---
Di bawah langit sore yang mulai kemerahan, Fajar duduk di bangku taman sekolah, memandang lapangan basket yang kosong. Biasanya, di jam-jam seperti ini, dia sudah berada di rumah, menonton TV atau bermain game. Tapi hari ini berbeda. Hari ini dia menunggu seseorang—seseorang yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat setiap kali mereka bertemu.
Namanya Rani, teman sekelasnya sejak dua tahun lalu. Fajar selalu menganggap Rani sebagai teman biasa, sampai beberapa bulan yang lalu. Ketika mereka duduk berdua di perpustakaan, saling bercanda sambil menyelesaikan tugas kelompok, Fajar merasakan sesuatu yang berbeda. Jantungnya berdegup kencang, dan dia tidak bisa menghilangkan senyuman dari wajahnya.
"Hai, sudah lama menunggu?" suara lembut Rani memecah lamunan Fajar.
Fajar mengangkat kepalanya dan melihat Rani berdiri di depannya, tersenyum dengan manis. Dia mengenakan seragam sekolah yang sama, tetapi entah bagaimana, dia terlihat lebih bersinar sore itu.
"Nggak, baru saja," jawab Fajar, berusaha terdengar santai meskipun hatinya bergejolak.
Mereka duduk berdua di bangku taman, sedikit canggung karena biasanya mereka selalu bersama teman-teman lainnya. Hari ini, Fajar sengaja mengajak Rani untuk berbicara berdua, tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
"Jadi, ada apa, Fajar?" tanya Rani, memiringkan kepala sedikit, penasaran.
Fajar terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. “Rani, aku... aku ingin bilang sesuatu,” katanya akhirnya, mengumpulkan keberanian. "Aku... aku suka sama kamu."
Kata-kata itu keluar lebih cepat dari yang dia duga. Fajar merasakan wajahnya memanas, dan dia mengalihkan pandangannya, takut melihat reaksi Rani. Ada jeda yang terasa seperti selamanya sebelum Rani akhirnya menjawab.
“Fajar, kamu tahu nggak, kita ini temenan sejak lama,” kata Rani dengan suara pelan. Fajar merasakan dadanya mengencang. "Dan... aku juga pernah mikir kalau mungkin, aku juga suka sama kamu."
Fajar terkejut mendengar pengakuan Rani. Dia menoleh, dan mata mereka bertemu. Rani tersenyum kecil, tetapi ada keraguan di sana.
“Tapi, ini cuma cinta monyet, ya, Fajar?” lanjut Rani, tertawa pelan. “Kita masih SMA, masa depan kita masih panjang. Aku nggak mau buru-buru. Tapi, aku senang kamu jujur sama perasaanmu.”
Fajar merasa hatinya ringan meskipun jawabannya tidak sepenuhnya seperti yang dia harapkan. Dia mengangguk, tersenyum kecil. “Iya, mungkin memang begitu. Tapi aku tetap senang udah bilang, apa pun yang terjadi nanti.”
Mereka berdua terdiam, menikmati momen itu. Matahari mulai tenggelam, dan bayang-bayang mereka memanjang di atas rumput. Fajar menyadari bahwa meskipun ini mungkin hanya cinta monyet, itu adalah perasaan yang nyata bagi mereka saat ini. Perasaan yang mungkin akan mereka kenang dengan manis di masa depan.
Akhirnya, mereka berdiri, bersiap untuk pulang. “Kita tetap temenan, kan?” tanya Fajar.
“Pastinya,” jawab Rani sambil tersenyum lebar. “Dan siapa tahu, mungkin nanti kita ketemu lagi di momen yang lebih tepat.”
Mereka berjalan pulang bersama, tertawa dan bercanda seperti biasa, tetapi kini ada sesuatu yang lebih di antara mereka. Meskipun cinta monyet mereka mungkin tak berlanjut, Fajar merasa lega. Setidaknya, dia telah mengungkapkan perasaannya, dan itu adalah langkah pertama menuju kedewasaan—sebuah pengalaman berharga di masa remaja mereka.
---
**Tamat**