Cahaya pagi menyelimuti seisi dapur, menerangi dua sosok yang beradu pandang penuh kehangatan. Yun Siniang, gadis cantik dengan rambut hitam pekat yang dihiasi bunga melati, berdiri di samping meja dapur, matanya berbinar-binar penuh semangat. Di hadapannya, Dun Ming, pemuda tampan dengan senyuman menawan, menunjukkan cara membungkus bacang dengan daun bambu.
Aroma bambu yang segar dan harum memenuhi ruangan, berpadu dengan aroma beras ketan dan isian daging yang menggoda. Yun Siniang memperhatikan dengan seksama setiap gerakan pemuda itu, jari-jarinya yang terampil melipat dan mengikat daun bambu dengan rapi.
"Perhatikan baik-baik," ujar Dun Ming dengan suara lembut, "Daun bambu harus dilipat dengan rapat agar isiannya tidak bocor saat direbus."
Yun Siniang mengangguk antusias, berusaha menirukan gerakan Dun Ming. "Begini?" tanyanya sambil menggenggam daun bambu dengan ragu.
Dun Ming mendekat, membimbing tangan gadis itu dengan sabar. "Lebih erat sedikit," bisiknya, napasnya menyentuh telinga sang gadis.
Kehangatan tubuh Dun Ming dan aroma maskulinnya membuat pipi Yun Siniang memerah. Ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat, dan ia hampir kehilangan fokus.
"Jangan malu," kata Dun Ming dengan senyuman menggoda. "Aku di sini untuk membantumu."
Yun Siniang tersenyum malu-malu, dan ia kembali fokus pada tugasnya. Kali ini, dia berhasil membungkus bacang dengan lebih rapi.
"Bagus sekali," puji pemuda itu, matanya berbinar dengan kekaguman. "Kau belajar dengan cepat."
Yun Siniang tersipu mendengar pujian itu. Dia merasa senang dan bangga bisa belajar sesuatu yang baru bersama Dun Ming.
Mereka terus bekerja sama, membungkus bacang demi bacang. Tawa dan obrolan mereka mengisi dapur dengan kehangatan dan kebahagiaan.
Di tengah kesibukan mereka, Dun Ming sesekali mencuri pandang ke arah Yun Siniang. Dia terpesona oleh kecantikan gadis itu, oleh semangatnya yang menular, dan oleh kelembutan hatinya.
Di dapur kecil itu, di tengah aroma bambu dan bacang, dia tahu bahwa dia jatuh cinta pada Yun Siniang, dan dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamanya.