Hari itu, sinar matahari bersinar terang di langit Jakarta. Dr. Arish baru saja berada di luar rumah sakit pusat setelah menyelesaikan shift kerjanya. Di tangannya tergenggam sebungkus makanan untuk Najwa, salah satu pasiennya yang mengidap penyakit mematikan.
Arish telah merawat Najwa selama beberapa bulan terakhir. Meskipun ia sudah mengetahui bahwa waktu hidup Najwa tinggal tidak lama, tapi Arish terus berusaha memberikan perawatan terbaik untuknya. Ia ingin membuat Najwa merasa nyaman dan bahagia selama sisa hidupnya.
Saat Arish tiba di kamar Najwa, ia terkejut melihat Najwa sedang duduk di tepi jendela, menatap kosong keluar.
Najwa, apa yang kamu lakukan di situ? Kamu tidak boleh berada di luar terlalu lama, nanti sakitmu tambah parah! ujar Arish sambil meletakkan makanan di samping tempat tidur Najwa.
Najwa tersenyum lemah dan mengalihkan pandangannya ke Arish. Maaf, Dok. Aku hanya ingin menikmati udara segar sejenak. Toh, hidupku tidak lama lagi, ucap Najwa dengan suara pelan.
Arish merasa hatinya tersentuh mendengar perkataan Najwa. Meskipun mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi Arish merasa ada ikatan emosional yang kuat antara mereka berdua.
Aku punya ide, Najwa. Bagaimana kalau kita membuat daftar hal-hal yang ingin kamu lakukan sebelum meninggal? ucap Arish dengan senyum lembut.
Najwa terkejut mendengar saran Arish. Tapi, rasa penasaran dan keinginan untuk membuat sisa hidupnya menjadi berarti membuat Najwa setuju dengan ide tersebut.
Mereka pun mulai merencanakan berbagai kegiatan yang ingin dilakukan Najwa dalam beberapa bulan terakhir hidupnya. Mulai dari berlibur ke Bali, mencicipi makanan-makanan lezat yang belum pernah dicoba, hingga menonton konser band favorit Najwa.
Setiap hari, Arish selalu datang ke kamar Najwa dan membantu mewujudkan salah satu kegiatan dari daftar mereka. Mereka sering tertawa bersama, menangis bersama, dan menghabiskan waktu dengan penuh kebahagian.
Selama proses perawatan, hubungan antara Najwa dan Arish semakin erat. Mereka mulai saling berbagi cerita, mimpi, dan harapan. Arish merasa sangat terinspirasi dengan kekuatan dan semangat hidup Najwa meskipun dalam kondisi yang sulit.
Suatu hari, Najwa dan Arish memutuskan untuk pergi ke Taman Safari. Mereka menikmati berbagai atraksi dan berinteraksi dengan berbagai hewan yang ada di sana. Saat menjelang senja, Najwa dan Arish duduk di pinggir danau, menikmati pemandangan matahari terbenam yang begitu indah.
Dok, terima kasih atas segala bantuan dan perhatianmu selama ini. Aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersamamu, ucap Najwa sambil menatap mata Arish dengan penuh rasa syukur.
Arish tersenyum lembut. Aku pun merasa bahagia bisa mengenalmu, Najwa. Kau adalah sosok yang penuh kekuatan dan inspirasi bagi banyak orang, termasuk aku.
Mereka berdua saling menatap dalam diam, hingga tiba-tiba Arish menggenggam tangan Najwa dengan lembut. Najwa menatap Arish dengan tatapan yang penuh rasa cinta dan kasih sayang.
Aku mencintaimu, Arish. Meskipun kita tidak akan bisa bersama selamanya, tapi aku akan selalu menyimpanmu di hatiku, ucap Najwa dengan suara yang penuh emosi.
Arish tersentuh mendengar perasaan Najwa. Tanpa ragu, ia pun mencium lembut kening Najwa. Mereka merasakan kehangatan dan cinta yang begitu tulus di antara mereka.
Setelah menutup mata terakhir kali, Najwa perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhirnya. Arish menangis sesenggukan, merasa kehilangan yang begitu besar.
Meskipun Najwa telah pergi, tapi kenangan indah yang mereka lalui bersama akan selalu terpatri di hati Arish. Dia akan selalu mengingat sosok Najwa sebagai inspirasi dalam hidupnya.
Di sisa hidupnya, Arish selalu mengingat pesan terakhir dari Najwa. Bahwa cinta sejati tak pernah berakhir meskipun harus berpisah. Dan bahwa hidup harus dijalani dengan penuh semangat dan kebahagiaan, meskipun cobaan dan tantangan selalu menghadang.