Untuk Larasati…
2 tahun 2 bulan 2 hari
Hari ini 10 Agustus 2020
Kusampaikan kata rindu padamu
Kusampaikan rasa sesak dadaku lewat angin malam
Kusampaikan tangisku, takutku, tawaku
Untuk terakhir kalinya, aku cinta…
Untuk Larasati
Aku akan pergi
Jauh ke sebuah negeri
Aku takut, takut jika aku tak bisa melihat senyummu lagi
Takut jika ini akan benar benar berakhir
Surat terakhir untuk Dyah Larasati Arum Kusuma
Aku adalah seorang pemimpi
Yang selalu bermimpi akan keindahanmu
Aku meminta kebesaran hatimu, untuk mengosongkan ruang hatimu atas semua salahku
Maaf Dyah…
*** surat selesai ***
Laras meremas surat tersebut, air matanya menetes.
“Kenapa… kenapa semua ini terjadi? Kenapa semua ini terjadi padaku?”
***
“Ras, kamu sudah dengar kabar tentang Dipta?” Tanya Airin
“sudah, Rin” jawab Laras singkat
“okhlaskan dia, Ras” Ucap Airin lirih sambil memeluk Laras
Laras tak kuasa menahan tangisnya, air mata yang susah payah ditahannya mengalir membasahi pipinya. Dipta adalah cinta, hidup dan semangat Laras. Dipta adalah orang yang gila sastra, puitis dan memiliki pemikiran luas. Itu yang membuat Dipta berbeda. Sementara Laras adalah penikmat satra, Laras menyukai Dipta karena melihat Dipta sebagai satra hidup. Sementara bagi Dipta, Laras adalah sumber inspirasinya. Perasaan itu telah muncul sejak 2 tahun 2 bulan 2 hari yang lalu, sejak hari ini.
“Rin, ayo nanti ke rumah Dipta” Ajak Laras
“Iya Ras, nanti aku temani”
***
“Dipta berpesan sebelum berangkat, katanya jika ternyata jarak yang jauh tak bisa didekatkan dan rasa rindu tak bisa disembuhkan lagi maka hapuslah tentangku yang buruk dalam hati dan berilah senyuman untuku tenang. Tepat sebelum naik ke pesawat, Dipta mengatakan itu. Tak ku sangka, ternyata itu akan menjadi kalimat terakhirnya” kata ibu Dipta dengan mata yang sembab. Ia tak pernah menyangka, putranya itu akan pergi mendahuluinya.
Laras yang mendengar cerita itu pun ikut menangis. Kecelakaan pesawat 10 Agustus 2020 hari itu, menjadi akhir perjalanan hidup Praditpa Rahandika. Dia dikenang oleh orang-orang disekitarnya sebagai memori indah yang tak layak dihapus.
Dalam hidup Laras, Dipta adalah tawanya. Semua kenangan bersama Dipta selalu indah, selalu sempurna. Terakhir kali Laras dan Dipta bertemu, Dipta berkata “jika suatu saat nanti sang bintang kejora tidak bisa lagi menemani indah bulan bersinar, maka aku harap sang bintang kejora tidak pernah hilang dari hati pujaanya”
Semua ini adalah akhir, akhir dari Dipta, akhir dari kisah Dipta dan Laras, akhir dari sastra panjang selama 2 tahun 2 bulan 2 hari ini.
Dari Laras untuk Dipta
Hai Dipta!
Apa kabar?
Aku rindu
Tunggu aku disana
Aku akan datang menemuimu
Kita akan bersama lagi
Sastra indah ini akan dilanjutkan lagi
Sastra panjang ini akan lebih panjang lagi
Selamat tinggal Dipta…