Angin musim gugur berhembus lembut, membuat daun-daun kering menari-nari mengikuti irama sang angin. Birunya langit telah memudar dan berubah menjadi jingga, matahari masih setia bergerak lambat ke arah barat.
Hiruk-pikuk orang-orang senantiasa terdengar, di sebuah taman, mereka melangkahkan kakinya dan beranjak darii taman itu. Lambat laun hiruk-pikuk orang-orang mulai menghilang seperti terbawa angin yang berhembus.
Kesunyian mulai menyeruak di taman itu, di saat itulah seorang pria muncul. Pria kesepian, pria dengan mata yang setajam elang terlihat jernih, tetapi juga terlihat kosong seperti tak ada sebuah kehidupan yang terpancar di matanya.
Kaki jenjangnya melangkah menimbulkan bunyi retakan yang begitu nyaring dari daun kering seperti retakan tulang yang rapuh. Akan tetapi, pria itu merasa tak pernah terusik oleh suara apa pun.
Langkah kakinya membawa ia ke sebuah bangku taman, di mana ia mendudukkan dirinya di sana. Pandangannya lepas menatap jingganya langit senja. Pikirannya melalang buana kembali ke masa lalu.
Masa di mana pelangi menghiasi hidupnya yang gelap. Masa di mana senyum indah pernah tersemat di wajahnya.
Masa di mana ia belum pernah kehilangan seseorang yang pernah menjadi dunianya sebelum kesalahan yang ia perbuat menghancurkan hidupnya.
Jika saja ia mau bertahan dan mampu berpikir panjang, mungkin gadisnya masih berada di sampingnya.
Jika saja, ia tak pernah memiliki niatan bermain api pada wanita yang hanya menjadikannya tempat untuk singgah. Ia tidak akan kehilangan gadisnya, permatanya, poros hidupnya.
Hanya karena napsu dan rasa jenuh yang mulai menyeruak dalam dirinya, ia tega mengkhianati cinta tulus gadisnya.
Sampai pada akhirnya, ia yang menyebabkan air mata kesakitan mengalir di wajah sang gadis karena luka yang ia torehkan. Hingga kata mari berpisah terucap dari bibir milik sang gadis yang telah menjadi candunya.
Hanya dengan mengingatnya, hati pria itu terasa ditusuk oleh ribuan belati. Jika dahulu gadisnya yang menangis, kini pria itu yang akan selalu meneteskan air mata penyesalan karena kesalahan yang ia perbuat. Meski dalam hati yang paling dalam pria itu masih mencintai sang gadis dan mengharapkan cintanya kembali.
“Maafkan semua kesalahanku, Sayang. Kalau saja aku tidak bodoh. Mungkin kita sekarang masih hidup bahagia, jujur aku masih mencintaimu. Aku masih mengharapkan cintamu, meski aku tahu semua itu tidak mungkin kudapatkan kembali, karena bahagiamu sudah dengan orang lain," gumam pria itu dalam kesendiriannya.