Perkenal kan namaku Safia, aku terlahir dari keluarga miskin dan saat ini ibuku bekerja di kota sebagai pembantu di rumah orang kaya.
Rencana nya ibu akan mengajak ku bekerja saat aku sudah lulus SMA. Dan saat ini aku sedang menyelesaikan ujian terakhir ku di SMA negeri satu di kampung ku.
Ujian terakhir berjalan lancar dan tak ada kendala apapun. Dan saat ini aku boleh berlega hati karena dengan lancar mengisi beberapa pertanyaan di lembar kerja ku.
-
Sebulan berlalu, ibu pulang untuk menjemput ku ikut ke kota hari ini. Ada rasa bahagia dan ada juga rasa sedih akan meninggalkan kampung halaman ku.
5 jam berlalu, dan akhir nya kami sudah sampai di depan sebuah rumah megah dan berpagar menjulang tinggi ke atas.
"Bu, apa ini rumah majikan ibu?" Kata ku sambil melongok mengetahui kenyataan bahwa ibu ku kerja di rumah sebesar ini.
"Yo nduk, ibu kerja di rumah seorang pengusaha sukses dan sangbistri adalah artis sinetron." Jawab ibu antusias.
Kami berdua melangkah kan kaki dengan semangat,hingga saat bertemu satpam depan pagar mereka langsung menyapa dengan ramah.
"Mbok mi, ini anak gadis nya ya?" Tanya salah satu satpam.
"Yo Ji." Ibu pun menyuruh ku memperkenalkan kan diri.
Setelah perkenalan selesai, kami berdua pamit untuk masuk ke dalam rumah. Dan saat tiba di dalam rumah mata ku tak henti nya membola sempurna.
"Wooowww..." Hanya kata itu yang bisa aku ucap kan saat ini.
Ibu pun menjawil lengan ku agar tak lama lama terbengong. Aku mengikuti langkah ibu menuju kamar pribadi nya.
Malam pun tiba dengan begitu cepat. Hingga saat makan malam aku menolong beberapa art termasuk ibu ku menyajikan makan malam di meja makan yang begitu mewah.
"Sa, tundukkan kepalamu selama ada di depan majikan, hm!" Kata ibu dan kujawab dengan menganggukkan kepalaku perlahan.
Akhirnya semua anggota keluarga majikan ibu ku berkumpul di meja makan yang begitu besar dan panjang.
"Mbok mi, apa putri mu sudah ada di sini?" Tanya seorang wanita yang menurut ku majikan wanita.
"Sudah nyonya besar." Jawab ibu ku pelan dan sopan.
"Mana dia?" Tanya nya lagi.
Ibu pun membawa ku mendekat ke arah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik saat aku mencoba mencuri curi pandang.
"Tegak kan wajah mu nak?" Kata wanita itu dan dengan perlahan ku naikkan wajah ku menatap nyonya besar yang seperti ibu kata kan tadi.
Saat ku tegakkan wajah ku, aku mendapati wajah yang begitu cantik dan ramah. Di sana juga ada sepasang suami istri yang begitu serasi di mata ku.
"Kamu harus mengenali semua orang di rumah ini, hm. Itu putra pertama ku bernama Matthew Sayersz dan istrinya jezlin. Dan yang itu putri ke dua ku bernama Maryam Sayersz. Dan saya sendiri Laura Sayersz. Dan siapa nama mu nak?" Tanya nya ramah
"Nama saya Safia Hartanto nyonya besar.terimakasih banyak nyonya besar sudah menerima Sandi rumah nyonya besar." Kata ku sambil menundukkan kepala ku hormat.
"Sama-sama nak." Sambil membalikkan tubuh nya menghadap meja makan dan memulai sesi makan bersama.
Semua wajah keluarga Sayersz begitu ramah. Awal nya aku mengira mereka bakal sombong dan arogan, ternyata sebalik nya.
Seminggu berlalu begitu cepat. Aku sudah mulai terbiasa dengan kerjaan ku. Ternyata ibu ku adalah kepala art di rumah megah ini. Mungkin karena ibu ku sudah lama bekerja di sini dan jadi panutan art yang lain.
Kerjaanku tidak begitu berat. Hanya mengurusi tanaman dari depan rumah sampai taman di dalam rumah. Sedang taman yang dari halaman depan sampai ke arah pagar di pegang oleh mang Diman selaku senior mengurusi tanaman.
Setiap pagi dan sore kerjaan aku hanya lahnitu saja. Hingga suatu hari saat aku sedang menyiram bunga mawar depan rumah mata ku terpaku saat tuan muda Mattew memeluk erat tubuh sang istri saat akan berangkat kerja.
**Oh romantis nya...., mereka begitu harmonis ya Allah.** Kusebut nama tuhan ku dalam batin karena sudah menciptakan makhluk yang begitu sempurna dengan kehidupan yang begitu harmonis.
Aku hanya tersenyum menyaksikan keromantisan mereka berdua, hingga sebuah tangan jahil menepuk jidat ku.
Peluk
"Auwww...apaan sih mbak wi!" Jawab ku saat tangan mbak Dewi mendarat di kening ku.
"Iri ya? Nikah Sono?" Katanya sambil tertawa renyah." katanya ngasal.
"Dih, mbak sendiri masih jomblo yang jelas jelas udah tua dari aku!" Jawab ku sedikit sarkas.
"Mbak nggak laku Sa, nggak ada yang mau sama mbak." Katanya lesu dan duduk di bangku taman dekat dengan tempat ku menyiram bunga.
Aku pun memeluk tubuh nya agar dia tidak sedih lagi. Hingga sebuah suara mengagetkan kan ku.
"Safia, sini!" Teriak nyonya besar memanggil ku ramah.
" Ya nyonya besar, apa ada yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya ku sambil menunduk hormat.
"Petikkan saya beberapa batang mawar dan bawa ke kamar saya, hm." Perintah nya dan kuangguk kan kepalaku.
Aku pun mulai memetik beberapa batang bunga mawar kemudian ku letakkan dalam keranjang dan ku bawa masuk ke dalam kamar nyonya besar.
Saat akan memasuki kamar nyonya besar aku sempat berpapasan dengan nona jezlin dan berkata.
"Apa itu bunga untuk mommy Laura?" Tanya nya. Dan aku pun mengangguk cepat. "Biar saya yang bawa ke dalam, sekalian saya ingin bertemu dengan mommy." Katanya lagi dan aku serah kan keranjang bunga ke arah nya.
Aku pun berlalu kembali ke tempat ku menyiram bunga tadi,dan melanjut kan pekerjaan ku dengan cepat.
-
Hari hari berlalu dengan begitu cepat. Pekerjaan ku pun mendapat apresiasi dari nyonya besar hingga sesekali dia akan memberi ku tips.
Bunga bunga selalu bermekaran dengan begitu indah. Terkadang kami berdua menanam bunga bersama. Mariam pun pernah ikut nimbrung dalam menanam bunga saat dia sedang libur bekerja.
Aku sangat senang melihat ke dua putra dan putri nyonya Laura. Mereka memiliki garis wajah cenderung ke bule bule an. Hidung mancung, mata biru, bibir tipis dan memiliki tinggi di atas 170 cm.
Sungguh ciptaan tuhan yang begitu sempurna menurut ku. Tak henti henti nya aku selalu memuji keluarga nyonya Laura.
Hingga suatu hari aku di kejut kan oleh pertengkaran antara Mattew dan jazlin. Entah apa yang mereka ribut kan sampai segitu heboh nya.
Tak sengaja saat aku akan mengambil keranjang bunga ku ke ruangan nyonya besar karena memang nyonya Laura menyuruh ku mengambil nya tadi.
"Cerai kan aku Mattew, aku sudah tak tahan lagi dengan mu !!"
Deg
.
.
.
Bersambung