"Sayang, apa kau benar benar mencintaiku? Apa perasaanmu tidak akan berubah kepadaku? Apa kita akan selalu bersama?" tanya seorang wanita cantik kepada sosok kekasih yang sangat dicintai olehnya.
Sang kekasih menghela nafas berat sembari tersenyum yang sebenarnya itu adalah senyuman yang dipaksa olehnya. Bagaimana tidak? Dirinya sangat lelah karena harus menjawab ketiga pertanyaan yang sama setiap harinya.
"Aku benar benar sangat menyayangimu Tika. Perasaanku tidak akan pernah berubah dan kita akan selalu bersama." jawabnya menarik lembut tubuh sang kekasih ke dalam pelukannya.
Ya, mereka adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama hampir 7 tahun lamanya. Wanita cantik bernama Tika itu sangat menyayangi lelakinya yang bernama Tomo. Percintaan yang mereka jalani adalah hal yang tidak terduga, bermula dari perkenalan tidak disengaja disebuah alun alun kota.
Tika memeluk erat tomo dan Tomo membalasnya dengan lembut, namun matanya terpejam sebentar. Entah apa yang dia pikirkan pada saat itu namun ada rasa pahit yang dia rasakan, sekalipun sedang berpelukan dengan wanita yang sangat dia cintai selama 7 tahun itu. Tomo merasa perasaannya sedikit berbeda. Seperti ada yang berubah. Tapi apa?
"Sayang!" seru Tika menyadarkan Tomo yang melamun itu. Dia merasa Tomo tidak terlalu fokus sehingga pelukannya tidak juga dilepas oleh Tomo.
Tomo tersentak dan menatap Tika dengan mata sayunya. Tidak ada lagi ekspresi berlebihan di wajahnya. Tomo merasa sangat lelah. "Ayo kita pulang." ucapnya singkat lalu berlalu meninggalkan Tika yang menatapinya dengan heran.
"Ada apa dengannya?" gumam Tika terheran heran sembari menatapi punggung sang kekasih yang semakin jauh meninggalkannya. Tidak butuh waktu lama, dia lalu mengejar langkah kaki lebar kekasihnya.
Tika menjalani hari harinya seperti biasa. Wanita manis yang berusia 25 tahun itu selalu terlihat riang dan gembira. Orang orang suka sekali bergaul dengannya karena dirinya yang pandai sekali mencairkan suasana dan dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan. Bahkan boss kantor Tika juga suka sekali memuji kinerja Tika yang bekerja dengan posisi pengawas gudang barang di sebuah perusahaan barang kasar.
Namun sikap dirinya mulai berubah. Orang orang cukup penasaran dengan apa yang membuat wanita sejahil dan seriang Tika berubah menjadi wanita yang dingin dan wajahnya yang terlihat lebih sangar. Dirinya juga suka sekali marah marah, khususnya saat orang orang menanyakan mengenai hubungan romantisnya dengan sang kekasih yang banyak diketahui oleh orang orang.
Ternyata, alasannya adalah karena hubungan dirinya dan sosok sang kekasih Tomo sedang tidak baik baik saja. Seperti halnya pasangan pada umumnya, masalah akan selalu ada pada suatu hubungan dan keduanya akan berusaha menyelesaikan dengan peran keduanya. Namun, berbeda sekali dengan hubungan Tika dan Tomo. Setiap malam, Tika merenung memikirkan Tomo yang menghilang tidak ada kabar secara tiba tiba bak ditelan oleh bumi. Tika berpikir keras memikirkan dimana letak masalah mereka sehingga hubungan mereka yang tadinya indah seperti bunga matahari, namun sekarang retak seperti gelas yang sempat terjatuh.
"Ibu, apakah Tomo pernah pulang ke kost nya?" tanya Tika kepada ibu paruh baya yang diketahui adalah pemilik kost yang ditempati oleh Tomo. Ya, Tomo tinggal di sebuah kost sederhana.
Ibu paruh baya itu tersenyum tipis sembari menghela nafas. Dia menatap kasihan wanita cantik yang ada dihadapannya. Wanita yang hampir setiap hari datang ke tempat kostnya untuk menanyakan seorang pria yang sempat tinggal di salah kost miliknya namun sudah lari entah kemana.
"Ibu sudah beberapa kali mengatakan jika si Tomo tidak pernah lagi kembali ke sini. Barang barangnya juga sudah dia angkat entah sejak kapan." jawab ibu itu jujur. Ya, dia sudah mengatakan yang sejujurnya.
Tika terdiam tidak berekspresi ketika mendengar jawaban yang sama dari ibu paruh baya yang merupakan pemilik kost kekasihnya. Tanpa bertanya lagi, Tika langsung pergi tanpa aba aba atau tanpa pesan seperti biasanya.
Sudah lebih sebulan Tomo tidak kembali dan menemui Tika. Tika sudah mengerahkan upaya dan pengorbanan untuk mencari keberadaan sang kekasih. Kini, Tika yang dulunya adalah wanita cantik dan riang berubah menjadi wanita yang bertubuh kurus dan kering serta wanita si wajah datar. Dirinya juga sudah tidak lagi bekerja karena memiliki gangguan kesehatan jiwa yang diketahui oleh keluarganya. Mirisnya, dia harus dijaga penuh oleh seorang perawat yang disewa keluarganya agar Tika tidak melakukan hal diluar nalar.
"Ibu, apakah Tomo sudah datang untuk menemui ku?" tanya Tika dengan pandangan kosong kepada ibunya yang menyodorkan satu sendok berisi nasi dan lauk yang dipotong kecil kepadanya.
Ibu sumri yang tidak lain adalah ibu kandung Tika hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh dari kedua sudut matanya ketika harus melihat perubahan hidup anak perempuannya yang seperti tidak punya tujuan hidup lagi. Rambut kasar dan tidak terurus, tubuh kurus kering, mata sayu dengan warna kegelapan di kedua mata, serta bau menyengat dari tubuhnya. Sumri merasa iba dan kasihan melihat anak perempuannya yang sekarang.
"Tomo tidak akan kembali lagi sayang. Ibu mohon, lupakan saja dia ya!" ucap sumri dengan suara gemetar. Dia takut Tika akan menghancurkan barang barang lagi seperti biasanya, seperti biasa ketika dia memberikan jawaban "TOMO TIDAK AKAN KEMBALI LAGI."
Kali ini, Tika tidak mengamuk. Dia melirik ibunya perlahan dan tersenyum miring. Matanya yang tadinya sayu berubah menjadi mata yang berbinar. Dirinya mengerjab beberapa kali. Sangat menyeramkan bagi sumri dan bagi siapapun yang melihatnya.
Sumri gelagapan. Tubuhnya bergetar karena merasa takut. Dirinya kemudian meletakkan sepiring nasi Tika yang belum habis. Dia letakkan di meja samping tempat tidur Tika lalu dirinya perlahan menjauh dan segera keluar dari kamar. Dirinya juga masih ingin hidup dan tidak ingin diserang oleh putrinya yang sudah diketahui memiliki gangguan jiwa yang semakin parah.
Tika yang melihat ibunya menjauh dan keluar dari kamar tertawa dengan lepas. Siapapun yang mendengarnya pasti tau jika itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang sangat menyeramkan. Perlahan, suara tawa Tika mulai mereda. Wajah datarnya kembali hadir. Tika melirik jendela yang tertutup. Mendekatinya lalu membukanya perlahan. Dirinya bisa melihat langit gelap dengan angin kencang. Seperti mendung. Bersiap untuk hujan. Tika setiap harinya tidak tau, apa hari terang atau gelap karena kamarnya pasti akan ditutup rapat dan dirinya sesekali pasti akan diikat jika berani keluar atau kabur kembali.
Tika memanjat jendela yang tidak terlalu tinggi itu, dan kemudian melompat ke samping rumah. Entah apa yang dia pikirkan, dia berlari dengan cepat entah kemana. Hanya dia yang tau. Ternyata, Tika memilih berlari ke arah alun alun yang bersejarah di hidupnya. Alun alun itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Walaupun memiliki gangguan kesehatan jiwa, Tika mengingat jalan menuju Alun alun itu.
"Tomo." gumamnya menatap air laut yang gelap. Dekat dari alun alun, ada sebuah jembatan yang tidak terlalu panjang namun dibawahnya adalah laut lepas. Tika berdiri di pinggiran tengah jembatan itu dengan pandangan kosong menatap ke langit malam yang semakin mendung. Samar samar, telinganya mendengar suara yang begitu dia rindukan selama ini. Suara yang selama ini dia cari cari dan yang dia tunggu tunggu kehadirannya. Tika memejamkan mata merasakan sembari mencari arah suara. Namun ketika dia kembali membuka mata dengan posisi yang sudah bergerak dari posisi awal, matanya terpaku pada seorang pria yang benar saja adalah pria yang selama ini memenuhi isi kepalanya. Namun, ada yang berbeda. Laki laki itu terlihat tertawa renyah dan terlihat sangat bahagia bersama seorang wanita yang dia tidak kenal siapa wanita itu. Mereka sangat asik bercanda ria sembari menyantap ketoprak yang berada di pinggiran. Berhubung jalanan yang mulai sepi dan jembatan ini bukan termasuk jembatan lalu lintas besar, tidak terlalu banyak yang lewat sehingga beberapa penjual bisa saja berjualan di pinggiran.
Tika yang melihat itu semua mengepalkan tangannya erat. Sangat erat. Sampai sampai, kuku panjang menembus kulit putihnya sehingga mengeluarkan darah. Tika tidak merasakan sakit apapun. Hanya ada rasa panas yang dia rasakan, tepat di bagian dadanya. Tanpa berkedip sedikitpun, Tika melangkah pelan namun pasti. Dirinya mendekati pedagang bakso yang tidak terlalu jauh dari tempatnya. Dirinya meminjam pisau dengan senyuman ramah membuat sang penjual tidak merasa curiga. Setelah mendapatkan sebuah pisau, Tika mendekati pria serta wanita itu yang terus asik bercanda dan tertawa.
"Halo Tomo, sayang!" ucapan lembut, sangat lembut keluar dari mulut Tika. Senyumannya dia tampilkan dengan maksud yang entahlah, tidak tau apa artinya senyumannya itu.
Sepasang kekasih yang tadinya asik dengan hubungan mereka sedikit tersentak kaget dengan seseorang yang datang secara tiba tiba menghampiri mereka.
"Tika." gumaman pelan namun masih terdengar keluar dari mulut pria itu. Tangannya bergetar memegang mangkuk ketoprak itu sembari mata yang terus menatap wanita yang dia kenal ada di hadapannya. Wanita yang sudah cukup lama dia tinggalkan tanpa kabar. Pria itu menyipitkan mata melihat keadaan tubuh Tika dari atas sampai bawah. Terlihat sangat memprihatikan. Apakah ini semua karenanya?
"Iya aku Tika. Kau masih mengenaliku ya." ucap kembali Tika. Tidak ada balasan dari pria yang tidak lain adalah tomo itu. Tika memicingkan sedikit matanya lalu menghela nafas berat. Tika kemudian melirik wanita yang ada di sampingnya Tomo. Tersenyum. Dia tersenyum lembut.
"Dia penggantiku ya Tomo? Ck, cepat sekali kau menemukan wanita penggantiku. Apa aku sangat kurang di matamu dibandingkan wanita ini?" tanya lagi Tika memandang sinis wanita yang ada di sampingnya Tomo. Percayalah, seorang Tika sedang berusaha menahan panas dan sesak di dadanya.
Tomo memejamkan sejenak matanya lalu membukanya. "Sudah cukup Tika. Aku tidak lagi mencintaimu. Perasaanku sudah berubah dan kita tidak lagi bersama." ucapan jawaban berbeda keluar dari mulut Tomo. Tika tertegun.
"Bahkan sebelum aku memberikan tiga pertanyaan andalanku kau sudah lebih dulu menjawabnya dengan jawaban yang sangat berbeda." ucap Tika pelan namun masih terdengar.
"Tapi itulah kenyataannya!" tegas Tomo tidak peduli dengan perasaan Tika.
"Baiklah, selamat berbahagia." tanpa berucap panjang lagi, Tika langsung berlalu pergi menjauh dari keduanya setelah lebih dulu tersenyum manis kepada mereka.
Tomo dan wanita yang menjadi kekasih barunya saling bercanda ria kembali. Menikmati malam yang bagi mereka malam yang sangat romantis. Di tengah tengah suasana romantis mereka, seorang wanita yang sedari tadi mengintip mereka mulai keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati keduanya.
Srek..srek...
Tanpa kemanusiaan, wanita yang sudah pasti Tika itu menusuk punggung tomo dari belakang. Bukan sekali atau dua kali, dirinya menusuk berkali kali sampai Tomo sudah tidak sadarkan diri. Kekasihnya menjauh dengan histeris bersama orang orang disekitar itu yang melihat peristiwa itu. Tika tersenyum puas setelah melempar pisau ke laut lepas itu. Dia menatap pria yang selama ini dia cintai sudah tidak sadarkan diri. Entahlah, apakah Tomo masih bernyawa atau tidak. Yang pasti, Tika sudah dibawa oleh kepolisian dan keluarga yang datang setelah kejadian itu. Keluarganya histeris. Entahlah, entah bagaimana nasib Tika setelah kejadian itu.