Nenekku populer sebagai gadis tercantik di kotanya kala itu. Banyak pemuda yang menaruh hati pada nenek dan bersedia memberikan cintanya. Mulai dari laki-laki tampan hingga pria kaya saling berusaha menarik perhatian nenek, tetapi nenek tidak pernah sedikitpun tertarik pada semua orang yang menyukainya.
Hingga, suatu ketika kakek bertemu nenek di sebuah pesta. Kakekku adalah pemuda biasa saja. Tidak tampan dan rupawan, juga tidak kaya. Hari itu ia mengumpulkan semua keberanian untuk menyapa nenek dan mengajaknya untuk sekadar menikmati secangkir kopi di sebuah coffee shop. Entah mengapa, nenek menyetujui pertemuan itu.
Di sana mereka duduk berhadapan, wajah cemas kakek sangat nyata. Kata nenek, sih, ia menerika ajakan kakek karena merasa bosan. Lalu, di tengah perbincangan, kakek memanggil pelayan.
“Pak, bolehkah aku meminta sedikit garam untuk dimasukkan pada kopi ini?” kata kakek.
Semua orang yang ada tak jauh dari tempat kakek dan nenek keheranan. Untuk a[a garam dimasukkan ke dalam secangkir kopi?
Hal tersebut berhasil menarik perhatian nenek. “Untuk apa kau menaruh garam di dalam kopimu,” tanya nenek.
“Oh… Ini hanya sebuah kebiasaan lama ayahku. Dulu aku tinggal di sebuah desa dekat pesisir pantai. Di sana kami biasa menambahkan garam pada kopi supaya tetap ingat pada laut, tempat tinggal kami. Kemudian, hari ini aku rindu kampung halamanku. Aku juga rindu pada orang tuaku yang sudah meninggal. Maka, biar enggak lupa, aku terbiasa menambahkan garam di dalam kopiku,” terang kakek.
Nenenk merasa tersentuh. Tidak pernah ia temui pemuda semanis kakek. Sejak saat itu, mereka selalu pergi berkencan dan bercerita panjang lebar. Mereka pun akhirnya menikah, hidup bahagia, dan sampai pada akhirnya memiliki banyak anak dan cucu.
Suatu kali, di ulang tahun pernihakan ke-50, kakek akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Di sebuah kotak berisi perhiasan kado ulang tahun pernikahan, ditinggalkannya secarik surat untuk nenek. Nenek meminta aku untuk membacanya. Begini sisi surat itu…
Gemma yang terkasih,
Aku meminta maaf akan sebuah kesalahan yang sangat besar yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. Aku menyimpan sebuah kebohongan besar selama ini. Ingatkah saat aku mengajakmu ke coffee shop hari itu? Saat itu aku sangat gugup. Saking gugupnya aku ingin meminta tambahan gula untuk kopiku. Akan tetapi, entah kenapa yang terucap adalah aku meminta garam.
Aku tak ingin terlihat konyol di depanmu. Pada akhirnya aku mengarang cerita itu. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Kau terlihat begitu cantik dan sempurna hingga aku tak ingin melepaskanmu.
Tetapi, percayalah sayang bahwa sepanjang hidupku aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan diriku. Sekalipun setiap pagi kau buatkan kopi asin itu, semua selalu terasa manis karenamu. Jujur saja, kau mungkin tak akan suka rasanya karena sebenarnya sungguh tidak enak.
Gemma, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu.
Air mata nenek pun tak terasa membasahi pipi. Ia sadar betapa besar cinta kakek kepadanya. Sejak saat itu ia selalu menambahkan garam di dalam kopinya.