Ketika mata terbuka bagai kelopak bunga yang mulai bermekaran, tak ada yang bisa kutangkap dengan kedua mata ini. Semuanya terlihat normal di mata orang lain.
Melodi yang mengalun bagai dawai surga, gemerlap cahaya lampu yang indah dan menyenangkan laksana kunang-kunang pada malam hari, pula dengan keceriaan yang tersaji tak lupa canda dan tawa menghiasi.
Semua ada di sini ....
Semuanya tersedia di sini ....
Akan tetapi, itu semua adalah sebuah ilusi untukku. Semua terasa sangat jauh dan semua itu tak dapat kuraih.
Gelap ... aku hanya dapat melihat kegelapan. Terus meraba-raba tak tahu ke mana langkah kakiku membawa, aku merasa tersesat dan tak bisa menemukan jalan pulang.
Suara yang terdengar pun menghilang perlahan seolah tersapu angin. Hingga aku tak mampu mendengar apa pun lagi.
Detak jantung yang mulai melambat seperti menghitung sisa waktu, sampai aku tak mampu mendengar dan merasakannya lagi.
Kaki kecilku yang berdiri tegak sarafnya telah mati dan perlahan kehilangan fungsi, membuatku terjatuh dan mati rasa.
Semua yang aku rasakan seolah berkumpul menjadi satu dan mengantarkanku menemui jurang yang bernama kehampaan.
Mengapa harus aku yang merasakan ini semua?
Mengapa selalu aku yang mendapatkan hal semacam ini?
Mataku dapat melihat, tetapi hanya sebuah kegelapan yang tertangkap oleh netraku.
Telinga mampu mendengar, tetapi aku seperti tuli.
Jantung yang masih berdetak terasa semakin terkikis oleh kegelapan dan kesunyian.
Kaki yang melangkah dilumpuhkan secara paksa hingga tubuh ini tumbang dan tak dapat bangkit.
Aku hidup tetapi aku mati rasa.
Lalu apa arti dari hidup yang kujalani ini?