Udara dipenuhi dengan aroma laut yang asin bercampur dengan harumnya rempah-rempah. Shu Ya, wanita penjual mie di dermaga, tengah sibuk melayani para pelanggan. Seorang sarjana medis, Wang, dengan pakaian bersih dan angkuh, mendekati kedainya.
"Semangkuk kecil mie kuah seafood?" tanya Shu Ya ramah, senyum terkembang di wajahnya.
Wang mengerutkan kening. "Seafood? Tidakkah kau tahu itu bisa menyebabkan ketidakseimbangan humor tubuh? Ikan itu sifatnya yin, dingin, dan basah. Sebaiknya ganti saja dengan daging sapi muda yang hangat dan menyehatkan."
Shu Ya tercengang. "Tapi, Tuan, ini dermaga! Semua orang mencari kesegaran dari laut di hari yang panas seperti ini."
Wang menjawab. "Para pedagang ini bekerja keras di bawah sinar matahari, mereka membutuhkan makanan yang dapat mengembalikan energi, bukannya hawa dingin yang justru membuat mereka lesu."
Shu Ya tidak tinggal diam. "Tubuh kita memang membutuhkan keseimbangan yin dan yang, tapi bukankah rempah-rempah yang ku tambahkan sudah menyeimbanginya? Lagipula, seafood segar ini kaya nutrisi yang dibutuhkan tubuh setelah bekerja seharian."
Wang mengelus janggutnya, sedikit terkejut dengan pengetahuan Shu Ya. "Kau bicara dengan logika yang bagus untuk seorang pelayan kedai," ujarnya, nada bicaranya sedikit melunak.
Shu Ya balas tersenyum. "Banyak pelaut yang datang ke dermaga ini membawa cerita tentang makanan dari berbagai daerah. Kami belajar meramu bumbu agar sesuai dengan bahan yang ada."
Wang manggut-manggut. "Dunia kuliner memang selalu berkembang. Mungkin pemahamanku tentang yin dan yang perlu sedikit penyesuaian di tempat seperti ini."
"Kalau begitu," kata Shu Ya sambil menyiapkan mangkuk, "silakan coba mie kuah seafood kami. Mungkin bisa mengubah pandangan Tuan tentang keseimbangan."
Wang mengamati Shu Ya dengan tatapan penuh respek. "Dengan senang hati," jawabnya.