SLICE OF LIFE
Ali, hari ini gak usah sekolah, bantu bibi cari kayu bakar ke hutan!"
"Tapi, Bi, hari ini ada ulangan di sekolah."
Bi Ratna menaruh piring dengan kasar di meja, ia melotot pada Ali.
"Kita ini orang susah, untuk apa sekolah? Toh, ujung-ujungnya paling jadi kuli." Bocah laki-laki dua belas tahun itu menunduk, sesekali matanya melirik piring yang berisi dua telur ceplok. Mungkin pagi ini ia tidak dapat sarapan, lagi.
"Lagian, sudah tiga bulan ibumu gak ngirim uang, jangankan buat biaya sekolah, buat makan aja susah," tutur Bi Ratna. Ia membagi nasi sisa semalam di tiga piring. "Kamu nanti sore saja makannya, bibi belum beli beras, ini buat paman dan Bimo."
Ali seorang yatim, kehidupan yang pas-pasan membuat ibu kandungnya harus bekerja di negri orang dua tahun terakhir ini. Kehidupan bi Ratna pun gak jauh berbeda. Pekerjaan suaminya tidak tentu, terkadang bisa sampai berbulan-bulan ia tidak dapat kerjaan.
Ali pergi ke sekolah dengan perut kosong, itu sudah biasa baginya, terkadang bibinya tidak memberi ia makan seharian dengan berbagai alasan, padahal ibu Ali selalu mengirim uang setiap bulan untuk makan dan biaya sekolah. Hanya sudah tiga bulan ini tidak ada kiriman, bahkan kabar saja tidak. Berbeda dengan bibinya yang nampak biasa saja, bocah itu selalu tidak tenang, ia khawatir terjadi sesuatu pada ibunya.
"Tidak ada telpon dari ibu mu, Nak."
Selalu jawaban itu yang di dapat. Setiap hari Ali datang ke rumah juragan Yayu. Karna hanya ia yang punya telpon di kampung itu, pada dia juga ibunya selalu menitipkan sejumlah uang.
Siang itu Ali kembali ke rumah besar di ujung desa, dan jawabannya masih sama. Namun ketika ia hendak pulang, seseorang memanggilnya.
"Ali! Juragan memanggilmu, katanya ibu kamu menelpon!"
Senyum mengembang di wajah bocah itu, matanya berkaca, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Ali berlari secepat yang ia bisa, takut jika sambungan telponnya terputus. Ia sangat ingin mendengar suara yang selalu dirindukannya siang malam.
"Ibu, Ali kangen ..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut bocah itu, selebihnya ia hanya terisak. Ingin rasanya ia mengadu perlakuan bibinya selama ini, namun itu hanya akan membuat ibunya khawatir.
"Sabar, ya. Nak. Insyaallah sebentar lagi ibu akan pulang."
Ali memberitahukan kabar baik ini pada bibinya, namun sepertinya dia tidak senang.
"Kenapa pulang? Terus mau kerja apa di sini? Gimana nasib kita nanti?" ucap Bibinya
Setelah mendengar kabar itu, Ali selalu bersemangat. Sesekali Ia pulang ke rumah yang pernah di tempati bersama ibunya untuk membersihkannya, takutnya ibunya pulang besok atau lusa, sementaranya rumahnya masih berantakan.
Memang lebih layak rumah bibinya dari pada tempat itu, tapi senyaman-nyamannya tinggal di tempat saudara, lebih nyaman tinggal di rumah sendiri dan keluarga sendiri.
Belakangan tujuan Ali bukan lagi rumah juragan Yayu, tapi ujung Desa dekat jalan Raya. Berharap ibunya turun dari salah satu angkutan kota yang lalu lalang. Jika pulang ia tidak akan membiarkan ibunya pergi lagi.
Sebuah mobil sedan warna hitam berhenti di depan rumah panggung usang, atap dan dindingnya sebagian sudah hancur, pijakannya pun sudah mulai rapuh.
Pemilik mobil itu dengan hati-hati masuk kedalam.
Keadaannya masih sama, seperti terakhir ia tinggalkan 15 tahun lalu.
Ia berusaha membuka lemari reyot yang di penuhi debu dan sarang laba-laba.
Disana terdapat koran lama yang bertulisan. "Lagi, seorang TKW meninggal karna di s1ksa majikannya.