“Selamat pagi Alena, semoga harimu menyenangkan ya”, Alena membaca lirih tulisan di sepucuk kertas merah muda yang tertempel di sekuntum bunga mawar. Ini adalah kali ketiga Alena mendapati sekuntum bunga mawar yang dikirimkan khusus untuknya dan diletakkan di atas mejanya. Rasa penasarannya semakin mencuat. Alena sangat ingin tahu siapa orang dibalik teka-teki ini. Sementara itu, sepasang mata sedang mengamatinya dari balik jendela kelas Alena tetapi Alena tidak menyadarinya.
Keesokan harinya, Alena sengaja datang lebih awal. Tiba di sekolah, Alena tidak langsung menuju kelas dia sengaja duduk di taman yang terletak di seberang kelasnya. Dia ingin mengamati dari jauh siapa saja yang masuk ke dalam ruang kelasnya. Alena berharap dapat bertemu degan sosok misterius di balik teka-teki sekuntum bunga mawar yang selama ini sangat membuatnya penasaran.
30 menit, 45 menit, hingga hampir satu jam Alena menunggu tetapi yang dilihatnya hanya teman-teman sekelasnya yang mulai berdatangan dan masuk ke dalam ruang kelasnya. Alena mulai menyerah, mungkin sosok misterius itu tidak ingin beraksi pada hari ini. Dengan rasa kecewa, Alena beranjak meninggalkan taman dan bergegas menuju kelas karena bel telah berbunyi. Dipendamnya lagi rasa penasaran yang selama ini menghantui pikirannya. Sosok misterius itu belum bisa ditemuinya.
Beberapa hari kemudian, Alena tiba di sekolah lebih pagi dari biasanya. Hari itu dia berjanji dengan Belva, teman sebangkunya untuk menyelesaikan tugas sekolah bersama. Dengan cepat-cepat Alena bergegas menuju kelas, namun langkahnya tertahan ketika dari balik jendela kaca kelas tidak sengaja dia melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi berdiri di samping mejanya. Sosok itu sepertinya tidak asing baginya. Alena berjalan pelan mendekati pintu kelas pada saat yang sama sosok misterius itu juga beranjak keluar dari ruang kelas. Alena berdiri di depan pintu dan membentangkan kedua tangannya mencoba menghadang langkah lelaki itu. Alena dan sosok itu saling menatap sekilas dan tampak raut wajah terkejut pada keduanya. Tiba-tiba, sosok itu menyingkirkan tangan Alena dan setengah berlari meninggalkan Alena. Alena terpaku di depan pintu kelas dia tidak menyangka bahwa sosok misterius itu ternyata adalah Dareen.
Dareen adalah kakak kelasnya di SMA Pelita Bangsa. Alena duduk di kelas 10 sedangkan Dareen adalah siswa kelas 11. Mereka sudah saling mengenal karena keduanya sama-sama aktif di organisasi OSIS. Tetapi, sifat pendiam Dareen membuat keduanya tidak terlalu dekat dan hanya berkomunikasi sebatas urusan organisasi. Dareen juga salah satu atlet basket di sekolahnya yang dikagumi oleh banyak siswi termasuk Alena. Alena dan sahabat-sahabatnya sering menyaksikan aksi Dareen ketika bertanding dan menjadi supporter yang selalu menyemangati Dareen.
Alena semakin penasaran apa maksud Dareen melakukan aksi misteriusnya. Ingin rasanya segera menemui Dareen dan menanyakan hal tersebut tetapi tiba-tiba Belva menggandeng tangannya masuk ke dalam kelas.
“Al, ngapain sih kamu berdiri di sini?”, tanya Belva sambil menggandeng tangan Alena menuju meja mereka berdua.
“Waahh.. mawar lagi nihh?”, seru Belva.
“Aku jadi penasaran sebenarnya siapa sih penggemar misteriusmu itu. Mungkinkah dia sesosok malaikat tak bersayap ataukah pangeran dari negeri seberang?”, cerocos Belva disertai tawa.
“Udahlah Bel, aku lagi ga pengen bahas bunga itu”, kelit Alena mencoba menutupi perasaannya yang berkecamuk setelah kejadian yang baru dialaminya.
Dia tidak ingin bercerita kepada Belva tentang sosok misterius yang ada di balik teka-teki sekuntum bunga mawar itu. Belva pasti akan sangat heboh jika mengetahui fakta bahwa selama ini Dareen-lah yang telah mengirim mawar kepada Alena. Belva adalah salah satu pengagum Dareen, sosok idola para cewek di SMA Pelita Bangsa.
Semenjak kejadian itu, Dareen tidak lagi mengirim bunga untuk Alena, bahkan berusaha menghindari komunikasi dengan Alena. Sikap Dareen ini membuat Alena sangat gelisah. Di satu sisi dia sangat ingin tahu alasan Dareen selama ini melakukan aksinya namun sikap dingin Dareen membuat Alena tidak cukup berani untuk mempertanyakan hal itu kepada Dareen. Alena berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ini tanpa meyinggung perasaan Dareen.
Beberapa hari kemudian, berbekal sedikit keberanian Alena mencoba menghubungi Dareen melalui ponselnya. Dia berusaha memperbaiki komunikasi dengan Dareen agar masalah di antara mereka berdua tidak menghambat urusan organisasi yang melibatkan mereka.
“Selamat malam kak, maaf mengganggu waktunya.”, tulis Alena melalui pesan WA kepada Dareen.
“Setelah kejadian di kelas yang lalu, jujur saya sangat kaget mengetahui bahwa kakak-lah yang selama ini mengirim bunga untuk saya. Terima kasih atas perhatian kakak selama ini. Tapi kalau boleh tau, apa alasan kakak melakukan itu?”, jelas Alena.
“Maaf kalau saya dianggap lancang menanyakan hal ini.”, tambah Alena.
Setengah jam Alena menunggu balasan dari Dareen tapi belum juga didapatkannya. Alena mulai gelisah dan khawatir jika yang dilakukannya ini membuat Dareen semakin tidak nyaman. Alena hendak beranjak dari kamarnya ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk di HP-nya. Dengan cepat diraihnya kembali HP yang baru saja ditaruhnya dan benar ternyata Dareen membalas pesannya.
“Iya, selamat malam Alena.”, balas Dareen membuat hati Alena berdebar.
“Maaf kalau selama ini aku sudah mengganggumu. Kalau kamu ingin tau alasanku, temui aku besok sepulang sekolah di kantin”, tambah Dareen.
Alena terpaku membaca balasan dari Dareen. Dia tidak menyangka bahwa Dareen mau menanggapi pesannya.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Alena bergegas menuju kantin untuk menemui Dareen. Dari kejauhan tampak Dareen sudah menunggu kedatangannya.
“Selamat siang kak… maaf menunggu ya…”, sapa Alena.
“Ohh gakpapa Alena, saya juga baru datang kok”, jawab Dareen.
Alena mengambil tempat duduk di depan Dareen. Sekarang mereka saling berhadapan. Dareen mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukkan kepada Alena.
“Aku ingin kamu melihat foto ini”, ujar Dareen.
“Ini siapa kak?”, tanya Alena.
“Kenapa wajahnya…”, tambah Alena sembari bertanya.
“Iya, dia adalah Dania, adikku satu-satunya. Entah kenapa ketika aku bertemu kamu pertama kali aku merasa bertemu lagi dengan adikku. Wajah kalian sangat mirip”, tutur Dareen.
“Maaf, memang adik kakak dimana sekarang?”, tanya Alena.
“Dua tahun yang lalu Dania meninggalkan kami untuk selamanya. Dia menderita penyakit yang cukup langka dan belum bisa disembuhkan. Kami sekeluarga sangat terpukul atas kepergiannya”, jelas Dareen.
“Ohh, maaf kak… kakak pasti sangat kehilangannya”, tanggap Alena.
“Iya, aku sangat menyayangi Dania. Sejak aku mengenalmu, sejak itulah setiap kali aku merindukannya, aku selalu mengingatmu. Karena itulah aku mengirim bunga untukmu, bunga mawar kesukaan Dania. Sebenarnya, aku ingin memperkenalkanmu kepada mama yang sampai saat ini masih terpukul atas kepergian Dania, tapi aku ragu kamu keberatan akan hal itu”, papar Dareen.
“Hmm… kakak yakin kehadiran saya bisa mengobati kesedihan mama kakak?”, tanya Alena.
“Ya kalau kamu ga keberatan, apa kamu mau mencoba?”, Dareen balik bertanya.
“Dengan senang hati kak, jika itu bisa membuat mama kakak kembali tersenyum.”, jawab Alena.
Dareen tersenyum, senyum termanis yang pernah dilihat Alena dari sosok cool di hadapannya.
“Terima kasih Alena…”, ucap Dareen dengan tersenyum, senyum termanis yang pernah dilihat Alena dari sosok cool di hadapannya.
Dengan mata berbinar Dareen menatap wajah Alena. Alena pun membalas senyuman Dareen, senyum yang melukiskan kelegaan atas terjawabnya misteri yang beberapa waktu terakhir sangat mengganggu pikirannya.