Pukul 7:00, siswa maupun siswi terlihat berbaris rapi di lapangan sekolahku. Mentari menampakkan sinarnya cukup terik, membuatku harus memejamkan mataku beberapa kali karena sinar matahari terasa menyengat dimataku.
Aku menoleh ke arah kanan, tak ada yang menarik untuk aku pandangi. Aku beralih menoleh ke arah kiri dan aku menemukan objek yang menjadi tujuan mataku terdiam.
Aku memandangi objek itu cukup lama. Seorang laki-laki yang memakai jaket hitam disertai dengan tas yang senada dengan jaketnya.
Aku mengagumi paras laki-laki itu, andai saja aku tahu namanya.
Laki-laki pemilik tinggi badan yang seperti tiang listrik, dan badannya terlihat sedikit kurus. Saat aku melihat wajahnya ketika tertawa, baru kusadari dia memiliki gigi gingsul yang membuat senyumnya makin terlihat manis.
Pandanganku terfokus padanya, mengabaikan kegiatan yang ada disekitarku. Menjadikan ia satu-satunya objek yang menarik untuk kupandangi.
Aku tersenyum memandang laki-laki pemilik kulit putih itu dengan tatapan berbinar yang menandakan bahwa aku sangat kagum padanya.
Rasanya mulutku tak henti untuk mencoba berteriak. Mati-matian aku menahan kegilaan yang jantungku ciptakan. Oh ayolah, bagaimana reaksi semuanya ketika aku berteriak karena melihat ketampanan laki-laki ini.
Baru kali ini aku menemukan laki-laki setampan itu, laki-laki yang membuat hatiku dipenuhi ribuan panah cinta. Katakan saja jika aku berlebihan, tapi itu yang benar-benar aku rasakan.
Sumpah, kamu kemana aja selama ini? Kok bisa semesta menyembunyikan laki-laki setampan kamu dari aku?
Semua laki-laki di sekolahku terlihat seperti upik abu, biasa dan enggak ada istimewanya.
Saat baris selesai, kami diwajibkan untuk menyalami para guru. Walaupun malas, aku tetap melakukan kegiatan sakral tersebut.
Saat giliran laki-laki yang mencuri perhatianku bersalaman dengan guru-guru. Aku melirik ke arahnya lalu tersenyum salah tingkah kala wajah itu mencium hikmat tangan guru di sekolahku.
Setelah selesai bersalaman, kami dipersilahkan untuk masuk ke kelas masing-masing. Aku dan teman-temanku masuk ke kelas.
Coba tebak apa yang aku lakukan? Aku menarik teman sebangkuku dan kemudian bercerita tentang laki-laki itu dengan jantung yang berdebar-debar dan perasaan yang gembira.
Aku berceloteh di depan temanku, ada juga temanku yang lain mendengarkan aku bercerita tentangnya. Aku tersenyum bahagia dan juga bertingkah aneh saat menceritakan tentangnya. Apa aku jatuh cinta?
"Eh wee, tadi kan pas baris. Gue liat cowok. Ganteng banget loh. Baru kali ini gue liat cowok seganteng dia. Di sekolah ini semua cowok biasa-biasa aja. Kalau dia itu beda. Aarhhgghh." Ujarku sambil menggenggam tangan dan memeluk temanku.
"Hah? Lo liat cowok Kei? Yang mana?" Tanya Wawa melihat ke arahku. Matanya berbinar, apa dia menyukainya?
Aku mengangguk antusias, "Iya loh, Wa. Kan tadi kita baris, nah pas gue liat ke barisan laki-laki, gue ketemu sama pangeran gue. Ganteng banget loh orangnya. Jadi salting gue." Aku salah tingkah saat menceritakannya. Kurasakan pipiku terasa panas, apa udah seperti tomat matang ya?
Ku peluk Wawa, terlihat gadis yang aku peluk kesulitan bernapas karena aku peluk sangat erat.
"Eh beneran, Kei? Tadi gue liat gak ada kok. Semua cowok di situ sama aja, gak ada yang ganteng." Temanku yang satu ini adalah orang yang selalu mengatakan 'alah gak mungkin'. Orangnya ngeselin, ibarat nonton sinetron yang lagi debat. Namanya Yiyin Rianti.
"Iya loh Yiyin. Lo selalu aja gak percaya sama gue. Mungkin dia baru masuk sekolah atau lo aja yang gak liat dia makanya lo bilang 'semua cowok di situ sama aja'."
Aku merengut kala Wawa menepuk pipiku pelan, gadis ini rasanya ingin kujual ke om-om pedo.
"Alah, Kei,Kei. Tadi aja gue liat gak ada kok," sanggah Yiyin.
"Lo kan baris di tengah, jadi lo gak nampak sama dia, dia itu baris di barisan paling belakang. Sejajaran sama Rayana."
Ah susah sekali membuat dua temanku percaya, ingin sekali kusumpal mulut cerewet mereka.
"Oh, kek mana orangnya, Kei?" Yiyin kembali bertanya padaku. Banyak tanya sekali dia.
"Ish pokoknya ganteng banget orangnya, Yin! Suka banget gue sama dia." Aku melengkungkan sebuah senyum, andai ini di rumah. Mungkin aku sudah berguling-guling di kasur sangking sukanya sama dia.
"Yang mana orangnya, Kei?" Wajah Wawa seperti sedang berpikir. Tangan gadis berambut hitam itu memegang kepalanya karena kebingungan.
"Itu loh, Wa. Yang pake jaket hitam, tasnya kayaknya hitam jugalah. Terus tinggi, kurus, rambutnya keren, putih orangnya," jelasku. Apakah mereka buta tidak melihat laki-laki setampan dia?
"Anak kelas berapa dia?"
"Kayaknya kelas 9, Wa. Karena gue liat dia di barisan anak kelas 9."
"Kelas 9A atau 9B, Kei?" Tanya Yiyin sambil mengeluarkan buku.
"Gue gak tau, Yin. Gue juga baru pertama kalinya liat dia." Sungutku menopang dagu.
"Mungkin dia anak baru, Kei. Eh, Kei, lo kan udah ada, Ikram." Ujar Wawa mengingatkanku bahwa aku sudah punya pacar.
"Kayaknya bukan anak baru deh, kayaknya dia jarang sekolah, makanya baru terlihat sekarang. Hmm.... iya sih, Wa gue udah punya Ikram, tapi kan dia ganteng banget, Dewiii!!!!! Selow, gue gini-gini masih sama Ikram kok. Walaupun suka sama cowok yang gue ceritain itu." Bodoamat dianggap serakah, orang aku suka kok.
Eehhh, Keiysa, Keiysa, ga ngotak lo, Kei. Udah ada Ikram. Masih aja suka sama cowok lain." Yiyin berkomentar disela obrolan kami.
"Ish diam lo, Yin. Ehehe lo juga pernah gitu kan?" Alisku naik-turun menggodanya.
"Eh mana ada ya, orang cuma lo kok.," bantah Yiyin. Mengelak aja nih anak.
"Alah, bacot, lo sama Rozi? Lo suka sama Rozi, tapi suka juga sama Agus." Jelasku sambil tersenyum kemenangan.
"Ihh, Keisya ini. Syuutt, diam aja." Wajah Yiyin terlihat panik. Yey aku menang.
"Yang mana sih,Kei, orangnya? Gue pun gak ada liat cowok ganteng tadi. Jelek-jelek semua, banyak juga yang pakai jaket hitam." Bingung Wawa sambil terus memikirkan laki-laki yang dibahas sedari tadi.
"Eh, Wawa, Wawa, kayak lo cantik aja. Iya iuga loh, Kei, bener yang di bilang Wawa. Banyak cowok yang pake jaket hitam gue liat tadi. Apa cowok yang lo maksud itu Bang Rahmat? Hahaha." Tawa Yiyin menggelegar ibarat petir yang menyambar.
Rahmat adalah siswa kelas 9A. Bukan dia, Bang Rahmat itu sudah sangat hafal dengan wajahnya.
"Ish bukan dia loh, Yin. Bang Rahmat pula. Abang itu kan biasa aja, tapi cowok yang gue maksud ganteng, putih, tinggi."
"Itu loh, Wa. Dia barisannya paling belakang, kayaknya dia temannya Bang Adi." Lanjutku mencoba untuk mengingatkan temanku.
"Teman Bang Adi? Siapa emangnya, Kei?" Oh ayolah, adakah yang bisa membeli temanku yang satu ini? Aku frustasi menghadapinya.
"Ish itulah yang gue gak tau, Wa." Ah rasanya lidahku kelu karena terus berbicara.
"Huh, gue yang gak ada perasaan sama cowok lagi bi like." Tiba-tiba salah satu temanku menyambung seperti kabel yang terputus. Padahal enggak ada yang mengajaknya bicara, tapi tiba-tiba ikut nyambung obrolan orang lain.
"Alah Ren,Ren. Bacot banget lo, gak ada perasaan sama cowok. Lo aja pacaran sama grosir," sahutku sewot. Nama aslinya Airen Wulana. Saat ini Airen sedang berpacaran dengan laki-laki yang asalnya dari Nias, pacarnya bekerja di toko grosir.
"Hehehe mana ada ya, Kei."
"Eleh ketawa lo. Grosir-grosir." Ejek ku sambil menjulurkah lidah ke arah Airen. Senang sekali mengejeknya.
Diamlah, berisik banget lo," marahnya.
Yang mana sih, Kei, orangnya? Bang Aidil bukan?" Tanya Wawa penasaran. Sudahlah Wa, aku sudah muak.
"Ish itu-itu aja yang lo tanya. Nantilah pas istirahat gue kasih tahu," jawabku jengah.
"Bilang sama Ikram lah. Keiysa suka cowok lain." Yiyin mengompori.
"Wlee bilang sana, Yin. Orang gue sama dia virtualan kok wlee," ledekku.
"Yaudah gue chat dia di medsos."
"Yaudah sana chat kalau lo berani hahaha."
"Berani kok gue."
"Yaudah, chatlah dia."
"Ini ini, gue chat dia." Yiyin menunjukkan pesan yang dirinya kirim untuk Ikram.
"Bacot."
"Nama Abang itu siapa, Kei?" Wawa masih saja bertanya, padahal aku sendiri pun tidak tahu namanya.
"Ya Allah, Wawa,Wawa. Gue mana tahu siapa namanya. Kan gue baru kali ini liat dia di sekolah. Nantilah, gue kasih tahu orangnya yang mana." Jelasku panjang dikali lebar. Temanku ini lemot juga ternyata.
"Oh, yaudah," jawabnya datar.
Lo tau gak, Ren, orangnya gimana?" Aku beralih ke arah Airen. Siapa tahu gadis ini mengetahui laki-laki yang kukagumi itu.
"Lah mana gue tahu, bukan urusan gue juga." Sahut Airen bernada tak suka.
"Anjir, lo kan dulu SD di sini. Mana tau, lo tau siapa dia." Susah sekali bicara dengan dia.
"Manalah gue tahu,Keisya." Oh lihat sekarang? Suaranya benar-benar tinggi.
"Hish orangnya ganteng, putih, tinggi, terus pakai jaket warna hitam, barisnya paling belakang. Sejajaran sama Rayana." Aku udah jelasin sedetail mungkin ya, aku harap dia tahu.
"Hmm siapa ya? Bentar ya gue pikir dulu. " aku mengangguk menanggapi ucapannya.
"Adi bukan orangnya?"
"Bukan Bang Adi, anjir. Bang Adi kan ada kumis tipis, tapi dia gak ada kumisnya." Rasanya Ingin kuhancurkan saja bumi ini.
"Ohhh."
"Tau lo, Ren?" tanyaku penuh harap.
"Enggak," jawabnya enteng.
"Babi!" Kesalku mengacungkan jari tengah.
"Hahahaha."
Semuanya hanya bisa saling menertawakan satu sama lain. Aku tahu, aku punya pacar. Tapi rasanya perasaan yang aku punya ini benar-benar ada. Walaupun hanya sesaat.