Arinda selalu mengagumi senja. Baginya, warna jingga yang menyelimuti cakrawala adalah lukisan alam yang memukau, sebuah simfoni warna yang selalu mampu memikat hatinya. Setiap hari, ia duduk di bangku taman dekat rumahnya, membiarkan mata dan hatinya tenggelam dalam keindahan saat matahari perlahan merangkak turun ke ufuk barat.
Senja itulah yang pertama kali mempertemukan Arinda dengan Rizal. Hari itu, Arinda tengah merenungi hari yang panjang dan melelahkan ketika Rizal, seorang fotografer yang baru saja pindah ke kota itu, melihatnya dari kejauhan. Dia sedang mencari inspirasi untuk proyek senjanya, dan melihat Arinda yang duduk sendiri di bawah langit jingga seperti menemukan permata tersembunyi.
"Maaf, bolehkah aku mengambil foto di sini?" suara Rizal menyapa dengan lembut. Arinda yang terkejut hanya bisa mengangguk. Dan sejak hari itu, mereka sering bertemu di taman yang sama, berbagi cerita, impian, dan rasa. Rizal dengan kameranya, dan Arinda dengan buku sketsanya. Dalam kebersamaan yang sederhana itu, cinta pun tumbuh tanpa mereka sadari.
Namun, senja itu berbeda. Langit jingga yang biasanya memancarkan kedamaian, kini terasa suram dan membingungkan. Arinda duduk sendirian, menggenggam surat yang baru saja dibacanya dengan hati yang penuh kesedihan. Surat itu berasal dari Rizal, kekasih yang telah tiga tahun ini menjadi pusat kebahagiaannya.
"Arinda, aku harus pergi. Maafkan aku. Jangan menungguku."
Hanya itu yang tertulis di surat singkat tersebut. Dunianya seakan runtuh. Rizal, yang selama ini menjadi mataharinya, kini meninggalkannya dalam kegelapan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di taman ini, berbicara tentang impian mereka sambil menatap langit senja yang sama. Kini, semua itu hanya menjadi kenangan yang membekas.
Arinda mengingat kembali semua momen indah yang telah mereka lalui. Saat Rizal mengajaknya berjalan di bawah bintang, saat mereka tertawa bersama di kafe kecil di sudut kota, dan saat Rizal memberinya kejutan ulang tahun dengan kue kesukaannya. Semua kenangan itu kini terasa begitu jauh, seperti bayangan yang memudar di bawah sinar senja.
Air mata mulai mengalir di pipinya ketika seorang pria tua yang sering duduk di bangku sebelah mendekatinya. "Kenapa menangis, nak?" tanyanya dengan suara lembut yang penuh kasih. Arinda hanya bisa menggeleng, terlalu sedih untuk berkata-kata.
Pria tua itu tersenyum bijak. "Kamu tahu, senja selalu indah meskipun hari terasa berat. Langit jingga mengingatkan kita bahwa setiap akhir adalah awal yang baru. Mungkin hari ini kamu kehilangan seseorang yang kamu cintai, tapi percayalah, hidup selalu menawarkan harapan baru di esok hari."
Kata-kata pria tua itu menyentuh hati Arinda. Ia menatap langit jingga sekali lagi, mencoba menemukan ketenangan di balik awan-awan senja. Dalam keheningan itu, ia menyadari bahwa hidupnya belum berakhir. Ia masih memiliki dirinya sendiri, mimpinya, dan langit jingga yang akan selalu ada untuknya.
Malam itu, Arinda pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan. Namun, kesedihan itu tidak hilang begitu saja. Setiap kali ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada Rizal, hatinya kembali terasa perih. Namun, Arinda bertekad untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia mulai fokus pada hobinya menggambar, mencoba mengekspresikan perasaannya melalui sketsa-sketsa yang ia buat.
Waktu berlalu, dan perlahan, luka di hati Arinda mulai sembuh. Ia mulai menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil yang dulu sering ia lewatkan. Langit senja masih menjadi favoritnya, tapi kini ia menikmatinya dengan cara yang berbeda. Setiap kali melihat warna jingga di langit, Arinda merasa seperti mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani hidup.
Suatu hari, saat sedang asyik menggambar di taman, Arinda mendengar suara yang familiar. "Maaf, bolehkah aku mengambil foto di sini?" Suara itu membuatnya menoleh. Di depannya, berdiri seorang pria dengan kamera yang menggantung di lehernya. Bukan Rizal, tapi seseorang yang sangat mirip dengannya.
Pria itu tersenyum ramah. "Aku Daniel, baru pindah ke kota ini. Kamu sering datang ke sini?" Arinda mengangguk, merasa dejavu dengan situasi ini. Mereka pun mulai berbincang, dan Arinda merasa nyaman dengan kehadiran Daniel. Mereka berbagi cerita, dan Arinda merasa seperti menemukan teman baru.
Hari demi hari, Arinda dan Daniel semakin dekat. Daniel sering menemani Arinda menggambar, sementara Arinda menjadi model tak resmi untuk proyek-proyek fotografi Daniel. Mereka menemukan kenyamanan dalam kehadiran satu sama lain, dan lambat laun, perasaan cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Suatu sore, saat matahari hampir tenggelam, Daniel mengajak Arinda ke tempat favoritnya di taman. "Arinda, aku tahu ini mungkin terdengar gila, tapi aku merasa kita ditakdirkan untuk bertemu. Setiap kali aku melihat senja, aku melihat keindahan yang sama seperti yang kulihat dalam dirimu. Maukah kamu menjalani hari-hari ini bersamaku?"
Arinda terkejut, tapi hatinya dipenuhi kehangatan. Ia melihat ke langit jingga, merasa seperti mendapatkan restu dari alam semesta. "Ya, Daniel. Aku mau."
Mereka berdua berdiri di bawah langit senja, merasakan kehangatan cinta yang baru. Arinda tahu, meskipun Rizal telah pergi, hidup memberinya kesempatan untuk menemukan kebahagiaan baru. Langit jingga menjadi saksi dari awal yang baru, membawa harapan dan cinta yang tak pernah pudar.