***
Rintik hujan membasahi bumi, di tengah senja yang mulai redup. Aku duduk di sebuah halte yang sangat sepi, hanya ada aku dan suara rintik hujan yang bermelodi. Sambil menutup mata ditemani sejuta mimpi, membayangkan indahnya hidup tanpa beban pikiran apapun.
Namun mimpi indah ku itu buyar ketika seseorang memanggil nama ku.
Saat ku buka mataku dan menoleh ke arah orang itu, ternyata dia seorang siswa sama seperti diriku, Hanya saja dia terasa sedikit familiar namun aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi bagaimana dia bisa tau nama ku?,Pikir ku.
“Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tau namaku, apa kita saling kenal?” Tanya ku pada laki laki itu.
Setelah aku bertanya, entah mengapa dia langsung tersenyum kepadaku. Aku terdiam sejenak menatap wajahnya, laki laki itu sangat tampan. Dia memiliki wajah yang sempurna juga memiliki tubuh yang ideal dan tinggi persis seperti seorang pangeran, hanya saja dia memakai seragam SMA yang berarti dia bukan benar benar seorang pangeran.
“Hai Aluna, nama ku Alaska”ucap laki laki itu sambil mengulurkan tangannya padaku.
Meskipun masih merasa sedikit bingung aku pun memutuskan untuk menjabat tangannya yang terasa sangat dingin, mungkin karena hujan dia jadi kedinginan, ditambah dia tidak memakai jaket sama sekali.
Setelah berjabat tangan aku pun masih penasaran kenapa lelaki bernama Alaska ini bisa tahu nama ku, sedangkan kami baru saja kenal. Aku pun langsung bertanya padanya mengenai hal itu, setelah mendengar jawabannya aku pun merasa kikuk karena Alaska tau nama ku dari papan nama yang melekat di saku kiriku, bisa bisanya aku lupa kalau aku masih memakai seragam sekolah yang ada papan namanya.
Sebenarnya aku masih sedikit bingung kenapa Alaska tiba tiba ada di sini padahal saat aku datang tidak ada satupun orang di halte ini ,mungkin dia datang setelah aku ada disini, tapi aku tak mendengar langkah kaki nya sama sekali. Kemudian aku memutuskan untuk kembali menutup mataku dan berkhayal sambil mendengar melodi rintik hujan yang menenangkan.
Tapi Alaska kembali memanggil nama ku dan seketika juga khayalan ku buyar olehnya.
“Aluna, kamu suka hujan?” Ucap Alaska bertanya padaku.
“Iya” jawabku singkat
“Tapi kenapa kamu selalu menutup mata saat hujan, bukanya kamu suka hujan, Mengapa tidak menatap nya?” Tanya Alaska lagi sambil menatap rintikan hujan yang jatuh dari langit.
Aku menghela nafas sejenak lalu menjawab pertanyaan dari Alaska. Meskipun Aku merasa sedikit bingung kenapa dia menanyakan itu. mungkin dia hanya basa basi saja agar tidak bosan, pikir ku.
“Iya aku memang suka dengan hujan tapi aku lebih suka menikmati hujan sambil memejamkan mataku dan mendengar melodi dari rintikan hujan yang jatuh ke bumi, itu membuat pikiran ku terasa lebih tenang”. Kata ku sambil tersenyum pada Alaska yang duduk di samping ku.
Alaska juga kembali tersenyum padaku lalu tanpa permisi tangan Alaska mulai menyentuh pucuk kepala ku dan membelainya dengan lembut. Sementara diriku hanya bisa terdiam mendapati perlakuan Alaska padaku, entah mengapa semua ini terasa familiar untuk ku tapi aku tidak bisa mengingat apapun.
Tanpa disadari cairan bening keluar begitu saja dari mataku dan mengalir membanjiri pipi, aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku menangis? Aku sendiri tak tau jawabannya.
Melihat air mata yang terus mengalir di pipiku, Alaska menghapusnya menggunakan tangannya. Saat tangan kekarnya menyentuh pipiku, aku bisa merasakan tangan itu begitu dingin bak es batu.
Alaska menatap dalam mataku dan memegang pipiku sambil mengusap jejak air mata yang terus mengalir “Luna jangan nangis lagi ya, Luna harus hidup bahagia” ucapnya.
Aku semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi, kepalaku terasa sangat sakit, dan air mata ku tak berhenti mengalir. Sebenarnya Aku kenapa? Kenapa Aku menangis di hadapan orang yang tak kukenal? Dan kenapa dia berkata Aku harus hidup bahagia?.
“Luna harus janji ya tidak boleh sedih lagi , kata Luna, Luna suka hujan kan?, kalau Luna suka hujan harus nya Luna sekarang senyum bukan menangis”. Ucap Alaska.
Sungguh Aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi, di kepalaku seperti berputar banyak memori memori yang tak Aku ingat, rasanya kepalaku sangat sakit, Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Mataku mulai terpejam dan tubuhku perlahan jatuh kepangkuan Alaska. Aku hampir tak sadarkan diri namun sayup sayup terdengar suara Alaska seperti mengatakan sesuatu.
“Luna kalau kamu sudah ingat semuanya, tolong tetap jadi Luna yang suka hujan ya, aku tidak mau Luna benci hujan karena aku” ucapnya sambil memangku kepala ku.
“Dan selamat tinggal Luna, Luna harus hidup bahagia ya tanpa Alaska” ucapnya lagi , Aku masih bisa merasakan bahwa Alaska mencium keningku sebelum aku benar benar tak sadarkan diri.
***
Hujan telah reda dan dingin malam kini menusuk kulit tubuhku. Aku terbagun dari pingsan di tempat yang sama, bedanya saat ini tidak ada Alaska di sampingku. Air mata kembali mengalir membanjiri pipiku, sekarang aku ingat siapa Alaska dan kenapa dia menyuruhku agar tidak membenci hujan setelah aku ingat semuanya.
Alaska, dia adalah sahabat baik ku sejak kecil dan saat sudah mulai remaja hubungan kami jadi semakin dekat. Kami sangat sering menghabiskan waktu bersama bercerita tentang berbagai hal apalagi saat hujan mulai turun, aku dan Alaska selalu bermain di bawah guyuran air hujan yang membasahi tubuh kami dan setelahnya kami akan sama sama tidak masuk sekolah karna deman selepas bermain hujan.
Sekarang aku hanya bisa menangis tersedu mengingat Alaska yang tadi datang menemui ku.
“Askaa...harusnya Luna yang mati.. Bukan Askaa.. “ isak ku
Banyak orang orang yang berlalu lalang memperhatikan ku tapi aku sama sekali tak memperdulikan itu, saat ini aku hanya mau Alaska kembali berada di sisiku seperti dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.
“Askaa… Alaska maafkan Luna karna tidak ingat Aska..” Ucapku lirih masih dengan air mata yang terus mengalir di pipiku.
Kini kepalaku kembali mengingat kapan dan dimana kecelakaan itu terjadi yang membuat aku dan Alaska terpisahkan.
Saat itu hujan turun dengan lebat, aku dan Alaska bermain kejar kejaran di tengah hujan saat pulang sekolah sambil menuju ke halte bus terdekat. Saat ingin menyebrang jalan aku tak melihat ada mobil yang akan lewat dan dengan bodohnya aku berlari ingin menyebrang sekaligus menghindari Alaska yang sedang mengejar ku menuju halte bus.
Saat mobil itu hampir menabrak tubuh mungilku, aku ingat Alaska berhasil mengejarku dan memeluk erat tubuhku sebelum sebuah mobil sedan berwarna hitam itu menabrak kami berdua dan kecelakaan itupun terjadi yang membuat ku kehilangan ingatanku dan kehilangan Alaska untuk selamanya.
Tamat