Di kala kelopak mata terbuka dan kehidupan dimulai, air mata kebahagiaan senantiasa mengalir dari pelupuk mata kedua insan manusia. Di mana dalam hati telah berjanji menjaga permata berharga yang Tuhan titipkan untuk mereka.
Mungkin ....
Mungkin semestinya, di awal mereka berganti peran, mereka berusaha untuk memerankan peran mereka dengan baik. Merawat, mendidik, dan menjaga serta memberikan pengertian dengan kata-kata yang lembut, selembut dan semenenangkan dawai surga, kasih sayang dan perlakuan yang lebih lembut daripada sehelai kain sutra.
Terlebih sang nahkoda keluarga. Di mata anak-anak mereka, seharusnya menjadi sosok pelindung, sosok pendidik, sosok penjaga, dan sosok penguat ketika sang buah hati terjatuh. Layaknya seorang superhero.
Seharusnya ... iya, seharusnya ....
Akan tetapi, sepertinya aku hanyalah seorang pemimpi, seorang yang gemar berkhayal yang ingin hidup indah layaknya dalam negeri dongeng.
Ini bukan soal harta ....
Bukan juga soal tinggal di sebuah istana megah.
Akan tetapi, ini soal kehidupan keluarga sederhana, dengan kasih sayang yang berlimpah. Terlebih dari sosok sang superhero.
Benar kata orang, “Hidup itu tak seindah mimpi"
Tubuhku seperti dihempaskan ke dalam jurang kehidupan yang kejam bagai sebuah neraka.
Di mana setiap hari rasa sakit merayap ke sekujur tubuh dan ke dalam hati, hingga merasuk ke dalam jiwa.
Setiap hari telingaku rela dibuat tuli oleh sumbangnya suara, hatiku menjadi sebuah kanvas untuk luka yang terlukis akibat mulut cambuk superheroku.
Rasa pedih menari-nari kemudian mendekap erat hatiku, air mata pun seakan enggan untuk menetes lagi. Bahkan dunia seakan menuli akan kesakitan yang menghantam diri ini.
Hingga membuatku ingin mengakhiri hidup ini.