Han Su Jin berjalan menaiki tangga kantornya dengan membawa segelas kopi panas yang baru saja ia beli dari cafe.
"Selamat pagi bu." Sapa salah satu pegawai kantor tersebut.
"Iyaa selamat pagi." Balas Han Su Jin.
Salah seorang pegawai kantor tersebut menghampiri nya sambil membawa sebuah map yang ditujukan kepada Han Su Jin.
"Ini jadwal hari ini bu, 10 menit lagi rapat akan dimulai." Kata pegawai tersebut.
"Baik, 10 menit lagi saya akan tiba di aula." Jawab Han Su Jin ramah.
Tak lama setelah nya setelah selesai rapat Han Su Jin menelepon seseorang.
***
"Aku sudah selesai rapatnya." Kata Han Su Jin pada seseorang di panggilan telepon tersebut.
"Hmmm, okeyy, baiklah." Balasnya terhadap jawaban seseorang di panggilan telepon tersebut.
Han Su Jin mengambil kunci mobilnya dan langsung turun ke basement untuk mengendarai mobil sport abu-abu nya.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di sebuah restoran italy bernuansa klasik di pinggir jalan yang sangat ramai.
Setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung memasuki restoran tersebut dan berjalan kearah salah satu meja dekat jendela.
Yang ternyata sudah ada yang menduduki salah satu kursinya yaitu sahabat Han Su Jin yang bernama park jena.
"Jena-yaaa." Panggi Han Su Jin pada orang yang duduk di kursi meja tersebut.
"Heiii...Su jinaaaa." Jawab orang tersebut dengan kegirangan.
"Apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Han Su Jin. Sambil menarik kursi yang berada di hadapan park jena.
"Tidak, baru sekitar 15 menit." Jawab park jena sambil melirik ke arah jam tangan nya.
Lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka seraya melepas rasa rindu antar sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
***
Seorang pelayan restoran tersebut menghampiri mereka sambil menyodorkan buku menu.
Han Su Jin meraih buku menu tersebut dan mulai memilih pesanan.
"Lasagna satu dan lemonade nya satu." Ucap Han Su Jin pada pelayan tadi.
"Saya bolognaise fusilli nya satu dan blue ocean drinknya satu." Ucap Park Jena menyusul pesanan Han Su Jin.
Setelah mencatatkan pesanan tersebut, pelayan itu langsung pergi.
"Tapi, Su jin. Apa kau tidak apa apa?". Tanya Park Jena melihat kondisi wajah Han Su Jin
"Iya, aku baik baik saja. Memangnya kenapa?". Jawab Han Su Jin.
"Tapi wajahmu sedikit pucat. Apa kau punya cukup waktu untuk tidur?". "Setidaknya atur lah jam tidur sebanding dengan jam terbangmu." Nasehat Park Jena pada sahabat nya itu.
Han Su Jin tersenyum mendengar nasehat sahabatnya itu.
"Ngomong ngomong, bagaimana dengan hari mu selama ini? Apa kau bahagia?" Tanya nya peduli terhadap sahabat nya itu.
"Jauh lebih baik dibandingkan dahulu kurasa."
Senyum kecil ragu terpancar dari bibir Han Su Jin.
"Kuharap kau sudah bisa berdamai dengan kenangan mu itu." Senyum cemas Park Jena terlihat jelas di wajahnya.
"Ya kuharap juga begitu. Terimakasih karna kau selalu dapat memahami ku." Balas Han Su Jin tidak ingin sahabatnya khawatir.
Sejujurnya pertanyaan Park Jena masih terus terngiang dikepala Han Su Jin selama mereka berbincang." Apa kau bahagia?" Pertanyaan singkat yang penuh arti. Yang tidak semudah itu dijawab oleh diri Han Su Jin mengingat banyak nya peristiwa yang terjadi di kehidupan nya selama ini. Han Su Jin sebenarnya tahu alasan kenapa sahabatnya itu bertanya seperti itu. Karena Park Jena seperti saudara sendiri yang sudah melihat banyak peristiwa di kehidupan Han Su Jin.
Han Su Jin langsung mencicipi minumannya yang baru saja di hidangan kan.
"Hmmm sungguh seleraku." Wajah bahagia sangat terpancar di wajahnya setelah mencicipi minuman nya itu.
"Kau masih sama seperti dahulu." Kata Park Jena sambil tertawa kecil melihat tingkah sahabat nya itu.
"Tidak, tidak. Aku sudah sangat berubah jika kau tahu. Kau sudah lama tidak bertemu dengan ku, banyak momen yang belum kau tahu. Akan kuceritakan nanti jika kau punya banyak waktu luang. Aku yakin kau pasti senang dan terharu mendengar nya." Jelas Han Su Jin dengan penuh kegirangan.
"Baiklah baiklah, sudah dahulu mengobrolnya. Ayo makan dahulu hidangan nya. Aku sudah sangat lapar sejak baru turun dari pesawat tadi." Balas Park Jena dengan nada penuh kasih sayang.
"Kau belum makan dari tadi?! Kenapa tidak bilang?!. Baiklah maafkan aku karena sudah menunda waktu makan mu." Jawab Han Su Jin merasa bersalah karena sedikit telat datang ke restoran tersebut.
Park Jena menjawabnya dengan anggukan dan langsung melanjutkan makannya lagi. Han Su Jin juga mulai memakan pasta nya yang penuh akan daging dengan keju melimpah.
Mereka sangat menikmati makanan mereka, sambil sesekali mengobrol tentang peristiwa menarik yang terjadi di kehidupan mereka.
***
"Apa kau tau Lee Steve membuka cabang baru di New York?!"
"Benarkah? Kemampuan nya memang tidak diragukan lagi." Puji Han Su Jin.
"Iya benar sekali, banyak tokoh dunia yang hadir dalam acara peresmian cabang bisnis nya itu. Bahkan wali kota New York juga hadir di acara itu."
"Di memang sudah terkenal sejak masih menjadi mahasiswa. Dia bahkan lulus Stanford University dengan predikat cumlaude dengan biaya 100% di tanggung beasiswa pemerintah selama ia berkuliah di sana." Balas Han Su Jin.
"Di tengah kesibukannya ia juga sesekali terlihat bergabung dalam acara amal dunia. Di salah satu wawancara nya Steve mengatakan bahwa tetap ada waktu yang harus ia luangkan untuk menikmati hari. Makanya ia sering terlihat berkumpul dengan keluarga nya dan melakukan berbagai hobinya dengan berkebun, membaca buku, membuat jurnal, dan olahraga." Park Jena menambah kan.
"Woww, sangat luar biasa di usia nya yang masih sangat muda ia bisa mencapai semua itu." Han Su Jin terkagum dengan penjelasan Park Jena.
"Kau pun juga sudah mencapai itu bukan? Mendirikan pabrik farmasi dan membangun rumah sakit ibu dan anak, serta kau juga rutin berdonasi ke panti asuhan mu dulu." Park Jena menyadarkan.
"Ya, aku sangat bersyukur atas itu, sangat."
Senyum tulus nya mengembang.
***
Setelah menyelesaikan makan mereka, Park Jena langsung pamit pulang terlebih dahulu karena ia belum sempat menemui keluarga nya setelah konferensi pers di Amerika. Bersamaan dengan pulangnya Park Jena, Han Su Jin juga kembali ke kantornya. Saat akan keluar restoran Han Su Jin melihat seorang anak kecil bersama dengan seorang laki laki yang seperti nya adalah ayahnya. Anak kecil itu terjatuh saat berlarian di taman restoran tersebut. Ayahnya yang melihat itu pun langsung bergerak cepat melihat kondisi anak kecil itu. Anak kecil tersebut hanya tersenyum menatap ayahnya yang sedang khawatir sambil membersihkan lututnya.
Han Su Jin lalu tersenyum sejenak sambil memperhatikan mereka. Namun tak lama kemudian jantung nya tiba tiba terasa nyeri. Akhirnya Ia langsung melanjutkan langkah nya menuju tempat parkir. Namun ketika ia sedang berjalan menuju tempat parkir mobilnya ia merasakan kepala nya sangat berat. Han Su Jin tidak berpikiran macam macam dan melanjutkan langkah nya menuju tempat parkir mobilnya. Setelah sampai di sebelah mobilnya, Han Su Jin segera merogoh kunci mobil di sakunya untuk membuka pintu mobil nya itu. Sebelum menghidupkan mobilnya Ia meminum 3 pil obat yang Ia ambil dari dalam tas nya.
Di perjalanan menuju kantornya ia merasa kepalanya semakin berat namun ia tetap berusaha fokus untuk mengendarai mobilnya itu. Semakin lama kepala nya terasa semakin berat dan akhirnya ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan membuka kaca mobilnya. Setelah kepalanya terasa lebih ringan ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Sambil berusaha mengatur napasnya dan berharap traumanya tidak kambuh saat itu.
***
Bayangan kejadian terlintas dalam benak Han Su Jin.
Balon kuning terhempas, terbawa angin menuju langit biru cerah, aku berlari berusaha menangkapnya.
Ahhh, aku tersandung. Seseorang menghampiri Han Su Jin kecil.
"Su jin, Hati-hati sayang" Sambil mengusap lututnya.
"Ayah... Balon..". Kata Han Su Jin kecil. Sambil berpaling menghadap ke arah orang yang ia panggil ayah tersebut.
"Duduk disini dulu ya sayang, ayah akan membeli kan obatnya dahulu untuk lukamu, dan balon juga yang baru" . Han Su Jin kecil hanya menjawabnya dengan senyuman.
Lalu ayahnya pergi untuk membelikan obat dan balon
"Ayahhhh!!!!!"
Suara ledakan terdengar sangat keras dan dalam sekejap daerah disekitar komedi putar itu hancur tak bersisa.
Tiba-tiba pandangan Han Su Jin buram dan kondisi sekitarnya terasa seolah berputar.
Han Su Jin kehilangan kendali mobilnya dan menabrak pembatas jalan di sebelah kanannya.
Kondisi depan Mobil sport Han Su Jin remuk dan mengeluarkan asap dari dalam mobilnya. Han Su Jin tak sadarkan diri dengan masih memegang stir mobilnya.
Tak lama setelah itu polisi, pemadam kebakaran, dan ambulans tiba dilokasi kecelakaan. Petugas pemadam kebakaran dan tim medis segera mengevakuasi tubuh Han Su Jin dan membawa nya ke rumah sakit terdekat dengan mobil ambulans. Polisi segera menginvestigasi tkp dan saat sedang melakukan investigasi polisi menemukan handphone Han Su Jin yang berdering karena mendapat panggilan dari seseorang. Nama yang tertera di layar handphone tersebut adalah Park Jena. Polisi segera mengangkat telepon tersebut.
"Su Jin-na. Aku lupa memberikan oleh-oleh dari Amerika yang aku beli untukmu. Kapan kau akan selesai bekerja? Kabari aku jika kau sudah selesai bekerja. Aku akan menemui mu di kantor." Kata Park Jena pada panggilan telepon nya.
"Selamat siang. Kami dari tim investigasi kepolisian. Apakah anda dapat memberitahukan siapa nama pemilik handphone ini?. Pemilik handphone ini mengalami kecelakaan dan sedang di beri penanganan di rumah sakit Luna Hospital Center. Kami dari tim kepolisian membutuhkan data pribadi korban." Terang polisi pada Park Jena.
Tanpa pikir panjang Park Jena langsung berangkat menuju rumah sakit yang di informasikan oleh polisi.
Sesampainya di rumah sakit.
Dokter menjelaskan bahwa kemungkinan yang terjadi pada Han Su Jin adalah karena trauma yang dialami nya. Dokter juga menjelaskan bahwa dari investigasi polisi menemukan beberapa obat penenang di dalam tas Han Su Jin yang ditemukan di TKP. Saat itu Park Jena tersadar bahwa ekspresi Han Su Jin di restoran waktu itu adalah karena ia belum dapat berdamai dengan trauma masa kecilnya.
Setelah dari ruang dokter Park Jena kembali ke kamar Han Su Jin. Ternyata Han Su Jin telah siuman dan Park Jena pun langsung memanggil dokter untuk mengecek kondisi Han Su Jin. Dokter meninggalkan ruangan setelah memastikan kondisi Han Su Jin baik baik saja.
"Kenapa kau tidak mengatakan nya? Trauma mu." Tanya Park Jena pada Han Su Jin.
"Kau pasti akan khawatir kepadaku. Kurasa aku dapat mengatasi semuanya sendiri. Kau juga sudah banyak membantu dalam kehidupanku. Aku berhutang budi padamu dan aku tidak ingin menambah beban hidupmu." Balas Han Su Jin.
"Apa kita orang asing? Su Jin-na, kau sudah kuanggap keluarga ku sendiri. Tidak ada rasa beban saat aku membantumu. Aku senang saat aku dapat membantu dalam meraih kebahagiaan hidupmu. Jika kau bahagia akupun juga." Terang Park Jena.
"Terimakasih karena semua pemahaman mu terhadap ku." Air mata Han Su Jin sudah tidak dapat terbendung.
Tak lama setelah itu Han Su Jin kembali bercerita.
"Ayahku. Aku melihat bayangan masa kecilku, saat terakhir bersama ayahku. Ledakan itu terdengar sangat nyata. Seolah aku berada saat dimana kejadian itu terjadi." Han Su Jin menceritakan itu sambil bercucuran air matanya.
"Aku masih belum bisa melupakan nya. Aku masih ingin bertemu dengan nya. Aku ingin meminta maaf kepada nya. Andai saja saat itu aku tidak terjatuh, mungkin saja ayahku berada di samping ku saat ini." Tangis Han Su Jin semakin menjadi-jadi.
"Sudahlah tenanglah, sekarang yang penting kau sembuh dulu. Tenangkan pikiranmu. Dokter menjelaskan 3 hari lagi kau boleh pulang namun harus rawat jalan sekaligus untuk pengobatan trauma mu." Park Jena berusaha menenangkan Han Su Jin.
***
Han Su Jin telah ditinggal oleh ibunya sejak umur 4 tahun. Ibunya meninggalkan kan ia dengan ayahnya karena lebih tertarik dengan kehidupan mewah yang ditawarkan oleh pria asing. Han Su Jin lalu tinggal bersama ayahnya yang kerja dengan membuka toko pie peninggalan neneknya. Namun saat usianya 7 tahun ayahnya menjadi korban tragedi bom bunuh diri di sebuah wahana taman bermain. Ia akhirnya tinggal di panti asuhan hingga lulus kuliah dan sekarang Ia sudah menjadi pemilik pabrik farmasi serta rumah sakit ibu dan anak terkemuka yang telah bekerja sama dengan Amerika , Singapura dan China.
"Apa ada yang ingin kau makan? Akan aku traktir, hadiah keluar rumah sakit." Tanya Park Jena pada Han Su Jin.
"Pie kenari dari DailyBakery." Jawab Han Su Jin
"Okeeyyy ayo kesana." Balas Park Jena
Sesampainya di DailyBakery.
"Pie kenari nya satu dan Es Americano satu."
"Jena-ya kau mau pesan apa." Tanya Han Su Jin.
"Aku cheesecake satu sama latte satu." Jawab Park Jena.
Mereka duduk di bangku dekat jendela besar.
"Kenapa kau suka sekali pie disini." Tanya Park Jena.
"Karena pie disini rasanya sangat mirip dengan pie buatan ayahku." Jawab Han Su Jin sambil tersenyum.
Seorang pelayan menghampiri mereka sambil membawa pesanan mereka.
"Pie disini rasanya sangat enak. Tolong sampaikan pesanku ini pada koki yang membuat pie ini ya. Terimakasih karena sudah membuat pie yang sangat enak." Kata Han Su Jin pada pelayan tersebut.
"Pak Han Kyu Ju sudah berpengalaman dalam membuat pie kenari. Beliau dulu pernah mendirikan usaha kedai pie yang bernama MyHappyPie milik keluarga nya. Jika boleh tahu siapa nama Anda. Saya akan menyampaikan pesan anda." Balas pelayan tersebut dengan sangat ramah.
"Han Kyu Ju? MyHappyPie?"
"Boleh saya bertemu dengan beliau?" Tanya Han Su Jin dengan raut wajah terkejut terhadap pernyataan pelayan tersebut.
"Ya?" Balas pelayan tersebut.
Sesampainya di dapur kedai tersebut.
"Ayah?" Han Su Jin mematung saat berhadapan dengan salah seorang koki yang bernama Han Kyu Ju.
"Su Jin?" Koki tersebut juga sama terkejut nya dengan Han Su Jin.
"Bagaimana bisa? Ayah?" Tanya Han Su Jin masih tidak percaya atas yang Ia lihat.
Setelah kembali ke tempat duduknya.
"Maaf kan ayah Su Jin-na. Setelah kejadian taman bermain itu ayah mengalami hilang ingatan dan ayah tinggal di panti khusus korban tersebut. Ayah mulai sedikit mengingat beberapa kejadian setelah 3 tahun itupun hanya baru dapat mengingat nama ayah. Sampai sekarang pun ingatan ayah belum sepenuhnya kembali. Ayah hendak mencarimu namun ayah hanya mempunyai foto masa kecilmu yang sudah sangat berbeda dengan wajahmu saat ini." Terang ayah Han Su Jin.
"Ayah tidak perlu meminta maaf. Itu bukan salah ayah. Apapun kejadian nya yang penting sekarang aku sudah bersama dengan ayah." Balas Han Su Jin sambil memeluk ayahnya.
"Kurasa trauma mu akan cepat sembuh. Sejujurnya aku masih tidak percaya atas kejadian ini. Kau bahkan sudah sering datang kesini. Yang ternyata pie favorit mu adalah pie buatan ayahmu yang selama ini kau cari." Ucap Park Jena tidak percaya atas kejadian tersebut.
"Aku juga masih tidak percaya hal seperti ini terjadi di kehidupan ku, tapi aku sangat bersyukur atas kejadian ini." Balas Han Su Jin.
Saat mereka terpisah dan hingga akhirnya mereka bertemu itu adalah momen yang bukan hanya sekedar kesengajaan, namun itu adalah takdir yang telah tertulis untuk mereka.
End.