Sampai di Villa yang dimaksud.
Hanya sebuah rumah sederhana yang terletak di dekat bukit.
Aku pikir, bagaimana tempat seperti ini bisa disebut aman. Bukankah lebih banyak bahaya yang mungkin bersembunyi di sekitar bukit.
Tuan Ali berjalan lebih dulu, Hans berjalan di sampingku. Sementara Mark berjalan paling belakang.
Kini suasananya, seperti di film-film. Banyak penjaga yang berjejer. Badan mereka tegap dan tinggi. Pria yang tadi menyambut di landasan udara, berjalan di tengah-tengah mereka.
"Wahhh, sahabat ku! " serunya membuka lebar kedua tangannya.
Tuan Ali menurunkan tangannya.
"Jangan basa basi, ini tidak lucu" ucap Tuan Ali.
"Jangan, marah. Aku tidak tahu kalau keamanan mereka sangat buruk" ucap pria itu.
"Pria itu salah satu dari mereka bukan"
Mereka bicara sambil berjalan masuk ke dalam vila.
"Dengar Adrik, aku tidak mau hal ini terjadi" Tuan Ali bicara serius.
Tuan Adrik berbalik kemudian menatap ku.
"Sebenarnya dia ini asisten mu atau istri mu? Kau bahkan tidak mengatakan hal ini padaku" Tuan Adrik terdengar kecewa.
Kemudian, mereka bicara dalam bahasa Slav, bahasa utama di Rusia.
Tuan Ali menatap ku, kemudian terlontar ucapan yang membuatku terkejut. Mungkin dia pikir aku tidak mengerti bahasa Slav.
"Wanita ini adalah wanita ku, ada hubungannya dengan Leo, tapi aku tidak mau sampai dia bertemu dengannya" ucap Tuan Ali.
Leo ada di sini, tempo hari Tuan Adrik mengatakan itu. Aku berpura-pura tidak paham, lalu Tuan Ali meraih tangan ku.
"Ayo, kita ke kamar" ajaknya.
"Tapi.... " aku terpaksa ikut.
Masuk ke dalam kamar, Tuan Ali menyuruhku duduk di ranjang dan dia menarik kursi untuk duduk di hadapan ku.
Aku menatapnya, aku tahu apa yang ingin aku tanyakan, tapi mengapa seolah lidah ini kelu.
Atau ku cari tahu saja sendiri. Aku pasti bisa mendapatkannya segera. Pikir ku.
"Dengar.... " Tuan Ali mulai bicara.
Aku memperhatikan tangannya yang mulai meraih lagi kedua tangan ku.
"Kau mungkin akan kembali ke rumah sendiri..... " ucapnya.
Aku mengerutkan dahi merasa heran dengan ucapannya.
"Tapi aku akan pastikan Hans atau Mark, salah satu dari mereka kembali bersama mu" lanjut nya.
"Tunggu, kenapa sendiri, anda masih harus melakukan bisnis lain? " tanya ku.
Tuan Ali mengambil nafas dalam.
"Tidak, mungkin aku tidak akan selamat kali ini" ucapnya.
"Apa? Kenapa? Tidak selamat bagaimana? Anda mengatakan ini adalah perjalan bisnis, jika perjalanan bisnis seharusnya ya bisnis, kita bisa kembali setelah selesai bukan?"
Tapi kemudian aku terdiam, aku baru saje menembak seorang pria yang memegang senjata di tangannya. Jelas aku melihat dia sedang mengarahkan senjata itu pada Tuan Ali.
"Pria itu..... " aku bicara seraya menatapnya.
"Ya, itu anak buah musuhku. Dia tahu aku kemari, Leo yang mengatakannya pada mereka" jelas Tuan Ali.
"Leo? " aku semakin berpikir keras.
Kali ini aku tidak perlu bertanya lagi. Bisnis yang dimaksud Tuan Ali adalah perdagangan senjata ilegal, Leo seorang petugas polisi, dia menjadi petugas yang melaporkan Tuan Ali.
Tuan Ali berdiri, dia mengambil sesuatu dalan sebuah tas.
Rompi anti peluru.
"Mulai sekarang, kau harus memakai ini, buka pakaian mu dulu" ucap Tuan Ali.
Kali ini, aku membuka bajuku di hadapannya, mengganti dengan kaus polos kemudian Tuan Ali memakaikan rompi anti peluru ke tubuh ku.
"Jangan dilepas, apapun yang terjadi" bisiknya saat menarik resleting nya.
"Anda juga pakai kan?" tanya ku.
Entah kenapa aku merasa cemas padanya. Seharusnya aku tak peduli, aku bahkan mungkin akan terbebas dari pernikahan "jual beli" ini.
Tapi semakin aku menatap matanya, semakin aku merasa takut kehilangannya.
"Ya, aku, Hans dan Mark juga pakai. Sekarang tidurlah, jangan banyak berpikir" ucapnya.
Dia memakaikan selimut untukku. Seperti sedang mengantarkan istrinya tidur, dia juga mengecup kening ku. Kemudian aku sedikit menjaug karena merasa aneh.
Tapi Tuan Ali hanya tersenyum, kemudian mengusap rambut ku.
Anehnya, aku merasa sangat mengantuk.
***
Aku berjalan cukup jauh, jalan ini seolah tak ada ujung. Sepanjang jalan hanya ladang gandum yang baru saja tumbuh selutut.
Panas terik mentari semakin membuat aku merasa haus, terlebih aku sudah berjalan cukup jauh.
Dimana ini?
Kenapa aku tidak bisa menemukan satu orang pun.
Bayangan seseorang muncul agak jauh di depan. Seolah terlalap panasnya cuaca, bayangannya bergerak mendekati ku, kemudian tersenyum.
"Hai Mel, kau haus? " ucapnya lembut.
"Leo...! Kau di sini? "
Aku merasa senang melihatnya, dia mengulurkan tangannya memintaku memegangnya.
Tapi saat hendak aku gapai tangannya, seseorang menarik bahu ku.
"Kau mau kemana? "
Aku berbalik
"Tuan Ali! "
Anehnya, aku lebih senang saat melihat nya.
"Kau istriku, kau wanita ku, kau tidak boleh pergi dengan pria lain selain aku"
ucapannya lambat laun terasa semakin jelas.
Kemudian aku membuka mata. Ku lihat wajah Tuan Ali ada di hadapan ku dengan mata terpejam.
Mata ku membulat, wajahnya sungguh dekat. Dia bahkan memelukku.
"Jadi, tadi aku bermimpi? " gumamku.
"Hmmm, diam. Ini masih pagi" gumam Tuan Ali yang masih terpejam.
Mataku semakin membulat.
Mengapa dia tidur bersama ku, semalam, ku kira dia hanya mengantarkan tidur saja. Mengapa sekarang dia memelukku begini?
Aku hendak melepaskan diri darinya.
"Kau ini bisa diam tidak sih, aku masih mengantuk" keluhnya semakin memelukku erat.
Aku terpaksa diam, dia membenamkan wajahku ke dadanya.
Hangat, pagi itu terasa hangat pelukannya.
Kemudian aku berpikir lagi, semalam pasti tak terjadi apapun, karena aku memakai rompi anti peluru. Tapi kemudian tangan Tuan Ali mulai mengusap punggung ku.
Kena bra ku.
Mataku seperti hendak lompat dari tempatnya.
"Huaaaa......! "
Aku berteriak sekencengnya. Tuan Ali terperanjat.
"Ada apa? Ada yang menodongkan pistol? " dia bersiap mengambil pistol di meja ranjang.
Aku menatap ke arahnya yang bertelanjang dada. Aku menangis.
"Kenapa? Kenapa kau menangis? "
Tuan Ali mendekat dengan cemas.
"Kita.... apa yang sudah kita lakukan semalam? " tanya ku sambil menangis.
Tuan Ali tersenyum, tapi dia terlihat lega.
"Tidak ada.... " jawabnya seraya bangun dan menaruh kembali senjatanya.
Seseorang mengetuk pintu.
"Tuan, ada yang terjadi? " tanya Hans dari balik pintu.
"Tidak Hans, semua ok. Jangan khawatir" jawab Tuan Ali.
Dia memakai kaus dan kemudian memberikan rompi anti peluru padaku.
"Bangunlah, kita sarapan" ajaknya dengan mengulurkan tangannya.
Kemudian aku teringat mimpiku tadi. Leo mengulurkan tangannya padaku.
"Cepat, kau membangunkan ku secara mengejutkan, jadi kau harus membuatkan ku kopi, itu hukuman" ucapnya.
***
Di dapur.
Tak ada siapapun, kecuali aku dan Hans.
"Kau sudah lebih baik? " tanyanya.
"Hmmm? memang aku kenapa? " tanyaku sambil mencari kopi di lemari.
"Kau tidak ingat? " tanya Hans tak percaya.
Aku menoleh.
"Memang apa yang terjadi? " aku baru ingat, aku hanya memakai kaus dan Tuan Ali hanya memakai celananya saja.
"Kau demam, Tuan Ali sangat panik. Dia meminta Tuan Adrik mencari dokter. Tapi tak ada yang mau datang semalam dan sesunyi tempat ini" ucap Hans.
"Demam? " tanya ku tak mengerti.
"Ya, kau bahkan mengigau..... "
Hans tak melanjutkan, malah terdiam seperti menelan salivanya.
"Mengigau apa? " aku menunggu.
Tapi kemudian, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.
Apa aku mengigaukan nama Leo? Astaga! Tuan Ali pasti sangat marah.
"HANS! " seru Tuan Ali.
"Aku harus pergi" Hans meminum airnya dan pergi.
Aku harus buru-buru membuat kopi untuknya, aku akan meminta maaf padanya. Lagipula aku juga tidak sadar kan!