliki hubungan romantis disini? Apa aku dan fujihara terlihat seperti itu? Tidak kami masih murid bangku SMP, belum cocok untuk hal seperti itu kan? Kami berdua hanya bersenang-senang disini.
Tiba waktunya kami menaiki biang lala, pintu dibukakan untuk kami berdua dan wahana ini kembali berputar, disini lebih sempit dari yang kupikirkan bahkan juga lebih sunyi apa ini dilengkapi dengan sistem kedap suara?Mustahil, karena hal itu keadaan menjadi hening dan sedikit canggung menurutku, ah ini pasti hanya karena aku gugup, akhirnya aku melihat layar ponselku, tentu aku tidak berpikir untuk bermain ponsel saat seperti ini, aku hanya ingin melihat jam disana, waktu sudah menunjukkan pukul 22:17, inii sudah cukup malam bagiku, kami berdua masih duduk dibangku SMP jadi tak baik untuk pulang terlalu larut malam kan? Apalagi fujihara seorang perempuan.
Aku mengalihkan pandanganku pada fujihara tepat didepanku yang sedang memandang ke arah luar jendela ruangan ini, wajahnya bersinar terkena cahaya lampu dari luar, itu benar-benar cantik.
Kami masih diam membisu disana mungkin fujihara sedang menikmati pemandangan kota malam ini karena kami semakin naik keatas sekarang mungkin sudah hampir di puncak biang lala ini dan akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya juga, banyak lampu yang terlihat berkelap kelip disana, bangunan yang tinggi menjulang dan juga langit yang dihiasi bulan dan bintang tanpa sedikitpun awan menutupi mereka disana,aku tak ingin moment ini berakhir, kumohon waktu melambatlah.
“indahnya”
Perkataannya membuatku tersadar dari fantasi sendiri dan kembali melihatnya yang masih terlihat bersinar dimataku.
“apa kau menikmati hari ini?”
“tentu saja, aku tak banyak memiliki kenangan seperti ini di hidupku selama ini, sayangnya ini akan segera berakhir, ayahku mungkin sudah menunggu didepan sekarang”
“kau benar ini sudah larut malam”
Wajahnya terlihat kecewa saat itu, apa dia benar benar-benar tak ingin ini berakhir? Jujur saja aku juga sangat tak ingin hari ini berakhir, atau setidaknya kita bisa melakukanya lagi, aku jadi teringat besok masihlah hari sabtu awal akhir pekan, kami berdua masih punya banyak waktu luang jika kami mau, aku harus mengajaknya keluar lagi. Aghhh kenapa aku harus merasa gugup seperti ini untuk kedua kalinya, bukankah tadi pagi aku baru saja mengajaknya keluar?
“fujihara”
“hmm?”
Ia menjawab panggilanku, semoga aku tak terlihat aneh atau buruk dimatanya.
“aku juga sangat senang dengan kebersamaan kita hari ini, jujur saja aku juga tak ingin ini berakhir, jadi maukah kau pergi denganku lagi besok? Kau bisa menganggapnya sebagai tebusan rasa terima kasihku karena minggu kali ini belum berganti”
Kali ini aku tak mengalihkan pandanganku dari wajahnya setelah menyampaikan perkataanku, dia terlihat terkejut sekarang, kurasa ia terlihat senang mendengarnya?
Aghh kerja bagus diriku.
“apa kau yakin?”
“tentu saja itulah kenapa aku mengajakmu”
“kalau begitu kemana kita harus pergi?kebun binatang?aquarium?museum?pantai?bioskop?taman kota?perpustakaan kota?mall yang terkenal disini?taman bermain atau ada tempat bersenang-senang lain yang tak kutau selama ini?”
Dia sangat bersemangat melebihi apa yang kupikirkan akan terjadi, syukurlah itu berarti dia juga mau pergi bersamaku besok
“banyak banget”
“yaa kita hanya perlu memilihnya bukan berarti harus pergi kesana semua”
“hahaha tidak masalah kita akan pergi ke semua tempat yang ingin kau kunjungi”
“kau bicara apa? Waktu minggu ini tak akan cukup kau tau”
“kalau begitu kita akan pergi minggu depan, dan jika minggu depan juga belum cukup kita akan pergi minggu depanya lagi sampai semua tempat tadi kita berdua kunjungi”
“wahh itu benar, janji ya”
Dia menjulurkan jari kelingkingnya ke depan wajahku, aku membalasnya dengan tersenyum menyatukan jari kelingking ku disana, kami membuat janji layaknya anak-anak.
Wajahnya terlihat bahagia saat ini, wajah paling bahagia yang pernah ku lihat darinya selama ini, dan syukurlah aku yang membuatnya seperti itu.
Tak terasa biang lala yang kami naiki sudah sampai dasar dan kami berdua harus segera turun dari sana, kami kembali berbincang-bincang sembari berjalan menuju pintu keluar untuk mengakhiri kebersamaan kami hari ini, kami menentukan tempat mana yang akan kami kunjungi besok dan dimana kami berdua harus bertemu besok, kapan waktu yang tepat untuk bertemu bahkan kami juga membicarakan hal yang tak terlalu penting, akhirnya kami berdua sampai dan kembali berpisah di pintu keluar, fujihara telah berjalan pergi dahulu untuk bertemu dengan ayahnya, dan aku juga memutuskan untuk kembali pulang setelah tubuhnya tak terlihat dimataku lagi, kali ini aku lupa mengucapkan selamat tinggal padanya meskipun kata yang tepat sekarang adalah sampai jumpa besok karena kami berdua berjanji akan bertemu lagi.
Sabtu 26 july 2014?
Ini hari yang cerah seperti kemarin malam, tak terlihat awan mendung hitam dilangit sedikitpun saat ini, syukurlah aku menjadi makin bersemangat melihatnya, saat ini aku berjalan menuju stasiun kota seperti kemarin untuk bertemu dengan fujihara dan akan berangkat bersama sama menuju taman bermain dikota ini.
Itu benar hasil diskusi kami berdua kemarin memutuskan untuk pergi ke taman bermain hari ini karena tak banyak wahana bermain yang bisa kami mainkan kemarin malam di karnaval, kali ini waktu kami banyak, janji yang kami buat bertemu pukul sembilan pagi dan kurasa kami bisa terus bermain bersama sampai waktu menjelang malam hari ini.
Jam di layar Hp ku menunjukkan pukul 08:43 saat ini dan aku sudah sampai didepan stasiun tempat kita berjanji sama persis seperti kemarin, mataku langsung mencari sosoknya mengabaikan semua orang asing yang terlalu ramai untukku, dan akhirnya mataku berhasil menangkap sosoknya sekarang, ia mengenakan dress putih yang memiliki panjang tepat dibawah lutut miliknya, rambutnya terlihat hitam pekat meskipun terpapar sinar matahari, tanganya hanya memegang tas kecil yang ia bawa kemarin malam dan bersandar ditembok terlihat sedang menunggu seseorang, tentu saja aku orangnya, gawat bukankah tak sopan membuat orang menunggu? Tak butuh waktu lama aku langsung menghampirinya.
“maaf membuatmu menunggu fujihara”
“ah kau sudah datang ya”
Panggilanku membuat ekspresi bengongnya tadi berakhir, kurasa ia terlihat melamun sebelum aku menyapanya.
“apa kau sudah lama?”
“tidak, mungkin sekitar 5 menit”
“maaf membuatmu berdiri menunggu disini”
“tidak apa-apa itu bukan masalah, ayo kita pergi”
Kami berdua memasuki stasiun sekarang, tak seperti kemarin taman bermain yang akan kita datangi hari ini sedikit jauh dari tempat kita bertemu dan akan lebih baik jika kita pergi menaiki kereta, kami banyak mengobrol hal acak didalam kereta, seperti wahana apa yang akan kita naiki, bagaimana urutan yang tepat untuk menikmatinya bahkan ia sudah menunjukkan rencana yang sudah dibuatnya semalam untuk hari ini, aku menyukainya yang terlihat bersemangat dan tersenyum seperti ini.
Kereta yang kami naiki sudah berhenti dan tiba ditempat tujuan kami saat ini, kami memutuskan untuk kembali berjalan kaki bersama dari stasiun ke taman bermain seperti kemarin malam, kebersamaan seperti ini benar-benar tak tergantikan.
Akhirnya kami tiba didepan pintu masuk taman bermain kali ini, kami harus membeli tiket masuk dan mengantri sebelumnya, antreannya benar-benar ramai hari ini, kurasa karena ini adalah akhir pekan tentu saja waktunya liburan kan?
“tolong tiket untuk dua orang”
“baiklah, apa anda mau mengganti pilihan tiketnya dengan tiket untuk sepasang kekasih? Harganya lebih murah daripada harus membeli tiket untuk dua orang”
“ap-, apa pacar? Tidak kami bukan seperti itu tolong tiket biasa sa-,”
“kalau begitu tolong tiket untuk sepasang kekasihnya kak”
Kalimatku terpotong sebelum berakhir oleh fujihara disampingku, tangannya memegang lengan tanganku saat ini, aghh perasaan apa ini.
“baiklah tiket untuk sepasang kekasih silahkan”
Kami menerima tiketnya dan melanjutkan langkah kaki kami masuk kedalam taman bermain, aku melihat wajah fujihara yang masih tersenyum disampingku saat ini dan tangannya masih tetap memegang lengan tanganku.
“ugh fujihara?”
“aghh maaf”
Ah dia langsung melepaskan genggaman tanganya saat aku memanggilnya, apa dia sudah sadar?
“maaf tadi itu?”
“agh tiket tadi cukup bagus bukan untuk menghemat uang sakumu karena kamu harus mentraktirku lagi hari ini, jadi aku harus menghemat uang sakumu untuk diriku sendiri nanti, seperti itulah”
Apa yang dikatakanya semuanya benar, karena aku harus mentraktir semua yang ia inginkan hari ini lagi dia harus menghemat uangku agar tak habis selain untuknya kan? Tapi entah kenapa tingkah fujihara saat ini terlihat salah tingkah, dia bergerak tak jelas seperti membuka tas kecilnya padahal tak mengambil apapun didalamnya dan langsung berjalan cepat meninggalkanku, dia terlihat lucu.
Kali ini wahana bermainnya sangat banyak jika dibandingkan dengan karnaval kemarin, roller coster, rumah hantu, labirin, kolam renang dan prosotan disana, bahkan biang lala juga ada disini. tapi kenapa semuanya terlihat ekstrem di mataku, sial aku tak terbiasa menaiki hal semacam ini, kuharap fujihara tak mengajakku untuk menaiki semua wahana ekstrem ini.
“satomi ayo naik itu”
Ah sial benar saja, dia langsung mengajakku menaiki salah satu dari mereka semua, tangannya menunjuk ke wahana yang menjulang tinggi dan para penumpang akan menaikinya dengan kecepatan normal dan langsung diturunkan ke bawah dengan kecepatan yang tinggi, apa jantung kita ga lepas tuh saat menaikinya?
“eh fujihara bukankah kita terlalu kecil untuk itu?”
“apa maksudmu kita sudah cukup umur untuk hal begini, ayolah”
Dia mulai menarik lenganku untuk memaksa mengikutinya lagi, kurasa aku ga akan bisa menolak keinginannya.
Akhirnya kami berdua berdiri mengantre wahana ini, aku tak tau nama wahana ini juga tak ingin tau, cukup hanya sekali saja aku menaiki ini. Jantungku sudah mulai berdetak lebih kencang bahkan sebelum menaikinya jeritan-jeritan orang yang sudah naik diatasnya membuat rasa gugupku semakin menjadi jadi sekarang, aku harus tenang tak boleh terlihat buruk didepan fujihara yang wajahnya terlihat tak sabar untuk menaiki ini.
Giliran kami berdua naik akhirnya tiba, kami duduk bersebelahan saat ini, sabuk dan pengaman yang lain sudah terpasang dengan baik menurut petugas disini tapi itu masih tak bisa membuatku tenang, benda ini perlahan mulai bergerak naik dengan kecepatan yang pelan, membuat mataku dapat memandangi semua taman bermain dibawah dan juga pemandangan kota yang juga ikut terlihat, oh ini tak terlalu buruk dan kami berhenti sebentar diatas untuk menikmati pemandangan ini, tapi dengan tiba-tiba benda ini bergerak turun dengan kecepatan ekstrem, seketika aku merasa jiwa dan tubuhku terpisah untuk sesaat, jantungku masih menempel kan? Teriakan sudah tak terhindarkan keluar dari mulutku sekarang, aku bisa memastikan ini adalah teriakan ketakutanku, terkadang aku menutup mataku agar tak melihat pemandangan mengerikan ini, tapi saat ku membukanya lagi aku melihat fujihara yang tertawa dengan riang disampingku saat ini, dia terlihat benar-benar bahagia sekarang itu cukup meredakan ketakutan dan teriakan histerisku untuk sesaat sebelum akhirnya benda ini bergerak dengan kecepatan ekstrem lagi berulang ulang kali.
Akhirnya setelah beberapa menit jiwaku terasa keluar masuk dari tubuhku, benda ini berhenti bergerak artinya aku sudah selamat dari cobaan dunia ini kan? Aku turun dari benda ini dengan badan yang sedikit terasa lemas dan kaki sedikit bergetar sekarang, kurasa ini tidak sedikit kuharap fujihara tak melihat kebodohan ini.
“itu tadi benar-benar seru kan satomi?”
“seru? Yang tadi itu?”
“iya itu berasa seakan membuat detak jantungmu lebih cepat dan adrenalin kita semakin meningkat saat menaikinya”
“hahaha kau mungkin benar” tentu saja detak jantung kita berasa lebih cepat artinya lebih cepat menuju kematian kan?
Ya itu tak sepenuhnya buruk, aku bisa melihat ekspresi bahagia fujihara saat menaikinya, itu sudah lebih dari cukup sebagai obat ganti cobaan tadi.
“kali ini kita harus naik benda itu satomi”
Jari jemari tanganya menunjuk roller coaster yang baru saja lewat didekat tempat kita berdiri saat ini, yang benar saja? Beri aku waktu istirahat sebentar kumohon.
Tetap saja lagi-lagi aku harus menuruti keinginannya hari ini, kami sudah berdiri mengantri wahana bernama roller coaster ini sekarang, gawat tubuhku masih tak bisa berhenti gugup meskipun telah menaiki wahana ekstrem sebelumnya, meskipun rasanya tak separah saat kami mengantre wahana sebelumnya tapi tetap saja ini terasa menakutkan bagiku.
Kami berdua sudah duduk berdampingan didalam kereta roller coaster saat ini bersiap untuk memacu detak jantung ini lagi, bagaimana bisa ada orang yang seantusias ini menaiki benda ini, fujihara terlihat tersenyum disampingku sesekali bahkan ia terlihat menggoyang goyangkan kepalanya kesamping seperti anak-anak, itu terlihat lucu dimataku kurasa mataku suka hal hal seperti ini.
“satomi apa kau takut?”
“takut? Ya tidak separah tadi sih”
“jika nanti kau merasa takut pejamkan saja matamu dan berteriaklah sekencang yang kau bisa, dengan begitu kau tak perlu melihat hal lain dan hanya akan mendengar suaramu sendiri”
“apa itu? Semacam trik untuk wahana ini?”
“ahahaha tentu saja tidak bodoh”
Memejamkan mata ya? Kurasa tadi aku sudah mencobanya dan menurutku lebih baik aku membuka mataku karena dengan itu mataku bisa melihatnya tertawa disampingku daripada harus melihat kegelapan hanya untuk menutupi rasa takutku.
Setelah kami menunggu sebentar untuk memastikan keamanan, kereta ini akan segera bergerak lagi kurasa aku sudah cukup siap akan hal itu, awalnya kereta ini bergerak perlahan melewati sebuah terowongan dan menaiki lintasan yang sangat tinggi, saat ini aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya.
Benar saja saat sudah mencapai puncak lintasan yang landai, kereta ini langsung bergerak cepat turun dan melewati sepanjang lintasan yang berkelak kelok bahkan ada lintasan yang bergerak berputar 360° badanku terasa ringan seperti angin sekarang mungkin jiwaku sudah keluar dengan benar dari tubuh ini.
Tapi roller coaster ini tak semengejutkan wahana sebelumnya, kurasa aku lebih bisa menikmati ini daripada benda sebelumnya karena kali ini aku bisa lebih banyak melihat ekspresi senang fujihara.
Tawanya yang bersamaan dengan jeritan yang ia keluarkan dengan mata tertutupnya, aku bersyukur bisa membuatnya seperti itu, dia sudah sangat jauh berbeda dimataku saat ini dibandingkan dengan awal aku mengajaknya berbicara dulu.
Jika aku berhasil mengubahnya kuharap ini adalah hal yang bagus untuk kita berdua.
Kereta ini berhenti bergerak lebih lama daripada wahana sebelumnya, tetap saja tubuhku semakin terasa lemas saat turun dan kurasa aku merasa semakin mual saat ini, konyol banget jika aku muntah disini aku akan menahannya.
Tak berhenti sampai disitu kami melanjutkan menaiki wahana yang lain sesuai keinginan fujihara, dimulai dari benda seperti kincir yang akan bergerak naik dan berputar secara vertikal dan horizontal bersamaan, benda ini jauh lebih membuatku mual dan pusing daripada wahana sebelumnya, kami melanjutkan lagi menaiki wahana yang lain.
Kami sekarang menaiki sebuah perahu besar yang bergerak mengayun ke depan dan belakang, ini tak separah yang lain aku masih bisa menikmati ini, setelahnya kami juga menaiki wahana ekstrem berupa bangku yang digantung dan diputar dari atas layaknya komedi putar, benda ini bergerak cepat searah jarum jam, ekspresi wajah yang dibuat fujihara semakin terlihat senang disana, ia tak terlihat lelah atau mual sedikitpun meski terkadang ia bilang bahwa merasakan pusing dikepalanya tapi mungkin itu hanya efek samping sesaat.
Kami juga memasuki rumah hantu dan labirin kaca kali ini,daripada takut fujihara lebih terlihat banyak terkejut dan semakin semangat didalam wahana ini, ia benar benar memiliki semangat anak remaja.
Kami melewati kolam renang dan prosotan kali ini karena kami tak membawa baju renang ataupun baju ganti, dan akhirnya kami berdua memutuskan akan datang dan mencobanya lagi lain kali.
Sesekali kami beristirahat di tempat-tempat kios makanan, kami berdua membeli eskrim dan juga kue waffle untuk mengisi perut kami, tentu saja fujihara hanya memesan satu karena seperti katanya diawal tadi ia harus menghemat uang sakuku lagian dia merasa tak akan bisa menghabiskan semua ini sendirian, oleh karena itulah kami menikmati makanan ini bersama sama di tempat yang sama, aku merasa cukup aneh saat melakukannya tapi kurasa yang kurasakan adalah rasa senang yang tak tertahankan.
Setelah beristirahat kami berdua melanjutkan menaiki wahana lain yang ingin ia coba, kereta bebek air, dan arung jeram akhirnya juga kami coba meskipun awalnya kami berdua mengatakan tak membawa baju ganti tapi ia berpikir bahwa tak akan sangat basah nantinya jika menaiki wahana ini.
Kami juga pergi ke istana boneka dan ruangan seperti observatorium, pada saat terakhir kami pergi ke wahana yang tak se ekstrem sebelumnya hingga akhirnya mentari sudah akan tenggelam meninggalkan langit dan berganti dengan bulan yang membawa setitik cahaya darinya untuk menggantikan dirinya yang telah pergi.
Itu benar malam sudah tiba kami harus pulang hari ini karena memang rencana kami hanya bermain sampai larut senja, meski berat bagiku untuk mengakhiri kebersamaan ini kami tetap pergi keluar taman bermain ini dan berjalan bersama menuju ke stasiun untuk menempuh kereta perjalanan pulang, raut wajah fujihara terlihat sedikit sedih sekarang mungkinkah jika dia ingin hari ini tak pernah berakhir?
“besok kemana kita akan pergi?”
“ehh besok juga?”
“kau ga mau? kirain kamu akan menguras semua uangku sampai benar-benar habis loh”
“aku ga akan seperti itu, tapi memangnya itu ga apa satomi?kau sudah cukup memberiku sesuatu sampai saat ini terlepas dari apa yang dulu kubantu kurasa ini sudah lebih dari cukup kok”
“ga apa uangku masih ada”
“apa kau ini anak keluarga konglomerat?”
“tentu saja bukan, aku hanya terus menyimpan uang saku sekolahku selama ini, kau tau sendirikan aku membawa bekal saat sekolah jadi uang sakuku hampir tak tersentuh selama ini dan aku bingung harus kupakai untuk apa”
“hmm jadi itu sudah seperti tabunganmu dong”
“begitulah kurasa”
“gapapa tuh ngehabisin uang tabungan hanya untukku?”
“gapapa itu lebih baik karena dengan itu aku bisa melihat senyum diwajahmu lagi”
Tak ada tanggapan darinya, dia hanya diam mengikuti langkah kakiku membuatku penasaran apa yang terjadi padanya, saat aku melirik raut wajahnya itu terlihat sedikit memerah walaupun di malam hari, ia tak sakit atau kelelahan semacamnya kan? Bagaimanapun aku menjadi khawatir padanya,
“fujihara apa kau sakit?”
Aku mencoba mendekatkan wajahku padanya untuk memastikan lebih dekat dan ia malah membuang wajahnya ke arah lain seperti menghindar, apa dia tak sadar kalau aku khawatir padanya?
“nggak gapapa kenapa memangnya” dia menjawab dengan wajahnya yang masih menghadap ke arah lain.
“mukamu memerah loh aku khawatir”
“itu pasti cuman karena kebanyakan terkena sinar matahari, kita kan lama diluar ruangan hari ini, iya pasti karena itu kok”
“kamu yakin? Tingkahmu juga aneh”
“aku benar-benar yakin”
Dia malah lari lebih dulu meninggalkanku, tanpa sadar ia berlari menyebrangi jalan raya
“jangan berlarian ditempat seperti ini, itu berbahaya loh fujihara”
Aku meneriaki dan mengejar langkah kakinya, meskipun ini sudah larut malam tapi jalan raya disini masih sangatlah ramai, ini memang belum terlalu malam karena matahari juga baru saja terbenam, untung saja dia berlari saat penyebrangan menyala lampu hijau untuk pejalan kaki jadi dia akan aman, setidaknya itu pikiranku, tiba tiba terdengar suara klakson mobil yang semakin keras menuju ke arah kami, aku sudah memastikan bahwa lampu lalu lintas sudah berwarna hijau untuk kami menyeberang, saat itu didalam pikiranku hanya ada dirinya yang sedang berlari tepat didepanku, aku harus menggapainya sekarang atau akan kehilangan dirinya ini, suara klakson mobil semakin mendekat dan tepat berada didekat kami, kurasa fujihara juga mendengarnya saat ini karena ia juga menolehkan kepalanya ke arah suara klakson mobil, sementara diriku terus berlari saat melihatnya menoleh aku benar-benar berharap bisa sampai padanya dan meraih tubuhnya kumohon setidaknya biarkan aku kembali menggenggamnya,
“KEINA”
Ia menoleh dengan tersenyum padaku saat namanya kupanggil, aku tak ingin melihat ia tersenyum seperti ini.
BRAAAKK tabrakan tak terhindarkan malam itu, klakson mobil terus berbunyi hingga akhirnya tergantikan dengan suara sirine ambulance yang datang, malam yang dingin berubah menjadi hangat karena keramaian orang.
•
Sepi dan sunyi keadaan disekitarku saat ini berbeda dengan suasana didalam diriku sendiri yang sangat cemas dan khawatir pada kondisi fujihara yang tak sadarkan diri, aku menunggu dengan selalu berharap bahwa kami masih bisa saling menggenggam tangan lagi,
“apa kau temannya?”
Seorang bapak-bapak keluar dan berbicara dari ruangan fujihara terbaring lemah saat ini, kurasa itu ayah fujihara,
“iya pak”
“saya adalah ayah keina”
“saya minta maaf tidak bisa menjaganya padahal saya yang meminta dia untuk ikut bermain bersama tapi keadaan malah menjadi seperti ini”
Nada bicaraku tak karuan mungkin saat itu terdengar seperti menahan isak tangis yang memang baru saja keluar.
“jangan khawatir keina baik-baik saja karenamu”
“tapi”
“dia hanya tak sadarkan diri karena syok dan kepalanya yang sedikit terbentur, itu akan lebih parah jika kau tak menyelamatkannya”
Syukurlah dia baik-baik saja, kecelakaan itu terjadi karena sebuah mobil yang remnya tiba-tiba tak bisa berfungsi dengan baik, korban kecelakaan adalah 0 orang dan mobil itu hanya menabrak pembatas jalan yang berhasil menghentikan kecepatan mobil itu sendiri.
Kedua tanganku berhasil meraih tubuh fujihara dan mendorongnya bersama dengan tubuhku menepi jatuh menghindari mobil yang kehilangan kendalinya tadi, tapi kedua tanganku tak berhasil melindungi kepalanya saat terjatuh ke tanah oleh karena itu fujihara tak sadarkan diri sekarang.
“sudah berapa lama kamu berteman dengannya?”
Ayah fujihara duduk disampingku dan berbicara denganku mungkin mencoba untuk menenangkan kepanikan diriku sendiri.
“kami berdua sudah sekelas selama sekitar 3 bulan dan baru sekitar 1 bulan kami mencoba untuk akrab”
“ahh jadi begitu, terimakasih telah berteman dengan putri kecilku, kurasa dia banyak merepotkanmu”
“tidak itu tidak benar justru fujiha-”
Agh orang didepanku saat ini juga bernama fujihara tentunya kan? Itu terdengar aneh
“panggil dia dengan nama depanya saja”
“ke, keina tak pernah membuatku merasa kerepotan justru ia banyak membantu diriku ini”
“begitu ya, syukurlah kupikir kau akan merasa kerepotan dengan kondisi dan penyakitnya selama ini”
Penyakit? Apa dia punya hal seperti itu? Dia tak pernah menunjukkannya didepanku.
“penyakit?”
“kau ga tau?”
“apa dia punya hal mematikan seperti itu?”
“agh itu bukan sesuatu seperti itu”
“jadi ada apa dengannya?”
Wajah ayah keina terlihat menjadi sedikit sedih disana, ia menundukkan wajahnya dan menjadi tak bisa dilihat oleh diriku maupun siapapun sekarang dan tak lama kemudian ia menolehkan pandanganya ke atas langit langit lorong rumah sakit ini.
“kurasa kau akan tau dengan sendirinya meski tak kuberi tau, tapi aku akan memberi taukan hal ini padamu”
Dia terlihat menarik nafas panjangnya sebelum melanjutkan pembicaraan ini.
“dulu aku memiliki keluarga yang bahagia saat ia masih kecil dan mendiang istriku masih hidup didunia ini, tapi kami mengalami sebuah kecelakaan saat pergi berlibur, kendaraan mobil yang kami naiki menabrak sebuah truk yang kehilangan kendalinya sama seperti hari ini, istriku tak bisa diselamatkan saat itu, dan keina jatuh koma selama beberapa hari, aku selalu berdoa kepada tuhan untuk menyelamatkan nyawa keina hingga akhirnya ia tersadar dari koma yang ia derita, tapi saat ia terbangun ia tak dapat mengingat banyak hal yang terjadi sebelumnya, ia bahkan tak mengingat tentang liburan yang kami lakukan sebelumnya tapi dia mengingat bahwa ibunya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya, kemudian melihat dirinya yang sangat berbeda daripada sebelum ia mengalami kecelakaan yang dimana ia selalu terlihat selalu tersenyum dan periang sekarang menjadi lebih banyak diam dan juga murung mungkin karena kepergian ibunya aku mencoba menghiburnya dengan mengajaknya jalan-jalan, kami berdua menghabiskan seminggu penuh bahkan rencanaku sebulan penuh dengan liburan untuk mengobati rasa sakitnya, kami pergi keberbagai tempat yang ia inginkan mengambil kenangan bahagia sebanyak apapun yang kami berdua bisa sebelum akhirnya pagi senin hari telah datang, aku menyuruhnya untuk cepat bersiap untuk pergi ketempat liburan yang lain tapi dia malah seperti melupakan semua hal itu”
~
“liburan? Tumben sekali ayah mengajakku liburan ayah ga sibuk sama kerjaan?”
“apa maksudmu? Ayah kan mengambil cuti sebulan penuh untuk menghabiskan liburan denganmu, seminggu yang lalu kita kan baru saja pergi”
“apa itu benar? Ya kurasa itu tak ada salahnya sekali kali”
~
“Kami tetap pergi berlibur lagi selama seminggu penuh pergi keberbagai tempat yang ia inginkan lagi tapi saat kutanya kemana tempat yang ia ingin datangi itu adalah tempat yang sama seperti yang kita berdua datangi di minggu sebelumnya, saat aku mengatakan kami berdua sudah pergi kesana sebelumnya ia tak mengingatnya dan berkata bahwa mungkin itu adalah saat dulu ia masih kecil dan ia sudah melupakannya, tapi tentu saja tidak kami berdua baru saja pergi kesana seminggu yang lalu. Aku tak banyak mengatakan hal lain karena saat itu kupikir kebahagiaannya adalah yang terpenting, benar saja wajahnya terlihat sangat bahagia saat itu wajah yang dulu hilang sebelum kami mengalami kecelakaan sudah kembali lagi sekarang, hingga akhirnya senin sudah datang kembali dan satu pekan sudah berlalu lagi, sama seperti pekan sebelumnya senin pagi ini ia kembali lupa tentang kenangan yang kami berdua buat sebelumnya, aku mencoba untuk menjalani satu pekan lagi untuk memastikan dan menolak tebakanku pada takdir yang menimpa putriku tapi semua tebakanku berakhir benar-,”
“,-ingatan keina akan kembali hilang atau terulang saat hari senin datang”
Aku sangat mengerti dengan jelas apa yang ayah keina coba sampaikan dan kembali mencocokkannya dengan saat aku dan keina bertemu akhir-akhir ini, ia memang terlihat selalu kembali kedalam keina yang diam dan penyendiri saat pekan sudah berganti.
“apa apaan itu? Apa itu masuk akal? Itu hanya bohong kan?”
Aku mencoba untuk menolak dan tidak percaya pada hal ini meskipun kenyataannya diriku sudah paham dan mengerti betul apa yang sudah terjadi.
“kau sebenarnya juga merasakan ini kan? Saat dia seperti kembali menjadi orang asing pada hari senin”
“tidak itu tak mungkin itu hanya fantasi bagaimana mungkin hal seperti itu ada”
“kau pasti juga mengalaminya kan saat dia kembali menanyakan siapa dirimu?”
Aghh itu benar aku kembali mengingat saat ia selalu menanyakan siapa namaku saat kami berdua berbicara lagi dipekan yang baru.
“jadi kau benar-benar tak tau hal ini sebelumnya ya”
Aku hanya terdiam tak bisa membalas pertanyaan ayah keina saat ini, diriku mencoba menerima semua hal yang terjadi ini.
“kupikir kau sudah mengetahui hal ini karena keina selalu bercerita tentangmu sepulang sekolah meski satu minggu telah berganti lagi”
“apa maksudnya itu?”
Keina selalu bercerita tentangku pada ayahnya?
“hari itu dia pulang sekolah sedikit terlambat dari biasanya jadi aku menanyakan apa alasan yang membuatnya pulang terlambat”
~
“tumben sekali pulang terlambat apa ada kejadian disekolah hari ini kei?”
“agh iya aku membantu temanku membawa buku tugas lebih dulu ke ruang guru sepulang sekolah”
“temanmu?”
“iya kalau tak salah namanya adalah haruka satomi”
~
“saat itu aku sangat senang bahwa putri kecilku mempunyai seseorang yang ia anggap teman meski aku tau ia akan melupakanya nanti, tapi di minggu selanjutnya ia semakin sering pulang terlambat jadi aku menanyakan alasanya lagi”
~
“apa yang terjadi kei,kau selalu pulang terlambat akhir akhir ini”
“ahh maaf aku lupa meminta izin dari ayah tapi teman kelasku meminta bantuan belajar padaku sepulang sekolah akhir akhir ini”
“teman kelasmu?”
“iya dia kesulitan dalam mata pelajaran kimianya ahaha padahal dia kelihatan cukup pintar di hal lain”
“apa kau tau siapa namanya?”
“namanya? Tentu saja, dia haruka satomi”
~
“saat mendengar namamu diucapkan olehnya aku sebenarnya sedikit berharap bahwa ia sudah bisa mengingat kenangan yang ia lakukan saat ini di minggu selanjutnya mulai sekarang, tapi hal itu langsung hilang saat pekan berikutnya datang, ia kembali menjadi muram dan pulang tepat waktu seperti biasanya, karena itulah aku memastikan satu hal”
~
“kau pulang cepat hari ini lagi kei?”
“ini memang jam pulangku setiap hari kan”
“kau sudah tak punya janji dengan teman kelasmu lagi?”
“janji? Dengan siapa?”
“haruka satomi? Akhir- akhir ini kau mengajarinya sesuatu kan?”
“siapa? Satomi? Tidak tuh gada orang yang bilang punya perlu denganku kok hari ini”
~
“akhirnya aku sadar putriku masih belum berubah dan masih melupakan hari seminggu sebelumnya yang telah ia jalani. Hingga saat kemarin akhirnya ia pulang sekolah dengan tawa dan ekspresi bahagia yang sudah lama tak kulihat darinya”
~
“ayah ayah aku ingin ngomong sesuatu padamu”
“ohh kau terlihat bersemangat apa yang terjadi?”
“teman kelasku membagi bekalnya padaku hari ini katanya sih sebagai rasa terima kasih padamu karena membantunya, padahal aku merasa ga ngebantu apa apa tuh, tapi makananya terasa sangat enak”
“opa kau menyukainya?ayah juga bisa membuatkan bekal untukmu loh”
“jangan ayah semakin repot nantinya”
“maafkan ayahmu ini ya”
“ga apapa kok,oh iya dia juga mengajakku pergi ke carnaval malam nanti apa aku boleh pergi bersamanya?”
“boleh tapi beritau ayah siapa yang akan pergi bersamamu”
“dia adalah teman sekelasku, namanya haruka satomi”
~
“Saat mendengar namamu terucap dari mulutnya lagi saat itu aku berpikir kau memang orang baik yang mau berteman dengan putri kecilku meski sudah tau sesuatu yang dideritanya, dan aku sangat bersyukur dan berterima kasih padamu karena telah membuat putriku satu satunya kembali ceria dan tertawa lagi seperti dulu”
“aku hanya ingin berterima kasih padanya” aku yakin mataku mengeluarkan air sekarang ini, kata yang kuucapkan bahkan terbata bata karena isak tangisku, aku sudah mencoba untuk menahannya tapi itu tetap keluar dengan sendirinya, kedua tanganku masih tetap mengusap usap air mataku yang keluar, agh aku mungkin terlihat cengeng dan payah dimata ayah keina sekarang.
“ini sudah larut malam pulanglah kerumah aku akan mengantarmu”
Setelah mendengarnya aku melihat jam layar di hp ku sudah menunjuk pukul 23:13 saat ini,agh hari sabtu ini akan berakhir berganti dengan hari minggu, hari terakhir keina mengingat kenangan kami berdua bersama minggu ini.
Kemudian ayah keina mengantarku pulang dengan selamat menggunakan mobilnya, aku sempat bertanya padanya untuk izin menjenguk keina besok dan beliau dengan senang hati memberinya dan juga akan memberi kabar jika keina sudah sadar dari tidurnya.
Sesampainya dirumah aku langsung disambut oleh pertanyaan oleh keluargaku apa yang sudah terjadi, aku menjelaskan semua kejadian hari ini kecuali apa yang terjadi di rumah sakit.
Minggu 27 july 2014.
Aku hampir tak bisa memejamkan mataku untuk tidur kemarin malam setelah mendengar apa yang dikatakan ayah keina dirumah sakit karena perkataannya terus terngiang-ngiang didalam pikiranku, mungkin alasanku bisa tetap tertidur adalah karena mataku sudah terlalu lelah setelah menangis kemarin.
Aku melihat layar ponselku, terdapat notif dari ayah keina diri hari tadi bahwa keina sudah kembali sadar dari tidurnya dan dia aku boleh mengunjunginya nanti, didalam lubuk hatiku merasa lega karenanya tapi tak lama kemudian diriku ini kembali memikirkan kenyataan yang ada. Setelah menghabiskan sarapan dan bersiap siap secukupnya aku langsung pergi menuju rumah sakit tempat keina dirawat disana,
Didepan kamar keina aku melihat ayahnya yang sedang duduk seperti menunggu seseorang
“ah satomi akhirnya kau datang”
“ada apa paman?”
“aku harus pulang untuk mengganti pakaian, aku tak bisa meninggalkan putriku sendirian jadi aku ingin kau menjaganya”
“ah baiklah serahkan padaku”
“kalau begitu aku pergi dulu”
“iya hati hati dijalan”
Ayah keina sudah tak terlihat dimataku sekarang aku harus masuk kedalam dan menjaga keina disana, ia sudah bangun kan? Entah kenapa tanganku enggan membuka pintu kamar ini, kurasa tanganku sedikit bergetar sekarang.
Akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu kamar ini dan melihat apa yang sudah menungguku didalamnya, keins sudah benar-benar sadar dia terlihat memandang keluar jendela sebelum akhirnya dia sadar akan kehadiranku dan menoleh kearahku, dirinya tadi terlihat seperti keina sebelum aku mengenalnya, keina yang selalu sendiri didalam pikirannya.
“satomi kau datang ya?”
“tentu saja”
“maaf membuatmu repot”
“tak masalah aku senang kau repotkan”
“ahahaha apa apaan itu”
Aku berjalan mendekat disamping ranjang tempatnya berbaring sekarang, kepalanya berbalut perban sekarang dan lengan tanganya terdapat selang infus yang menempel padanya.
“satomi kau ga tidur ya?”
“tidur kok”
“bohong, matamu terlihat lelah”
“ahh ini, ini hanya kelelahan karena kemarin kita bersenang senang”
“benarkah?”
“untuk apa aku berbohong”
“hmm syukurlah”
Raut wajahnya terlihat berubah menjadi sedikit sedih sekarang setelah mendengar perkataanku.
“aku benar-benar minta maaf karena gabisa ngejaga dirimu dengan baik”
“tidak, malahan aku yang harus minta maaf karena merepotkanmu dengan tingkah kanak kanakku, ayahku sudah menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi kemarin”
Tentu saja dia tak menceritakan apa yang kita berdua bicarakan di rumah sakit ini kemarin malam kan?
“aku juga ingin meminta maaf padamu satomi”
“sudah kubilang kau tidak pernah merepotkanku”
“tidak bukan untuk itu, tapi aku minta maaf karena diriku kita gabisa pergi bersama ke aquarium hari ini”
Dia kembali menundukkan wajahnya dengan lemas menyembunyikan raut wajahnya sekarang, kita berdua memang tak bisa pergi ke aquarium hari ini karena keina masih belum sembuh total tapi kita masih bisa pergi kesana lain kali kan? Kami berdua masih memiliki banyak waktu jadi dia tak perlu minta maaf untuk hal itu, aghh dadaku terasa sesak sekarang aku seperti tidak bisa bernafas.
“untuk apa hal itu, kau tak perlu minta maaf, jika kita gabisa datang kesana hari ini kita hanya perlu datang lain waktu saja saat kau sudah sembuh, masih banyak waktu dan tempat yang belum kita kunjungi jadi cepatlah sembuh”
Itu benar kami berdua masih bisa mengunjungi tempat tempat yang ingin ia datangi lain waktu meski aku tak yakin dia masih akan meminta hal itu padaku nanti.
“kau benar, janji ya”
Dia kembali mengangkat jari kelingkingnya kearahku, mengajakku membuat janji seperti dulu.
“kita kan sudah janji hari itu”
“itukan untuk pergi ke karnaval sekarang untuk pergi ke tempat lain bersama sama nanti”
“aku benar-benar gabisa menolak permintaanmu”
Akhirnya jari kelingking kami berdua kembali bertaut membuat janji baru untuk mendatangi tempat yang ingin ia datangi saat sudah sembuh nanti, itu benar aku membuat janji baru padanya lagi meski aku tau bahwa dia tak akan pernah mengingat hal ini maupun kenangan yang kita lakukan selama ini.
Dia mulai kembali terlihat ceria lagi, keina mulai berbicara banyak hal tentang wahana yang kami berdua naiki kemarin, tentang makanan yang kita nikmati kemarin dan tentang apa yang akan kita lakukan saat ia sudah sembuh, semua yang dikatakanya membuatku semakin sadar bahwa ia akan melupakan semua hal ini termasuk janji dan kenangan yang kita buat seminggu ini.
“keina apa kau menikmati kebersamaan kita minggu ini?”
“keina? Kau memanggilku?”
Aku hanya terdiam mendengar perkataanya yang seperti terkejut karena aku memanggil nama depannya.
“aku benar-benar menikmatinya, kemarin adalah moment paling bahagia dalam hidupku selama ini aku tak akan melupakannya”
Agh, aku merasa air mataku akan mulai terjatuh mendengarnya, dadaku semakin sesak saat melihat senyum yang terukir diwajahnya, aku benar-benar berharap apa yang ia katakan akan terjadi,
“satomi kau baik baik saja?”
“eh? Memangnya apa yang salah denganku?”
“kau terlihat menangis”
“menangis?”
Aku mengusap kelopak mataku yang terasa basah karena air mataku sendiri, sejak kapan ini menetes tanpa kusadari? Sial aku tak boleh berpenampilan seperti ini didepannya.
“ini pasti kelilipan debu karena kamu membiarkan jendelamu terbuka kau tau”
“ih kok malah jadi salahku”
“hahaha bercanda, aku cuci muka dulu ya”
Aku langsung membalikkan badanku dan pergi kearah pintu keluar sebelum ia menyadari bahwa aku memang benar benar menangis,
“haruka”
Aku berhenti melangkah saat mendengarnya memanggilku dengan nama depanku,
“itu benar hanya debu kan?”
“tentu saja”
Aku mengarahkan pandanganku padanya dengan tersenyum untuk memastikan bahwa tak ada hal lain yang terjadi dan semuanya memang baik baik saja baginya.
“keina”
“iya?”
“aku juga menikmati kebersamaan kita kemarin dan tak akan melupakannya sepanjang hidupku karena itu adalah moment terbaik yang pernah kubuat bersamamu”
Setelah keluar dari kamar tempatnya dirawat aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menjernihkan pikiranku sendiri, terdapat cermin besar dikamar mandi ini dan aku melihat pantulan diriku sendiri disana, agh diriku memang terlihat sedikit buruk sekarang, kantung mataku ini benar benar terlihat kan?
Ini bukanlah haruka satomi yang keina fujihara kenal aku tak boleh seperti ini didepannya.
Saat aku kembali dari kamar mandi, ayah keina sudah kembali dari rumah dan sedang duduk disamping ranjang keina saat ini sedang mengupas apel.
“ah satomi kau sudah kembali”
“iya maaf kalau lama”
“kemarilah dulu aku bilang akan mengenalkanmu dengan ayahku kan”
“ya sebenarnya kami sudah bicara banyak hal tanpa kamu tau”
“weh benarkah itu ayah?”
Keina terlihat kesal menoleh kepada ayahnya, agh dia terlihat lucu seperti itu.
“itu benar , kamu sih tidurnya kelamaan” paman fujihara mengusap usap rambut keina seperti anak kecil membuatnya malu dan salah tingkah
“apa maksudnya itu, apa yang kalian bicarakan?”
Baik aku dan paman fujihara hanya terdiam mendengar pertanyaan keina, dadaku terasa sesak kembali saat memikirkannya ini sangat berbeda dengan perasaan gugup saat bersama keina maupun saat pelajaran kimia, ini lebih menyakitkan kurasa aku bisa mati karena ini.
“hmm coba ayah ingat, kurasa kami membicarakan tingkahmu yang seperti anak kecil ini, kamu pasti terus memaksa satomi untuk mengikutimu di setiap wahana yang ingin kamu naiki kan”
“ehh itu tidak benar kok, tapi kalau kuingat ingat itu memang benar sih, tapi satomi ga masalah kok, benar kan satomi?”
“iya kurasa itu lebih baik daripada harus melihatnya cemberut seharian”
“apa maksudnya itu”
Ah untung saja paman fujihara dapat menjawabnya dengan baik, kami kembali mengobrol berbagai banyak hal agar keina dapat ceria lagi seperti dulu, waktu berjalan terasa begitu cepat saat ini hingga akhirnya mentari sudah ingin meninggalkan langitnya lagi, aku harus pulang sekarang.
“kurasa ini sudah waktunya untukku pamit pulang”
“ehh tidurlah disini saja”
“tidak boleh seperti itukan? “
“eh kenapa tidak? benar kan ayah?”
Kumohon bantulah aku lagi paman.
“kita berdua juga harus pulang dari sini keina, nanti malam kita berdua akan pulang kerumah jadi satomi ga akan punya tempat tidur disini, lagian kan kalian besok akan kembali bersekolah”
“wah aku sudah boleh sekolah besok?”
“tentu saja kau sudah kelihatan bugar begini kok”
“ya itu benar, kalau begitu sampai jumpa besok disekolah satomi”
“ya sampai jumpa besok”
Dia melambaikan tanganya kearahku sebelum akhirnya aku membuka pintu keluar dan pergi dari kamarnya, kuharap sampai jumpa besok adalah kata yang tepat saat ini dibandingkan dengan selamat tinggal.
•
•
Senin 28 july 2014
Aku tak terlalu banyak bisa tidur lagi kemarin malam aku yakin mataku semakin terlihat buruk saat ini, aku merasa sedikit tak enak badan hari ini ingin rasannya tak berangkat sekolah dan bermalas malasan dirumah,
Yang sebenarnya terjadi adalah diriku sendiri takut berangkat ke sekolah dan melihat apa yang terjadi nanti disana, ini hari senin awal pekan yang baru, fujihara akan kehilangan ingatannya kembali dan aku tak ingin mengetahui itu.
Kumohon biarkanlah dia tetap menjadi orang yang ceria dan periang, langkahku semakin berat ketika tiba di lorong dekat kelas aku tak ingin mengetahui semua ini.
Setelah tiba didepan kelas aku melihat fujihara yang kembali melihat kearah luar jendela dengan tatapan kosongnya seperti saat awal kami bertemu, dengan bersamaan aku kembali mengingat apa yang dikatakan oleh ayahnya dirumah sakit, mengingat kembali janji janji yang pernah kita buat dan kembali mengingat kenangan kita bersama minggu lalu, dadaku terasa sangat sesak, aku merasa sulit untuk bernafas, pandangan disekitarku menjadi semakin gelap dan suara disekitarku semakin tak bisa kudengar, kakiku mulai terasa tak bisa menopang tubuhku sendiri agh perasaan apa ini? Banyak orang berlarian dan berteriak kearahku, kenapa mereka sepanik itu? Aku juga melihatnya ikut menoleh ke arahku sebelum akhirnya pandanganku menjadi hitam pekat dan kesadaranku hilang sepenuhnya.
Saat terbangun aku melihat atap langit-langit yang tak asing dimataku, agh ini adalah kamarku, aku pingsan dan diantar kembali ke rumah ya, aku mencoba bangkit dari tidurku dan tubuhku terasa berat untuk digerakkan hingga akhirnya ibuku datang untuk membantuku bangun
“kau terkena darah rendah”
“sepertinya benar ya”
“jangan khawatir dengan sekolah cukup istirahat saja”
“baik terima kasih”
“hei haruka”
“hmm?”
“apa kau punya masalah?”
“kenapa ibu berpikir begitu?”
“kau terkadang mengingau saat tidur tadi”
“haha benarkah? Mungkin aku tak ingin kehilangan uangku”
“begitu ya-,” Ibu kembali bangkit dari duduknya meninggalkan segelas air minum didekatku dan pergi keluar dari kamar
“,-lekaslah sembuh”
“iya kuharap juga begitu”
Aku kembali sendirian didalam kamarku, ku melihat telapak tanganku yang masih sedikit bergetar, dia benar benar kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kami bertemu, dirinya yang terlihat kosong dan kesepian.
Untuk apa sebenarnya kenangan kita selama ini? Untuk apa janji janji kita selama ini jika kau akan selalu melupakanya lagi dan lagi, jika pada akhirnya hanya aku yang mengingat itu semua dan kau akan kembali menganggapku sebagai orang asing dimatamu,agh pemikiran ini kembali membuat dadaku semakin sesak.
Tak peduli sebanyak apapun kita bersama dan bersenang-senang itu akan hilang dan menjadi seperti khayalan diriku sendiri saja.
“,-aku sangat bersyukur dan berterima kasih padamu karena telah membuat putriku satu satunya kembali ceria dan tertawa lagi seperti dulu”
Perkataan ayahnya kembali teringat dipikiranku, itu benar keina adalah sosok yang periang setidaknya didepanku dan jika aku tak melakukanya ia akan selalu kosong dan kesepian sepanjang hidupnya,setiap pekan baru dan akhirnya ia hanya akan menangis dan tertawa sendirian.
Mungkin ia tak akan merasa sakit karena tak bisa mengingat semua hal yang kita berdua lakukan tapi ia akan selalu merasakan kesepian disepanjang hidupnya, wajahnya dengan tatapan kosongnya kembali teringat dibenakku, aku benar-benar tak ingin melihat hal itu lagi, lagipula aku masih ada janji dan hutang padanya kan?
Aku melihat jam di layar ponselku masih menunjukkan pukul 11 siang, itu berarti aku masih bisa masuk kelas saat jam istirahat, aku mencoba bangun dari tempat tidurku, kaki dan badanku masih terasa lemas sekarang tapi tak separah pagi tadi, seragam sekolah masih menempel dibadanku aku hanya perlu berangkat sekarang.
Aku membujuk orang tuaku agar memperbolehkanku berangkat sekarang dan seperti sebelumnya ibu selalu mendukungku, dia bahkan mengantarku menggunakan mobilnya, itu meminimalisir waktu yang kubutuhkan.
“haruka”
“iya?”
“sepertinya kau sudah benar-benar sembuh ya”
“begitulah”
Aku berpamitan padanya dan langsung berlari masuk ke dalam sekolah, ini sudah waktunya istirahat banyak murid yang berkeliaran diluar kelas, tak sedikit dari mereka melihatiku yang berlarian membawa tas sekolah, agh aku seperti anak bandel saja.
Langkah kakiku tak seberat pagi tadi sekarang aku benar benar yakin dengan apa yang kulakukan saat ini, hingga akhirnya saat aku membuka pintu kelasku aku melihatnya masih tetap melihat kearah luar jendela seperti pagi tadi, itu tentu saja bukan.
“satomi? Woi kenapa kau kembali”
“kau sudah sehat satomi?”
“malah balik”
Agh ternyata masih banyak orang disini, mereka mempertanyakan bagaimana keadaanku dan aku menjawab mereka secepatnya karena perhatianku masih terfokuskan pada keina fujihara.
Saat melihatnya yang masih tetap menatap kosong keluar aku mulai menjadi sedikit takut dan sesak lagi sial hal ini sangat mengganggu bagiku sekarang
Aku mulai duduk di kursiku dan menenggelamkan wajahku dipelukan kedua tanganku sendiri, aku tak ingin melihat apa yang terjadi disini aku terlalu takut untuk melihatnya.
Aku bahkan menutupi telinga dengan kedua tanganku agar tak bisa mendengar apapun sekarang sepertinya kelas sudah mulai ramai dari apa yang kurasakan,
“jika nanti kau merasa takut pejamkan saja matamu dan berteriaklah sekencang yang kau bisa,dengan begitu kau tak perlu melihat hal lain dan hanya akan mendengar suaramu sendiri”
“kei?”
Aku sedikit berteriak saat itu membuat teman sebelah kursiku renkazuki aida terkejut karenanya.
“ada apa denganmu?”
“berisik”
“kei? Siapa kei?”
Aku tak menjawab pertanyaannya dan langsung melihat ke arah fujihara duduk, itu terlihat lagi, pandangan kosongnya yang mengarah keluar jendela seperti sangat kesepian, tidak aku tak ingin melihat hal itu lagi.
Tanpa sadar diriku bergerak melangkah ke arahnya mengabaikan ren yang masih terus berbicara kepadaku dan sepertinya kebingungan melihat tingkahku, aku tak ingin melihat ekspresi itu aku ingin memastikannya bahwa dia masih keina fujihara yang kukenal.
“kei”
Tak ada reaksi darinya ia masih melihat keluar jendela tanpa menggubrisku sedikitpun, mungkin dia tak mendengarnya.
“keina”
Kali ini dia menoleh padaku wajahnya terlihat sedikit memerah seperti malam itu, tapi ekspresinya terlihat terkejut dan sedikit marah padaku.
“kau memanggilku?”
“iya aku memanggilmu”
“kenapa kau memanggilku begitu?”
“eh emang gaboleh?”
“itu aneh, lagipula,-”
“-,siapa namaku kan? Aku haruka satomi teman sekelasmu”
“ah begitu ya, apa kau punya perlu denganku?”
“ya aku punya janji dan hutang yang harus kubayar padamu”
Begitulah pilihan yang kuambil, kami terus lagi dan lagi membuat janji dan menjadikannya alasan untuk bertemu lagi, menjelajahi tempat yang ingin ia datangi sebelumnya seperti taman kota, aquarium, bioskop, mall, maupun kolam renang dan prosotan. Wajahnya terlihat bahagia setiap dimana kami pergi tak peduli ini sudah pekan keberapa kami mendatangi tempat yang sama wajahnya masih terlihat begitu bahagia dimataku, terkadang aku mengambil beberapa foto dirinya dan mencetaknya tanpa sepengetahuannya, aku tak mempedulikan apapun lagi selama ia merasa senang dan tak sendirian aku juga ikut senang karenanya meskipun ia melupakanku disetiap awal pekannya aku akan membuatnya mengingat banyak kenangan baru lagi bersamaku supaya tak pernah merasa sendirian tapi jauh didalam hatiku jauh didalam hati kecilku yang terdalam aku juga ingin dia mengingat kenangan kita bersama selama ini sedikit apapun,
Minggu,10 july 20xx?
Kami berdua berbicara lewat telepon genggam kami sekarang karena kali ini aku memintanya untuk memilikinya agar kami berdua lebih mudah untuk berbicara.
“apa yang kau berikan tadi?”
“bukalah sendiri”
“agh sebuah buku album?”
“itu adalah album foto untukmu”
“untukku?”
“wah keren kau sendiri yang mengambilnya?”
“tentu saja aku hebat kan”
“benar benar haruka banget”
Ini adalah salah satu hadiah yang ingin kuberikan padanya, aku memotret banyak foto dirinya saat kami bersama selama ini, tentu saja itu hanya foto dirinya sendiri tanpaku karena aku tak ingin ia kebingungan ketika melihatnya saat ia sudah melupakan semua kenangan ini.
“tapi kenapa hanya ada fotoku sendiri disini?”
“itukan hadiah untukmu jadi ya hanya ada gambarmu”
“tidak...kau juga harus menambahkan dirimu sendiri dong kan kita berdua pergi bersama”
“ga perlu”
“kalau begitu aku akan menambahkanya nanti”
“kalau itu terserah kau saja itu sudah menjadi milikmu”
“dan juga kenapa banyak tempat yang terasa asing disini, apa kita memang pernah kesini?”
“jika ada fotomu disana berarti kau memang pernah kesana kan?”
“itu benar, terima kasih haruka”
Kami membiarkan telpon kami tersambung meski tak mengatakan apapun, dari seberang telepon ia terdengar sesekali mengomentari poto yang kuambil
“hei kei”
“hmm ada apa?”
“aku ingin mengatakan sesuatu padamu, mungkin kau tak akan mempercayainya”
“katakanlah, aku akan mempercayaimu sebisaku”
“apa kau senang dengan kebersamaan kita selama ini?”
“tentu saja ini adalah satu minggu yang paling membahagiakan dalam hidupku,aku ga akan melupakan saat saat ini”
“begitu ya, syukurlah”
“memangnya kenapa?”
“kau memiliki sebuah penyakit yang akan membuat ingatanmu hilang saat hari senin tiba”
“eh apa maksudnya itu? Itu tidak mungkin kan?”
“itu memang benar, kau dan aku sudah lama saling mengenal satu sama lain dan berjalan bersama sama,kita berdua sudah berkali kali pergi ketempat yang ingin kau kunjungi seperti pantai, bioskop, taman bermain, taman kota, aquarium, perpustakaan, museum, kolam renang dan sebagainya”
“berhenti bicara omong kosong, kita tak pernah melakukan itu”
Dia berteriak kearahku dengan lantang sekarang, kurasa ini pertama kalinya ia melakukanya.
“itu terjadi, kau sendiri melihatnya dialbum tadi kan?bahwa banyak tempat asing yang kau rasa belum pernah kau kunjungi padahal ada fotomu disana, itu memang benar, kita berdua juga bahkan sering membeli barang barang saat bepergian mungkin kau masih menyimpannya dirumahmu, bahkan kuharap kau masih menyimpan boneka beruang pemberianku saat kita pertama kali keluar bersama dulu”
“tidak mungkin jika itu terjadi, kau pasti hanya mengarang cerita kan? Inibenar benar tidak lucu haruka”
“tak masalah kau mempercayainya atau tidak lagipula kau akan kembali lupa akan hal ini besok,tapi kumohon sekali saja percayalah pada apa yang kukatakan dan tetaplah tersenyum saat hari esok telah datang”
Aku memutuskan telponku denganya, jam di layar ponselku sudah menunjukkan pukul 23:44 saat ini kurasa ini juga waktu yang tepat untuk memberitaunya hal ini karena ia juga akan segera melupakannya.
•
[Keina fujihara]
Senin 11 July 20xx?
Kepalaku masih terasa pusing saat ini,aku tak ingat kenapa akh bisa berakhir tidur dimeja belajarku sendiri kurasa aku kelelahan karena belajar,
Aku melihat buku catatanku yang terbuka sebagai alas kapalaku saat tertidur, dan mencoba membacanya sekarang, apa aku mencoba menulis ini? Apa maksudnya ini? Cerita karangan remaja? Aku menutupnya kembali karena tak ingat pernah menulisnya mungkin itu hanya kegiatanku yang kulakukan saat bosan.
Akhirnya melihat ada satu buku lagi di atas tempat tidurku, saat membukanya itu berisi begitu banyak foto diriku sendiri disana,agh aku terlihat cantik, orang yang mengambil gambar ini pasti sangat pintar, siapa yang mengambilnya? Aku bahkan tak pernah mengingat mempunyai buku seperti ini, ya tapi ini cukup bagus untukku, dibalik salah satu foto yang kuambil disana terdapat tulisanku sendiri aku mengenal dengan baik bagaimana bentuk tulisanku sendiri, kalimat itu bertulis
Foto ini diambil oleh orang yang kausukai “haruka satomi” dan dia akan menjadi bagian dari hidupmu seperti foto ini.
Haruka satomi?
N.