Aku berlari dengan dibalut perasaan ketakutan. Mengapa tidak?, gedung bertingkat enam yang Ku masuki, gedung kosong dengan dihiasi dinding-dinding yang catnya tidak berwarna lagi. Serta, pintu-pintu dan jendelanya telah tidak ada di tempatnya.
Aku menoleh ke belakang, nampak sosok menyerupai manusia tapi, wajahnya rata tanpa mata, hidung, mulut, dan berwarna hitam. Serta, berperawakan tinggi besar. Sedari tadi terus mengejarKu tanpa henti.
Aku terus berlari dan berlari dari ruangan satu ke ruangan lainnya.
"Astaga!, tidak ada ruangan satupun yang bisa ku jadikan tempat persembunyian" kataKu pada diriku sendiri.
Kakiku mulai sakit dan keringatKu bercucuran. Aku ingin ke luar dari bangunan kosong ini.
"Aku harus melawannya," ucapKu di dalam hati.
Aku berbalik badan dan menatap ke wajahnya yang polos bagai aspal jalan raya. Namun, ia terus melangkah maju dan menangkapKu, meletakkanKu ke atas bahunya dan membawaKu menuruni tangga demi tangga hingga ke lantai dua. Di salah satu ruangannya yang tidak beda jauh dari ruangan lainnya, Aku di dudukan di kursi kayu dan sosok hitam itu duduk di depanKu. Dia memegangi telapak tangan kiriKu dan melepaskan cincin pemberian tunanganKu dan dibuangnya ke sembarang arah. Aku mendorongnya dan berlari lagi menuruni tangga terakhir menuju lantai dasar tanpa diikuti oleh sosok bayangan hitam itu.
"Akhirnya aku bisa berjalan santai" ucapKu sendiri sambil terus berjalan mencari pintu yang tadi Ku masuki.
"Tunggu dahulu, aku seperti melihat seorang gadis duduk di pojok kamar mandi?," Aku mencoba berpikir apa Aku tidak salah lihat?.
"Haruskah aku memeriksanya?," lanjutKu menimbang-nimbang keputusan apa yang harus Ku ambil.
"Aku harus melihatnya. Siapa tahu nasibnya sama denganku?"
Aku berbalik ke arah kamar mandi yang Aku lewati tadi. Aku menengok ke dalamnya, seorang gadis berambut panjang hitam sepertiKu duduk menunduk sambil menangis. Aku mendekatinya dan turut menjongkok di depannya.
"Kamu kenapa menangis?," tanyaKu.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan membuatKu jatuh terduduk.
Aku seperti sedang berkaca. Wajahnya, warna kulitnya, semuanya dari ujung kaki hingga ujung rambut sama sepertiKu.
"Pergilah dari sini. Janganlah memendam kebencian terlalu lama kepada seseorang." Pesannya kepadaKu.
"Pergilah cepat!"
"Apa maksudmu?," Aku tidak mengerti yang diucapkannya.
Bayangan hitam itu datang lagi dan mendekap erat gadis itu. Aku kabur tanpa perasaan kasihan kepadanya. Aku berlari hingga ke luar gedung dan mencegat taksi yang kebetulan sedang terparkir. Aku masuk ke dalam taksi.
"Mahu kemana , non?" Supir taksi bertanya kepadaKu tapi, Ku menulikan pendengaranKu.
PikiranKu teringat kepada gadis itu... yang wajahnya mirip denganKu. Aku langsung turun dari taksi dan berlari masuk kembali ke gedung itu berniat menyelamatkan gadis itu. Namun, nihil, tidak ada siapapun di sana.
"Bela!.. Bela!...," suara seseorang yang tidak asing menggema di udara
memanggil-manggil namaKu.
Aku menoleh dan mencari asal suara itu ke seluruh ruangan.
"Bela!... Bela bangunlah. Bela!!!".
...
Aku membuka perlahan kedua kelopak mataKu. Aku melihat Sandra, Dewi dan Rangga, ketiga sahabatKu itu mengelilingiKu yang terbaring di atas ranjang kamar tidur Sandra.
"Apa yang terjadi kepadaku?" TanyaKu .
"Tadi kamu pingsan setelah menerima telepon dari mamamu. Memangnya apa yang mamamu bilang di telepon tadi?", tanya Sandra.
Rangga mebantuKu duduk. Aku meneteskan airmata teringat omongan mama di telepon tadi. Dewi langsung merangkulKu dan Aku menangis di pelukannya.
"Dia memutuskan pertunangannya denganku. Apa yang salah denganku?, kenapa setiap pria yang bertunangan denganku, selalu mengambil keputusan sepihak?. Tolong, katakan kepadaku, sifatku yang mana yang buruk agar aku bisa merubah diriku."
Sandra dan Rangga saling pandang seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Kamu tipe orang yang keras kepala, Bel. Cobalah memaafkan setiap orang yang berbuat salah kepadamu. Ingatlah, kita semua adalah manusia yang tidak luput dari salah. Bukankah kamu juga ingin dimaafkan jika kamu berbuat kesalahan, bukan?" Jawab Rangga si bijak dan berpikiran dewasa diantara kami.
Aku terdiam, teringat pesan di mimpiKu barusan.
"Haruskah aku menemuinya?" TanyaKu.
"Tidak usah. Biarkan dia tenang dahulu dan kamu juga harus mulai mengintrogeksi dirimu. Jika memang kalian berjodoh, kalian akan disatukan oleh takdir", jawab Sandra.
"Apakah tadi kamu bermimpi tentang bayangan hitam lagi?," Dewi akhirnya buka suara semenjak tadi dia hanya membisu.
Aku mengangguk.
"Kamu tahu darimana?" Tanya Sandra yang selama ini sama seperti Rangga tidak tahu kalau Aku sering bermimpi mimpi yang sama.
"Aku sempat membaca salah satu buku. Cerita fiksi, sih tapi, bagiku bisa diambil pelajaran dan nasihat di dalamnya. Pesan yang aku dapat dari buku itu adalah bayangan hitam yang selalu mengikuti di setiap mimpi-mimpimu itu adalah sifat pendendammu yang
bertahun-tahun kamu pelihara. "
"Jangan didengar, Bela. Itu hanya cerita fiksi" sambung Rangga .
Aku menangis menutup wajahKu dengan kedua telapak tanganKu. Benar kata Dewi, Aku terlalu sulit memaafkan kesalahan orang lain kepadaKu. Mengapa tidak?, Aku selalu menaruh kepercayaan kepada setiap orang yang Ku temui dan satu saja kesalahan mereka bisa membuatKu sakit hati dan terluka.
"Tinggalkan aku sendirian, " pintaKu.
Rangga, Sandra dan Dewi ke luar kamar dan memberikan waktu kepadaKu untuk meluapkan emosi di dalam diriKu.
...