Bekas rem tercetak di aspal desa yang sedikit usang. Memandang keluar jendela mobil hamparan biru laut terlihat dari atas bukit. Kanoe mengikuti langkah kedua orangtuanya keluar dari mobil. Cahaya matahari menghangatkan tubuhnya. Seorang wanita tua berdiri dengan senyum sumringah menyambut Kanoe dan kedua orangtuanya.
"Apa kabar, bu?" tanya ayah Kanoe pada nenek Kanoe. Selagi mereka berbincang pandangan Kanoe menjelajah ke sekitar. Setiap liburan musim panas, keluarga mereka selalu kembali ke rumah neneknya untuk tinggal selama beberapa waktu setidaknya satu hari sisa liburan musim panas dihabiskan disini.
"Kanoe, kamu sudah besar sekali"
Kanoe tersenyum pada neneknya saat puncak kepalanya diusap beberapa kali. Mereka masuk ke dalam rumah, Kanoe segera naik ke kamar tidur milik bibinya dulu. Hembusan nafas ia keluarkan, melempar diri ke tempat tidur. Sejujurnya ia tidak terlalu senang menghabiskan liburan musim panas disini. Jika saja ia tidak kemari, ia bisa pergi bersama teman-temannya ke mall atau bersama ke pantai berjemur dan piknik ala musim panas. Kanoe bangkit membuka kopernya segera berganti dengan gaun pantai, jaket dan jeans yang ia kenakan membuatnya gerah. Menuruni tangga perlahan ia melihat ayah, ibu dan neneknya menonton film di ruang tamu dengan suguhan semangka yang menggugah selera.
"Aku akan berjalan-jalan ke pantai sebentar" ucap Kanoe, meraih sepotong semangka kuning di meja. Ketiga orang dewasa itu menoleh, ekspresi mereka tidak kompak.
"Tidak menunggu kami?". Kanoe menggeleng, "nikmati saja film kalian".
Angin menerpa tubuh Kanoe, cahaya matahari menghujaninya dengan kehangatan, ia memegang ujung topi lebar dengan pita putih di sisi kanan seolah takut angin akan merenggut topi itu. Senyum Kanoe terngkat dengan tangan terbuka lebar siap menghirup kebahagiaan pantai dan semua energi baik yang terpancar. Kanoe terpaku, menatap ke batu karang di depan. Seorang laki-laki yang nampak seumuran dengannya berdiri di atas batu karang yang sesekali diguyur ombak. Kemeja yang dibuka kancingnya tertiup angin kesana-kemari, kacamata hitam dibelakang kepalanya memantulkan cahaya matahari. Wajah Kanoe memerah saat laki-laki itu berbalik kepadanya dengan kamera yang membidik. Senyum laki-laki itu mengembang, ia menjauhkan kamera dari wajahnya dan turun dari batu karang menghampiri Kanoe. Berdehem pelan, Kanoe merapikan rambut yang keluar dari kepangan.
"Hey, menikmati liburanmu?" tanya laki-laki itu mengulurkan tangan, "Yuzaki," lanjutnya. Ragu-ragu Kanoe meraih uluran tangan Yuzaki, "Kanoe". Tangan mereka tertaut beberapa waktu hingga Kanoe melepasnya. Yuzaki tertawa mulai mempersiapkan kamera lagi, "tersenyumlah, Kanoe". Dahi Kanoe berkerut menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Banyak pemandangan yang lebih bagus". Yuzaki terkekeh sejenak menjauhkan kamera dari wajahnya yang tersenyum lebar. "Yang ini bukan hanya bagus tapi langka," ungkapnya kembali membidik Kanoe. Wajah Kanoe berubah pasrah, walau masih tidak senang ia tetap mengambil pose menampilkan senyum terbaiknya. Yuzaki mengulas senyum kecil mulai membidik beberapa pose Kanoe, mulai dari senyum manis dengan beberapa rambut menerpa wajah Kanoe hingga wajah bingung Kanoe karena terus di potret.
"Sudah cukup kurasa"
Yuzaki mengangguk menurunkan kameranya kembali. Mereka duduk di bibir pantai bertukar beberapa cerita, Kanoe memperhatikan Yuzaki yang lebih antusias berbagi cerita dengannya.
"Hey! Yuzaki!", teriakan terdengar di ujung jauh belakang mereka. Keduanya sontak menoleh bersamaan, segerombol pria melambai pada Yuzaki menimbulkan decakan dari bibir Yuzaki. "Senang bertemu denganmu Kanoe, nikmati liburanmu, semoga kita masih berjodoh," tutur Yuzaki mengusap bahu Kanoe sebelum berdiri dan berlari kembali pada gerombolan temannya. Pikiran Kanoe kosong sepeninggal Yuzaki, ia tetap duduk di pinggir pantai menoleh ke belakang pada Yuzaki yang telah sampai pada teman-temannya, mereka terlihat tengah mengejek Yuzaki.
Kanoe berdiri membersihkan rok dari pasir yang menempel, ia kembali menatap laut lepas. Pertemuan mereka terlalu singkat padahal Kanoe masih belum bercerita banyak dan bertukar kontak. Yuzaki pergi entah kemana daerah asalnya membawa foto-foto Kanoe. Suara deburan ombak dan burung-burung camar menemani keheningan Kanoe yang tengah berharap pada lautan untuk mempertemukan mereka kembali di musim panas berikutnya.