Jika mencintaimu adalah perjalanan, maka otakku pun akan gagal merapalnya. Aku hilang arah, terlalu panjang dan melelahkan. Ketika itu aku tidak pernah singgah sebab terlalu yakin bahwa kau adalah tujuan. Nyatanya kau menutup jalan, mengungkungku di ujung buntu yang tidak punya jalan pulang.
Sewaktu kau pergi dengan meninggalkan lebam dan memar pada sajak-sajakku, aku berjanji tidak akan menulis untukmu lagi. Semua harapan adalah pembunuh mematikan. Tapi ternyata luka dan kesakitan pun bisa menjadi tinta, mengenangmu dalam sajak yang diam-diam menyimpan air mata.
Tolong ceritakan, apakah semudah itu melupakanku?
Bahkan jika aku tidak pernah menetap dalam ruang ingatan yang kau sebut cinta, setidaknya aku pernah menjadi seorang anak laki-laki pengganggu yang memberimu sepucuk surat cinta. Betapa konyol dan memalukan, tapi aku tidak pernah menyesal. Sebab dengan begitu aku akan selalu tinggal dalam kenangan-kenanganmu tentang masa yang barangkali patut untuk ditertawakan.
Mungkin benar hidup ini adalah lelucon –dan kita mesti bisa menertawakan diri sendiri.
Orang-orang bertemu, jatuh cinta, berpisah, berjalan memunggungi dan saling melupakan. Tapi kita tidak termasuk salah satu di antaranya. Sebab aku yang jatuh cinta –kau tidak. Hanya datang agar kemudian bisa pergi usai membuatku merasa hampir memiliki.