Catherine duduk di jendela besar apartemennya yang menghadap ke Danau Geneva. Matahari pagi memancarkan cahaya lembut, menerangi permukaan danau yang tenang. Sudah dua tahun sejak ia pindah ke Switzerland untuk mengejar karir sebagai ahli biokimia. Kehidupan barunya di negara ini cukup menyenangkan, meskipun ada kalanya ia merindukan keluarga dan teman-teman di Indonesia.
Pagi itu, seperti biasa, Catherine menikmati secangkir kopi sambil melihat pemandangan yang memukau. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Ia terus teringat akan pesan singkat yang diterimanya semalam dari Adrian, sahabat masa kecil yang tak pernah ia sangka akan menghubunginya kembali.
"Cat, aku akan ke Switzerland minggu depan. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."
Catherine belum membalas pesan itu. Banyak pertanyaan berputar di benaknya. Apa yang ingin Adrian bicarakan? Mengapa sekarang?
Sejak kecil, Catherine dan Adrian tidak terpisahkan. Mereka tumbuh bersama, bersekolah di tempat yang sama, bahkan memiliki hobi yang sama. Namun, ketika Adrian memutuskan untuk melanjutkan studinya di Amerika, mereka perlahan kehilangan kontak. Kehidupan dan karier memisahkan mereka.
Hari berganti hari, hingga tibalah hari yang dinanti. Catherine berdiri di depan pintu kedatangan di Bandara Internasional Geneva. Jantungnya berdegup kencang ketika ia melihat sosok Adrian muncul di tengah kerumunan. Masih dengan senyum khasnya, Adrian berjalan menghampiri Catherine.
"Cat!" seru Adrian sambil membuka kedua lengannya.
Catherine tersenyum dan memeluk Adrian erat. "Sudah lama sekali, Ad."
Mereka berbincang singkat dan beranjak menuju mobil Catherine. Di sepanjang perjalanan, mereka berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Catherine merasakan kehangatan persahabatan mereka yang seolah tidak pernah pudar meski waktu telah memisahkan mereka.
Sesampainya di apartemen Catherine, Adrian terkesima dengan pemandangan Danau Geneva. "Tempat ini indah sekali, Cat. Pantas saja kamu betah di sini."
Catherine tersenyum. "Iya, pemandangan ini yang membuat hari-hariku lebih cerah."
Malam itu, mereka memutuskan untuk makan malam di restoran tepi danau. Suasana romantis dan indah membuat Catherine merasa sedikit canggung. Ada perasaan aneh yang muncul di hatinya. Apakah ini perasaan rindu yang selama ini terpendam?
Setelah hidangan utama selesai, Adrian memandang Catherine dengan tatapan serius. "Cat, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Catherine menelan ludah. "Apa itu, Ad?"
Adrian menarik napas dalam-dalam. "Sejak kita kecil, kamu selalu menjadi sahabat terbaikku. Tapi, semakin lama kita berpisah, aku menyadari ada perasaan lain yang tumbuh di hatiku. Aku mencintaimu, Cat. Selalu mencintaimu."
Catherine terdiam, terkejut mendengar pengakuan Adrian. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hatinya berdebar kencang, namun ada kebingungan yang menyelimutinya.
"Ad, aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Ini terlalu tiba-tiba," ujar Catherine pelan.
Adrian mengangguk. "Aku mengerti, Cat. Aku tidak mengharapkan jawaban sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang kurasakan."
Malam itu, Catherine tidak bisa tidur. Pengakuan Adrian terus terngiang di kepalanya. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari perasaan Adrian selama ini? Apakah ia juga merasakan hal yang sama?
Keesokan harinya, Adrian mengajak Catherine berkeliling kota. Mereka mengunjungi tempat-tempat indah, berbagi tawa dan kenangan. Catherine merasa seperti kembali ke masa lalu, saat semuanya begitu sederhana dan menyenangkan.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada kegelisahan yang mengganggu pikiran Catherine. Ia tidak ingin persahabatan mereka rusak karena perasaan yang tidak pasti. Di satu sisi, ia juga tidak bisa mengabaikan getaran di hatinya setiap kali melihat senyum Adrian.
Malam itu, mereka duduk di tepi danau, menikmati keindahan matahari terbenam. Suasana yang tenang membuat Catherine merasa lebih nyaman untuk berbicara.
"Ad, aku sudah memikirkan tentang apa yang kamu katakan kemarin," kata Catherine memulai.
Adrian menoleh, menatap Catherine dengan mata penuh harapan. "Dan?"
"Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku juga memiliki perasaan untukmu. Tapi, aku takut jika kita mencoba untuk lebih dari sekadar sahabat, semuanya akan berubah," ujar Catherine jujur.
Adrian mengangguk pelan. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Cat. Aku juga tidak ingin merusak persahabatan kita. Tapi, aku percaya bahwa cinta yang kita miliki bisa membuat segalanya lebih indah."
Catherine tersenyum. "Mungkin kita bisa mencoba pelan-pelan, Ad. Melihat ke mana perasaan ini membawa kita."
Adrian meraih tangan Catherine, menggenggamnya erat. "Aku bersedia, Cat. Asalkan kita bersama-sama."
Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan kebersamaan yang lebih dalam. Mereka semakin mengenal satu sama lain, bukan hanya sebagai sahabat, tapi juga sebagai dua orang yang saling mencintai. Setiap sudut Switzerland menjadi saksi perjalanan cinta mereka yang perlahan tumbuh dan berkembang.
Musim berganti, dan hubungan mereka semakin kuat. Catherine merasa hidupnya semakin lengkap dengan kehadiran Adrian di sisinya. Mereka berdua menyadari bahwa cinta yang tulus dan persahabatan yang kuat adalah kombinasi sempurna untuk membangun masa depan yang indah bersama.
Di suatu pagi yang cerah, Adrian membawa Catherine ke tempat favorit mereka di tepi danau. Dengan latar belakang pemandangan yang memukau, Adrian berlutut dan mengeluarkan sebuah cincin dari saku jaketnya.
"Cat, maukah kamu menikah denganku dan membuat Switzerland ini semakin indah dengan cinta kita?" tanya Adrian dengan penuh harap.
Air mata kebahagiaan mengalir di pipi Catherine. Tanpa ragu, ia mengangguk dan berkata, "Ya, Ad. Aku mau."
Di bawah langit biru Switzerland, cinta mereka bersemi dengan indah, seindah pemandangan yang mengelilingi mereka....