Di sebuah rumah sederhana yang penuh dengan keriuhan, Eka merasa terasing. Sejak kelahiran adik bungsunya, perhatian kedua orang tua yang dulu selalu tercurah padanya kini beralih sepenuhnya pada si kecil.
Setiap kali adiknya melakukan kesalahan, entah bagaimana, justru Eka yang dimarahi. Di sekolah, keadaannya tak jauh berbeda.
Teman-teman sering mengolok-oloknya karena sifatnya yang pendiam dan suka menyendiri. Dunia Eka terasa sempit, penuh kesepian yang seolah tak berujung.
Di tempat lain, ada Lila, seorang gadis polos yang meskipun dikelilingi keluarganya, selalu merasa sendirian. Lila menderita penyakit langka yang membuatnya tidak bisa disentuh tanpa merasakan sakit luar biasa.
Orang tuanya begitu melindunginya, hingga Lila merasa terkekang dalam dunia kecil yang tak pernah ia pilih.
Suatu sore, di sebuah taman yang sunyi, Eka dan Lila bertemu. Eka sedang duduk sendirian di bangku taman, mencoba melarikan diri dari kekacauan yang selalu mengikutinya.
Lila, yang biasanya menjauh dari orang lain, merasa tertarik untuk mendekati Eka. Tanpa ragu, Lila duduk di sebelahnya dan memulai percakapan yang sederhana.
“Aku sering melihatmu di sini,” ujar Lila sambil tersenyum lembut.
Eka, yang terbiasa menyendiri, merasa canggung, namun akhirnya merespons, “Aku suka di sini. Tempat ini… memberikan ketenangan.”
Lila mengangguk, “Aku juga. Mungkin, kita bisa menjadi teman.”
Dari pertemuan singkat itu, terjalin persahabatan yang tak terduga. Setiap kali mereka bertemu, Eka merasa beban di pundaknya berkurang,
sementara Lila, untuk pertama kalinya merasa tidak sakit ketika dekat dengan seseorang. Kesehatan Lila yang biasanya rapuh menjadi lebih stabil saat bersama Eka. Mereka berdua menemukan kenyamanan dalam kebersamaan yang tak terduga ini.
Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Ketika orang tua Lila mengetahui persahabatan mereka, mereka khawatir.
Mereka takut bahwa kedekatan dengan Eka bisa membahayakan kesehatan Lila.
Akhirnya, Lila dilarang menemui Eka. Larangan ini membuat hati mereka berdua hancur. Eka kembali ke hari-hari sunyinya, sementara Lila merasa lebih kesepian dari sebelumnya.
“Eka, aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Mereka bilang aku tidak boleh bertemu denganmu lagi
” kata Lila dengan wajah penuh kesedihan.
“Tapi kenapa? Apa salahku? Aku hanya ingin kamu bahagia.” jawab Eka dengan penuh rasa sakit.
Lila menunduk, mengusap air mata yang mulai menggenang di matanya. “Aku tidak tahu, Mereka bilang aku bisa sakit kalau dekat denganmu.”
“Tapi kamu merasa lebih baik saat bersamaku, kan? Kenapa mereka tidak mengerti itu?” tanya Eka dengan penuh kepedihan.
Orang tua Lila, yang mendengar percakapan mereka menambahkan “Lila, kamu tidak bisa terus bertemu dengan Eka, Ini untuk kebaikanmu Kami hanya ingin melindungimu.”
“Tapi Ma, Eka membuatku merasa baik-baik saja, Tidak ada yang membuatku merasa seperti ini sebelumnya.” jawab Lila dengan nada memohon.
Orang tua Lila saling bertukar pandang, wajah mereka penuh kekhawatiran. “Kami hanya ingin yang terbaik untukmu.” ujar ibunya dengan nada lembut namun tegas.
Namun, Eka tidak bisa menerima kenyataan itu. Dengan tekad yang kuat, dia menyelinap ke rumah sakit tempat Lila dirawat saat penyakitnya kambuh.
Ketika akhirnya Eka bertemu Lila, dia memeluknya erat, tanpa peduli pada risiko yang mungkin terjadi.
“Aku di sini Lila, Aku tidak akan pergi Kamu tidak sendirian.” kata Eka dengan suara penuh keyakinan.
Lila menatap Eka dengan air mata di matanya. “Eka… kamu membuat semua sakitku hilang. Aku merasa lebih baik saat bersamamu.”
Keajaiban pun terjadi. Pelukan Eka tidak menyebabkan Lila sakit, malah sebaliknya, rasa sakit yang biasa dirasakannya menghilang. Lila merasa tenang, seolah semua penderitaannya sirna dalam hangatnya pelukan Eka.
Ketika orang tua Lila menyaksikan hal ini, mereka menyadari betapa istimewanya hubungan antara Lila dan Eka. Mereka tidak lagi melarang mereka bertemu, malah mendukung persahabatan mereka. Orang tua Eka juga mulai memberikan perhatian dan kasih sayang yang selama ini dirindukan Eka.
“Kami tidak tahu seberapa besar arti Eka bagi Lila. Terima kasih telah membuatnya merasa begitu berarti,” kata ayah Lila dengan nada penuh syukur.
“Kami juga berjanji akan lebih memperhatikan Eka. Maafkan kami jika kami pernah kurang peduli,” ujar ibu Eka dengan penuh penyesalan.
Hari-hari berikutnya, Eka dan Lila sering berjalan bersama di taman tempat mereka pertama kali bertemu. Mereka menikmati kebahagiaan yang kini terasa lebih nyata, dengan harapan bahwa persahabatan mereka akan terus bertahan selamanya.
Tamat