**Bab 1: Pertemuan dengan Kegelapan**
Angin malam bertiup lembut di atas ladang gandum yang menghampar luas di sekitar Desa Mira, sebuah desa kecil di pinggiran Kerajaan Eldoria. Malam itu, langit cerah bertabur bintang, dan cahaya bulan purnama memandikan tanah dengan sinarnya yang perak. Di tengah kedamaian ini, seorang pemuda bernama Yama berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke rumahnya.
Yama hanyalah seorang petani muda. Sejak kecil, hidupnya diisi dengan rutinitas sederhana: menggarap ladang bersama ayahnya, merawat hewan ternak, dan membantu ibunya di dapur. Meski kehidupan mereka tidak mewah, mereka bahagia dan selalu bersyukur. Bagi Yama, desa kecil ini adalah dunianya. Tidak ada ambisi besar, tidak ada mimpi yang melampaui batas desa, kecuali mungkin suatu hari memiliki ladang yang lebih luas untuk keluarganya.
Namun, malam itu berbeda. Sesuatu di udara membuat bulu kuduk Yama meremang. Langkahnya terhenti saat dia melihat sesuatu yang aneh di kejauhan. Cahaya merah terang menerangi langit di atas desa, disertai dengan suara gemuruh yang tidak biasa. Hatinya mulai berdebar kencang. Dengan cepat, dia berlari menuju rumahnya, tapi setiap langkah yang diambil hanya menambah kecemasan dalam dirinya.
Ketika Yama mendekati desa, pemandangan mengerikan terbentang di depan matanya. Api berkobar di mana-mana, menerangi malam dengan nyala yang mencekam. Rumah-rumah yang dulu berdiri kokoh kini runtuh menjadi puing-puing. Orang-orang berlarian panik, berteriak minta tolong, namun suara mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk dan kekacauan.
Yama menahan napas saat melihat sekelompok sosok berjubah hitam, wajah mereka tersembunyi di balik topeng menyeramkan. Mereka melayang di udara, tangan mereka terangkat, mengarahkan bola-bola api dan ledakan magis ke segala penjuru. Para penyihir gelap ini tampak tak terbendung, memusnahkan siapa saja yang berani melawan.
"Ini... ini tidak mungkin nyata..." Yama berbisik, matanya melebar karena terkejut dan ketakutan. Namun, dia tidak punya waktu untuk berpikir lama. Dengan hati yang dipenuhi ketakutan, dia berlari menuju rumahnya, berharap keluarganya selamat dari kekacauan ini.
Saat tiba di rumahnya, Yama menemukan pintu depan terbuka lebar. Tanpa berpikir, dia bergegas masuk. Namun, pemandangan yang menantinya menghancurkan seluruh dunianya. Ayahnya tergeletak di lantai, tak bergerak, sementara ibunya merintih kesakitan di sudut ruangan, terluka parah.
"Yama... lari..." ibunya berbisik lemah, darah mengalir dari luka di tubuhnya. Matanya penuh rasa sakit, tapi juga ada keteguhan di sana. "Mereka... mereka mencari sesuatu... Artefak kuno... Tolong... jangan biarkan mereka mendapatkannya..."
Yama jatuh berlutut di samping ibunya, matanya dipenuhi air mata. Dia ingin menyelamatkannya, tapi dia tahu bahwa waktu tidak berada di pihak mereka. Suara langkah-langkah berat dan tawa jahat mulai terdengar mendekat. Para penyihir gelap itu sudah dekat, dan mereka tidak akan menunjukkan belas kasihan.
Dengan berat hati, Yama bangkit dan melangkah mundur. Dia tahu dia tidak punya pilihan. Jika dia tinggal, dia akan mati bersama keluarganya. Namun, ibunya memberinya satu tugas terakhir, tugas yang lebih besar dari rasa sakitnya sendiri: menyelamatkan artefak yang mereka cari.
Sambil menggenggam amulet tua yang tergantung di lehernya—satu-satunya peninggalan dari kakeknya—Yama berlari keluar dari rumah, meninggalkan orang-orang yang paling ia cintai. Air mata mengalir deras di wajahnya, bercampur dengan debu dan keringat. Di dalam hatinya, ada api kecil yang mulai menyala, api kemarahan dan tekad.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak tahu apa yang dicari oleh penyihir gelap itu atau mengapa mereka menyerang desanya. Namun, satu hal yang pasti: dia akan membalas dendam. Yama akan mencari jawaban, dan jika perlu, dia akan memasuki dunia sihir yang gelap dan berbahaya untuk mendapatkannya.
Malam itu, Yama kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan kehidupan yang dia kenal. Namun, dia juga menemukan sesuatu yang baru: panggilan untuk membalas dendam dan tekad untuk menghentikan kegelapan yang telah menghancurkan dunianya. Tanpa menyadarinya, langkah pertamanya menuju takdir besar yang menantinya telah dimulai.