"Kalau kamu bisa mengulang waktu, apa yang akan kamu ubah?" tanya Nara pada sore yang tenang itu. Di hadapannya, Raka menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan, seakan mencari jawaban dari balik awan.
"Aku tidak tahu," jawab Raka pelan. "Mungkin aku akan lebih menghargai setiap detik yang kita miliki."
Nara tersenyum getir. Ia tahu betul apa yang dimaksud Raka. Mereka telah melewati begitu banyak hal bersama, baik suka maupun duka. Namun, ada satu momen yang selalu menghantui mereka, sebuah kesalahan yang tak pernah bisa mereka lupakan.
Setahun yang lalu, pada hari yang sama, mereka mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa adik perempuan Nara, Dinda. Raka yang mengemudikan mobil saat itu, dan hingga kini ia masih merasa bersalah. Meskipun Nara sudah berkali-kali mengatakan bahwa itu bukan salah Raka, perasaan bersalah itu tak pernah hilang dari wajahnya.
"Aku juga ingin mengulang waktu, Raka," kata Nara lembut. "Bukan untuk mengubah apa yang terjadi, tapi untuk memastikan kita lebih kuat dalam menghadapi semuanya."
Raka mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap Nara dalam-dalam. "Bagaimana kalau kita benar-benar bisa mengulang waktu? Apa yang akan kamu lakukan pertama kali?"
Nara tersenyum. "Aku akan memeluk Dinda lebih erat dan mengatakan betapa aku mencintainya. Dan aku akan memastikan kita tidak pergi ke tempat itu hari itu."
***
Malam itu, Nara terbangun dari tidurnya dengan perasaan aneh. Di meja sebelah tempat tidurnya, sebuah jam pasir kecil bersinar lembut dengan cahaya biru. Ia tidak pernah melihat jam pasir itu sebelumnya.
Dengan hati-hati, Nara meraih jam pasir itu. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan kaca, cahaya biru itu semakin terang dan tiba-tiba dunia di sekelilingnya berputar cepat. Nara merasa pusing dan terhuyung, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.
Ketika Nara membuka matanya, ia terkejut melihat dirinya berada di kamar yang sama, tetapi dengan suasana yang berbeda. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, dan dari luar terdengar suara Dinda yang riang memanggilnya.
"Nara! Ayo bangun! Kita ada rencana hari ini, ingat?"
Nara terdiam sejenak, mencoba memahami situasinya. Apakah ini mimpi? Atau apakah dia benar-benar mengulang waktu?
Dengan cepat, Nara bangkit dan berlari ke luar kamar. Di sana, Dinda sedang bersiap-siap dengan wajah ceria. Hati Nara meleleh melihat adiknya yang sangat dirindukannya itu. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk Dinda erat-erat.
"Dinda... aku sangat merindukanmu," bisik Nara.
Dinda tertawa kecil dan membalas pelukannya. "Aku juga, Kak Nara. Kenapa kamu jadi sentimental begini pagi-pagi?"
Nara tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sangat bersyukur punya adik sepertimu."
Hari itu, Nara berusaha melakukan segala sesuatu dengan hati-hati. Ketika Raka datang untuk menjemput mereka, Nara langsung mengajak mereka untuk mengubah rencana. "Bagaimana kalau kita tidak pergi ke tempat itu hari ini? Kita bisa pergi ke taman dan piknik di sana."
Raka terlihat bingung, tetapi ia mengikuti saran Nara. Mereka bertiga akhirnya pergi ke taman dan menikmati hari dengan penuh canda dan tawa. Nara merasakan beban berat di hatinya perlahan menghilang, melihat Dinda dan Raka bahagia.
Namun, keesokan harinya, Nara terbangun dengan perasaan yang sama. Jam pasir itu kembali bersinar di meja sebelah tempat tidurnya. Kali ini, ia lebih siap. Ia menyadari bahwa ia diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, untuk memperbaiki segalanya.
Hari demi hari, Nara berusaha mencari cara terbaik untuk mencegah kecelakaan itu terjadi. Ia mencoba berbagai cara, dari mengubah rencana, hingga berbicara langsung dengan Raka tentang perasaannya. Namun, setiap kali hari itu berakhir, ia selalu terbangun kembali di kamar yang sama dengan jam pasir yang bersinar.
Suatu malam, Nara duduk di samping tempat tidurnya, memandangi jam pasir yang bersinar. "Apa yang sebenarnya harus aku lakukan?" tanyanya pelan. "Mengapa kamu terus mengulang hari ini?"
Tiba-tiba, sebuah suara lembut terdengar di telinganya. "Kamu harus belajar menerima dan melepaskan."
Nara terkejut, mencari sumber suara itu. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya jam pasir yang bersinar lembut. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Menerima dan melepaskan.
Dengan hati yang tenang, Nara menyadari bahwa mungkin bukan tugasnya untuk mengubah masa lalu. Mungkin, ia harus belajar menerima apa yang sudah terjadi dan melepaskan rasa bersalah yang terus menghantui mereka.
Keesokan harinya, Nara bangun dengan tekad baru. Ia menemui Raka dan Dinda, dan mengajak mereka berbicara dari hati ke hati. "Aku tahu kita semua merasa bersalah dan sedih atas apa yang terjadi. Tapi mungkin yang terpenting adalah kita saling mendukung dan menguatkan satu sama lain."
Raka mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku juga ingin kita bisa melanjutkan hidup tanpa rasa bersalah yang terus menghantui."
Dinda, dengan senyumnya yang cerah, menggenggam tangan mereka berdua. "Kita adalah keluarga. Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama."
Hari itu, Nara merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mereka menghabiskan hari bersama, berbicara tentang kenangan indah yang mereka miliki bersama Dinda. Dan ketika malam tiba, Nara merasa siap untuk melepaskan masa lalu.
Ia menatap jam pasir yang bersinar di mejanya dan berkata, "Aku menerima apa yang telah terjadi. Aku melepaskan rasa bersalah ini dan memilih untuk melanjutkan hidup dengan penuh cinta dan harapan."
Cahaya biru dari jam pasir perlahan memudar, dan Nara merasa tubuhnya menjadi ringan. Ketika ia membuka matanya, ia tidak lagi berada di kamar yang sama. Pagi telah tiba, dan tidak ada lagi jam pasir di meja sebelah tempat tidurnya.
Nara tersenyum, menyadari bahwa ia akhirnya berhasil mengulang waktu, bukan untuk mengubah masa lalu, tetapi untuk menerima dan melepaskan, agar bisa hidup dengan penuh kebahagiaan.