Aku mulai memejamkan mata ku. Aku terasa kenangan kenangan masa lalu itu terus mendobrak tembok tinggi itu. Aku terbangun dari tidur malam itu, Aku tidak mau melihat di belakangku yang penuh dengan luka luka berat bagiku dirimu lah yang membuat ku seperti ini yang hancur dalam kerumunan orang orang. Tapi, aku tidak merasakan sakit itu lagi. Tapi, hal itu terulang lagi aku mulai merasakan sakit itu sebelumnya, aku gagal lagi tentang itu. Sekarang aku sulit untuk berlari menuju kedepan ku, aku masih betah dengan masa lalu ku tapi kenapa harus bisa sekecewa ini dengannya.
Aku merasa rindu ku dengan nya terus menerus mengejarku. Dulu, Aku mulai memejamkan mata ku. Sakitnya masih sama seperti dulu. Ketika hati ku dibuat sekecewa mungkin baginya dibuang semena mena oleh pacar ku. Dia adalah pacar ku yang telah membuat ku hancur didunia ini dan ialah yang membuat ku tidak bisa bangkit untuk sekian kali nya. Tapi, aku sangat bodoh seharus nya aku sudah meninggalkan dia tetapi aku menginginkan dia tetap bersamaku seolah bangga berkoalisi untuk melemparku. Menjatuhkan aku hingga jatuh, sejatuh-jatuhnya. Membuat hatiku pecah, sepecah-pecahnya. Hingga aku yakin, aku tidak lagi memiliki hati.
Aku ingin membalas dendam kepadanya tapi aku sadar tidak baik untuk melakukan hal itu kepada ia. Tetapi sakit ini terus menganggu ku terus menerus, apakah aku tidak pantas dengannya atau apa aku se Effort itu tapi itu tidak ada gunanya hanya membuatku lebih lebih jatuh dan mati rasa. Dendamku menjamur, sehingga membenci dirinya sudah jadi hobiku. Sumpah serapah setiap hari rela aku ucapkan, demi memuaskan otakku sendiri, karena hatiku sudah mati. Jadi aku tidak merasa bersalah tetapi ia lah yang selalu salah tapi tidak ingin di salahkan dunia ini sangat tidak adil bagiku hal yang membuatku harus bangkit tapi dikengkang oleh nya.
Tidak ada lagi cerita, canda tawa, senang, susah Semua sudah aku tutup rapat, hingga hanya dendam kesumat yang setiap hari aku semat. Perlahan aku bangkit dengan motivasi dari orang tuaku, tentu saja dengan motivasi mereka lah yang membuat ku percaya dan bangkit. Dendam itu masih ada, tidak pudar sama sekali. Caraku belajar menerima adalah dengan melupakan. melupakan mereka, melupakan masa lalu nya, melupakan kenangan, melupakan rasa sakit itu.
namun tidak akan pernah sudi aku maafkan, meski hanya sedikit. Terima kasih kepada tembok tinggi yang aku ciptakan, karena nyatanya mereka sudah lenyap di belakang bersama raga lama ku itu, hilang bersama suara dan tatapan mata mereka yang perlahan aku tinggalkan. Pernah beberapa kali mereka mencoba memanjat tembok tinggi itu, sekadar menyapaku, menanyakan kabarku, bahkan meminta pengampunanku. Tapi tidak pernah aku hiraukan, hatiku kan sudah pecah dan menghilang menjadi abu yang telah pergi terbawa oleh hembusan angin yang kencang itu. Aku mulai percaya diri dengan diri ku dan aku belajar banyak tentang menjadi diri sendiri itu.
Waktu begitu cepat berlalu. Bertahun-tahun aku menghabiskannya dalam kebencian yang begitu. liar bagiku. Hidupku sudah bahagia sekarang dengan raga yang baruku, setidaknya dengan tanpa mengetahui apa-apa tentang mereka apalagi kenangannya lama nya itu. Ya, aku memilih untuk tuli dan buta tentang diri nya. Aku tidak akan mengemis ngemis waktu darinya. Lantas, apa aku benar-benar bahagia dengan cara hidup ini? Apakah kebencian membuat hatiku kembali.
utuh seperti masa kecil ku yang polos itu? Apa aku mampu berjalan tanpa menoleh ke belakang? Jawabannya tentu saja tidak.
Setelah melangkah maju dengan diikuti tembok raksasa itu, aku akhirnya menemukan makna lain dari suatu kehilangan seseorang yang pernah singgah di dalam hati ini. Ternyata, tidak ada kehilangan yang benar-benar hilang. Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, lebih hebat, dan lebih dari apa yang kita harapkan, Tuhan tetap akan bersama kita di setiap kita berjalan Percayalah, Tuhan selalu tahu bagaimana menciptakan senyum di wajah umat-Nya. Karena, yang selalu aku yakini, Tuhan adalah Pembuat Skenario Terbaik. Tuhan Maha Pemaaf, bahkan ketika aku berbuat khilaf.
Pergantian tahun ini, aku akan memulai semuanya dari awal lagi awal yang dimana aku masih tidak mengenal apa kata dengan luka dan kecewa Masa bersamanya. Membuang jauh kebencian itu, menghancurkan tembok tinggi yang aku ciptakan sendiri. Kenapa? Karena kita butuh masa lalu untuk bersikap lebih waspada ketika menghadapi masa depan kita. Oleh karena itu, di tahun ini, aku berniat untuk berdamai dengan masa lalu yang pernah bersamaku. Sepahit dan sesakit apapun itu, aku akan berterimakasih. Karena kepahitan itu yang membuat aku sekuat, selemah dan setegar saat ini. Dan aku bersyukur atas semua cerita yang Tuhan ciptakan. Kita tidak akan. tahu betapa manisnya gula, jika tidak pernah mencicipi pahitnya kopi itu apalagi tentang kisah kita dahulu.
Aku akan jadi aku yang baru raga baru dan semuanya baru, aku yang selalu belajar untuk mengikhlaskan apa yang memang ditakdirkan bukan untukku dan juga Memaafkan kesalahan orang lain, demi melepas beban yang membuat hatiku menjadi sempit. Berkenalan dengan orang baru, tertawa lepas dengan orang sekitarku dan mengukir cerita indah yang tidak akan ada habisnya. Aku berjanji akan mengembalikan lagi hatiku yang hangat di masa masa lalu itu tapi tidak dengan kenangan nya.
Tidak ada yang rugi dari memaafkan mereka yang pernah hadir di kehidupan walau itu hanya sebentar tapi itu sangat lah lama. Untuk itu, di tahun ini aku akan lebih membesarkan hati untuk memberi maaf, dan lebih waspada dalam bertindak. Aku akan berpikir berkali-kali dalam mengambil keputusan, dan sangat berhati-hati ketika memilih seseorang yang aku percaya untuk menjaga hatiku. Tidak akan aku biarkan hatiku hancur untuk ketiga kalinya. Tidak akan pernah terjadi lah itu.
Aku mulai membuka mata ku aku melihat di jendela kamar ku yang hampir turun hujan itu. Aku hanya tersenyum dan Di dalamnya tidak ada lagi sesak, tidak ada lagi amarah dan kebencian, karena mulai sekarang, aku akan sibuk menebak skenario apalagi yang akan Tuhan hadiahkan kepada ku, dan aku akan sibuk bersyukur atas semua kasih sayang Tuhan yang tidak pernah luntur.
"selamat abadi pada kenangan singkat yang menorehkan duka pada atma yang di singgahi belaka"
By : Kherin