"Hei, cewek! Main yuk!"
Sekumpulan pemuda yang sedang menaiki motor memanggil seorang perempuan muda di pinggir jalan. Seorang dari mereka mengedipkan matanya untuk menggoda perempuan itu.
Merasa risih, perempuan itu bergegas meninggalkan tempat itu. Di sisi lain, para lelaki itu tertawa terbahak-bahak sambil berlalu dengan motor mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang entah kemana. Sedari tadi mereka hanya berkeliling di jalanan untuk menggoda para perempuan di pinggir jalan.
Tak berselang lama, terlihat seorang perempuan berbaju putih di pinggir jalan. Sekumpulan pemuda tadi memelankan motor mereka lalu menggoda perempuan itu.
"Hei, cewek! Main sama abang yuk!"
Lagi-lagi mereka melakukan catcalling kepada perempuan yang bahkan tak mereka kenal. Biasanya, para perempuan akan memberikan reaksi risih atau menghindar dari sana. Namun, kali ini berbeda, perempuan tadi justru melambaikan tangan kepada mereka.
Seorang pemuda di barisan belakang melihat hal itu, ia hendak memberitahu teman-temannya, tapi mereka sudah terlanjur melewati perempuan itu. Ia akhirnya memutuskan untuk menepikan motornya dengan maksud menanyakan maksud dari perempuan itu.
"Halo, cantik! Kenapa nih nyegat-nyegat gitu? Kenalin, gue Rama." Goda pemuda tersebut sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Perempuan muda itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu membalas jabat tangan Tama.
Mereka lalu saling menatap. Perempuan itu terlihat lebih cantik saat dilihat dari dekat, hidungnya yang cukup mancung, bibirnya yang tipis, rambutnya yang hitam lurus, serta kulitnya yang putih bersih membuatnya tampak cantik.
"Saya boleh numpang pulang? Kos saya nggak jauh kok dari sini. Oh iya, kenalin, saya Ririn," ucap perempuan itu.
Rama terpesona melihat kecantikan Ririn. Beberapa detik ia terdiam menatap wajah mungil Ririn.
"Mas?"
Lamunan Rama terpecah. Ia segera menarik tangannya lalu mengganguk cepat.
"Iya, boleh. Naik aja sini." Rama menepuk jok belakang motornya.
Ririn lantas menaiki motor Rama. Mereka lalu berangkat menuju ke kos Ririn. Di tengah perjalanan, perempuan itu tiba-tiba menepuk pundak Rama.
"Mas, maaf. Saya lupa kalau jam segini kos saya sudah ditutup gerbangnya. Saya boleh nginep di tempat mas aja nggak ya?"
Rama yang mendengar permintaan perempuan itu lantas mengiyakan dengan cepat. Siapa juga yang mau menolak permintaan menginap seorang perempuan cantik seperti Ririn pikirnya.
Tak berselang lama, mereka sampai di kos Rama. Lelaki itu memarkirkan motornya, ia lalu mengajak Ririn masuk ke kamar kosnya.
"Mbak, kos ini memang kos campur, tapi gue minta tolong jangan berisik ya. Takutnya ngeganggu penghuni yang lain, apalagi udah malem begini."
"Memangnya saya mau ngapain mas? Kok sampe takut saya berisik gitu," jawab Ririn dengan malu.
Rama yang mendengar jawaban Ririn menjadi semakin senang. Wajahnya merah merona, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan cepat ia membukakan pintu kosnya, lalu mempersilakan Ririn masuk.
"Gue ke kamar mandi dulu ya, gerah soalnya."
Ririn hanya mengangguk pelan. Rama lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Sekeluarnya ia dari kamar mandi, betapa terkejutnya ketika dilihatnya Ririn sudah terbaring di kasur kosnya.
Ririn lalu melambaikan tangannya dan menepuk ruang kosong kasur di sebelahnya. Rama meneguk ludahnya sendiri. Ia bergegas menuju ke kasurnya, dengan cepat ia memposisikan diri menghadap Ririn.
Tak sampai di situ, Ririn secara tiba-tiba memposisikan diri duduk di atas tubuh Rama. Lelaki itu semakin sumringah. Ia dengan cepat menyentuh pundah Ririn. Namun, perempuan itu menahan tangan Rama.
"Biar lebih romantis, kita sambil merem ya," pinta Ririn.
" Iya, sayang. Lo bener-bener cantik deh, gue suka," jawab Rama dengan tersenyum.
Lelaki itu lantas menutup matanya, dengan perlahan tangannya menarik tengkuk dan kepala Ririn menuju ke arahnya. Namun, ia terkejut, karena tiba-tiba ia merasa ada suatu cairan yang menetes di wajahnya.
Ia lantas membuka mata, betapa terkejutnya ketika yang dilihatnya bukan lagi wajah Ririn yang cantik dan utuh, melainkan wajah yang rahang bagian atas dan bawahnya sudah robek.
Darah menetes dari rahang yang sudah robek itu. Penampilan Ririn benar-benar berubah. Rambutnya yang semula lurus berubah menjadi acak-acakan. Kulitnya yang putih bersih menjadi kasar dengan berbagai bekas luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Bahkan beberapa belatung dapat terlihat bergerak di bekas-bekas luka.
"Setan! Anjing! Minggir lho!"
Rama berusaha melepaskan diri dari Ririn yang kini mencengkeram kedua tangannya. Satu tangan Ririn lalu beralih ke wajah Rama. Ia mengelus-elus wajah lelaki itu, gerakannya lalu berhenti di sekitar mulut dan pipi Rama.
"Saya pikir, ini hukuman yang pantas untuk laki-laki yang suka menggoda para perempuan di luaran sana."
Setelah mengatakan itu, Ririn lalu menusukkan jarinya yang berkuku tajam ke pipi Rama. Lalu, dirobeknya rahang bawah Rama hingga terlepas dari wajahnya. Hal ini membuat wajah lelaki itu kini mirip dengan Ririn dimana rahang bawah mereka sama-sama terlepas dari wajah mereka.
Perempuan itu lalu menatap tajam Rama.
"Jadi, gimana? Saya masih keliatan cantik kan, Mas?"
***
"Jadi, kurang lebih kayak gitu guys konspirasi yang lagi rame akhir-akhir ini. Kayaknya segitu dulu video aku kali ini, jangan lupa like, komen, dan subscribe ya!"
Seorang lelaki berkacamata terlihat begitu serius menonton video seorang Youtuber yang membahas tentang konspirasi yang sedang ramai belakangan ini.
"Za! Reza! Serius amat, lagi nonton apa sih?"
"Woy, Jaka! Ngagetin aja lu," jawab lelaki itu.
Lelaki yang dipanggil Jaka itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Karena sedari tadi Jaka sudah memanggil Reza beberapa kali. Namun, yang dipanggil tak kunjung menanggapinya.
"Ini loh, gue lagi nonton video soal konspirasi taman di jalan besar itu, yang kita sering lewatin itu." Reza menjawab dengan mengarahkan jarinya ke arah luar.
"Maksudnya?" Jaka mengerutkan keningnya mendengarkan jawaban dari Reza.
"Jadi gini, katanya di sekitar taman itu ada cewek yang sering nyegat orang-orang yang lagi lewat gitu. Nah, banyak yang bilang, katanya orang-orang yang ngasih tumpangan ke cewek itu bakal ...." Reza terdiam sejenak.
"Bakal apa?"
"Mati ...."
Jaka mengibaskan tangan di udara sembari menggelengkan kepalanya.
"Ngaco, gue sering lewat situ, nggak pernah tuh ketemu kayak gituan. Hoax ah!"
Pemuda itu lalu mengambil helm dan berjalan meninggalkan Reza yang menekuk wajahnya karena mendengarkan jawaban dari Jaka.
"Ye dibilangin malah ngeyel. Lagian lo mau kemana sih malem-malem gini? Udah jam sembilan loh. Mau ngegodain cewek-cewek di pinggir jalan lagi ya lo?"
"Mau nyari rokok sekalian muter-muter, gerah di kost. Eh, tapi boleh juga sih ide lu, udah lama gue nggak ngegodain cewek. Jam segini pasti lagi banyak cewek yang lagi pulang kerja, ahahaha!" Jaka tertawa sembari mengeluarkan motornya dari parkiran kost mereka.
Tak berselang lama, pemuda itu sudah meninggalkan kost dan melaju kencang dengan motornya.
Seusai membeli rokok, Jaka memutuskan berkeliling di sekitar taman yang Reza maksud. Ia ingin membuktikan ucapan temannya itu.
Beberapa menit mengelilingi taman itu, ia tak menemukan sesuatu yang janggal. Hanya ada beberapa orang yang sedang nongkrong dan juga pedagang di sana.
"Nah, bener kan nggak ada apa-apa. Emang hoax doang itu konspirasi, ngeyel si Reza," gerutu Jaka.
Ia lalu memutuskan untuk pulang. Namun, baru saja ia hendak menuju jalan arah ke kostnya, terlihat seorang perempuan berdiri di sudut taman yang sepi.
Mata Jaka menyipit, ia senang karena merasa mendapat target yang bisa ia goda. Sedari tadi Jaka memang belum menemukan perempuan di pinggir jalan yang bisa ia goda. Mungkin karena sudah cukup larut malam.
Melihat perempuan itu, Jaka lalu memelankan laju dan mengarahkan motornya ke arah pinggir jalan.
"Hei, cewek! Ngapain nih malem-malem sendiri aja? Mau abang temenin nggak?"
Setelah menggoda perempuan itu, Jaka lalu tertawa dan meninggalkannya. Namun, saat melirik ke spion motornya, ia melihat perempuan tadi melambaikan tangan ke arahnya. Jaka terkejut, ia lalu memutuskan untuk putar balik dan mendekati perempuan itu.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat paras perempuan itu. Hidung yang cukup mancung, bibir yang tipis, rambut hitam lurus, serta kulit putih bersih membuat Jaka terpesona.
"Hai, cantik. Ada yang bisa abang bantu?"
Perempuan itu tersenyum tipis sambil menyisir rambutnya ke belakang telinga.
"Saya boleh numpang pulang? Kos saya nggak jauh kok dari sini. Oh iya, kenalin, saya Ririn."
Tamat.