Matahari pagi yang cerah menyambut hari pertama dari 365 hari yang akan kuhabiskan bersama Mama. Sejak Papa meninggal setahun lalu, Mama dan aku menjadi lebih dekat. Aku memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, membantu mengurangi rasa kesepiannya.
"Selamat pagi, Mama," sapaku sambil mencium pipinya.
Mama tersenyum hangat. "Pagi, sayang. Apa rencanamu hari ini?"
"Aku ingin kita berjalan-jalan di taman. Bagaimana?" usulku.
Mama setuju dan kami menghabiskan pagi itu dengan menikmati udara segar dan mengobrol tentang kenangan masa lalu.
.
.
.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Setiap harinya, aku berusaha memberikan perhatian penuh pada Mama. Kami menonton film favoritnya, memasak bersama, dan berbicara hingga larut malam. Mama selalu tampak bahagia, meskipun kadang aku melihat kilatan kesedihan di matanya saat mengingat Papa.
"Mama, bagaimana kalau kita mengunjungi tempat-tempat yang sering Mama kunjungi bersama Papa?" tanyaku suatu malam.
Mama terdiam sejenak, kemudian tersenyum lemah. "Itu ide yang bagus, sayang. Mungkin itu akan membantu kita mengenang Papa dengan cara yang indah."
Perjalanan kami ke tempat-tempat kenangan menjadi momen yang sangat emosional. Kami mengunjungi pantai tempat Papa melamar Mama, restoran favorit mereka, dan taman tempat mereka sering berjalan-jalan bersama. Mama sering menangis, tapi aku tahu itu adalah tangisan yang membawa kelegaan.
"Terima kasih, sayang, sudah melakukan ini untuk Mama," ucap Mama suatu hari setelah kami pulang dari perjalanan tersebut.
"Aku akan selalu ada untuk Mama," jawabku sambil memeluknya erat.
.
.
.
.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa kesehatan Mama semakin menurun. Dia sering terlihat lelah dan tidak seenergik dulu. Aku membawanya ke dokter dan hasilnya tidak baik. Mama didiagnosis menderita penyakit yang serius.
"Aku tidak ingin kamu khawatir, sayang," kata Mama dengan suara tenang. "Mama sudah menjalani hidup yang indah, dan Mama hanya ingin menikmati sisa waktu yang ada bersama kamu."
Aku menahan air mata dan berjanji pada diriku sendiri untuk membuat setiap hari berarti bagi Mama.
Hari-hari terasa semakin berat. Mama semakin sering terbaring di tempat tidur. Namun, semangatnya untuk hidup masih kuat. Kami menghabiskan waktu dengan bercerita, tertawa, dan bahkan menangis bersama. Setiap momen terasa begitu berharga.
"Mama, apa yang paling Mama inginkan sekarang?" tanyaku suatu hari.
Mama menatapku dengan mata yang penuh cinta. "Mama hanya ingin kamu bahagia, sayang. Jangan biarkan kesedihan Mama menghalangi kebahagiaanmu."
Aku mengangguk, meskipun hatiku terasa hancur.
Hari ini adalah hari terakhir dari 365 hari yang kuhabiskan bersama Mama. Mama sudah sangat lemah dan sulit berbicara. Aku duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya yang dingin.
"Mama, terima kasih untuk segalanya. Aku mencintaimu," bisikku.
Mama tersenyum lemah dan dengan suara pelan, dia berkata, "Mama juga mencintaimu, sayang. Selalu ingat bahwa kamu adalah kebanggaan Mama."
Dengan air mata yang mengalir, aku melihat Mama menghembuskan napas terakhirnya. Rasanya seperti sebagian diriku ikut pergi bersamanya. Tapi aku tahu, di dalam hati, Mama akan selalu ada.
365 hari bersama Mama adalah waktu yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan kesedihan. Meskipun endingnya menyedihkan, aku merasa bersyukur telah diberikan kesempatan untuk merawat dan mencintainya hingga akhir hayatnya. Kini, tugas terberatku adalah melanjutkan hidup dengan kenangan indah tentang Mama....