Malam itu, angin dingin bertiup lembut di luar jendela. Hana duduk di ruang tamu, matanya terpaku pada jam dinding yang berdetak pelan. Suaminya, Arman, belum pulang sejak pagi. Ini bukan pertama kalinya ia pulang larut tanpa kabar. Perasaan resah dan curiga menggelayuti hati Hana.
Pikirannya melayang ke pesan singkat yang ia temukan beberapa minggu lalu di ponsel Arman. Pesan dari seorang wanita bernama Dina. Pesan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat dunia Hana runtuh. “Aku rindu,” tulis Dina, diakhiri dengan emotikon hati. Arman tidak pernah berbicara tentang Dina, dan Hana tidak berani menanyakannya, takut mendengar kebenaran yang menyakitkan.
Hana mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya teman atau rekan kerja. Namun, kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, menghantui setiap detik. Semakin lama Arman tidak pulang, semakin kuat perasaan cemburu dan marah yang menguasai dirinya.
Akhirnya, pintu terbuka, dan Arman masuk dengan langkah pelan. Ia tampak lelah, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam sikapnya—sebuah kedinginan yang tidak bisa Hana abaikan.
“Kamu dari mana?” tanya Hana dengan suara bergetar.
Arman terdiam sejenak, matanya menghindari tatapan Hana. “Lembur di kantor,” jawabnya singkat.
Hana tidak bisa menahan lagi. “Siapa Dina?” tanyanya dengan suara penuh ketegangan.
Arman terkejut, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah di wajahnya. “Dia... hanya teman, Hana. Tidak ada apa-apa antara kami.”
“Tapi pesan itu...”
“Pesan itu salah, Hana. Aku mengaku, aku dekat dengannya, tapi aku tidak pernah melangkah lebih jauh. Aku tahu ini salah, dan aku menyesal.”
Air mata mengalir di pipi Hana. Ia merasa tertipu dan dihianati. Namun, di balik amarah dan kesedihan, ada cinta yang masih tersisa, meskipun rapuh. Hana tahu bahwa ini adalah titik kritis dalam pernikahan mereka. Apakah mereka akan bertahan dan memperbaiki hubungan ini, atau membiarkannya hancur?
Arman mendekat, mencoba meraih tangan Hana. “Aku akan mengakhirinya, Hana. Aku berjanji. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Hana terdiam, berjuang dengan perasaannya. Dalam hati, ia tahu bahwa memaafkan bukanlah hal yang mudah, tetapi mungkin itu satu-satunya cara untuk melanjutkan hidup mereka bersama.
“Aku butuh waktu,” jawab Hana akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
Malam itu, Hana dan Arman tidur di tempat yang sama, tetapi terasa seperti dunia mereka terpisah. Masa depan mereka tidak pasti, tetapi ada harapan kecil yang mulai tumbuh di antara rasa sakit yang mendalam. Hana tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi ia siap untuk mencoba, demi cinta yang pernah menyatukan mereka.