"Rani! Pulang bareng yuk!"
Seorang siswi kelas sebelah melambaikan tangan kepada Rani. Dengan berlari kecil, siswi tersebut mendatangi Rani.
"Boleh Sisil, kebetulan aku lagi ada tamu hari ini. Jadi enggak bisa main."
Gadis yang dipanggil Sisil itu menatap Rani dan memberi senyum tipis. Mereka lalu bergandengan tangan dan berjalan pulang bersama.
***
Sesampainya di rumah, Rani segera menanggalkan seragam dan bersiap untuk mandi. Keringat sudah membasahi tubuhnya. Ia tidak ingin beristirahat dengan tubuh yang kotor.
Selesai mandi, dengan handuk yang masih menempel di tubuhnya, ia menuju kamarnya untuk memakai baju. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang laki-laki sudah tertidur di kasur mendahuhului sang pemilik kamar.
"Bagus ya, aku aja belum sempet tiduran. Kamu kok udah tiduran di situ astaga Farel!"
Lelaki itu bergeming, ia tetap pada posisinya, tertelungkup dengan bantal di bawah kepala. Rani lalu menggeser tubuh Farel yang cukup kecil jika dibandingkan anak seusianya.
"Ish apa sih!" gerutu Farel dengan wajah masam.
Farel lalu bangun dan memposisikan dirinya duduk di depan Rani. Ia menatap lekat wajah gadis yang saat ini berusia 18 tahun itu.
"Tadi kenapa kamu nggak mampir buat main?"
Rani memutar bola matanya, ia sudah menduga lelaki itu akan menanyakan hal ini. Gadis itu tidak menjawab, ia justru berdiri meninggalkan Farel di kasur lalu berpindah ke meja belajarnya.
"Aku tanya balik, kenapa tadi kamu nggak ke sekolah?"
Farel menghela napas melihat tindakan Rani. Mungkin karena sudah berteman sejak kecil sampai dewasa, Farel menjadi hafal dan paham dengan sikap gadis itu. Rani yang sering melempar balik pertanyaan dibanding menjawab pertanyaan sebenarnya. Namun, justru itu yang membuat Farel tertarik dengan gadis berambut panjang sepinggang itu.
"Tadi Papa main ke rumah. Jadi, ya aku nggak ke sekolah lah. Emang kenapa tanya gitu?"
Rani terdiam, ia tak menjawab pertanyaan dari Farel. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, memberikan isyarat kepada Farel bahwa ia sedang bingung.
"Lagi galau, ya?" tanya Farel hati-hati.
"Tadi ada yang habis nembak aku di sekolah," ucap Rani lirih.
"Ciee, ada yang baru jadian nih. Bagi pajak jadian dong! Udah lama nggak minum thai tea boba nih!"
"Pajak jadian apaan, aku tolak kok orangnya tadi."
Farel mengernyitkan dahi lalu memasang ekspresi bingung. Rani menghela napas, dirinya memang jarang berpacaran, mungkin karena ambisinya dalam belajar sehingga membuatnya lupa untuk jatuh cinta dengan lawan jenis.
"Aku kan udah sering bilang, kalau cintaku kayaknya udah habis di kamu." Rani tersenyum manis sambil menaikkan kedua alisnya.
"Apaan sih! Gombal deh!" Farel terkikik geli mendengar jawaban Rani lalu ia berdiri dari kasur.
"Udah ah, aku mau pulang dulu, udah mau maghrib juga," lanjutnya.
Rani mengangguk pelan mempersilakan lelaki itu meninggalkan kamarnya. Farel memang berbeda, pemuda dengan tubuh tinggi semampai itu punya tempat khusus di hati Rani.
Awalnya mereka hanya teman sekelas, tapi karena sama-sama ambisius dalam belajar membuat mereka sering berinteraksi. Hal inilah yang membuat mereka dekat dan akrab. Sikap kalem Farel membuat Rani jatuh cinta, walaupun sama-sama belum punya banyak pengalaman dalam berpacaran, tetapi mereka berhasil mempertahankan hubungan ini dalam waktu yang cukup lama.
***
Jam istirahat kali ini kantin sekolah Rani terlihat cukup ramai. Hal ini dikarenakan guru-guru yang sedang mengadakan rapat, membuat jam istirahat menjadi lebih panjang.
Rani, Farel, dan Sisil duduk bersama di sebuah meja kantin. Rindangnya pohon di atas meja itu membuat mereka betah berlama-lama disana.
Tak berselang lama, terlihat sekumpulan anak duduk di meja membelakangi mereka. Awalnya tak ada yang salah dengan mereka, sampai Rani mendengar percakapan yang menarik perhatiannya.
"Eh, kalian pernah denger nggak sih, cerita tentang lab kimia?" Seorang siswa bertanya kepada teman-temannya dengan suara pelan.
"Katanya dulu ada yang kesurupan disana ya?"
"Iya, terus katanya banyak hantu gentayangan disana. Ih, merinding asli deh."
BRAK
Meja kantin tempat anak-anak itu dipukul dengan sangat keras oleh Rani. Suaranya terdengar sampai ke seluruh penjuru kantin.
"Aku kasih tau baik-baik ya. Kalau kalian nggak tau apa-apa, mendingan diem, nggak usah nyebarin rumor yang enggak-enggak!"
Wajah Rani memerah, ekspresinya marah sekaligus menahan tangis. Saat itu juga seluruh pandangan tertuju kepada mereka. Anak-anak di meja itu hanya bisa menunduk dan terdiam ketakutan.
"Kalau, aku denger ada yang bahas soal ini lagi. Aku nggak bakal segan buat ngasih pelajaran." Rani menunjuk ke sekeliling dan mengedarkan pandangannya, memberi peringatan kepada orang-orang disana.
Sisil dan Farel yang melihat itu ikut terkejut. Dengan sigap Sisil segera menggandeng Rani untuk meninggalkan kantin, diikuti Farel di belakang mereka. Mereka kembali ke kelas, Sisil dan Farel berusaha menenangkan Rani, berharap tangisnya tidak pecah karena hal itu.
"Ran, udah enggak usah dipikirin omongan mereka. Toh, mereka kan nggak tau juga apa yang sebenarnya terjadi." Sisil mengelus lengan Rani perlahan.
"Iya bener, lagian mereka kan juga masih kelas 10. Wajar aja kalau mereka nggak tau soal ini." Farel menambahkan dan tersenyum tipis ke Rani.
Rani menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu menatap wajah Sisil dan Farel bergantian.
"Makasih ya, maaf kalau aku kelepasan tadi. Aku ... cuma nggak terima aja kalau mereka nyebarin rumor yang enggak-enggak soal kejadian itu."
"Nggak apa-apa, wajar kalau kamu marah. Yang penting sekarang kamu tenangin diri kamu, bentar lagi rapat guru udah mau selesai juga. Aku balik ke kelas dulu ya, Ran." Sisil melirik jam tangannya lalu meninggalkan Rani dan Farel di kelas mereka.
Rani dan Farel mengangguk. Kali ini hanya ada mereka berdua. Suasana diantara mereka menjadi hening dan canggung walaupun kelas begitu ramai dengan anak-anak lain. Seolah mereka berada di dunia yang berbeda dengan anak-anak kelas.
"Maaf ...." Rani berkata dengan lirih sambil menundukkan kepalanya.
Farel yang sekarang duduk di sampingnya hanya terdiam, memandang Rani dengan sendu. Mereka sama-sama terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya seorang guru masuk ke kelas untuk memulai kegiatan pembelajaran.
***
"Kamu mau main?"
"Iya, Sil. Udah lama nggak main juga, kangen aku." Rani ter
"Mau aku temenin, nggak?" tanya Sisil dengan ekspresi wajah khawatir.
Rani menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia bisa main sendiri saat ini. Sisil pun paham dengan jawaban gadis itu, ia lalu memegang kedua tangan Rani, memberikan sejumlah uang lalu menatapnya lekat.
"Titip uang ya. Aku pulang dulu kalau gitu." Sisil tersenyum lalu meninggalkan Rani sendirian di depan kelas.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi. Namun, gadis dengan tas merah marun polos itu masih asyik dengan pikirannya sendiri di depan kelas.
"Nggak mau pulang?"
Farel duduk di sebelah Rani sambil memainkan kakinya. Rani menatap lekat lelaki itu.
"Mau beli thai tea boba, nggak?"
Farel yang mendengar minuman favoritnya disebut, mengangguk dengan cepat. Ia langsung berdiri lalu berjalan cepat ke luar sekolah meninggalkan Rani sendirian.
Rani hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku lelaki itu. Ia lalu menyusul Farel yang sudah cukup jauh berjalan di depannya.
***
Setelah membeli thai tea boba dan barang-barang lain. Rani berjalan menyusuri jalanan setapak. Farel mengekor di belakangnya bak anak ayam mengikuti induknya.
Mereka mulai memasuki perkampungan dengan beberapa kebun di kanan kiri jalan. Tak berselang lama, suatu gapura dengan plang tulisan nama tempat itu menyambut mereka. Gapura yang sudah cukup lama tak Rani lewati karena sedang kedatangan tamu.
Rani berjalan menyusuri jalanan kecil disana dengan hati-hati. Sampai akhirnya ia tiba di tempat yang sering ia datangi. Gadis itu berdiri di samping tempat itu.
Air matanya perlahan mengalir. Ia terisak-isak, melampiaskan kerinduan, emosi, rasa bersalah, dan segala perasaan yang ia pendam selama ini.
Gadis itu meletakkan minuman yang tadi ia bawa, lalu mengeluarkan barang lain yang sudah tadi sudah dibeli juga. Perlahan tapi pasti, plastik kresek yang membungkus barang itu ia buka, terlihat sekumpulan bunga di dalam plastik itu. Gadis itu lalu menyebarkan bunga itu dengan merata di atas gundukan tanah dengan batu nisan itu.
"Farel, ini aku bawain minuman kesukaan kamu. Katanya kamu pengin minum ini kan?"
Gadis itu terisak sambil mengelus batu nisan bertuliskan nama Farel itu. Ia memeluk batu nisan itu, tak memerdulikan seragamnya yang mulai kotor oleh tanah kuburan.
"Maaf, aku minta maaf. Gara-gara aku kamu jadi kayak gini."
"Rani ...." Farel dengan tubuhnya yang melayang berdiri di depan Rani.
"Itu nggak sepenuhnya salah kamu. Pihak sekolah juga udah konfirmasi kan kalau itu juga kelalaian petugas waktu itu, aku juga nggak pernah sekalipun menyalahkan kamu atas kejadian ini," lanjut Farel.
"Tapi ... harusnya sebagai ketua kelas waktu itu, aku udah mastiin kalau semua alatnya berfungsi dengan baik."
Ingatan Rani akan kejadian satu setengah tahun yang lalu kembali terulang.
Saat itu mereka berada di lab kimia untuk melakukan praktikum. Rani sebagai ketua kelas kala itu bertugas mengecek dan memastikan alat-alat praktikum sudah siap digunakan. Namun, karena harus mengatur dan memberikan daftar kelompok praktikum ke gurunya, ia lupa untuk mengecek salah satu bahan kimia yang ternyata tidak tertutup dan meninggalkannya begitu saja.
Petugas lab yang saat itu bertugas juga tidak mengecek lebih lanjut alat dan barang praktikum yang sudah disiapkan. Ia hanya memberitahu Rani letak alat dan bahannya lalu meninggalkan gadis itu begitu saja.
Farel yang saat itu masuk ke lab praktikum lebih dahulu, berencana untuk mencatat alat dan bahan praktikum. Namun, sayangnya ia tidak sengaja menyenggol gelas dengan bahan kimia yang tidak tertutup tadi. Gelas itu pecah dan mengenai kulit wajah Farel. Rasa panas dan gatal langsung menyerang wajahnya.
Karena panik, lelaki itu mengambil benda apa saja yang ada di sana untuk menghilangkan rasa panas dan gatal di wajahnya. Sayangnya, tangannya malah menyenggol gelas-gelas praktikum yang berisi bahan kimia, menyebabkan cairan-cairan itu mengenai saklar lampu disana.
Alhasil, terjadi kebakaran di lab itu, Farel yang masih menahan sakit di wajahnya tidak dapat melarikan diri dari sana karena api menjalar dengan cepat memenuhi lab itu. Ia menjadi satu-satunya korban dalam tragedi itu. Membuat Rani hidup dalam rasa bersalah selama ini.
Seperti yang terjadi saat ini, setelah jenazah Farel dikuburkan, Rani jadi sering berkunjung ke kuburan Farel. Gadis itu memberi istilah 'main' untuk memberitahu teman-temannya bahwa ia hendak berkunjung ke kuburan Farel.
"Tolong ikhlasin aku, Ran. Kamu juga nggak bisa hidup kayak gini terus. Hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah." Farel duduk bersimpuh di depan Rani.
"Nggak cuma rasa bersalah yang membayangi aku Rel, aku juga ... udah jatuh cinta sama kamu. Terlalu susah buat aku move on, kamu itu cinta pertamaku, Rel."
Farel menatap Rani dengan tatapan sendu. Ia bingung harus berbuat bagaimana lagi. Lelaki itu tau Rani sangat sayang kepadanya, tapi dunia mereka sudah berbeda, yang harus Rani lakukan adalah move on dan mengikhlaskan kepergian Farel.
"Aku tau, aku tau kamu sayang sama aku, aku tau kamu jatuh cinta sama aku, aku pun juga, Ran. Tapi, kamu tau kan kalau dunia kita udah berbeda? Aku malah sedih kalau kamu kayak gini terus, aku pengin kamu ikhlasin aku. Ini udah bukan duniaku, aku bisa pergi kalau kamu ikhlasin aku. Aku juga pengin kamu bahagia." Farel menyentuh tangan gadis itu walaupun ia tau gadis itu tidak merasakan apa-apa.
Rani menatap lekat mata Farel. Ia dapat merasakan keinginan yang kuat dari lelaki itu. Wajahnya lalu tertunduk, membiarkan air mata mengalir di pipi dan jatuh membasahi tanah kuburan Farel.
"Kalau itu yang kamu pengin, aku bakal lakuin, tapi kamu harus inget. Aku nggak akan pernah bisa lupain kamu, kamu cinta pertamaku, Rel. Aku bakal berusaha buat bahagia dengan caraku sendiri. Terimakasih Rel, terimakasih udah ngajarin aku banyak hal, terimakasih udah mau terima aku apa adanya, terimakasih ... udah jadi cinta pertamaku. Aku ... ikhlasin kepergianmu."
Farel yang mendengar jawaban itu menjadi lega. Ia tersenyum tulus sambil terus menyentuh tangan Rani. Sedangkan gadis itu menatap lekat mata Farel, menunjukkan rasa terimakasih yang teramat sangat atas segala hal yang telah Farel berikan.
Perlahan-lahan tubuh Farel mulai terlihat samar. Rani dapat melihat cahaya matahari mulai menembus tubuh lelaki itu.
"Terimakasih, bahagia selalu ya, sampai jumpa." Farel tersenyum saat mengucapkan salam perpisahan kepada Rani.
Tak berselang lama, tubuh Farel menghilang dari hadapan Rani, menyisakan kenangan-kenangan yang akan selalu terekam dalam pikiran Rani. Gadis itu lalu menatap batu nisan milik Farel. Ia tersenyum dengan penuh keikhlasan. Ia ingin Farel bahagia, karena itu ia harus menepati janjinya untuk mencari kebahagiaannya sendiri walaupun tanpa Farel, cinta pertamanya.
Tamat.