Kehidupan Dinda di Jakarta terasa monoton. Sebagai seorang lulusan baru, pekerjaan yang ia jalani di kantor tidak menawarkan banyak tantangan. Di tengah kegalauan dan kebosanan, ia mendapat kabar dari sahabat lamanya, Rika, yang sekarang tinggal di Jerman. Rika mengajak Dinda untuk datang ke Jerman, mengunjungi tempat-tempat indah, dan sekalian berlibur. Tanpa berpikir panjang, Dinda mengiyakan ajakan itu.
Perjalanan ke Jerman adalah pengalaman pertama Dinda ke luar negeri. Ketika pesawat mendarat di Bandara Frankfurt, jantungnya berdebar-debar. Rika sudah menunggunya di pintu kedatangan. Mereka berpelukan erat setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kamu nggak berubah sama sekali, Din!" seru Rika sambil tersenyum lebar.
"Begitu juga kamu, Rik. Aku kangen banget!" balas Dinda dengan mata berkaca-kaca.
Mereka menuju ke apartemen Rika yang berada di pusat kota. Dinda terpesona dengan keindahan kota Frankfurt, gedung-gedung tua yang berdiri berdampingan dengan arsitektur modern, jalan-jalan bersih, dan suasana yang tenang. Rika sudah menyiapkan itinerary perjalanan mereka selama seminggu.
Hari pertama, mereka mengunjungi Römer, sebuah kompleks bangunan bersejarah yang menjadi simbol kota Frankfurt. Dinda tak henti-hentinya mengambil foto. Di situ, mereka berjumpa dengan seorang pria bernama Alex, seorang mahasiswa arkeologi yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah Frankfurt. Alex dengan ramah menjelaskan sejarah setiap sudut Römer kepada mereka.
"Ini adalah salah satu bangunan tertua di Frankfurt. Dibangun pada abad ke-15 dan menjadi pusat pemerintahan kota," jelas Alex dengan antusias.
Hari-hari berikutnya, mereka menjelajahi berbagai tempat menarik di Jerman. Dari Neuschwanstein Castle yang megah di Bavaria, hingga menikmati bir di Hofbräuhaus di Munich. Namun, di balik setiap perjalanan, Dinda merasa ada sesuatu yang aneh. Alex selalu muncul di tempat yang sama dengan mereka. Awalnya, Dinda menganggap itu hanya kebetulan, tetapi setelah kejadian yang berulang kali, ia mulai curiga.
"Rik, kamu merasa aneh nggak sih? Kenapa si Alex selalu ada di tempat yang sama dengan kita?" tanya Dinda ketika mereka sedang duduk di sebuah kafe di Berlin.
Rika mengangkat bahunya. "Mungkin kebetulan aja kali, Din. Atau dia juga lagi liburan ke tempat-tempat yang sama."
Meskipun mencoba untuk tidak berpikir berlebihan, perasaan curiga Dinda tidak hilang. Hingga pada suatu malam di Berlin, ketika mereka sedang menikmati pemandangan di atas Menara TV Berlin, Alex tiba-tiba muncul lagi.
"Kamu ngikutin kita, ya?" tanya Dinda dengan nada curiga.
Alex tersenyum. "Aku tidak bermaksud menguntit kalian. Sebenarnya, aku punya alasan khusus kenapa selalu muncul di dekat kalian."
Dinda dan Rika saling berpandangan, bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Rika akhirnya.
Alex menghela napas. "Aku sedang mencari seorang teman lamaku. Dia datang ke Jerman beberapa minggu lalu, dan aku mendapat informasi bahwa dia sering mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan kalian. Aku berharap bisa menemukannya."
Dinda merasakan ketulusan dalam penjelasan Alex. "Siapa nama temanmu?" tanya Dinda.
"Namanya Nisa. Kami berteman sejak kecil, tapi kami kehilangan kontak beberapa tahun yang lalu. Aku dengar dia sedang berada di Jerman, jadi aku mencoba mencarinya," jawab Alex dengan raut wajah yang penuh harap.
Dinda dan Rika tergerak oleh cerita Alex. Mereka pun setuju untuk membantu mencari Nisa. Perjalanan mereka di Jerman berubah menjadi petualangan untuk menemukan teman yang hilang. Setiap kali mereka mengunjungi tempat baru, mereka bertanya pada orang-orang sekitar tentang Nisa.
Pada suatu hari, mereka tiba di sebuah desa kecil bernama Rothenburg ob der Tauber. Desa itu sangat indah dengan rumah-rumah bergaya abad pertengahan. Di sana, mereka mendengar kabar dari seorang penduduk lokal bahwa ada seorang wanita Indonesia yang tinggal sementara di sana.
Mereka segera mencari informasi lebih lanjut dan akhirnya menemukan sebuah rumah kecil di pinggir desa. Seorang wanita muda membuka pintu. Wajahnya tampak terkejut saat melihat Alex.
"Nisa?" tanya Alex dengan suara bergetar.
Nisa mengangguk pelan. Air matanya mulai mengalir. "Alex, akhirnya kamu menemukanku."
Mereka berpelukan erat. Dinda dan Rika merasa lega dan bahagia melihat pertemuan itu. Ternyata, Nisa datang ke Jerman untuk mencari ketenangan setelah mengalami masalah besar di Indonesia. Dia tidak ingin ditemui siapa pun, tapi tidak menyangka Alex akan mencarinya sampai ke sini.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang masa lalu dan mengejar ketinggalan. Dinda dan Rika merasa senang bisa menjadi bagian dari reuni yang penuh haru ini. Perjalanan mereka ke Jerman bukan hanya sekadar liburan, tapi juga sebuah petualangan yang penuh makna.
Ketika hari terakhir mereka di Jerman tiba, Dinda merasa hatinya penuh dengan kenangan indah dan pelajaran berharga. "Ada apa di Jerman? Lebih dari yang pernah kubayangkan," pikirnya sambil tersenyum.