Pukul sepuluh tepat Liza sudah berada di depan sekolah TK Rahmat menjemput putranya. Karena baru Minggu pertama, sekolah memutuskan untuk mempercepat jam pulang selama satu minggu ini.
"Mami..Mami.." Arsya berlari memanggil Ibunya.
"Iya sayang, jangan lari-larian. Nanti jatuh." Kataku menghampiri anak ku yang saat ini baru berumur 5 tahun.
"Enak banget mami sekolah, adek suka." Kata Arsya memeluk maminya.
"Iya nak ku.? Ya udah masuk dulu lagi sana. Di panggil gurunya itu." Kata Liza pada putranya.
"Iya mami." Arsya kembali berlari menghampiri gurunya.
"Kita masuk dulu ya sayang. Baca do'a dulu baru pulang." Kata buk Ayu guru Arsya.
Semua anak yang tadinya sedang bermain kembali masuk kedalam kelas. Kemudian guru membimbing anak-anak untuk bernyanyi dan berdo'a. Setelah selesai barulah mereka di izinkan untuk pulang.
"Yang sudah dijemput sudah boleh pulang ya anak-anak. Yang belum di jemput jangan keluar dulu." Kata guru Arsya.
"Arsya udah di jemput ya nak.? Sini pakai sepatu nya dulu." Bu guru membantu Arsya memakai sepatunya.
"Sama Raisa juga ya buk." Kata Liza pada bu guru.
"Oh Risa juga ya.? Risa sini sayang pakai sepatu nya." Bu guru juga membantu Risa memakai sepatunya.
"Besok sekolah lagi ya sayang." Kata Bu guru pada anak-anak yang sudah dijemput sembari menyalami murid-muridnya.
"Iya buk guruu." Jawab anak-anak bersemangat.
Arsya dan Risa langsung berlari mendekati Liza yang sedang berdiri disamping sepeda motornya menunggu anaknya.
Risa adalah sepupu Arsya. Karena ibunya sedang ada pekerjaan sehingga hari ini Risa ikut pulang ke rumah Liza.
"Kita mau kemana mami.? Kok jalan nya kesini.?" Tanya Arsya karena merasa arah jalan nya berbeda.
"Kita ke kedai dulu ya sayang."
"Mau ngapain mami ke kedai.?"
"Mau beli paket. Udah habis paketnya." Jawab Liza.
"Yee.. Berarti nanti adek bisa nonton kartun dong." Kata Arsya senang.
"Kita lihat nanti." Jawab Liza.
Liza mengambil jalan memotong agar lebih cepat sampai.
"Lihat kakak ada rumah orang baru." Kata Arsya menunjuk kantor desa.
"Itu bukan rumah baru, itu namanya kantor desa. Arsya ini gitu aja nggak tau." Kata Risa sedikit meledek adiknya.
"Oh itu kantor desa ya kakak.? Sama kayak yang dekat tempat ngajiku, ada kantor desa juga." Kata Arsya.
"Iya Arsya, dekat rumah kakak pun lah ada kantor desa. Banyak lah kantor desa." Kata Risa.
"Iya kan kakak. Ada tiga kan.?" Kata Arsya lagi.
"Iyaa banyak. Kan bunda.." kata Risa pada Liza.
"Iya." Jawab Liza singkat.
Lima menit kemudian mereka sudah sampai di gerai kecil tempat orang menjual pulsa dan kartu perdana.
"Turun nak, udah sampai."
Arsya langsung turun lebih dulu lewat sebelah kanan.
"Eh jangan lewat situ dong sayang, nanti ada motor lewat." Kata Liza memegang putranya.
"Kakak juga turun dulu yuk."
"Iya tunggu bunda, ini rok nya nyangkut."
"Loh, dimana nyangkutnya.?"
"Ini lo bunda di besi belakang ini." Risa menarik-narik roknya tapi tidak berhasil.
"Ooaalaah.. ya udah coba lepas dulu biar bunda bantuin." Kata Liza mencoba melepaskan rok Risa yang menyangkut.
"Udah, turun kakak." Kata Liza setelah berhasil melepasnya.
"Kaak ada paket yang 35 nggak.?" Tanya Liza kepada penjual.
"Sebentar ya kak, di cek dulu. Kayaknya sih ada." Kata penjual sambil mengecek di hp nya.
"Kak coba tolong lihatkan ini hp saya ada paket berapa aja ya.?" Datang customer baru yang langsung nyelonong kedepan Liza.
"Iya buk." Penjual mengambil hp Ibu itu dan membantu mengecek.
"Ibuk nggak mau beli kartu perdana aja.? Lebih murah loh." Tawar penjual.
"Oh ya udah boleh deh." Pembeli tersebut langsung menyetujui.
Liza sabar menunggu kedua orang tersebut selesai bertransaksi.
"Kakak lihat ada bangunan." Arsya menunjuk orang-orang pekerja bangunan yang sedang membuat ruko di dekat mereka.
"Mana bangunan.?" Tanya Risa penasaran.
"Itu loh kakak." Arsya menunjuk dengan semangat.
"Itu namanya bukan bangunan anak. Tapi orang kerja bangunan." Terang Liza.
"Oh iya, kakak lihat tuh." Tunjuk Arsya lagi.
Si Ibu penyerobot sudah pergi dan sekarang giliran Liza. Saat si kakak penjual sedang mengisi pulsa Liza...
"Bunda ini kita dimana.?" Tanya Risa.
"Ini kita dirumah paket. Kakak nggak tau ini namanya rumah paket.?" Jawab Arsya bersemangat.
Seketika Liza dan kakak penjual tertawa.
"Rumah paket yaa.. Ada-ada aja anak-anak" Kata kakak penjual sambil tertawa-tawa.
"Ooh rumah paket." Risa mengangguk dengan polosnya.
"Iya loh kakak. Masak kakak nggak tau."
"Iya loh Arsya. Udah tau loh."
"Arsya, coba lihat gigi kakak itu ada apanya.?" Risa menunjuk behel yang digunakan kakak penjual sambil berbisik.
"Itu namanya kakaknya punya gigi baru." Jawab Arsya dengan lantang.
Seketika penjual itu langsung tertawa terbahak.
"Apa dek namanya.? Gigi baru ya.?" Katanya pada Arsya.
"Iya. Kan kakak kan.? Cantik kakak itu giginya kan. Itu karena ada gigi baru." Katanya lagi dengan bersemangat.
"Hahaa... Lucu kali lah adeknya. Mau tinggal disini aja sama kakak.?" Kata penjual itu gemas.
"Nggak mau lah." Jawab Arsya lantang.
"Kenapa nggak mau.?"
"Nggak mau, mau pulang aja sama mami."
"Hahaa enggak enak disini ya nggak ada kawan."
Memang ya selalu ada cerita lucu jika menghadapi anak-anak. Batin Liza sambil ikutan tertawa.
Tamat..