Kisah singkat ini bercerita tentang sepasang kekasih, Lila dan Arga, yang dipertemukan oleh takdir di sebuah kota kecil yang selalu diselimuti senja yang menawan. Mereka berdua terikat oleh perasaan yang dalam, yang tumbuh dari percakapan-percakapan sederhana dan pertemuan di bawah langit jingga yang sama.
Seiring waktu, mereka semakin dekat. Arga melukis potret Lila yang sedang menulis, dan Lila menuliskan puisi tentang senja yang mereka nikmati bersama. Setiap senja, mereka bertemu di tempat yang sama, berbagi cerita, mimpi, dan harapan.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Arga tiba-tiba harus pergi ke luar negeri untuk mengejar impian lamanya yang tak bisa ditunda lagi. Sebelum kepergiannya, mereka berjanji untuk bertemu kembali di tempat yang sama, di bawah senja yang sama, satu tahun kemudian.
Lila menunggu dengan setia, setiap hari, di bawah langit senja yang mulai terasa asing tanpa kehadiran Arga. la menulis surat-surat yang tak pernah terkirim, puisi-puisi yang hanya untuk Arga, sambil berharap ia akan kembali.
Setahun berlalu, namun Arga tak kunjung datang. Lila akhirnya menerima kenyataan pahit bahwa senja mereka telah berlalu selamanya. Dengan hati yang perih, ia menulis puisi terakhirnya tentang cinta yang tak pernah benar-benar berakhir, hanya terhenti oleh waktu.
Di dalam setiap bait-bait puisi yang ia curahi, menggambarkan segala rasa hampa di palung terdalam hatinya. Namun, di sisi lain, ia merasakan suatu secerah harapan, bahwa di lain waktu atau entah kapan, ia akan dipertemukan kembali oleh Arga. Dalam versi terbaik diri mereka.
"Senja adalah pelukis yang tak pernah lelah mengguratkan warna rindu di cakrawala, dan aku adalah kanvas yang selalu menantikan sentuhan lembutnya.
Dalam setiap bait puisi yang kutulis, ada setitik harap yang terbungkus dalam kata-kata, menanti untuk kau baca, meski hanya sekali.
Aku percaya, pada detik yang sunyi, di bawah langit yang sama, kita pernah mengikat janji, meski takdir akhirnya melepaskannya.
Arga, cinta kita adalah senja yang indah, meski hanya sekejap, namun meninggalkan jejak yang tak terhapus oleh waktu.
Tak ada yang benar-benar berakhir, hanya tertunda oleh jarak, tertahan oleh waktu, dan terluka oleh perpisahan yang tak terelakkan."
Semoga di kehidupan selanjutnya, dunia masih bisa berbaik hati.
Sabtu, 28 Maret 1998