Malam itu, di bawah langit penuh bintang, Arga duduk di tepi danau kecil di belakang rumahnya. Suara jangkrik dan gemericik air menambah kesan damai malam itu. Di tangannya, ada sebuah buku harian yang penuh dengan coretan dan gambar-gambar iseng. Satu halaman terakhirnya tertulis dengan huruf besar, “Kamu adalah Cinta Pertamaku.”
Arga menatap halaman itu lama, teringat pada masa-masa SMA yang penuh dengan drama dan kebahagiaan. Masa di mana dia pertama kali merasakan getaran aneh di hatinya setiap kali bertemu dengan Hana, teman sekelas yang selalu ceria dan penuh energi.
Flashback ke tahun 2016, di hari pertama masuk SMA, Arga yang pendiam langsung tertarik pada sosok Hana. Hana bukan cewek biasa. Dia punya aura yang bikin semua orang pengen deket sama dia. Senyumnya, tawanya, cara dia berbicara—semuanya memikat. Arga yang biasanya cuek, tiba-tiba jadi lebih perhatian dan sering curi-curi pandang ke arah Hana.
Suatu hari, saat jam istirahat, Arga duduk sendirian di bangku taman sekolah. Dia asyik membaca buku ketika tiba-tiba Hana datang dan duduk di sebelahnya. “Eh, Arga, kamu suka baca buku juga?” tanya Hana dengan mata berbinar.
Arga yang kaget cuma bisa mengangguk kikuk. “Iya, lumayan.”
Hana tersenyum lebar. “Aku juga suka baca, tapi lebih suka novel romantis. Kamu baca apa?”
“Fiksi ilmiah,” jawab Arga singkat, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Dari situlah semuanya dimulai. Mereka jadi sering ngobrol, mulai dari topik buku sampai hal-hal random lainnya. Arga merasa nyaman setiap kali ngobrol sama Hana, dan tanpa dia sadari, rasa suka itu semakin tumbuh.
Waktu terus berlalu, dan perasaan Arga semakin kuat. Namun, dia tetap menyimpannya rapat-rapat. Dia takut kalau perasaannya akan merusak persahabatan mereka. Tapi, semakin lama, semakin susah baginya untuk menahan perasaan itu.
Suatu hari, saat mereka lagi nongkrong di kafe favorit mereka, Hana tiba-tiba berkata, “Arga, kamu pernah nggak suka sama seseorang tapi takut ngungkapin?”
Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Arga terdiam sejenak sebelum menjawab, “Pernah. Kenapa emang?”
Hana tersenyum tipis. “Aku juga. Kadang aku merasa dia nggak bakal suka sama aku balik.”
Arga merasa hatinya seperti dihimpit beban berat. “Siapa orang itu?” tanyanya pelan, berharap Hana nggak menyebutkan nama cowok lain.
Hana menatap mata Arga dalam-dalam. “Kamu.”
Detik itu juga, Arga merasa seperti dunia berhenti berputar. “Hana, kamu serius?”
Hana mengangguk. “Iya, Arga. Kamu adalah cinta pertamaku. Aku suka sama kamu dari pertama kita ngobrol di taman sekolah.”
Arga merasa jantungnya berdetak kencang. “Aku juga suka sama kamu, Hana. Dari dulu, aku cuma nggak berani bilang.”
Mereka tertawa kecil, merasa lega dan bahagia. Sejak hari itu, mereka resmi pacaran. Masa SMA mereka penuh dengan kebahagiaan dan petualangan. Mereka sering jalan bareng, nonton film, dan berbagi mimpi-mimpi mereka.
Namun, hidup nggak selalu semanis itu. Setelah lulus SMA, Hana harus pindah ke kota lain untuk kuliah. Hubungan jarak jauh jadi tantangan besar buat mereka. Meski begitu, mereka tetap berusaha menjaga hubungan mereka.
Tahun demi tahun berlalu, dan mereka akhirnya bisa bertemu lagi setelah lulus kuliah. Arga yang sekarang bekerja di kota yang sama dengan Hana merasa bahwa cinta pertama mereka masih sekuat dulu.
Malam itu, di tepi danau, Arga membuka halaman terakhir buku hariannya dan menulis, “Kamu adalah cinta pertamaku, Hana. Dan kamu akan selalu jadi cinta terakhirku.”
Tiba-tiba, ada suara langkah kaki mendekat. Arga menoleh dan melihat Hana berjalan ke arahnya dengan senyum yang sama seperti dulu. “Lagi nulis apa, Arga?”
Arga tersenyum dan menutup bukunya. “Nulis tentang kamu, Hana. Tentang kita.”
Hana duduk di sebelah Arga, memandang danau yang tenang. “Aku juga selalu nulis tentang kita, Arga. Kamu adalah cinta pertamaku, dan aku harap kita bisa selalu bersama.”
Arga menggenggam tangan Hana erat. “Aku juga, Hana. Kamu adalah cinta pertamaku, dan aku nggak pernah mau kehilangan kamu.”
Malam itu, di bawah langit penuh bintang, mereka berdua berjanji untuk selalu menjaga cinta mereka. Cinta pertama yang murni dan tulus, yang akan selalu hidup dalam hati mereka.
Selesai.