Kupikir dunia perkuliahan itu menyenangkan, kupikir masih tidak jauh berbeda dari sekolah dasar, dan sekolah menengah yang sudah kulalui sebelumnya, namun aku keliru rupanya.
Opini ini mungkin sedikit kasar tapi bangku kuliah khususnya swasta tidak memberimu pengetahuan atau kemampuan, melainkan bangku kuliah mengajarimu sebuah proses pendewasaan.
Kamu harus cukup dewasa untuk mengetahui bahwa usahamu tidak selalu sesuai dengan hasil yang akan kamu terima pada akhirnya. Kamu harus paham bahwa semua tidak lagi sesederhana punya otak pintar lalu jadi juara.
Jika dulu kamu bangga dengan kepintaran yang kamu miliki, percayalah semua itu tidak cukup untuk mampu bertahan di sini. Di sekolah tinggi swasta, uang dan kolega lebih bermakna dari kecerdasan belaka.
Jangan heran jika yang dapat nilai A bukan mereka yang menerobos hujan agar absensi mereka penuh, jangan bingung jika yang cumlaude bukan mereka yang mengerjakan tugasnya sendiri dari malam hingga pagi dengan sungguh-sungguh.
Cukup terima jika mereka yang dapat nilai A adalah mereka yang cukup menggoda bagi dosen tua bangka yang tengah mengalami pubertas entah yang ke berapa, mereka yang punya segalanya dan bisa mengundur jadwal sidang seenak jidat pakai uang mereka.
Benar bahwasanya menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa di bangku perkuliahan swasta ibarat maut yang kau jemput. Semua butuh uang, semua butuh orang. Jika kamu tidak punya keduanya lebih baik pikir-pikir lagi daripada nanti kamu ingin gantung diri.
Bimbingan skripsi adalah maut.
“Kenapa kamu baru datang bimbingan lagi? Ini sudah satu bulan lho, tidak bisa saya acc ini skripsi kamu kalau kamu jarang ketemu saya begini,” katanya dengan wajah yang sulit untuk kudeskripsikan. Entah itu marah, kesal, kecewa atau jijik.
Nafasku tercekat, rasanya aku ingin berteriak dan menangis meraung-raung. Andai saja dia tahu, apa yang harus kuhadapi sebelum sampai ke kediaman beliau ini. Apa saja yang harus kudengar demi segaris tanda tangan di lembar kuning itu.
“Apa sih kenapa bolak-balik terus?”
“Mau ngapain lagi sih ke sana?”
“Kamu tahu nggak sekali ke sana tuh uangnya berapa?”
“Berapa kali lagi sih coba itungin berapa kali lagi harus ke sana nya.”
“Dibilang naik bus aja, masa nggak tau jalan, kayak orang udik banget kamu.”
“Makanya cepet beres dong biar nggak bolak-balik terus buang-buang uang, ribetin mulu.”
“Ngeprint terus makanya yang pinter belajarnya, biar sekali ngeprint beres.”
“Kapan sidang? Kapan lulus? Cepet beres dong, nyusahin!”
Kehidupan kampus yang tidak adil ditambah keluargamu yang tidak mau ikut andil, benar-benar kombinasi yang sangat luar biasa, coba rasakan saja sensasinya.
Urusan keluargamu saja sudah tidak mampu kamu benahi ditambah lagi dengan beban hidup bernama bimbingan skripsi. Ditambah sebuah ekspektasi yang lahir dari permintaan tolongmu sebelumnya, seolah semua biaya kuliahmu harus kembali lagi seutuhnya.
Tapi apakah para tenaga pendidik yang terhormat itu peduli dengan apa yang aku alami? Tentu saja tidak, tidak mau dan tidak perlu. Oh mungkin harus jika aku adalah anak dari donatur kampus, tapi sayangnya aku hanya mahasiswa biasa yang hanya ingin lulus.
Mahasiswa biasa dengan orang tua kolot yang tidak mengerti formalitas, yang hanya menuntut hasil yang luar biasa membanggakan tanpa mau membantu selama hasil itu diperjuangkan.
Bimbingan skripsi adalah maut.
Bukan mauku kedapatan dosen pembimbing yang rumahnya di luar kota. Bukan mauku hidup jadi manusia yang tidak becus membawa kendaraan, bukan inginku jadi mahasiswa tolol yang tidak tahu arah jalan.
Jujur saja siapa yang sudi berkendara berjam-jam, mengerjakan setiap malam, hanya untuk pertemuan yang tak sampai lima menit yang tidak worth it. Pertemuan yang tak memberimu arahan, pertemuan yang hanya berisi ocehan.
Benar kata Ghea Indrawari bahwa sebenarnya “Selama ini kau hebat hanya kau tak didengar,” tidak ada yang sudi mendengar penjelasanmu, tidak ada yang mau mendengar alasan yang hanya terdengar seperti curhatan itu. Peduli apa mereka terhadap kamu.
Bimbingan skripsi adalah maut.
Jika ingin bertahan di bangku perkuliahan terutama jika kuliahmu kecil-kecilan, bukan di universitas bergengsi, paling tidak kamu harus punya teman yang baik hati dan mengayomi.
Jadilah orang yang mudah berbaur dan punya banyak kenalan. Jangan jadi sepertiku, introvert yang bahkan bersosialisasi saja tidak mampu untuk kulakukan, semudah menyapa orang baru sudah membuatku gemetaran, dan bahkan hawa kehadiranku pun sulit untuk orang lain rasakan.
Teman itu tidak perlu banyak, tapi bisa saling mengerti. Bukan seperti temanku yang satu ini, dia dalam keadaan mampu untuk mengajak bimbingan bersama jika ia peduli pada temannya tapi dia lebih memilih untuk bersama kekasihnya.
Aku juga bukan orang yang tak tahu malu yang hanya ingin menumpang gratis, pasti kubayar meski bukan dengan nominal yang fantastis namun setidaknya masih etis.
Namun temanku satu ini saking tidak inginnya membantu malah menyuruhku menghubungi seseorang yang tidak pernah kuajak bicara sebelumnya, menyuruhku meminta bantuan pada orang asing itu, padahal dia tahu keadaanku seperti apa, dia tahu aku orangnya secanggung apa.
Tapi ya memang salahku sendiri, terlalu berharap orang lain mau mengerti. Terlalu berharap ia akan mengerti, berharap dipahami oleh orang egois yang hanya peduli pada diri sendiri. Iya, memang aku yang bodoh sekali di sini.
Hari itu rasanya tolol sekali diri ini, beruntung sekarang kami tidak berteman lagi. Dan Tuhan, kumohon jangan pertemukan aku dengan orang semacam ini lagi, cukup sekali.
Ya jadi saranku carilah teman yang memang mau mengerti satu sama lain, yang mau mengerti dan kamu mengerti, bukan yang mau menang sendiri dan tidak pernah merasa bersalah sama sekali. Apalagi orang yang mudah iri, serakah dan tidak mau introspeksi diri.
Intinya miliki sebuah circle pertemanan yang nyaman, jika kamu tidak ingin melompat dari gedung yang tinggi, saking tidak tahan dengan apa yang akan kamu hadapi di bangku perkuliahan nanti.
Bimbingan skripsi adalah maut.
Dulu aku berpikir “Ah lebay aja itu, kayak nggak punya agama,” pada orang-orang yang diberitakan bunuh diri saat menyusun skripsi, itu yang kupercayai sampai akhirnya kualami sendiri. Ini bukan luka kasat mata yang bisa diobati dengan mudahnya.
Ini luka yang sakitnya tak bisa kamu jelaskan pada siapa-siapa, luka yang hanya bisa kamu simpan di dalam pikiran, luka yang perlahan menggerogotimu dari dalam sampai kamu merasa tidak sanggup lagi bertahan. Tapi kamu tidak bisa meminta pertolongan, tidak akan ada yang mengerti apa yang kamu rasakan.
Bimbingan skripsi adalah maut.
Kelak jika kamu ingin kuliah, saranku carilah kampus yang memang benar-benar dapat dipercaya kredibilitasnya, bukan kampus yang kecil-kecilan, penuh tekanan sekaligus penuh kecurangan yang menjijikkan.
Atau jika kamu hanya orang biasa sepertiku, cobalah untuk jangan memikirkan segala sesuatu sedalam itu, jadilah tidak tahu malu, dengan begitu hidupmu akan terasa sedikit lega, karena semakin kamu berusaha kamu hanya akan semakin kecewa.
Doakan aku agar tidak menggigit lidahku sebelum kudapatkan gelar itu.
Doakan supaya tidak kusayat pergelangan tangan ini sebelum hari wisuda nanti.
Doakan semoga tidak kutenggak satu lembar pil anti sakit kepala sampai hari kelulusan tiba.
Sehat-sehat kalian semua yang mungkin sedang ada dalam posisi yang sama, mari kita usahakan gelar impian kita, jangan dulu menyandang gelar Alm. atau Almh.
Selalu ingat kita punya tuhan, dan kematian bukanlah jalan. Tolong bertahan, kamu hebat, kamu kuat, kamu keren sekali sudah sampai sejauh ini.
Mari kita jalani bimbingan skripsi sialan ini, mari hadapi dengan gagah berani, jangan takut meski terkadang bimbingan skripsi adalah maut.