"Apa yang kamu maksud, Sin?"
"Tidak, aku rasa ini memang waktu yang tepat, kita selesaikan saja disini"
Percakapan itu berakhir dengan Sintya yang berjalan meninggalkan Roby dan mengendarai mobil nya perlahan menjauh. Sementara itu, Roby tersentak oleh nada dering ponselnya.
"Kamu dimana, sayang?"
"Di taman, Sintya mengajakku bertemu, tapi tiba-tiba ia memutuskan hubungan kita, aku masih bingung dengan apa yang terjadi, tidak kah kamu curiga bahwa ia mengetahui sesuatu tentang kita?"
"Itu tidak mungkin, kita telah menjalani hubungan yang samar ini selama lebih dari 3 tahun, bagaimana ia mengetahuinya dan dari siapa? Mustahil, By. "
"Kau benar, ya sudahlah, aku akan menjemputmu pukul 21.00 nanti, bersiaplah"
"Baik, sampai jumpa, aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
-Call ended-
"Apa yang telah aku lakukan? Kenapa kau melakukan ini semua Sintya? Sebenarnya apa yang ada di kepala mu? Aggghhhh, aku benar-benar membenci keadaan seperti ini"
*Ckiitt
Perempuan muda itu berhenti mendadak pada sebuah pohon pinus yang berada di seberang jalan. Perlahan ia mendekati pohon itu, menyentuh pohon itu dan berkata lirih,
"Haruskah aku bertukar jiwa dengan pohon ini? untuk dapat merasakan kesegaran angin malam dan bersenandung manja dibawah terik mentari?"
Duduk pula ia di batu, sembari menatap kerlip bintang langit, berharap ia temukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan konyol yang terus bermunculan di kepalanya.
Masuklah perempuan itu ke mobil, dengan perasaan kacau ia mengendarai mobil itu pulang.
Lelap tidurnya, bimbang dirinya ia bawa ke alam mimpi. Hingga saat ia mengerjapkan matanya kembali, ia mendapati dirinya telah berhadapan kembali dengan Roby, ia terkejut dan berdiri sesekali menatap kosong pada meja makan yang ada di depannya itu hingga 4 detik berlalu dan Roby memanggil nama nya,
"Sintya, apa sesuatu yang buruk telah terjadi?"
"T..tidak, apa yang aku lakukan disini?"
"Kita telah berjanji untuk makan malam bersama bukan? Apa kepalamu terbentur? Masih 2 menit yang lalu kau menikmati semua makanan ini".
Pusing, itu yang dirasakannya saat ini, ia berhenti menatap meja itu dan beranjak dari sana sebelum akhirnya Roby mendesah dan menyudahi makannya dan berusaha mengejar Sintya yang telah pergi dari hadapannya, namun ia kemudian berhenti dan berpikir untuk memberikan perempuan itu waktu untuk menjernihkan pikirannya. Meski timbul rasa khawatir, tetap ia berbalik dan kembali menyantap makanannya.
*Ssssssshhhuuuhhhhh
Sejuk, tenang, udara pantai meraup semua bimbang yang berbisih riuh di telinga Sintya. Dalam ketenangan yang baru saja ia rasakan, seseorang kelihatan mendekat menghampiri nya dan meneriakkan sesuatu,
"Lepas dia jika kau memang tak mampu mengatasi dirimu sendiri, biar aku yang ambil alih semuanya!"
"Pergi! Jangan ganggu aku! Kau hanya membuat semuanya menjadi tambah buruk! Semua tidak akan terjadi andai kau tidak ada! Kau hanya mengacau! Jalang sial!!! ".
Sintya terengah, ia seperti akan menggila di tempat itu.
Sontak ia menjauh ketika melihat bayangan itu semakin berjalan mendekatinya dan mulai menjalar memegangi lehernya berusaha menjatuhkan ia dari jembatan pantai itu. Kejam, itu yang terlintas di kepala nya saat itu, ia kemudian memberontak hingga kemudian merasa sesak tercekik dan hilang sadar.
"Masa mu telah selesai, tenanglah, tak perlu cemas, aku akan membantumu, hahaha"
Tawa menggelegar itu begitu lepas perlahan menjauh meninggalkan Sintya yang tergeletak tak berdaya.