Langit malam di atas kota Chang'an diselimuti kegelapan, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang redup. Di sebuah kedai teh kecil yang remang-remang, aku duduk berhadapan dengan seorang gadis pemusik bernama Wan Qing. Dia duduk dengan anggun di atas tikar, jari-jarinya yang lentik memetik senar guqin, menghasilkan melodi yang merdu dan menenangkan.
Aku adalah seorang pengrajin patung kayu, dan kedai teh ini adalah tempat favoritku untuk bersantai setelah seharian bekerja keras. Aku selalu menikmati alunan musik Wan Qing yang indah, dan malam ini pun tidak terkecuali. Namun, ada sesuatu yang berbeda di matanya malam ini. Ada kesedihan yang terpancar dari sorot matanya, dan aku merasa harus melakukan sesuatu.
"Wan Qing," aku memulai dengan hati-hati, "Ada apa denganmu malam ini? Aku melihat kesedihan di matamu."
Wan Qing meletakkan guqinnya dan menatapku dengan tatapan kosong. "Aku tidak tahu," katanya pelan, "Aku hanya merasa... tidak puas dengan hidupku."
Aku terkejut mendengarnya. Wan Qing adalah seorang pemusik yang berbakat dan cukup terkenal. Dia memiliki banyak penggemar dan hidup yang nyaman. "Apa yang bisa membuatmu tidak puas dengan hidup seperti itu?" tanyaku dengan rasa penasaran.
Wan Qing menghela nafas panjang. "Aku merasa hidupku tidak berarti," katanya. "Aku hanya memainkan musik untuk orang lain, menghibur mereka selama beberapa saat, dan kemudian mereka melupakanku. Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang akan meninggalkan jejak di dunia."
Aku mendengarkan Wan Qing dengan seksama, dan aku mulai memahami perasaannya. Aku juga seorang pengrajin, dan aku tahu apa artinya menciptakan sesuatu yang indah dan abadi. Patung-patungku akan bertahan selama berabad-abad, berharap menjadi karya yang bernilai setelah aku tiada.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan," kataku kepada Wan Qing. "Aku pun ingin karyaku meninggalkan jejak di dunia. Tapi, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencapai tujuan itu. Musikmu mungkin tidak abadi secara fisik, tapi melodinya akan selalu hidup dalam hati orang-orang yang mendengarkannya. Kau telah membawa kebahagiaan bagi banyak orang, dan itu adalah pencapaian yang luar biasa."
Wan Qing tersenyum tipis. "Mungkin kau benar," katanya. "Aku hanya perlu menemukan cara untuk membuat musikku lebih berarti."
Kami terus berbicara selama berjam-jam malam itu, saling berbagi mimpi dan aspirasi kami. Aku terinspirasi oleh semangat Wan Qing, dan dia terinspirasi oleh tekadku. Kami berdua tahu bahwa kami memiliki tujuan yang sama: untuk meninggalkan jejak di dunia dengan cara kami sendiri.
Saat malam semakin larut, kami akhirnya memutuskan untuk berpisah. Aku mengantar Wan Qing ke rumahnya, dan kami berjanji untuk bertemu lagi di kedai teh besok. Aku tahu bahwa percakapan malam ini telah mengubah kami berdua, dan aku yakin bahwa kami akan terus saling mendukung dalam perjalanan kami untuk mencapai mimpi-mimpi kami.