Kau menggenggam tanganku erat dan melangkah menuju matahari tenggelam. Menapak pasir putih berkrikil, tak beralas kaki. Kau memandangku sejenak dan beralih menatap satu titik di sana, kilauan cahaya kala senja itu menyiratkan jingga di tepi pantai yang indah.
Tidak ada yang menyangka! Tatapan mata yang tulus serta senyum di bibir tipis itu hanya sebuah Kamuflase. Keindahan itu hanaya untuk wajah – wajah yang menyapa. Walaupun aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dan membuat luka yang saat ini menganga begitu dalam.
“Aku suka hari dikala senja bersamamu, membawa dirimu dan kilau jingganya menjadi miliku” itu katamu. Tidak ada yang mengira, dua tahun yang lalu kala hari mulai berganti malam saat itulah mahkota kekasihmu direnggut paksa di tepi pantai yang sunyi.