Rasanya sisi tubuh bagian kananku kesemutan dan terasa tebal. Rasanya kaku tapi juga terasa tak bertenaga.
Sungguh sangat merepotkan! Seperti itulah rasanya stroke.
Kondisi ini bermula ketika suatu hari sahabat SMP ku berniat datang ke rumahku pagi-pagi. Seperti biasa dia selalu mencurahkan segala masalahnya padaku. Dia beruntung aku seorang yang mau mendengarnya meskipun aku tak pernah memberikan solusi yang baik padanya. Dan dia juga tidak memintanya. Tapi...
Pagi itu dia memintaku menemaninya mengurus kartu KISS putrinya yang masih kecil, yang saat itu harus di-opname di sebuah rumah sakit.
"Temani aku yuk, ngurus BPJS anakku." chatingnya di platform Whatssup.
"Sekalian pinjam duitnya..." sambungnya.
"Berapa?" tanyaku karena aku tahu keadaannya akupun berusaha menyanggupinya.
"Terserah berapa saja.." balasnya tanpa menyebut nominal.
Aku pikir kalau hanya sekedar ngurus BPJS Pemerintah tidak sampai dua puluhan, kuputuskan akan meminjami nya lima puluh ribu.
Waktu itu sebenarnya aku sedang sibuk mengejar deadline novel-novelku. Tapi untuk sahabatku yang lagi kesusahan itu biarlah ku jeda sebentar menulis novelnya. Toh masih banyak waktu luang. Aku beranjak mengambil kartu ATM dan menunggunya sambil sesekali melanjutkan menulis novelku di handphone.
Singkat cerita dia datang dengan motor maticnya. Aku bergegas menghampirinya.
"Pakai helm nggak?"tanyaku.
"Gak usah!" ujarnya.
"Sakit apa putrimu?" aku penasaran.
"Belum ada hasil laporannya tapi dia tadi kejang-kejang dan muntah." jawabnya.
"Pamanmu masih ada yang merokok?" tanyaku menduga-duga. Dan dia menganggukan kepalanya, "Yah dia pikir merokok di teras depan gak ada pengaruhnya, maklum masih kolot."
Akupun segera membonceng di maticnya.
"Kita ke ATM dulu ya.. "
"OK!"
Setelah menarik uang akupun memberinya lima puluh ribu. Dan bergerak menuju kantor BPJS terdekat.
"Berkas-berkasnya sudah komplit?" tanyaku setelah sampai di depan kantor BPJS.
"KK, KTP, foto copy KISS mudah-mudahan cukup."
"Eh, biasanya itu ada surat keterangan dari RT, RW, dan kelurahan lho, kayak aku dulu." aku mengingatkan kasus KISS-ku dulu sewaktu dinyatakan tidak aktif sambil melangkah memasuki kantor itu. Di dalam sudah banyak orang yang mengantri. Ketika hendak mengambil nomor antrian, seorang satpam bertanya padanya.
"Ada perlu apa pak?"
"Ini pak saya mau mengaktifkan BPJS putri saya, karena nggak pernah di pakai jadinya gak bisa teridentifikasi." jawab temanku.
"Maaf Pak, ini BPJS yang dari pemerintah atau yang mandiri?" tanya satpam tersebut.
"Ini yang dari pemerintah pak."
"Wah sekali lagi maaf Pak, kalau di sini khusus BPJS mandiri kalau yang dari pemerintah bapak seharusnya datang ke Dinas Sosial." satpam itu memberi penjelasan.
"Kira-kira berkas apa saja ya pak, yang perlu saya bawa?" temanku berbasa-basi.
"Bapak mesti mencari surat keterangan dari RT, RW, dan kelurahan dulu."
"Nah bener, kan?!" kataku ketika kami beranjak keluar dari kantor itu.
Dia kemudian melajukan motornya ke arah kantor kelurahannya, sepuluh menit dari tempat itu.
Hampir saja aku merokok, waktu itu memang sedang bulan ramadhan. Di kotaku memang lain, di bulan puasa semua warung makan tetap buka, semua warga di kotaku sepertinya sudah menyadari arti puasa yang sebenarnya. Yang berpuasa gak baperan lihat yang gak puasa.
Aku sendiri heran melihat beberapa orang terlihat merokok di trotoar sambil berjalan dengan santainya, tanpa di demo yang berpuasa. Aku orang yang di ajari apa itu toleransi jadi ku urungkan niatku untuk merokok.
Sesampainya di kantor kelurahan, seorang ibu petugas melayani kepentingan temanku. Cukup lama, ternyata dia diminta surat keterangan serta tanda tangan dari RT selain itu dia harus mengisi formulir yang harus disertai meterai dan menyerahkan semua berkas itu ke Dinas Kesehatan.
Selepas urusan di kantor kelurahan dia menuju rumah pak RT yang ternyata berada tepat di depan kantor kelurahan tersebut. Pak RT ternyata masih bekerja, untungnya ada Bu RT yang mau memberi cap dan tanda tangan mewakili suaminya.
"Kita perlu ke tempat pak RW nggak?"
"Nggak perlu, RT saja sudah cukup tapi kita ke rumahku dulu ambil fotocopy surat kelahiran putriku dan aku mau beli makanan buat istriku yang lagi nemenin putriku."
Kami pun menuju rumahnya yang berada di gang gang kecil, dia memarkirkan motornya jauh dari rumah kontrakannya yang masuk ke dalam gang kecil. Aku tidak mengikutinya, kesempatan itu kugunakan untuk merokok karena bibirku sudah terasa "kecut" selain itu di sekitar tempat itu sepi dan tidak janggal untuk merokok.
Ketika rokokku sudah habis tak lama dia pun datang sambil membawa kotak nasi.
"Nih, buatmu di rumah masih banyak."
"Lho, katanya istrimu belum makan?" kataku mengingatkannya.
"Itu isinya lele goreng, istriku gak suka ikan lele."
"Mau aku yang ganti bawa motornya? "
"Nggak! Cukup satu kali seumur hidup aku mbonceng kamu." katanya sambil nyengir karena pernah ketakutan setengah mati ketika aku bonceng setahun yang lalu.
Dia berhenti di warung terdekat dan membeli roti serta minuman dalam kemasan kotak untuk makan siang istrinya. Segera kami mampir ke rumah sakit yang kebetulan dekat dengan rumahnya, menengok anak istrinya.
Aku tidak ikut masuk menjenguk aku hanya menunggu di ruang tunggu dekat pintu masuk rumah sakit. Anaknya masih berumur beberapa bulan dan aku tidak ingin menkontaminasi ruangan yang harusnya steril itu.
Agak lama menunggunya dan waktu sudah beranjak ke tengah hari. Matahari sudah mulai merayap tepat di atas kepala dan kulihat temanku sudah mulai bergerak lagi, tinggal foto copy surat kelahiran dan beli meterai untuk disematkan di formulir yang dari kelurahan, entah formulir apa itu. Dan setelah itu ( memfotocopy dan membeli meterai) kami pergi ke kantor Dinas Sosial, terngiang-ngiang kata-kata pak satpam yg sebelumnya ada dikantor BPJS kami bergerak menuju kantor Dinas Sosial. Menyusuri jalanan kecil biar tidak bermasalah dengan pak polisi karena kami berdua tidak memakai helm. Kami pun sampai di kantor Dinas Sosial. Memarkirkan motor dan aku kembali berniat untuk merokok, soalnya di tempat parkir yang cukup tersembunyi itu ada dua orang pekerja yang sedang merokok.
"Aku merokok dulu ya di sini?" kataku ke temanku.
"Ya, tapi lagian ini juga masih jam istirahat." jawabnya.
Benar saja ketika dia beranjak ke depan pintu kantor utama, seorang satpam bertanya kepadanya dengan sopan.
"Ada perlu apa mas?" tanya satpam itu.
"Oh ini pak, mau mengaktifkan kartu KISS anak saya." ujar temanku.
"Sekarang jam istirahat mas, nanti jam satu mas-nya bisa kemari lagi."
Tiba-tiba seorang petugas wanita datang dan ikut bertanya. Ketika temanku menjelaskan padanya, ternyata menurut penjelasannya kami harus mengurus aktivasi kartu kesehatan anaknya itu ke Dinas Kesehatan yang berada dekat Balai Kota.
Karena kami kurang jeli penjelasan petugas kelurahan yang memang menyuruh kami ke Dinas Kesehatan dan malah terngiang penjelasan satpam di kantor BPJS di awal cerita dan pengalamanku dulu yang juga mengaktifkan kartuku di kantor Dinas Sosial.
Menurut penjelasan petugas kantor Dinas Sosial itu khusus kasus yang urgent dan emergency mesti diurus di kantor Dinas Kesehatan. Aku tak jadi merokok, karena kami berdua bergerak kembali menuju Balai Kota dimana kantor Dinas Kesehatan berada.
Menyusuri trotoar Jalan Slamet Riyadi perutku mulai keroncongan.
"Makan dulu yuk!?" kataku.
Aku juga berpikir temanku pun belum makan sedari pagi.
"Yuk, tapi yang ringan saja ya?"
"Soto?" aku menawari dia.
"Jangan, semacam roti sajalah." dia menolak tawaranku. Akhirnya kami kembali memasuki jalan tikus sambil mencari-cari warung kelontong. Dan berhenti ketika menjumpai, dia ternyata berniat membeli minuman yang ada jelly nya dia bilang itu lumayan untuk menahan lapar sementara.
Tapi sayang warung itu tidak menjual produk yang dimaksud temanku, alhasil dia malah tak membeli apa-apa dan kembali meneruskan perjalanan menuju Balai Kota. Kami tak jadi makan siang! Aku sebenarnya sedikit "nggrundel" gak jadi mengisi perutku.
Memasuki Balai Kota kami pun menuju kantor Dinas Kesehatan, dan karena masih jam istirahat kami pun terpaksa harus menunggu beberapa menit lagi. Ketika jam istirahat sudah selesai dipanggillah temanku.
Semua berkas diserahkan dicek satu persatu dan akhirnya kartu KISS anaknya pun telah bisa diaktifkan meskipun ada satu berkas yang kurang dan bisa diserahkan besok hari. Lega semua dilancarkan dan kami pun pulang. Di perjalanan aku bilang dia lebih baik beli mie instant saja.
"Kita masak di rumahku saja." kataku.
"Oke, mau yang rebus atau yang goreng?" sahutnya.
"Rebus, rasa ayam bawang." usulku.
Dan kami pun meluncur pulang ke rumahku dan tak lupa membeli mie rebus instant rasa ayam bawang. Di rumah aku olah mie instant itu. Matang. Kusajikan padanya. Kami lahap menghabiskan mie rebus itu. Dan aku kembali mengambil handphone-ku melanjutkan menulis novelku.
Dan dia pamit mau kembali menjenguk anak istrinya. Kulihat raut mukanya sudah tak sesuntuk waktu dia datang pagi tadi. Siang itu aku memaksakan menulis tiga bab untuk ketiga novelku.
Kuperas otakku sampai selesai dua bab, tinggal satu bab lagi. Sebenarnya mataku sudah teramat lelah waktu itu dan biasanya aku juga menyempatkan diri tidur siang, tapi tidak untuk hari itu.
Tinggal satu bab dan aku berniat mengerjakannya di malam hari, kusempatkan diriku masuk dalam forum penulis, membaca keluhan, tips dan menyapa teman-teman penulis dalam kolom yang semacam kolom chat tapi tidak live.
Singkat cerita aku mulai menulis kembali sekitar jam setengah satu pagi! Tiba-tiba kurasakan pandanganku mulai berputar-putar, keringat keluar dan tubuhku terasa lemas. Aku mulai merasakan kesemutan di kaki kiriku, aku berusaha tidak panik dan tetap tenang, kucoba mengatur nafasku pelan-pelan.
Tarik nafas tahan beberapa detik dan hrmbuskan berulang kali tapi tetap saja rasa kesemutan itu menjalar kebagian atas tubuhku dan tangan kiriku pun mulai merasakan kesemutan. Aku mengerang memanggil-manggil kakakku.
Kakak perempuanku terkejut melihat kondisiku sambil menggerutu merasa terganggu waktunya.
Aku minta di opname dini hari itu. Kami pun akhirnya pergi ke UGD sebuah rumah sakit. Di situ aku diperiksa dan permintaan opname ternyata ditolak. Dengan alasan apa yang kualami masih bisa dirawat jalan dan tak perlu diopname.
Padahal tangan dan kaki kiriku sudah tak berdaya. Kemudian petugas UGD itu menawarkan aku untuk disuntik, aku bingung tapi kakakku mengiyakannya. Akhirnya tangan kananku disuntik empat jenis cairan.
Dan kami disuruh meninggalkan tempat itu. Ketika berada di lobby UGD perutku terasa mual dan seketika aku pun memuntahkan isi perutku yang ditadahi plastik kresek. Katanya aku mengalami vertigo dan jika sudah muntah tandanya itu sudah membaik.
Tapi setibanya dirumah tiba-tiba kaki kananku justru mulai kesemutan dan menjalar ke bagian atas tubuh sebelah kananku dan terasa benar mati rasa. Akhirnya kami pun kembali ke rumah sakit yang sama, kali ini aku benar-benar harus di opname. Dan selama tiga hari aku mondok di situ.
Esoknya hasil pengecekan laboratorium menganalisa bahwa asam urat dan kolesterolku tinggi di atas standar yang seharusnya, juga trigliserida yang di atas rata-rata. Sementara hasil rontgen tengkorak kepalaku terdapat penyumbatan saraf di otak kiriku.
Jadi saraf motorik sebelah kananku yang terganggu. Hingga hari ini masih juga belum lancar entah sampai kapan. Cerpen ini aku tulis menggunakan tangan kiri. "Yah mudah-mudahan cepat sembuh." kata temanku setelah tahu kondisiku.
"Hmmm.... ".
Solo, 11524
_____Tamat_____
Tenth_Soldier