Terlihat di ujung jalan yang sepi dan jarang dilewati kendaraan, berdiri sebuah restoran hamburger kecil yang tidak terlalu terkenal di kota itu. Tempatnya yang terpencil dari kota dan berada di tepi hutan, namun memiliki akses dekat dengan jalan raya. Tidak banyak orang mengetahui restoran tersebut. Ada satu, dua atau beberapa pembeli setiap harinya, terutama orang-orang yang melakukan perjalanan jauh dan kebetulan menemui restoran itu, mereka menyempatkan untuk beristirahat dan makan di sana.
Restoran hamburger kecil itu hanya dikelola oleh Jerry (23 tahun) dan kakaknya bernama Chris Burns (30 tahun), sekaligus mereka adalah pemilik restoran, warisan dari ayah mereka yang telah meninggal karena kecelakaan satu tahun lalu. Sebelumnya restoran itu dikelola oleh ayah dan ibu mereka. Ibu mereka telah meninggal jauh sebelum ayah mereka menyusul.
Malam ini tepat pukul setengah delapan, Jerry sedang berjaga di restoran. Dia berdiri di tempat resepsionis dan menunggu pembeli datang. Lonceng di depan restoran berbunyi bertepatan dengan seorang pria paruh baya yang membuka pintu lalu melangkah masuk ke ruangan dan mendekati Jerry yang berdiri di belakang kasir.
"Selamat malam. Aku ingin memesan burger dengan salad," kata pria itu.
Jerry menjawab, "Baik, Pak. Sebentar saya cek dulu persediaan daging di belakang."
Kemudian Jerry berjalan ke dapur dan menuju ke ruangan pendingin yang dikhususkan untuk menyimpan daging sapi agar tidak cepat busuk. Ruangan itu terdapat bekas darah sapi di sudut-sudut dan juga terdapat beberapa gantungan daging. Saat mengecek di dalam ruangan yang begitu dingin itu, Jerry tidak menemukan persediaan daging sama sekali. Ia lupa jika persediaan daging telah habis dua hari lalu dan ia tidak dapat membelinya. Terpaksa Jerry kembali ke depan dan menemui pria itu.
"Maafkan saya Pak, kami sudah kehabisan daging," kata Jerry dengan tidak enak hati.
"Hah, tidak ada daging!? Restoran burger tapi tidak ada daging!" kata pria paruh baya itu sedikit kesal.
"Sekali lagi maafkan saya, Pak. Atau begini saja, sebagai gantinya saya berikan Bapak burger gratis tanpa daging."
"Sudahlah, saya akan membeli di restoran lain. Burger tanpa daging tidak akan membuat saya kenyang." Pria itu pun segera melangkah pergi keluar ruangan.
Jerry sedikit mengumpat lalu pergi ke dapur dan menemui Chris yang sedang membersihkan meja. Tadi Chris sudah kembali ke dapur setelah selesai buang air besar.
Mereka berbincang. "Jerry, sepertinya restoran ini akan segera bangkrut," ucap Chris yang secara tiba-tiba itu membuat Jerry bingung.
"Apa maksudmu? Kita tidak bisa membiarkan restoran ini bangkrut, ini adalah warisan ayah kita," kata Jerry dengan sedikit nada keras.
Chris menghela napas panjang lalu diembuskan perlahan. "Kita sudah tidak punya uang, belum lagi harga daging sekarang mahal. Tidak ada daging artinya tidak ada hamburger dan tidak akan ada pelanggan yang mau membeli burger tanpa daging."
Jerry mengumpat. "Shit! Sepertinya kita harus mencari cara agar restoran ini tetap berjalan."
Chris menenangkan Jerry lalu berkata, "Kita sudah dua bulan tidak membayar tagihan, aku tidak tahu lagi harus bagaimana..." Diam sebentar lalu melanjutkan, "Tapi... aku punya cara untuk menyelamatkan restoran ini."
"Oke, Chris, beri tahu aku bagaimana caranya, aku akan melakukan apa pun," jawab Jerry mulai sedikit tenang.
"Kita butuh daging untuk membuat burger, mungkin kita bisa mendapatkan daging gratis." Chris berbicara dengan nada santai.
Jerry sedikit bingung. "Bagaimana kita bisa mendapatkan daging gratis, Chris?"
Tiba-tiba Chris tertawa dan berkata, "Simple! Kamu bunuh orang dan bawakan kepadaku, aku akan mempersiapkan dagingnya dan membuat burger."
"Apa!? Kamu bercanda atau sudah gila, Chris!? Kenapa harus membunuh manusia?" Begitu terkejut Jerry setelah mendengar ucapan kakaknya.
"Kita terpaksa, Jerry. Antara membunuh orang untuk mendapatkan daging atau kita harus menutup restoran warisan ayah," ucap Chris dengan raut wajah murung. Pikirannya sedang kacau.
"What the fuck, Bro! Itu gila!" Jerry kembali mengumpat ke sekian kalinya.
"Itu salah satu cara untuk kita bertahan, Jerry. Kita sudah berjanji kepada Ayah kalau kita akan mengurus restoran ini."
"Baiklah, aku akan melakukan ini, lebih tepatnya kita terpaksa melakukan ini," jawab Jerry lalu mengusap-usap wajahnya dan mengambil air minum lalu ditenggaknya sampai habis.
"Oke, coba tangkap orang yang sendirian dan tanpa saksi, kamu harus cepat. Jangan sampai ada orang yang mengetahui aksimu," ucap Chris mewanti-wanti adiknya supaya berhati-hati.
"Baiklah, tidak masalah, aku butuh pistol dan mobilmu," jawab Jerry seolah ia tidak merasa keberatan dengan perintah kakaknya yang sadis.
"Kamu bisa pakai mobil van-ku, dan pistolnya ada di sana. Terima kasih, aku mencintaimu, saudaraku."
"Serahkan kepadaku, aku juga mencintaimu, saudaraku," jawab Jerry.
Kemudian Jerry bergegas pergi keluar lewat pintu depan, segera berlari menuju ke halaman belakang. Mobil van milik Chris terparkir di sana. Lalu Jerry masuk ke dalam mobil dan mengambil pistol yang tersimpan di atas dasbor. Ia mengemudikan mobil itu menuju jalan raya. Sejenak ia berhenti di tepi jalan dan memikirkan tempat yang sepi untuk mencari target. Kemudian pikirannya tertuju pada sebuah desa kecil yang terpencil dan kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari restoran. Di sana Jerry dapat menangkap seseorang dengan leluasa karena tempatnya yang sepi. Segera ia menjalankan mobil menuju desa itu.
Sesampainya di tanah lapang yang terletak di pinggiran desa, Jerry melihat sebuah campervan atau biasa disebut mobil kemping oleh orang-orang. Campervan itu terparkir di lapangan yang sepi dan ada dua campervan lain di sebelah utara tapi saling berjauhan. Kesempatan itu, Jerry gunakan untuk mencari target. Setelah memarkirkan mobilnya di lapangan itu, Jerry segera keluar dari mobil sambil menyiapkan pistolnya. Ia berjalan mengendap-endap menuju campervan tersebut. Ia mulai berjalan dengan percaya diri saat dirasa tidak ada orang di sekitarnya.
Di depan campervan, Jerry mengetuk pintunya lalu menyiapkan pistol, bersiap untuk menembak seseorang yang mungkin ada di dalam. Benar saja tak lama kemudian, suara seorang pria terdengar dari dalam.
"Siapa ya, malam-malam seperti ini?" ucap pria itu sambil membuka pintu.
Tepat saat pintu terbuka, Jerry menodongkan pistolnya sambil berkata, "Jangan bergerak atau kau akan aku tembak."
Karena terkejut, refleks pria itu berlari keluar sambil berteriak meminta tolong. Jerry mengejar seraya menembakkan pistolnya tepat ke arah kaki pria tersebut. Pria itu terjatuh dan masih berteriak. Sayangnya tak ada orang di sekitar yang dapat menolongnya. Suasananya benar-benar sepi. Lalu Jerry kembali menembakkan peluru ke arah kepala pria itu, seketika darah terciprat ke segala arah. Teriakan terakhir pria itu semakin keras bersamaan dengan nyawa yang lepas dari raga. Dia baru saja mati.
Jerry panik, lalu bergegas menggendong mayat pria itu di bahu kanannya. Lalu membawanya menuju mobil dan diletakkan di bagasi yang luas. Jerry melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di restoran, Jerry segera membawa mayat itu masuk ke dapur melalui pintu belakang. Dia memasukkan mayat ke dalam ruangan pendingin lalu menggantungkan tubuh tak bernyawa itu pada gantungan daging. Darah segar masih mengalir-ngalir dari kepala dan punggung mayat itu. Jerry mengumpat melihatnya, lalu berbincang dengan Chris yang ikut masuk ke ruangan pendingin.
"Kamu berhasil, Jerry, aku pikir kamu tidak punya keberanian untuk melakukan itu," kata Chris sambil tersenyum penuh kepuasan melihat mayat yang tergantung.
"Ini sangat gila, Bro, tapi aku sudah melakukan apa yang kamu perintahkan," jawab Jerry.
"Kita akan menyelamatkan restoran ini bersama, Jerry. Ambil pisau di dapur lalu kuliti dan ambil daging manusia itu sehingga bisa dijadikan burger."
Jerry hanya bisa menuruti perintah kakaknya. "Oke, aku bisa melakukan itu."
Chris melangkah keluar ruangan, Jerry mengikutinya di belakang, kemudian mengambil pisau besar di atas meja dan kembali ke ruangan pendingin. Dengan penuh tekad karena keterpaksaan, Jerry mulai merobek pakaian mayat itu hingga benar-benar telanjang. Lalu tanpa pikir panjang, Jerry menguliti mayat itu mulai dari bagian kaki hingga kepala. Butuh waktu satu jam sampai benar-benar bersih. Kini sepenuhnya daging manusia itu terlihat jelas. Jerry menahan untuk tidak muntah, bau daging yang amis dan sedikit tidak sedap karena bercampur darah. Lantas Jerry mengambil karung untuk menyimpan kulit manusia dan kemudian ditutup rapat.
Jerry mengiris sebagian daging manusia itu pada bagian perutnya, lalu membawanya ke dapur dan menemui Chris yang sedang berdiri di depan meja daging. Chris yang akan merapikan daging itu agar terlihat seperti daging sapi. Lalu mereka memasaknya.
Bisnis hamburger itu akhirnya kembali berjalan lancar dengan adanya daging gratis yang didapatkan dari manusia. Pembeli tidak ada yang mengetahui bahwa hamburger yang mereka makan adalah daging manusia. Mereka bahkan seolah terhipnotis oleh rasa daging yang nikmat.
Satu bulan berlalu, restoran itu tetap berjalan seperti biasa dan belum ada orang yang mencurigainya. Jerry dan Chris masih memiliki sedikit persediaan daging, yang mana itu adalah daging pria yang Jerry bunuh sebulan lalu. Artinya selama sebulan ini Jerry belum mencari target kedua untuk diambil dagingnya.
Malam ini pukul delapan malam, seperti biasa Jerry yang melayani pembeli dan Chris yang bertugas memasak. Tak lama kemudian datang seorang pembeli wanita.
"Halo, aku ingin burger," ucap wanita itu.
"Halo, Kak, silahkan duduk, aku akan membawanya ke mejamu," ucap Jerry lalu masuk ke dapur.
Wanita itu duduk di kursi dekat jendela. Jerry kembali ke depan lalu menyiapkan satu porsi burger itu. Setelah itu Jerry kembali ke dapur dan berbincang dengan Chris. Wanita itu menikmati burger daging manusia tanpa merasakan hal yang aneh ataupun curiga. Bahkan ia merasa begitu nikmat.
"Hmm, rasa dagingnya enak sekali, aku akan merekomendasikan temanku untuk datang kemari," ucap wanita itu sambil memakan burger itu dengan lahap.
Wanita itu membayar setelah menghabiskan burgernya lalu berjalan keluar restoran. Jerry mengambil piring kotor bekas perempuan tadi lalu dibawanya ke dapur dan mencucinya. Sementara Chris sedang memanggang burger.
Jerry kembali ke depan, bertepatan seorang pria masuk ke restoran. Pria itu menemui Jerry.
"Selamat malam, aku dengar restoran ini menyajikan burger yang paling enak di kota ini," ucap pria itu.
"Selamat malam, Pak, apa yang kamu mau?"
"Aku ingin burger dengan ekstra salad," jawab pria itu.
"Baiklah, silahkan duduk, Pak. Aku akan membawa burger mu dalam hitungan menit." Kemudian Jerry pergi ke dapur. Sementara pria itu memilih tempat duduk.
Pria itu duduk di kursi yang berdekatan dengan pintu masuk. Tak lama Jerry kembali ke depan dan membawakan burger lalu dihidangkan kepada pria itu. Jerry kembali ke dapur menemui Chris. Mereka berbincang.
"Restoran ini berjalan lancar, Jerry. Ayah kita pasti akan sangat bangga," ucap Chris.
"Tapi persediaan daging sudah akan habis," jawab Jerry.
"Kamu harus membawa lebih banyak daging, pembeli itu sendiri. Itu adalah target yang sempurna," ucap Chris sambil tersenyum penuh arti.
"Berengsek! Kamu gila, Chris!" Jerry tampak kesal.
Chris tertawa pelan lalu berkata, "Kita berdua gila, Jerry. Sekarang kamu pergi ke depan dan bunuh orang itu!"
Jerry hanya mengangguk lalu mengambil pistol yang tersimpan di dalam laci meja, kemudian Jerry berjalan ke depan sambil menodongkan pistolnya ke arah pria itu yang sedang asyik makan. Terkejut, pria itu segera berlari keluar setelah mengetahui Jerry akan menembaknya. Jerry pun mengejarnya dan menembakkan pelurunya ke arah punggung pria tersebut. Sontak dia berteriak kesakitan lalu jatuh tersungkur ke lantai, tepat di depan restoran. Jerry kemudian menembaknya sebanyak tiga kali pada bagian leher pria itu hingga membuat pria itu kehilangan nyawa. Darah terciprat dan berceceran di depan restoran.
Secepatnya, Jerry menggendong mayat itu lalu membawanya masuk ke restoran dan memasukkannya ke dalam ruangan pendingin lalu menggantungnya di gantungan daging. Chris memerintahkan untuk menguliti mayat itu lalu diambil dagingnya. Jerry melakukan perintah sesuai permintaan Chris. Sementara Chris akan membersihkan darah korban di depan restoran untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang dilakukan adiknya.
Se-jam kemudian, Jerry telah selesai menguliti mayat dan mengambil sebagian dagingnya lalu diberikan kepada Chris.
"Terima kasih, Jerry, kamu menyelamatkan restoran kita lagi," ucap Chris sambil menepuk pundak Jerry.
Jerry menjawab, "Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, Chris. Aku melakukan ini untuk Ayah."
"Ayah pasti bangga padamu."
"Ayah akan bangga dengan kita berdua, bukan hanya aku, Chris."
"Baiklah, aku akan membuat burger lagi, kamu jaga di resepsionis ya, mungkin akan ada pembeli datang," ucap Chris meminta adiknya untuk kembali ke resepsionis.
"Serahkan padaku, Chris." Kemudian Jerry kembali ke depan dan menunggu di depan kasir.
Jerry samar-samar mendengar suara mobil yang sepertinya berbelok ke arah restoran. Teringat dengan darah korban yang satu jam lalu telah dibunuhnya, Jerry panik lalu bergegas ke depan untuk memastikan apakah darahnya sudah dibersihkan oleh kakaknya. Ternyata sudah tidak ada bekas darah sama sekali. Setidaknya Jerry merasa lega untuk hal itu. Tapi seketika rasa leganya berubah menjadi panik saat melihat seorang polisi yang ternyata berbelok ke restorannya. Polisi itu membawa sepeda motor.
Lalu Jerry bergegas masuk dan menemui Chris di dapur. Terlihat Chris sedang memotong daging dengan sangat tenang. Jerry pun memberitahukan bahwa restoran mereka kedatangan polisi.
"Chris gawat! Ada seorang polisi mendatangi restoran kita, aku takut kalau ada seseorang yang melaporkan kita ke polisi," ucap Jerry panik.
"Tenang saja, Jerry, jangan terlalu panik. Temui polisi itu dan apa yang dia inginkan." Chris masih terlihat tenang walaupun keadaan yang mungkin mendesak.
Mau tak mau, karena lonceng restoran berbunyi yang menandakan bahwa polisi itu sudah masuk ke dalam restoran, akhirnya Jerry memberanikan diri menemui polisi tersebut.
"Selamat malam, Pak," ucap Jerry dengan nada sedikit bergetar karena takut.
"Selamat malam, aku ingin berbicara dengan Chris Burns, apakah dia ada di sini?" jawab polisi itu.
Jerry menjawab, "Dia adalah saudaraku, Bapak ada urusan apa dengan Chris?"
"Orang itu sudah hilang sebulan lalu, dan saksi mengatakan kalau mobil van saudaranya terparkir di dekat rumah," ucap polisi itu.
Di sini Chris mulai panik dan jantungnya berdegup tidak tenang, namun ia mencoba menyembunyikan rasa takutnya. "Saudaraku tidak melakukan apa-apa, Pak. Aku selalu bersama dia."
"Jangan khawatir, aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya," jawab polisi itu.
"Baiklah, dia ada di dapur, aku akan memberitahu dia." Jerry kemudian kembali ke dapur dan berbincang dengan Chris. Sementara polisi itu menunggu di depan kasir.
"Shit, apa yang polisi itu inginkan?" tanya Chris begitu Jerry berdiri di hadapannya.
"Dia ingin berbicara denganmu, Chris. Sial! apakah kita akan ditangkap?"
Chris menenangkan Jerry. "Santai Brother, kita tidak akan ditangkap."
"What the fuck, bro! Ada saksi yang melihat mobil van mu di tempat kejadian perkara." Jerry benar-benar tak habis pikir dengan saudaranya yang masih bersikap santai, padahal keadaan sedang genting.
Chris tertawa singkat lalu menepuk-nepuk pundak Jerry. "Rileks, bro. Aku akan berbicara dengannya dan meluruskan semuanya, tentang kejadian itu."
"Oke, oke, terserah kamu saja," jawab Jerry yang sudah pasrah dengan kakaknya.
Kemudian Chris berjalan santai keluar dari dapur dan menemui polisi di depan. Jerry tidak ikut ke depan karena merasa takut, kemudian ia menutup pintu dapur, mengamati Chris yang sedang berbincang dengan polisi dari balik kaca pintu.
Mengamatinya cukup lama hingga tiba-tiba Jerry dikejutkan oleh aksi Chris yang tanpa aba-aba langsung menembak polisi di hadapannya. Polisi itu berteriak dan tumbang ke lantai. Chris kembali menembaknya sebanyak empat kali sampai polisi itu benar-benar mati. Jerry pun hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Lalu Chris masuk ke dapur, meminta Jerry untuk membawa mayat polisi itu.
"Cepat, bawa tubuhnya dan masukkan ke ruangan pendingin," kata Chris.
Jerry dengan segera mengambil mayat itu dan memasukkannya ke dalam ruangan pendingin. Setelah itu dia menemui Chris.
"Aku tidak percaya, aku punya keberanian untuk membunuh seseorang, dia mengatakan kepadaku bahwa dia akan membawaku ke penjara," ucap Chris.
"Tapi semuanya baik-baik saja, kan? Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Tenang, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kita punya daging yang cukup untuk dua bulan."
Jerry berbicara dengan nada tinggi, "Tapi dia polisi, seseorang akan mencari tahu dan akan berusaha melakukan investigasi!"
"Tenang, Jerry. Aku akan membuang mobilnya, semuanya akan baik-baik saja."
"Oke Chris, aku percaya padamu," ucap Jerry yang pasrah.
Seminggu kemudian, keadaan tetap baik-baik saja. Tidak ada seorang pun yang mencurigai Chris ataupun Jerry, bahkan restoran itu tetap berjalan seperti biasa. Malam ini Jerry seorang diri di restoran. Ia tidak mengetahui kemana Chris pergi, karena saat mengecek ke dapur, Jerry tidak mendapati adanya Chris. Lalu Jerry mengecek ke ruangan pendingin, dan Chris juga tidak ada di sana. Hal yang mengejutkan adalah, kini ada satu korban baru yang sepertinya baru dikuliti, usus dan anggota dalam tubuh manusia berceceran di ruangan pendingin itu. Jerry mengira bahwa Chris sedang mencari korban baru di luar sana, mungkin.
Lalu Jerry mengecek ke luar, pergi ke belakang restoran, mungkin saja Chris ada di sana. Saat di halaman belakang, lagi-lagi Jerry tidak melihat keberadaan Chris. Jerry pun kembali ke dalam restoran. Sialnya, saat baru sampai di dapur, mendadak listrik mati, menyebabkan seluruh lampu di restoran itu ikut padam. Jerry sempat panik lalu dia mengambil senter di atas meja dan menyalakannya. Masih mencari Chris, Jerry kemudian pergi ke toilet, mungkin Chris ada di sana. Dan sekali lagi Jerry tidak menemukan Chris.
Lalu kembali ke dapur, tiba-tiba di hadapannya muncul sosok manusia tanpa kulit yang terlihat dagingnya dari kepala hingga kaki. Jerry sontak berteriak lalu berlari keluar dapur. Hingga kemudian Jerry mendapati dirinya terbangun di dalam toilet. Rupanya dia tertidur dalam posisi duduk di lantai dan bermimpi buruk.
Jerry mengumpat lalu mengusap-usap wajahnya yang berkeringat, kemudian ia pergi keluar. Menemui Chris yang ternyata ada di ruangan pendingin. Entah apa yang dilakukan Chris, tapi dia hanya diam, berdiri tanpa melakukan apa pun.
"Kita sudah melakukan yang terbaik, Jerry, sangat hebat," ucap Chris.
"Hei kamu kenapa diam di sini? kamu akan kedinginan jika berlama-lama di sini, Chris," kata Jerry.
"Di restoran panas, Jerry, aku justru di sini untuk mendinginkan tubuh," jawab Chris, diam sebentar lalu melanjutkan, "Sekarang aku butuh bantuanmu."
"Baiklah, apa yang bisa aku bantu?" tanya Jerry.
"Ada gelandangan di luar, dia selalu mengganggu pembeli kita, aku mau kamu membunuhnya," kata Chris dengan nada pelan dan menekankan setiap katanya.
Jerry menjawab, "Ah, aku sudah sering membunuh, gampang sekali, Chris."
"Tapi jangan menggunakan pisau, kita terlalu banyak mengambil resiko, polisi akan mengetahuinya," ucap Chris mewanti-wanti.
"Lalu aku harus membunuhnya pakai apa?"
"Ada kapak di kamar mandi, kamu bisa memakainya," jawab Chris.
"Baiklah." Kemudian Jerry pergi keluar ruangan pendingin dan menuju kamar mandi untuk mengambil kapak.
Selesai itu, Jerry segera melangkah keluar, berjalan ke samping restoran, dan benar saja, ada seorang gelandangan yang sedang berteduh di bawah atap karena sedang hujan. Gelandangan itu terkejut dan berteriak lalu berlari ke belakang restoran saat melihat Jerry membawa kapak. Jerry mengejarnya, sampai benar-benar di dekatnya, Jerry segera menebas punggung gelandangan itu menggunakan kapak. Gelandangan itu jatuh ke tanah dengan darah yang mengucur dari punggung. Jerry kembali menebasnya berkali-kali sampai dipastikan gelandangan itu telah mati.
Usai itu, Jerry membawa mayat itu. Namun, sesampainya di depan restoran. Tiba-tiba sudah berkumpul banyak polisi dan memergoki Jerry yang sedang membawa mayat. Jerry pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam melihat polisi-polisi itu. Dua orang polisi segera menangkap Jerry dan memborgol tangannya. Lalu memasukkan Jerry ke dalam mobil dan akan membawanya ke kantor polisi. Sementara polisi yang tersisa sedang mencari barang bukti di dalam restoran. Mereka menemukan tiga mayat yang sudah dikuliti, pisau, dan pistol yang selama ini digunakan pelaku untuk membunuh korbannya. Tetapi anehnya, polisi tidak menemui Chris di dalam restoran. Apakah kemungkinan Chris sudah melarikan diri saat mendengar suara sirine polisi?
Jerry pun didakwa hukuman penjara seumur hidup dengan bukti telah membunuh sebanyak 7 korban dalam waktu satu bulan. Jerry mengatakan, ia melakukan itu karena permintaan kakaknya, Chris Burns. Tapi polisi mencurigai bahwa Jerry sedang mengalami gangguan kejiwaan atau skizofrenia. Oleh karena itu, Jerry ditempatkan di ruangan penjara khusus untuk orang yang memiliki gangguan kejiwaan.
Satu tahun telah berlalu, Jerry tetap mendekam di dalam penjara. Hari ini ia diwawancarai oleh seorang psikolog di dalam penjaranya. Psikolog itu menanyakan beberapa hal kepada Jerry.
"Apa kamu siap, Jerry?" tanya psikolog itu sekaligus seorang dokter, bernama Dr. Martin.
"Ya aku siap. Aku bingung, aku tahu aku sudah melakukan hal yang sangat buruk," jawab Jerry.
"Mengakui kesalahan adalah langkah pertama, mengapa kamu membunuh orang-orang itu?" tanya Dr. Martin
"Aku melakukannya untuk menyelamatkan restoran ayahku, aku melakukannya bersama dengan saudaraku," jawab Jerry jujur.
Dr. Martin terlihat bingung, lalu bertanya, "Saudaramu? Itu mustahil, Jerry."
"Setelah ayahku meninggal, dia adalah satu-satunya orang yang berjuang bersamaku. Tolong beri tahu aku di mana saudaraku, Chris?" Jerry memohon kepada dokter di hadapannya.
Dr. Martin menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Maafkan aku, apa yang terjadi dengan keluargamu, ini pasti sangat berat dan membuatmu trauma."
"Aku menyesali apa yang aku lakukan, tapi aku tidak boleh mengecewakan saudaraku, dia juga sangat mencintai restoran peninggalan ayah," jawab Jerry, nada bicaranya sedikit naik.
Dr. Martin mengerutkan kening. Dari sini mulai muncul kecurigaan. "Maksudmu, kamu berbicara tentang Chris Burns? Apa kamu yakin, kamu bersama dia, Jerry?"
"Iya, dia selalu bersamaku, hanya ada kita berdua." Jerry menjawab dengan yakin.
Dr. Martin kaget dengan jawaban Jerry, lalu berkata, "Itu mustahil, Jerry."
Jerry pun ikut kaget, "Hah, apa yang kamu bicarakan dokter? Apa yang kamu lakukan dan mereka lakukan pada saudaraku, Chris?"
Dr. Martin menjelaskan dengan berat hati. "Saudaramu Chris, sudah meninggal dalam kecelakaan mobil bersama ayahmu dua tahun lalu, mereka berdua sudah meninggal, Jerry."
Jerry berteriak, "Tidak! Saudaraku masih hidup, dia selalu bersamaku!"
Dari sini Dr. Martin mulai menduga seperti diagnosis awal bahwa Jerry mengalami gangguan mental sejenis skizofrenia yang membuatnya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Penderita skizofrenia pada umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dengan pikiran yang ada. Dan penderita skizofrenia tidak dapat disembuhkan dalam waktu singkat, mereka membutuhkan waktu lama untuk menenangkan diri.
"Aku tahu, kamu sangat sulit untuk menerima kenyataan, aku akan memberikanmu waktu lebih untuk berpikir segalanya. Sampai jumpa." Lalu Dr. Martin keluar dari ruangan serba putih itu.
Dan Jerry pun berteriak sambil mengusap-usap wajahnya secara kasar. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan itu. Sangat sulit baginya. Ia selama ini tinggal seorang diri. Yang selama ini menyuruh Jerry untuk membunuh manusia bukanlah kakaknya, Chris, melainkan dirinya sendiri. Lalu yang memasak burger juga dirinya sendiri. Saat polisi datang ke restoran sebelum akhirnya dibunuh oleh Chris, sebenarnya itu bukanlah kenyataan, tapi hanya khayalan karena pikiran Jerry yang sedang kacau dan merasa takut ditangkap polisi. Oleh karena penyakitnya itu, Jerry sama sekali tidak merasa bersalah saat membunuh orang.
Saat Jerry mengarah ke depan dengan tatapan kosong, muncul sosok arwah Chris yang tersenyum kepada Jerry.
Chris berbicara dengan suara pelan. "Aku bangga kepadamu, saudaraku."
Bersamaan dengan itu, Jerry dibayang-bayangi oleh teriakan para korbannya ketika ia membunuhnya. Suara teriakan-teriakan itu seolah memenuhi telinganya. Jerry berteriak sambil menutup telinga rapat-rapat dengan kedua tangannya.
"Keluargaku belum mati!!"