Matahari perlahan-lahan tenggelam di balik cakrawala, menyisakan semburat jingga yang memancar di langit. Awan-awan bergerak lambat, seperti ikut mengiringi perpisahan hari itu. Di tepi danau kecil di pinggiran kota, seorang wanita berdiri memandangi air yang tenang. Namanya Dina.
Dina sering datang ke tempat ini setiap kali ia merasa perlu merenung. Danau ini menyimpan banyak kenangan baginya, terutama kenangan tentang seseorang yang pernah mengisi hatinya, Bima.
Tiga tahun yang lalu, di tempat ini, Dina dan Bima sering menghabiskan waktu bersama. Bima adalah seorang fotografer, dan ia selalu membawa kameranya ke danau untuk menangkap keindahan senja. Dina, di sisi lain, adalah seorang penulis yang menemukan inspirasi dari setiap momen yang dilaluinya bersama Bima.
Hari-hari mereka penuh dengan tawa, cerita, dan mimpi. Bima selalu berkata, "Setiap senja adalah lukisan Tuhan yang harus kita hargai." Dina menyukai cara Bima melihat dunia, dan dari situlah lahir banyak ceritanya.
Namun, takdir berkata lain. Sebuah kecelakaan tragis merenggut Bima dari kehidupan Dina. Sejak saat itu, Dina merasa dunianya runtuh. Ia kehilangan bukan hanya kekasih, tetapi juga sahabat dan inspirasinya. Namun, dalam kesedihannya, Dina menemukan kekuatan untuk terus menulis, meski rasa sakit selalu menyertainya.
Senja itu, Dina memutuskan untuk menulis surat kepada Bima, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak kepergiannya. Ia duduk di bangku kayu di tepi danau, membuka buku catatannya, dan mulai menulis.
Kepada Bima,
Matahari senja hari ini begitu indah, mengingatkanku pada momen-momen yang kita habiskan bersama di sini. Sudah tiga tahun berlalu, namun rasanya baru kemarin kita duduk di sini, berbicara tentang mimpi-mimpi kita.
Aku merindukanmu setiap hari, Bima. Tapi aku tahu kamu ingin aku tetap kuat dan terus menulis. Jadi, aku mencoba. Aku menulis tentang kita, tentang cintamu pada senja, dan tentang rasa sakit yang kurasakan ketika kehilanganmu.
Hari ini, aku ingin berterima kasih. Terima kasih karena telah mengajarkanku untuk melihat keindahan dalam setiap hal kecil. Terima kasih telah mencintaiku dengan tulus. Dan terima kasih karena, meski kamu sudah pergi, cintamu tetap hidup di dalam hatiku.
Aku harap di suatu tempat di sana, kamu melihatku dan tersenyum. Aku akan selalu mencintaimu, Bima.
Dengan cinta,
Dina**
Dina menutup bukunya, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa sedikit lega setelah menuliskan perasaannya. Saat itulah ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Seorang pria muda berdiri di belakangnya, tersenyum hangat.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu," kata pria itu. "Saya sering melihatmu di sini dan berpikir mungkin kamu ingin ditemani."
Dina menghapus air matanya dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Namaku Dina."
"Saya Ardi," jawab pria itu. "Tempat ini sangat indah, ya? Saya bisa mengerti kenapa kamu suka datang ke sini."
"Ya, tempat ini penuh kenangan," jawab Dina lirih.
Mereka berbicara untuk beberapa saat, dan Dina merasa ada sesuatu yang menenangkan dalam kehadiran Ardi. Seperti ada energi positif yang memancar dari dirinya. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan, mimpi, dan kehilangan.
Senja berlalu, dan langit mulai gelap. Dina merasa hatinya sedikit lebih ringan. Mungkin, berpindah dari kesedihan menuju penerimaan tidak secepat yang ia harapkan, tapi kehadiran Ardi memberinya harapan baru.
"Dina, aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi bolehkah aku bertemu denganmu lagi di sini?" tanya Ardi sebelum mereka berpisah.
Dina tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Ardi. Aku akan senang."
Dalam dekapan senja, Dina menemukan kekuatan untuk melangkah maju. Ia tahu bahwa cinta dan kenangan Bima akan selalu bersamanya, namun ia juga menyadari bahwa membuka hati untuk orang baru bukanlah pengkhianatan. Itu adalah bagian dari proses penyembuhan.
Tamat