Ruangan gelap, pengap dan lembab. Tempat itu adalah rumah kedua Chasya, tempat dimana ia bisa menenangkan diri. Tapi ternyata, tempat itu justru menghadirkan malapetaka baginya dan orang-orang terdekatnya.
"Cha, lepaskan!!" Teriak Hardi dari luar ruangan.
"Hahahaha, Cha? Siapa yang kamu panggil Cha, Hardi sayang" Chasya yang sedang dirasuki iblis tertawa dengan lantang.
"Cha, ini kami teman-temanmu, lepaskan Aldan dan Risha, ku mohon" Hardi memohon kepada Chasya.
"Sudah tidak ada lagi Chasya disini sayang, hanya ada aku, sang Ratu, hahahahaha, setelah aku menghabisi mereka, kita dapat hidup bersama" Chasya yang kehilangan kesadarannya benar-benar menggila.
"Aku tidak akan pernah mau hidup bersamamu!" Tolak Hardi dengan tegas.
"KENAPA?! APAKAH KARENA DIA, GADIS BODOH ITU? AKU AKAN MEMBUNUHNYA!" Iblis dalam diri Chasya semakin mengamuk, energinya bertambah dan semakin kuat.
"Karena yang kucintai adalah Chasya, bukan iblis seperti kamu!" Ucap Hardi.
Setelah mendengar kalimat itu, tubuh Chasya yang semula pasrah mulai membuat perlawanan. Hardi adalah orang yang dicintai Chasya, tapi ia selalu mengira bahwa Hardi mencintai Risha. Hingga Chasya menemukan rumah itu, rumah itu sangat dingin dan jauh dari lingkungan, hanya sepetak kecil berbentuk persegi dengan shofa dan banyak buku didalamnya.
Tanpa Chasya ketahui, rumah itu adalah rumah petaka. Tempat itu tetap terawat karena memang seperti itu, tempat itu berpenghuni. Penghuni yang kasat mata. Chasya terlena dengan tempat itu dan bahkan berteman dengan sosok iblis penghuninya. Chasya tertipu, ia merasa mendapatkan teman padahal musuh. Perlahan-lahan Chasya memupuk kebencian dari kesalahpahaman yang ada hingga akhirnya ia mudah dirasuki.
"Chasya, bangunlah sadarlah, aku datang untuk kamu!!" Hardi mencoba berteriak karena merasa energi iblis mulai berkurang.
"Arrghhhhh" Chasya berteriak dengan kencang, meronta dan berusaha melawan iblis itu.
Kekuatan sang iblis berkurang, Aldan perlahan tersadar dari pingsannya.
"Air mata ketulusan, siramkan pada Chasya, Di" Aldan berusaha berbicara dengan kondisinya yang masih lemah.
Aldan dan Risha adalah orang yang sudah mencurigai adanya ketidakberesan pada diri Chasya, dan memutuskan untuk mengikuti Chasya sampai rumah itu. Mereka bersabar menunggu hingga Chasya keluar rumah, baru mereka masuk. Bau bangkai, adalah hal pertama yang menyambut mereka.
Mereka berusaha mencari petunjuk mengenai perubahan sikap Chasya. Hingga akhirnya mereka tau bahwa Chasya dirasuki iblis, dan hanya bisa disembuhkan dengan air mata ketulusan. Air mata itu bisa menjadi pengusir iblis juga bisa menjadi sumber kekuatan iblis.
"Didalam buku hitam, halaman 125, carilah petunjuk" Aldan kembali berbicara deng lemah.
Hardi mencoba mencari petunjuk sesuai arahan Aldan. Chasya masih meronta. Hardi menemukan buku itu dan membaca halaman 125.
'Air mata ketulusan, adalah sumber kekuatan iblis jika dipupuk menjadi dendam, namun bisa menjadi pengusir iblis bila keluar karena ketulusan sejati'
"Bukan disiram air mata, namun aku harus membuat Chasya menangis, itulah kuncinya" Hardi mencoba memahami kata dalam buku hitam itu.
Hardi kembali mendekat ke tubuh Chasya.
"Cha, ingatlah persahabatan kita, saat kita tertawa bersama, saat kita bermain bersama" Hardi mencoba mengingatkan Chasya deng kenangan indah yang pernah mereka lalui.
"Jangan dengarkan Chasya! Mereka hanya ingin mempermainkanmu" Iblis dakam tubuh Chasya mencoba mengambil kendali lagi.
"Cha, yang kucintai adalah kamu, bukan Risha atau yang lain, aku mohon Cha sadarlah" Hardi mulai menangis dan suaranya mulai mengecil. Hardi mencoba lebih dekat dengan Chasya dan memeluknya.
"Cha kita berempat adalah sahabat, dan aku adalah orang yang mencintai kamu. Ini adalah fakta bukan karangan, selama ini aku diam karena aku takut akan menghancurkan hubungan persahabatan kita. Cha bangunlah demi aku, aku mohon Cha" Hardi semakin emosional.
Chasya merasakan kepedihan kata kata Hardi dan ikut menangis. Iblis dalam tubuhnya seakan terbakar.
"Arrghhhh" Chasya berteriak kesakitan.
Hardi tetap mencoba mempertahankan Chasya dalam dekapannya. Dalam sekejap, tubuh Chasya melemah dan pingsan. Hardi membopong tubuh Chasya keluar ruangan dan kemudian membantu Aldan juga Risha. Aldan sudah membaik, tapi Risha masih belum sadar.
"Ris, bangun Ris" Aldan memanggil Risha dengan lemah tapi mendapatkan hasil yang nihil.
Hardi dan Aldan membawa Chasya dan Risha pergi ke rumah Aldan dengan mobil Hardi. Rumah Aldan memiliki banyak tumbuhan dan sejuk, cocok untuk tempat pemulihan. Selain itu, Aldan juga tinggal sendirian. Apa yang terjadi ini, mereka berusaha merahasiakannya.
Aldan menelepon dokter pribadi keluarganya untuk memeriksa Chasya dan Risha.
.....
Satu jam berselang.
"Kondisi mereka stabil, hanya saja mereka mengalami trauma psikologis. Perlahan-lahan mereka akan bangun, biarkan mereka beristirahat dahulu, saya resep kan obat"
"Tolong rahasiakan ini dok" Aldan berkata.
"Baiklah"
.....
Sore pun tiba, Risha mulai sadarkan diri dan meminta pulang. Aldan mengantarkan Risha pulang, terlihat jelas bahwa Risha masih ketakutan.
Tak lama kemudian, Chasya juga sadarkan diri. Kondisinya sangat lemah.
"Har, aku mau pulang"
"Kondisi kamu masih sangat lemah, Cha"
Raut wajah Chasya memohon, dengan mata yang mulai basah ingin menangis.
"Baiklah aku antar kamu pulang ya"
"Maaf, aku memang bodoh" ucap Chasya deng penuh penyesalan.