Cerpen ini berasal dari karya Novel saya yang berjudul Boom Heroes. Cerpen ini membahas makna melalui kalimat kecil.
Di sana...
Peperangan Jepang dan Cina.
Aku berdiri mengenggam balon merah yang di ikatkan di tangan kanan ku. Di tangan mungil ku saat itu.
Aku berjalan... ke jalanan tanpa arah.
Yang aku ingat, kemarin aku akan pergi dengan pesawat bersama keluarga ku. Tapi aku menginginkan balon merah itu.
Ayah membelinya dan mengikatnya di tangan ku.
Lalu dia pergi ke toilet.
Di langit... suara keras. Seperti bunyi pesawat, tapi bukan.
Rudal... ada 4 rudal. Tepat mendarat di bandara.
Mendarat...
Boomm...!!
Hanya aku yang selamat. Aku hanya terjatuh dan menyaksikan orang-orang di sana terkapar.
Aku mendengar suara ambulan. Tapi ada juga bunyi tembakan.
Entah bagaimana aku bisa lolos, kabur dari sana.
Dengan balon merah di tangan ku. Aku berjalan di jalan raya dengan bangunan yang hancur di sampingnya. Banyak mobil megah yang rusak tertimpa reruntuhan, bahkan beberapa orang yang tewas di sana.
Aku kehilangan rasa takut. Yang ada hanya rasa putus asa.
Lalu... Aku merasa lelah. Kemudian duduk di sebuah tempat duduk yang masih utuh di tepian jalan.
Aku bertanya-tanya, "Kemana semua orang?".
Hanya ada balon merah itu di tangan ku. Saat sedih, saat memeluk balon itu... Rasanya kesedihan ku menghilang.
Aku selalu berkata, "Balon... apakah ayah ku menjadi balon...?".
Tapi balon mudah meletus.
Aku melihat salah satu anggota tim evakuasi. Mereka mendekat dan menggendong ku pergi dari Cina.
Mereka juga tetap membiarkan mu dengan balon.
Tidak ada tempat evakuasi lagi di Cina. Aku di bawa ke atas helikopter.
Aku melihat... Cina... hancur. Bukan hanya itu. Aku juga melihat iblis mengerikan... di sana... Dia Naga... Dia dengan ekornya menghancurkan beberapa bangunan di sana.
Sialnya... Hanya aku yang bisa melihat itu.
Bangun... Dan aku tiba di sebuah tempat evakuasi yang di penuhi orang. Entah dimana tempat evakuasi itu.
Tapi balon ku tidak ada di tangan ku. Aku memutuskan untuk mencarinya.
Ketika keluar dari dalam tenda. Aku melihat balon ku mengambang di terpa angin. Aku tetap keluar mengejarnya. Tanpa di ketahui para penjaga.
Aku merasa Balon itu sangat penting saat itu.
Aku terlalu jauh.
Aku lupa dimana jalan menuju ke tempat pengungsian. Aku memilih mengejar balon ku.
Tapi balon ku pergi ke atas. Aku sudah tidak dapat menjangkaunya.
Tapi ada seseorang bertubuh besar. Dia memiliki tanduk, pakaiannya juga aneh sekali seperti pakaian kuno.
Dia muncul entah dari mana, dia membantu ku mengapai balon merah ku itu.
Dia lalu memberikan balon itu kembali kepada ku.
Aku hanya bilang terima kasih, dan bertanya namanya. Namanya adalah Jian. Rupanya dia adalah seorang pria iblis.
Jian berkata, "Apa aku takut".
Aku hanya menjawab dengan berkata, "Apa itu takut?".
Jian terkejut saat tahu aku tidak tahu apa arti ketakutan.
Aku lanjut berkata, "Takut hanyalah ahlinya perusak, kemana aku harus takut?".
Terdengar sangat tragis.
Jian dia mengerti perasaan ku, dia lebih mendekati ku dan berkata, "Balon ini... Apa berharga bagi mu?.
Aku hanya menjawab, iya. Lalu kalimat yang membuat ku termenung keluar dari mulut Jian, "Balon... bisa meletus dan hancur hanya oleh sebuah jarum, dan jika dengan jarum yang banyak ia tak akan bisa hancur".
Perkataan Jian membuat ku tak bisa berkata-kata. Dia membuat ku bingung.
Aku yang polos lalu berkata, "Hei iblis... namamu Jian... balon ini aku yang memintanya dan dia membuat ku ada di sini.... Bawalah aku... Aku tidak menginginkan balon ini lagi.
Jian dia mengerti. Dia lalu mendekati aku dan kemudian mengendong ku pergi.
Jian dia dengan sedih berkata, "Aku akan membawa mu bersama ku. Maaf karena dunia kita semua terlalu kejam".
Sejak saat itu, aku dan Jian hidup bersama. Dia bagaikan seorang ayah. Dia mirip seperti ayah ku.